HARUSKAH KITA DUKUNG PEMERINTAH?

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.

(Q.S al-Nisa’[4]: 59)

Belum genap tiga minggu pelantikan Dr. Susilo Bambang Yudoyono sebagai Presiden RI yang dilakukan oleh MPR. Kabinet Indonesia bersatu dua pun telah dibentuk sebelumnya oleh Presiden Susilo Bambang Yudoyono yang telah menjabat sebagai presiden RI pula pada periode sebelumnya. Selang beberapa hari kemudian pasca dilantiknya presiden RI tersebut, segeralah kicauan komentar kritikus mulai dari tv, surat kabar, situs-situs internet, dan media-media publik lainnya.

Meskipun mekanisme pemilu sudah sesuai dengan yang disepakati oleh bangsa Indonesia, tetap saja masih ada golongan yang tidak mau menerima hasil pemilu tersebut dengan seribu satu alasan. Jika demikian maka siapapun yang terpilih, dia akan tetap tertera dalam daftar incaran mereka. Hal ini menunjukkan adanya masalah bersama dikalangan masyarakat yaitu kekurang percayaan masyarakat terhadap pemerintah. Padahal hal itu secara otomatis akan mengganggu jalannya pemerintahan. Terlebih lagi keadaan Indonesia saat ini masih di landa berbagai masalah sehinnga pemerintah sangat membutuhkan dorongan dari seluruh rakyat Indonesia. Pertanyaannya kemudian adalah apakah rakyat ini terus menerus tak mau diam? Apakah benar apa yang dikatakan oleh banyak orang bahwa iri tanda tak mampu? Mungkin Jawaban yang paling baik dengan berhusnudzon adalah karena mereka ingin menggunakan kritik sebagai alat untuk membangun kepemimpinan di Indinesia tercinta ini atau kerena saking cintanya mereka terhadap Indonesia.

Sebagai seorang muslim dan warga negara Indonesia yang baik, haruslah kita menerima apa yang sudah menjadi hasil dari upaya kita memilih pemimpin. Karena biar bagaimanpun itulah yang disuarakan oleh sebagian besar dari seluruh rakyat Indonesia. Hendaklah kita mengutamakan kemaslahatan umum dari pada memenuhi keinginan pribadi. Bukankah dalam kaidah ushuliyah dijelaskan? “kepentingan umum lebih diprioritaskan diatas kepentingan pribadi” Jadi selama kebijaksanaan pemimpin tidak menyalahi apa yang menjadi pegangan kita (al-Qur’an dan al-Sunnah) maka wajiblah bagi kita untuk mengikutinya karena menyangkut kepentingan orang banyak. Walaupun jumhur ulama dan mufassirin menyatakan bahwa potongan ayat dalam QS. al-Nisa’ ayat 59 وؤ لى الامر منكم Menjadi landasan untuk berpegang pada ijma’ tapi sepertinya tidaklah salah jika kita menjadikannya sebagai landasan untuk mengikuti kebijakan pemerintah selagi tidak bertentangan dengan semangat yang terkandung di dalam nash dan berorientasi pada maslahah.

Lagi pula, rasanya mustahil jika presiden SBY mengambil kebijakan yang membahayakan rakyatnya. Mana mungkin seorang yang berpendidikan bertindak amoral atau sejenisnya sementara dia menjadi rujukan ratusan juta rakyatnya. Pastilah tindakannya dilandaskan pada kemaslahatan rakyat yang ia pimpin. Sebagaimana dalam kaidah dijelaskan

تصرف الامام على الرعية منوط بالمصلحة

kebijakan pemimpin harus sesuai dengan kemaslahatan rakyat” sehingga bukan kemudian kita malah menggerogoti kepemimipinan yang sedang berlangsung supaya mereka dianggap jelek dan buruk, akan tetapi dukunganlah yang patutnya kita berikan guna kebaikan Indonesia sendiri.

Belajar dari sejarah

Sekilas membuka kembali coretan tinta emas tentang sejarah salah satu amirul mu’minin, Sayyid Abu Bakar Al-Siddiq r.a. yang begitu di kagumi keimanan dan kesantunannya. Setelah dibaiat oleh para sahabat senior yang lain untuk menjadi pemimpin umat Islam pada saat itu, ia berorasi di depan rakyatnya.“wahai manisia, saya telah diangkat menjadi pengatur urusanmu, padahal saya bukan yang terbaik di antaramu, maka jika saya menjalankan tugas dengan baik, dukunglah saya, tetapi jika saya berbuat salah betulkanlah saya….”

Dari potongan pidato yang disampaikan oleh Sayyid Abu Bakar r.a. tersebut, ada beberapa point yang patut kita garis bawahi. Pertama, setiap orang yang terpilih menjadi pemimpin bukan berarti bahwa ia adalah orang terbaik. Pastilah setiap orang memiliki kekurangan masing-masing dan yang tidak boleh di lupakan bahwa sebagai pendamping kekurangannya Allah membekali manusia dengan suatu maziyah (kelebihan). Pujangga arab berkata la tahtaqir mandunaka falikulli syaiin maziyyah “jangan kamu menghina yang selainmu karena setiap sesuatu memiliki kelebihan”. Oleh sebab itulah hendaknya pemimpin didukung untuk menutupi kekurangannya dan melengkapi kemampuannya.

Kedua, setiap rakyat harus mendukung kebijakan pemimpinnya selama kebijakan tersebut bernilai positif dan tidak memberikan mudharat pada rakyat. Mengingat kembali gotong royong yang sudah menjadi ciri khas kehidupan bangsa Indonesi, maka pemerintah mengeluarkan kebijakan untuk kesejahteraan rakyat dan rakyat mendukung kebijakan tersebut.

Ketiga, hendaknya seorang warga negara menegur pemimpinnya apabila seorang pemimpin melakukan kesalahan. Bukan kemudian secara frontal menganggap bahwa pemimpinnya harus diturunkan dari jabatannya karena suatu kekurangan. Sekedar pengandaian, jika setiap pemimpin yang kebijakannya ditolak rakyat diturunkan maka seluruh rakyat hanya akan disibukkan oleh pemilu.

Anggap saja kemudian bahwa presiden kita saat ini adalah Abu Bakar maka kita selaku rakyat yang ia pimpin harus mengikuti instruksi sang imam. Yaitu mendukung kebijakannya yang baik dan menegur setiap kekeliruan yang ada. Bukan kemudian berusaha merias setiap pemimpin menjadi kambing berwarna hitam dan menjual kompor kepada masyarakat tatkala ada suatu masalah. Bukankan Ali r.a. Telah menegaskan bahwa imam harus teguh dan rakyat harus patuh, yang lebih membahayakan lagi adalah apabila kemudian sampai menggunakan agama sebagai dalih dalam menghakimi orang lain atau penguasa yang tak sepaham, yang akan berakibat pada anggapan bahwa orang yang tak sepaham adalah kafir atau murtad. Na’udzubillah min dzalik.

Diam untuk Mendukung Pemerintah

Tidak dapat dipungkiri memang bahwa cara yang paling efektif dalam mendukung pemerintah adalah turut bertindak dengan aktif sesuai kemampuan dan keahlian masing-masing. Bagi ekonom berjuang di jalur perekonomian, dokter berjuang dijalur kesehatan, tentara berjuang di jalur keamanan dan ketertiban dan seterusnya. Tapi paling tidak apabila kita tidak mampu turut bertindak dengan alasan tertentu, maka paling tidak kita memberikan dukungan secara pasif, yaitu dengan tidak banyak komentar atas kebijakan pemerintah. Bukankah dengan berdiam tanpa komentar berarti telah membantu terwujudnya kelancaran pelaksanaan agenda pemerintah?.

Hal ini pernah di contohkan oleh Imam Malik bin Anas rohimahullah ta’ala tatkala di lontari 50 pertanyaan. Ketika itu beliau hanya mampu menjawab 5 dari 50 pertanyaan yang dilontarkan kepadanya sedangkan 45 pertanyaan yang lain ia jawab dengan menggunakan kata “la adri” (saya tidak tahu). Beliau khawatir apabila menjawab 45 pertanyaan  yang tidak begitu dikuasainya akan menimbulkan penyesatan bagi generasi selanjutnya. Begitu hati-hatinya beliau, sehingga di katakana bahwa “man qala la adri faqod afta” barang siapa yang mengatakan la adri maka ia sudah berfatwa. Alangkah eloknya jika bangsa Indonesia mau memilih cara tersebut tatkala tidak sepaham dengan pemimpin. Ya paling tidak tidak menghambat agenda pemerintah.

Ikhtitam

Pada bagian akhir ini, patut untuk ditekankan sekali lagi bahwa sangatlah penting bagi seluruh elemen masyarakat untuk mendukung pemerintah. Sudah saatnya kita mengakhiri sikap saling cemooh, gontok-gontokkan dan sebagainya untuk kemudian bersama-sama kembali ke medan perjuangan. Memberikan dukungan penuh kepada para pemimpin RI. Masih terlalu banyak cita-cita bangsa yang belum terwujudkan. Kasihan rasanya si tiga sepupu (Wahid Hasyim, Wahab Hasbullah, dan Cokro Aminoto) yang sudah susah payah membantu terintisnya negara bangsa ini. Kasihan Empu Tantular yang telah menggagas Bhineka Tunggal Ika. Kasihan Abdul Kahar Muzdakkir, Wahid Hasyim, dan Ahmad Djoyo Sugiato apabila kita terus-menerus terlarut dalam ego masing-masing. Sebagai renungan, jikalau benar bahwa kita adalah bangsa Indonesia, maka siapakah yang akan menopang jalannya pemerintahan RI kalau bukan kita?

Hasan Al Antor

Mahasiswa Fakultas Ilmu Agama Islam UII

Pemuda

PEMUDA, TAK KENAL LELAH MENCETAK SEJARAH

Kami telah menciptakan kamu; maka mengapa kamu tidak membenarkan? Adakah kamu perhatikan (benih manusia) yang kamu pancarkan? Kamukah yang menciptakannya? Ataukah Kami yang menciptakannya?

(Q.S. Alqur’an [56]: 57-59).


Bulan Oktober bagi negeri ini tergolong bulan yang bersejarah. Banyak peristiwa penting di dalamnya, salah satunya adalah hari Sumpah Pemuda yang diperingati setiap tanggal 28 Oktober. Meski lahirnya sumpah pemuda ini sudah lama berselang, sekitar 81 tahun yang lalu, tepatnya 28 Oktober 1928, namun ia masih cukup relevan jika dihubungkan dengan kondisi saat ini. Lahirnya sumpah pemuda membuktikan bahwa pemuda selalu memiliki semangat untuk terus berusaha mencetak prestasi dan mengukir sejarah negeri.

Kalau kita bercermin dari sejarah bangsa ini, banyak peristiwa sejarah lahir karena kontribusi pemuda, bukan hanya hari Sumpah Pemuda. Era reformasi yang lahir 11 tahun lalu juga dimotori oleh pemuda. Pemuda bergerak dan bersatu untuk menyampaikan tuntutannya sebagai respon akan ketidakadilan dan penindasan yang terjadi selama puluhan tahun di negeri ini. Akhirnya sejarah pun ditorehkan, orde baru berhasil ditumbangkan, dan era reformasi berhasil dilahirkan. Pemuda saat itu berhasil mengatasi rasa takut, rasa egoisme pribadi demi perjuangan yang jauh lebih besar, meski nyawa menjadi taruhannya. Ini sekali lagi membuktikan bahwa pemuda tidak pernah duduk manis menjadi penonton sejarah melainkan selalu berusaha ikut terlibat sebagai subjek sejarah.

Jika kita perhatikan, kontribusi pemuda bagi bangsa ini tidak hanya terjadi di  masa lalu. Di masa sekarang pun banyak hal yang telah dilakukan pemuda demi pengabdiannya kepada negeri. Kita bisa lihat bagaimana pemuda-pemuda Indonesia berhasil menorehkan prestasi tidak hanya dalam skala nasional, tetapi juga internasional. Di bidang pendidikan, terutama di ajang kompetisi olimpiade sains dunia (fisika, matematika, biologi, kimia, astronomi, dan lain-lain) telah banyak medali dipersembahkan untuk tanah air oleh pemuda-pemuda terbaik bangsa. Di bidang olahraga, kaum muda juga menjadi ujung tombak bagi diharumkannya nama bangsa di pentas dunia. Di bidang teknologi, kita bisa melihat tidak sedikit prestasi yang diukir oleh kaum muda, misalnya prestasi yang baru-baru ini berhasil ditorehkan oleh mahasiwa STEI ITB yang berhasil meraih dua penghargaan dalam lomba perancangan processor di Jepang. Mereka bahkan sanggup menyingkirkan pesaing-pesaingnya dari beberapa universitas ternama di Jepang dan Korea.

Dalam bidang kesenian, kita juga bisa melihat bahwa pemuda Indonesia bukanlah pemuda yang miskin prestasi. Gelar juara dunia yang berhasil dipersembahkan oleh paduan suara mahasiswa IPB di ajang Choir Festival di Rimini, Italia, adalah buktinya. Di bidang kewirausahaan, pemuda Indonesia juga bukan hanya menjadi penonton tetapi juga pelaku pencetak prestasi. Kita patut berbangga ketika dua orang pemuda kita berhasil mendapat penghargaan dalam ajang International Young Creative Entrepreneur Award (IYCE) 2009 di Inggris. Dan masih banyak prestasi membanggakan lain yang ditorehkan oleh kaum muda sebagai bukti bahwa mereka tidak kenal lelah mencetak sejarah.

Ini juga sebagai indikasi bahwa para pemuda ini telah memahami dengan baik apa yang difirmankan Allah SWT dalam Alqur’an surat Attaubah [9]:105: “Katakanlah,”Bekerjalah kalian. Pasti Allah dan Rasul-Nya serta kaum Muslimin akan melihat pekerjaan kalian…

Namun tentu sejumlah prestasi yang dicapai pemuda negeri ini jangan sampai membuat kita terbuai. Karena jika kita perbandingkan dengan besarnya jumlah penduduk Indonesia, rasionya masih tergolong kecil. Masih banyak kaum muda di negeri ini yang masih “tenggelam” dan duduk manis sebagai penonton dan objek sejarah, belum bangkit untuk ikut menjadi subjek sejarah. Karenanya perlu ada upaya yang terus menerus untuk “membangunkan” pemuda harapan bangsa ini.

Jangan Anggap Remeh Kemampuan Diri

Kadangkala kita kita berpikir segalanya sulit padahal kita belum mencoba. Kita kalah dulu sebelum bertanding, dan menganggap orang lain memiliki kemampuan jauh lebih tinggi dibandingkan kita. Kita tidak percaya diri bahwa kita juga sanggup menggapai prestasi seperti yang orang lain lakukan. Bukankah Allah menciptakan manusia dalam bentuk yang paling sempurna dan tidak membeda-bedakan satu sama lainnya (kecuali pada akhirnya dibedakan berdasarkan ketakwaannya-pen.)?

Selain diciptakan dengan bentuk yang sempurna, manusia juga dibekali Allah SWT kemampuan yang luar biasa, untuk mengenal, memahami, belajar, dan akhirnya mengerti akan banyak hal yang tak terbatas. Bahkan sejak awal kita disiapkan oleh Allah SWT untuk menjadi individu yang kuat, tahan banting, dan menjadi pemenang. Apakah kita lupa bahwa kita hadir di dunia diawali oleh terjadinya proses biologis, yaitu terjadinya peleburan sel sperma (laki-laki) dan sel ovum (wanita)? Dari jutaan sel sperma yang saling bersaing, hanya satu sel sperma yang bisa mencapai sel ovum, dan akhirnya membuahi ovum. Inilah sel sperma terbaik yang kemudian bersama sel ovum terbaik  pula menjadi bahan dasar dari kita. Lalu masihkah kita kurang percaya diri dalam melakukan sesuatu?

Kami telah menciptakan kamu; maka mengapa kamu tidak membenarkan? Adakah kamu perhatikan (benih manusia) yang kamu pancarkan? Kamukah yang menciptakannya? Ataukah Kami yang menciptakannya? (Q.S. Alqur’an [56]: 57-59).

Raih Kesempatan Selagi Sempat

Dalam sebuah hadits dari Ibnu Abbas RA, riwayat Al Hakim, Nabi Muhammad SAW bersabda: “Gunakanlah lima kesempatan sebelum datangnya yang lima (uzur), yakni masa mudamu sebelum datang tuamu, masa sehatmu sebelum datang sakitmu, masa kayamu sebelum datang miskinmu, masa hidupmu sebelum datang matimu, waktu luangmu sebelum datang kesibukanmu”.

Dalam hadits ini tampak sekali terlihat begitu besarnya perhatian Islam terhadap usia muda. Usia muda dipandang sebagai suatu kesempatan yang sangat berharga dan jangan sampai disia-siakan. Banyak hal yang bisa dilakukan saat usia muda, belum tentu dapat dikerjakan saat usia tua. Di usia muda semangat masih membara, ditambah lagi dukungan fisik yang masih prima sehingga segala cita masih dimungkinkan untuk bisa diraih.

Apalagi jika masa muda dijadikan sarana untuk dekat dan menggapai cinta Allah SWT, tentu ini akan membuahkan hasil yang manis. Seperti yang diungkapkan oleh hadits yang diriwayatkan Syaikhani: ”Tujuh orang yang akan dilindungi Allah dalam lindungan-Nya pada hari yang tidak ada perlindungan selain perlindungannya (satu di antaranya ialah) pemuda yang sejak kecil selalu beribadah kepada Allah.

Jika Allah SWT sudah melindungi kita, tentu tidak akan ada lagi yang sanggup mencelakakan kita. Karenanya kita akan bisa semakin mantap menggapai cita-cita.

Pentingnya masa muda sangat jelas digambarkan Rasulullah SAW. Bahkan Nabi dengan kasih sayang, kebijaksanaan, dan ilmunya selalu berusaha menggembleng kaum muda agar mampu berbuat banyak terutama dalam membela agama Allah. Beberapa contoh gemblengan Rasulullah SAW yang pada akhirnya menjadi pemimmpin yang tangguh adalah Umar bin Khattab (digembleng dalam usia 27 tahun), Zaid bin Haritsah (dalam usia 20 tahun), Saad bin Abi Waqash (17 tahun), dan Ali bin Abi Thalib dalam usia 8 tahun sudah mendapatkan gemblengan Muhammad Rasulullah SAW.

Pemuda di mana pun dia berada adalah harapan bagi bangsanya. Nasib suatu bangsa bisa diprediksi dari kondisi pemudanya saat ini. Pemuda yang kuat luar dan dalam, jasmani dan rohani akan membuat masa depan suatu bangsa menjadi lebih cerah (meski itu belum bisa jaminan sepenuhnya). Pemuda yang kuat akan banyak menciptakan sejarah dan menorehkan tinta emas, membuat harum nama bangsanya. Dan bangsa manapun tentu mendambakan generasi penerus seperti ini untuk bisa tetap eksis di tengah persaingan dunia yang semakin kompleks dan terbuka. Sementara pemuda yang lemah justru hanya akan menjadi beban bagi bangsanya. Pemuda yang lemah akan menjadi bumerang bagi nasib bangsanya di masa depan. Karenanya negara manapun tak pernah memimpikan lahirnya generasi muda yang demikian.

Akhirnya pilihan terakhir diserahkan kepada pemudanya sendiri. Mau kemanakah tujuan dia melangkah dan bekal apakah yang akan dia bawa untuk menggapai tujuannya tersebut. Yang jelas semua pilihan selalu ada konsekuensinya.

Wallahu a’lam bisshawab.

Sapto Nugroho Hadi

Mahasiswa Pasca Sarjana UGM

Mutiara Hikmah

MUTIARA HIKMAH

Jadikanlah (dirimu sebagai) orang yang malu kepada Allah. Jauhilah larangan-larangannya dan kerjakanlah kewajiban-kewajiban (yang Ia perintahkan). Tetaplah bersama kebenaran di manapun kamu berada.

(Imam Asy-Syafi’i)

Perlunya Bertindak (Hasan)

PERLUNYA MENGAMBIL TINDAKAN

Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.

(QS. Al Qashash [28]: 77)

“Bekerjalah untuk duniamu seolah engkau hidup selamanya,” begitulah kiranya seruan yang disampaikan oleh salah satu al-Aimmah al-Arba’ah Sayyid Ali ra. dalam menyampaikan petuah sekaligus harapannya kepada umat Islam yang ia pimpin. Sayyidina Ali ra. menginginkan agar umat Islam mau bekerja untuk dapat hidup sejahtera hingga ahirnya dapat melaksanakan kewajiban beribadah kepada Sang Pencita dengan baik.

Sebagai seorang Muslim yang berpendidikan tentulah kita faham dengan apa yang disebut teori atau hukum kausalitas yang menjelaskan tentang sebab musabab. Berpijak pada pengertian yang terkandung dalam teori itu maka jikalau kita mendapatkan sesuatu itu adalah hasil dari apa yang kita usahakan atau akibat dari tindakan kita. Kepandaian adalah hasil dari belajar, kebodohan adalah akibat dari malas belajar.  Kekayaan adalah hasil dari bekerja, dan kemiskinan adalah hasil dari malas bekerja.

Berkaitan dengan hal itu, belum hilang rasanya kegelisahan dan kesedihan dalam lintas pikiran dan perasaan akan pengemis, pengamen, anak jalanan, dan gelandangan yang menjadi asesoris jalanan ketika kita melintas jalan raya kota-kota di Indonesia. Berita-berita dalam siaran lintas nusantara di berbagai channel TV yang menginformasikan tentang pencurian demi sesuap nasi, anak-anak putus sekolah yang menjadi buruh pabrik, dan berbagai kepelikan yang setiap hari bergulir dan berputar di sekeliling kita. Apa boleh dikata, itulah yang terjadi pada sebagian Bangsa kita, yang jumlah penduduknya tak kurang dari 240 juta dengan notabene mayoritas muslim.

Pertanyaan yang kemudian muncul adalah, apakah teori atau hukum kausalitas juga berlaku terhadap apa yang menimpa bangsa kita saat ini? dengan kata lain bahwa kemiskinan yang menimpa sebagian bangsa kita adalah murni kesalahan bangsa kita sendiri yang malas bekerja, malas belajar dan tidak peduli dengan sesama. Naïf rasanya kalau kita tidak mengakui hal itu dan justru mencari kambing hitam.

Bangsa yang Mandiri

Sebagai bangsa yang memperoleh kemerdekaan dengan jerih payah sendiri setelah berjuang dan berperang dengan amat berat, kita mesti ingat petuah yang dsampaikan Bung Karno kepada rakyatnya dalam Hut RI ke-8, 17 Agustus 1953:

Kalau mau hidup harus makan, yang dimakan hasil kerja, jika tidak bekerja tidak makan, jika tidak makan pasti mati. Inilah undang-undangnya dunia, inilah undang-undangnya hidup, mau tidak mau semua makhluk harus menerima undang-undang ini. Terimalah undang-undang itu dengan jiwa yang besar dan merdeka, jiwa yang tidak menengadah melainkan kepada tuhan.

Demikianlah petuah sekaligus harapan Bung Karno kepada bangsa Indonesia. Sungguh sebuah petuah yang sarat makna. Bung Karno tak ingin bangsa Indonesia menjadi bangsa peminta-minta, pengemis, atau pengamen hanya karena sesuap nasi. Bung Karno menginginkan agar bangsa Indonesia menjadi bangsa yang giat bekerja, berusaha dan berdoa untuk mendapat kehidupan yang layak.

Usaha Sebagai Upaya

Dengan penuh kepolosan pun kita dapat mencerna bahwa dalam kehidupan ini manusia harus bekerja dan berusaha untuk mendapatkan sekecil apapun keinginannya. Bukankan dalam kaidah ushuliyah dijelaskan:

الاجر باالتعب

“hasil dari sesuatu di ukur dari jerih payahnya.”

Dengan demkkian maka apabila kita tidak melakukan apapun kita tidak akan mendapatkan apa yang kita inginkan. Sedikit mengaitkan kaidah di atas dengan kondisi bangsa Indonesia, maka Rakyat Indonesia harus bekerja agar bisa kaya, rakyat Indonesia harus belajar jikalau ingin pintar, rakyat Indonesia mesti berjuang untuk mencapai kesuksesan dan seterusnya. Tidak cukup hanya dengan berpangku tangan tanpa usaha, mengandalkan pemerintah dan bermanja-manjaan, atau bahkan menunggu belas kasihan orang lain yang bukan siapa-siapa.

Lalu mengapakah setelah 63 tahun Indonesia memperoleh kemerdekaan kita masih tertinggal oleh negara-negara lain? Tidak bosankah kita dikucilkan oleh bangsa lain? tidak bosankah kita dijuluki sebagai bangsa yang kerdil? Bahkan oleh negara-negara yang mendapatkan kemerdekaan setelah kita.

Sebagai seorang muslim mari kita tilik kembali potongsn firman Allah dalam QS. Al-Qashas [28]: ayat 77:

Carilah pahala akhirat lewat karunia Allah yang diberikan kepadamu, dan jangan lupa bagianmu dari kehidupan dunia.

Apabila kita menggunakan sedikit kajian tata bahasa dalam memahami ayat tersebut, maka salah satu yang dapat kita pahami adalah Allah menggunakan fi’il amr nahi dalam kata ولا تنس yang berarti “janganlah kamu melupakan (kehidupan duniamu).” Dalam kajian ushul fiqih, fi’il amr nahi memiliki fungsi untuk menunjukkan larangan (al-ashlu fi al-nahyi li al-tahriim) hal ini menunjukkan bahwa mengurus kehidupan dunia adalah wajib karena tidak boleh ditinggalkan. Muslim wajib bekerja dan berusaha untuk kehidupan dunianya. Dalam kaidah yang lain disebutkan:

الواجب ما يثاب على فعله و يعاقب على تركه

Wajib adala sesuatu yang bila dipenuhi mendapat pahala dan bila di tinggalkan mendapat dosa.

Jikalau demikian maka apabila seorang muslim bekerja maka ia mendapatkan pahala dan bila dia tidak bekerja maka apakah yang akan ia dapatkan?

Dalam penekanan akan keharusan manusia mengurusi keperluan duniawinya, tidak berarti kemudian kita mengenyampingkan perintah Allah SWT untuk menggarap ladang akhirat, akan tetapi yang perlu digaris bawahi adalah ketika kita memenuhi kebutuhan kita sebagai seorang hamba maka harus kita iringi dengan bekerja. Lagi pula bukankah mencari nafkah juga untuk memenuhi kebutuhan ukhrawi? Pada akhirnya akan menjadi amal ukhrawi juga? Mari kita pertimbangkan dan langsung beramal, karena semua problem kehidupan tak akan selesai dengan pikiran saja. Mudah-mudahan kita menjadi salah satu dari orang-orang yang mulia dan tidak merugi dengan gemar beramal.

Ikhtitam

Pada bagian akhir ini, meminjam pandangan presiden Amerika Barrack Obama bahwa “perubahan bukanlah slogan yang turun dari langit, akan tetapi perubahan adalah hasil dari pengalaman berpolitik di akar rumput yang bergoyang.” Maka solusi untuk berbagai keterpurukan bangsa ini adalah kita harus bertindak untuk menghasilkan perubahan dari berbagai macam ketidakstabilan di negeri ini menuju kehidupan yang lebih baik. Akhirnya, jika John F. Kennedy mengatakan bahwa “sejarah adalah kebohongan yang disepakati bersama,” maka kenapa kita tidak berbuat baik dengan membuat suatu kebohongan besar untuk disepakati bersama?

Wallau a’lam bisshawab.

Hasan Al Fuady

Mahasiswa Fakulatas Ilmu Agama Islam UII