Lembar Jumat Al-Rasikh

MENUJU ISLAM PROGRESIF

leave a comment »

Pada hari ini telah Ku sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku cukupkan kepadamu nikmat Ku,

dan telah Ku ridhai Islam itu Jadi agama bagimu. (QS Al-Mâidah[05]:03)

Berstatus sebagai agama penyempurna tentunya Islam memiliki kesan tersendiri untuk dipelajari dan difahami, karena memang kata sempurna telah memiliki posisi supreme dalam otak manusia yang akhirnya menimbulkan suatu tuntutan emosi untuk meraih atau paling tidak mengetahui dan mempelajari kesempurnaan tersebut. Perkataan Islam terdapat dalam al-Qur’an yang berasal dari kata salima. Akarnya adalah sin lam mim: s-l-m, dari kata ini terbentuk kata-kata salm, silm, dan sebagainya. Arti yang dikandung dalam kata Islam adalah kedamaian, keselamatan, penyerahan (diri) dan kepatuhan. Sejak diturunkan, Islam terus menerus mendasarkan dan memusatkan perhatiannya kepada Tuhan. Ia di dasarkan pada tauhid (keesaan Tuhan) yang tidak pernah memisahkan antara hal-hal yang disebut spiritual (kerohanian) dan material (kebendaan) religious (keagamaan) dan profane (keduniaan) di dalam segala bidang, di dalam bahasa Islam tidak ada kata yang semakna dengan kata sekuler seperti yang terdapat di dunia barat. Ini merupakan suatu petunjuk bahwa konsep sekuler tidak ada dalam Islam. Islam mengajarkan suatu jalan atau aturan hidup yang menyeluruh, yang tidak mengecualikan apapun juga. Sekuler merupakan nama suatu sistem etika dan filsafat yang bertujuan memberikan interpretasi atau pengaturan terhadap hidup manusia dengan tanpa mempercayai kepercayaan atau keyakinan kepada Tuhan, tidak mempercayai kitab-kitab suci dan tidak percaya pada hari akhir atau hari kiamat.

Dari paparan singkat tersebut diatas dapatlah dikatakan, bahwa Islam bukan saja sebagai agama tetapi juga sebagai hukum, kerena Islam memiliki sistem dan bagian-bagian yang saling bekerja sama untuk mencapai suatu tujuan. Sumbernya adalah tauhid yang menjadi inti akidah dari akidah itu timbul syari’ah dan akhlak islami. Namun,  Islam sebagai agama dan sebagai hukum, sering disalahpahami bukan hanya oleh orang-orang non muslim, tetapi juga oleh orang-orang Islam sendiri. Keselahpahaman terhadap Islam disebabkan karena banyak hal, namun yang relevan dengan kajian dalam tulisan ini adalah karena;

Pertama, salah memahami ruang lingkup ajaran Islam, kesalahpahaman mengenai ruang lingkup ajaran Islam terjadi karena orang-orang menganggap bahwa semua agama sama dan ruang lingkupnya pun sama, padahal seperti apa yang telah dikemukakan, sebagai agama penyempurna tentunya Islam  memiliki keistimewaan dengan agama-agama terdahulu yang jika kita amati untuk agama selain Islam hanya memiliki ruang lingkup sebatas pada hubungan manusia dengan Tuhan akan tetapi ruang lingkup dalam Islam tidak sebatas pada hubungan manusia dengan Tuhan tetapi mengatur tentang hubungan manusia dengan dirinya sendiri, dengan masyarakat dan dengan benda dan alam sekitarnya.

Kedua, salah menggambarkan kerangka dasar ajaran Islam, hal ini terjadi karena menggambarkan bagian-bagian Islam tidak secara menyeluruh sebagai satu kesatuan, tapi sepotong-sepotong atau sebagian-sebagian saja. Penggambaran Islam secara sepotong-sepotong inilah yang menyaebabkan Islam di salah pahami.

Ketiga, salah menggunakan metode  mempelajari Islam, biasanya bagi seorang pemula yang ingin mempelajari Islam dengan melalukan metode pendekatan yang men-generalisir artinya, menjadikan bagian-bagian atau bahkan seluruh ajaran Islam semata-mata sebagai objek studi dan analisis, laksana dokter bedah mayat, mereka melatakkan Islam di atas meja operasinya, memotong bagian demi bagian dan menganilisis bagian-bagian itu dengan mempergunakan norma-norma atau ukuran mereka sendiri yang un Islamic. Hasilnya tentu saja tidak memuaskan dan pasti menimbulkan salah paham terhadap Islam.

Menggaris bawahi Islam sebagai agama dan hukum, tentu hal ini berimplikasi pada kemampuan ajaran Islam mengakomodir kepentingan ummat manusia baik kepentingan yang bersifat hablu mina Allâh wa hablu mina nâs. Pernyataan ini muncul karena Islam memiliki ruang lingkup yang cukup luas tidak hanya pada dimensi ketuhanan tetapi juga pada dataran kemanusiaan. Akhir – akhir ini ada fakta bahwa, telah terjadi krisis ketidakpercayaan terhadap agama sebagai sebuah sistem hidup yang mampu menjawab setiap persoalan. Dan itu, sejalan dengan semakin besarnya skala permasalahan yang harus dihadapi oleh manusia pada zaman ini. Pada sisi lain, agama tradisional atau agama yang dipahami masyarakat sekarang, ternyata tidak mampu menjawab persoalan-persoalan kemanusiaan. Berpijak dari kenyataan itu, kemudian muncul pelbagai pertanyaan, apa yang mesti kita lakukan? Haruskah kita keluar dari agama dan mengucapakn selamat tinggal pada Islam? Ataukah justru kita harus lebih asyik dengan Islam?

Gagasan Islam Progresif

Sebelum masuk ke dalam gagasan Islam progresif, perlu penulis sampaikan bahwa masyarakat kita telah banyak kehilangan nalar kritis dan nalar tarnsformatif. Hal itu terjadi karena adanya doktrin yang seragam dan tidak adanya ruang bagi upaya-upaya untuk menciptakan suatu mekanisme dialog yang lebih kritis. Masuk kepada pembahasan Islam progressif, Islam sebagai agama dan hukum tentunya berdampak pada fanatisme agama dengan mengesampingkan kepentingan-kepentingan sosial kemasayarakatan, kita sering mendengar diskusi tentang penerapan Islam di berbagai negara, hukum Islam dituntut oleh sebagian kelompok Islam untuk dijadikan sebagai hukum positif, padahal pada suatu kasus di Nigeria tuntutan penerapan syariat Islam tersebut menjadi pemicu terjadinya konflik antara wilayah utara dan selatan. Pengalaman diberbagai negara menunjukan bahwa, apabila suatu ketetapan hukum tidak ditafsirkan secara kritis, maka akan menimbulkan dampak-dampak yang negatif. Salah satunya adalah dampak marjinalisasi terhadap perempuan.

Di Malaysia misalnya, masalah hukum hudud pernah marak dibicarakan, yang diajukan oleh partai PAS dan ingin diberlakukan untuk semua orang. Masalah krusial yang menjadi perdebatan adalah masalah qadzf, menuduh orang lain melakukan zina. Dalam rumusan hukum hudud versi PAS itu dikatakan, seandainya ada seorang perempuan mengadu kepada pengadilan bahwa dirinya diperkosa oleh seorang laki-laki, dan ia tidak bisa menghadirkan saksi yang cukup atas pengakuannya, maka dia dianggap telah melakukan tuduhan zina terhadap laki-laki yang dianggap telah memperkosanya. Klausul, tersebut, ternyata menimbulkan reaksi keras dari kalanagan aktivis perempuan.

Itu hanya contoh kecil saja yang membuat penulis bertanya, apakah Islam yang dirumuskan dalam dictum fikih itu bisa diterapkan dalam konteks masyarakat modern, terutama di Indonesia? Bagaiman kita seharusnya mendudukkan agama di dalam konteks semacam ini? Kemudian, ketika muncul adanya satu perubahan penting dimana orang merasa bahwa agama perlu dijadikan sistem hidup, bagaimanakah kita menjadikan agama sebagai sistem hidup itu? Apakah agama dengan tafsirnya yang tradisional atau bagaimana?. Kelemahan dasar dalam penalaran hukum Islam, baik klasik maupun modern, adalah hilangnya wawasan tentang etika sebagai landasan hukum itu sendiri, seperti yang terjadi dalam dunia pesantren, fikih sudah berubah menjadi  keasyikan orang bertukar teks, bertukar nash. Fikih adalah arena tempat orang-orang bertanding untuk memperdebatkan teks mana yang lebih kuat, kuat, dan dianggap kuat.

Wawasan Etik Islam

Seperti itulah, agama semata-mata persoalan teks, kemudian dilepaskan dari maslah kongkretnya. Hal itu berakibat pada dilepaskannya agama dari tujuan dasar Islam, yakni turun ke manusia. Inilah yang oleh salah seorang pemikir Islam disebut wawasan etika. Wawasan etis ini, dalam penglihatannya telah hilang sama sekali, atau kurang, atau lemah dalam penawaran hukum modern. Dan karenanya wajar banyak sekali hukum-hukum yang diproduksi tanpa mempertimbangkan wawasan etis ini menjadi hukum yang ahistoris, tidak terkait sama sekali dengan perekembangan sejarah manusia sekarang. Atas dasar itu, maka kita perlu mendudukkan kembali Islam dalam kerangka wawasan etik sebagaimana yang sudah dirumuskan sendiri oleh fikih yaitu dengan apa yang disebut al kulliyat al-khamsah ( lima nilai dasar syari’at) yakni (1) perlindungan terhadap agama, dalam konteks modern diterjemahkan sebagai perlindungan atas kebebasan berkeyakinan, bukan hanya kebebasan beragama (2) perlindungan terhadap akal (3) perlindungan terhadap akal (4) perlindungan terhadap keturunan (5) perlindungan terhadap kehormatan. Lima dasar inilah yang harusnya menjadi panduan dasar dalam melihat Islam.

Selama ini, kelemahan dasar dalam memandnag agama adalah karena Islam –entah dalam bentuk fikih, atau akhlaq, ataupun dalam akidah-  dipandang semata-mata sebagai teks verbal dan bukan pada wawasan etiknya. Oleh karena itu, salah satu jalan yang harus ditempuh dalam gerakan memperbaharui pemahaman Islam saat ini adalah dengan menghidupkan kembali wawasan etik ini. Betapapun tanpa wawasan etik ini, Islam akan mandul, akan berhenti sebagai agama yang terpaku pada huruf-huruf dalam teks kitab suci, tanpa kaitan dengan realitas kongkret ataupun dengan system nilai yang menjadi dasar semua itu. Inti dari wawasan etik tersebut adalah apa tujuan diturunkan Islam ke dunia? Apakah seluruh aturan yang kita kenal dalam Islam selama ini memnuhi tujuan kita atau tidak? Ada sejumlah aturan di dalam Islam yang memenuhi tujuan etis ini di dalam konteks zaman tertentu, tetapi tidak dalam konteks zaman yang lain, begitu sterusnya, maka dari itu, secara pribadi penulis katakan ketentuan hukum yang relevan dalam zaman tertentu itu bisa dibatalkan dalam konteks lain ketika tuntutannya berubah.

Penulis tidak menganut pandangan yang mengabaikan keseluruhan nash yang ada dalam kitab suci atau doktrin klasik, tapi yang diinginkan penulis adalah teks, wawasan etika, dan realitas sosial harus menjadi tiga serangkai yang harus menjadi penduan pemahaman kegamaan kita sebagai orang islam. Dengan cara itu, kita berharap islam relevan dengan seluruh zaman, waktu, dan segala tempat. Wallahu a’lamu bi ash-showâb.

Buheti

Mahasiswa FH Angkatan 2007

Ketua Harian TM Al-azhar FH UII

Written by alrasikh

February 6, 2010 at 2:48 pm

Posted in lembar jumat

MERAIH KESUKSESAN PROPHETIC

leave a comment »

Apabila kamu telah menyelesaikan ibadah hajimu, maka berdzikirlah dengan menyebut Allah, sebagaimana kamu menyebut-nyebut (membangga-banggakan) nenek moyangmu, atau (bahkan) berdzikirlah lebih banyak dari itu. Maka di antara manusia ada orang yang bendoa: “Ya Tuhan kami, berilah kami (kebaikan) di dunia”, dan tiadalah baginya bahagian (yang menyenangkan) di akhirat. Dan di antara mereka ada orang yang bendoa: “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka”.

(QS Al-Baqarah [02]: 200-201)

Sebagai seorang Muslim kita dianjurkan untuk mempergunakan waktu sebaik mungkin karena merugilah bagi orang-orang yang menyia-nyiakan waktunya (QS. al’Ashr [103]: 1-3). Rasul juga mengajarkan kepada kita untuk meningkatkan kualitas amal ibadah kita setiap hari karena orang yang amal ibadahnya hari ini sama dengan hari kemarin adalah orang yang merugi dan orang yang amal ibadahnya hari ini lebih baik dari hari kemarin adalah orang yang beruntung. Ada pepatah mengatakan “waktu itu laksana pedang, jika kamu tidak memamfaatkannya maka ia akan menebasmu”. Maka merupakan suatu kebijaksanaan jika kita meningkatkan kualitas amal ibadah kita dari waktu ke waktu. Untuk mencapai kualitas kesuksesan yang berorientasi bukan hanya pada kehidupan dunia tapi juga untuk kehidupan akhirat atau boleh saya sebut dengan “Kesuksesan Prophetic” maka Islam telah mengajarkannya kepada kita.

Siapa sih yang tidak familiar dengan kata “sukses” ini? Setiap orang pasti ingin menjadi orang sukses, baik itu sukses dalam belajar, sukses dalam membina keluarga, sukses dalam berusaha, sukses dalam karier dan lain sebagainya. Tapi tidak semua orang bisa meraih yang namanya ’sukses’. Bisa jadi ini terjadi karena diferensiasi metode yang dilakukan orang dalam meraih sukses dan tingkat ketekunan dan kegigihan (keistiqomahan) mereka. Orang yang bisa meraih kesuksesan dalam hidupnya pasti akan senang dan selalu optimis, begitu juga sebaliknya orang yang gagal dalam hidupnya akan pesimis dalam menjalani hidup. Karena itulah watak manusia, mereka tidak bisa mengambil pelajaran(i’tibar) dibalik realita. Dilain sisi, orang pada umumnya mengidentikkan sukses dengan kebebasan financial, punya asset yang banyak, penghasilan diatas 50 juta perbulan, punya rumah dan mobil mewah. Itukan hanya persepsi nafsu duniawi belaka, tapi realitanya banyak mereka yang punya banyak asset, penghasilan diatas 50 juta perbulan, rumah dan mobil mewah tapi hati mereka tidak tenang setenang seperti apa yang orang miskin banyak pikirkan, jiwa mereka penuh dengan was-was. Namun, tidak sedikit orang yang hidupnya sederhana bisa ’sukses’ dalam hidupnya, hatinya tenang dan bahagia.

Nah, sekarang bukan saatnya lagi pola pikir kita dikuasai dengan yang namanya ’sukses berarti finansial’ tapi bukan berarti kita menafikan pentingnya finansial, bahkan sangat penting. Oleh karena itu kita harus berhijrah dari metode meraih sukses dari persepsi finansial, duniawi, dan nafsu belaka kepada sukses dengan kekuatan spritual yang akan mengantarkan hidup kita sukses finansial dan sukses jiwa artinya keseimbangan antara duniawi dan ukhrawi.

Langkah-Langkah Sukses

Langkah sukses pertama, istifaedah, orang bijak selalu bilang “semua peristiwa itu ada hikmahnya”,  dalam al-Quran Allah ta’ala juga berfirman”Maka ambillah (kejadian itu) untuk menjadi pelajaran, hai orang-orang yang mempunyai wawasan. (QS Al-Hasyr [59]: 2). Allah ta’ala tidak pernah sia-sia dalam menciptakan segala sesuatu. Dia menciptakan surga supaya manusia cenderung kepada-Nya, Dia menciptakan neraka supaya manusia takut dengan siksaan-Nya dan senantiasa menjauhi dosa, Allah ta’ala menciptakan manusia yang jahat agar manusia yang hasan bisa menasehati dan saling tolong menolong untuk kebaikan dan taqwa (lihat QS Al-Maidah [05]: 2). Begitu juga kita dalam menghadapi kehidupan dibalik kegagalan yang kita hadapi pasti ada hikmahnya dan dibalik kesuksesan yang kita miliki juga ada hikmahnya karena Allah ta’âla tidak mungkin menciptakan sesuatu tanpa hikmah. Maka, hanya orang-orang yang memiliki wawasan (ilmu) lah yang bisa mengambil faedah dibalik realita kehidupan.

Kedua, istiqamah atau teguh pendirian, roda kehidupan memang tidak selalu berada di atas terkadang kita berada di bagian bawah, badai disertai angin kencang dan hujan selalu menerjang biduk kehidupan yang kita tumpangi, sehingga membuat kita oleng kekiri ataupun kekanan, terkadang biduk kita hampir tenggelam bahkan ada yang tenggelam karena terpaan badai yang kuat dan besar. Namun, orang yang optimis, pantang menyerah dan teguh pendirian akan berusaha sekuat tenaga mencapai pulau sukses mereka “patah dayungnya mereka gunakan tangan sebagai penggantinya, robek layarnya mereka ganti dengan baju mereka, tenggelam biduk mereka,  mereka berenang mengarungi lautan walaupun terkadang terombang ambing terhempas ombak”. Orang sukses semuanya berangkat dari perjuangan kecil yang mereka rintis, ini realita kalu kita belajar dari orang-orang sukses yang ada di Indonesia boleh kita lihat biografi mereka, ada yang sekolah sambil jualan di pasar, jadi buruh, jualan gorengan sambil sekolah, atau para pengusaha yang sukses mereka terkadang juga ada yang bangkrut alias gulung tikar, tapi mereka berusaha bangkit dan bangkit. Ingatlah, tidak semua orang mengarungi samudra dengan kapal yang besar, tapi banyak diantara mereka yang mengarungi samudra dengan biduk kecil, namun mengapa mereka berhasil? Jawabannya “istiqamah”, Allah ta’âla berfirman “Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum sebelum mereka sendiri yang merubah nasibnya”.(QS Ar-Ra’ad [13]: 11).

Ketiga, istisyarah, Allah ta’âla berfirman di dalam al-Qur’an “Dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Tuhannya dan mendirikan shalat, sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarat antara mereka; dan mereka menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami berikan kepada mereka.(QS As-Syûrâ [42]: 38). Ayat ini menjelaskan kepada kita bahwa merupakan suatu kewajiban untuk bermusyawarah dalam urusan dunia. Dalam bermusyawarah akan muncul solusi-solusi bermutu dan ide-ide cemerlang yang bisa membantu penyelesaian masalah, karena Allah ta’ala akan membukakan jalan permasalahan bagi siapa yang mengharap rahmat dari musyawarah itu. Orang Minang punya pepatah “duduak surang basampik-sampik, duduk basamo balapang-lapang” artinya menyelesaikan masalah tanpa musyawarah itu sulit, tapi jika dengan musyawarah masalah itu cepat terselesaikan. Pepatah ini senada dengan apa yang Allah perintahkan dalam al-Qur’an “Hai orang-orang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu: “Berlapang-lapanglah dalam majlis”, maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu”. (QS Al-Mujâdalah [58]: 11).

Keempat, istikharah, hidup itu terkadang pilihan, dalam perkara apaupun kita selalu dihadapkan kepada pilihan. Masing-masing pilihan mesti punya konsekwensi yang terkadang kita ragu dalam menentukan pilihan kita karena mempetimbangkan konsekwensi dari pilihan itu. Banyak orang menyesal setelah mereka menentukan pilihan mereka dan gagal bahkan mereka mengumpat diri mereka sendiri. Ini tentu sangat berbeda dengan orang yang‘istikharah’, dalam menentukan pilihan mereka selalu meminta pertolongan Allah ta’âla. Kalau pilihan mereka itu berakibat baik pada diri mereka maka mereka akan bersyukur pada Allah ta’ala, tapi jika pilihan mereka itu membuat mereka rugi atau buruk bagi mereka, mereka tetap sabar dan yakin bahwa dibalik realita ini pasti Allah mempersiapkan kebaikan yang banyak. Itulah bedanya orang yang istikharah dan yang tidak. “Dan Tuhanmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya. Sekali-kali tidak ada pilihan bagi mereka. Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan (dengan Dia)”. (QS Al-Qashas [28]: 68). Oleh karena itu, bawalah Allah setiap anda menentukan pilihan, insya Allah anda akan mendapatkan kebaikan yang banyak.

Kelima, istijabah, kewajiban manusia adalah berikhtiar (berusaha), apa yang menjadi hasilnya nanti adalah urusan Allah ta’âla. Namun disamping itu kita juga harus beristijabah (berdo’a/memohon) kepada Allah ta’âla sebagai penguat ikhtiar yang telah kita usahakan. Beristijabah kepada Allah ta’âla merupakan suatu ibadah sebagaimana perintah Allah “Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina”.(QS Al-Mu’min [40]: 60) (yang dimaksud menyembah-Ku adalah beribadah kepada-Ku). Disurat lain Allah ta’âla juga berfirman ” Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran”.(QS Al-Baqarah [02]: 186).

Sebagai seorang Muslim yang menjadi patokan kesuksesan kita adalah Rasulallah saw. Dan para sahabat-sahabatnya, misalnya Umar ra memiliki 70.000 property, Usman ra memiliki property disepanjang wilayah Aris dan Khibar, belum lagi sahabat Abdurrahman bin Auf, Amru bin Ash, Zubair, dan Mu’awiyah, dll. Kesuksesan mereka bukan hanya diakui secara duniawi saja melainkan juga secara ukhrawi mereka adalah para ahli sorga yang Allah janjikan atas mereka. “Bukanlah kaya (sukses) orang yang banyak hartanya, tapi orang yang kaya (sukses) adalah orang yang kaya jiwanya” (HR Bukhari & Muslim dari Abi Hurairah ra).

Syahri Ramadhan Tadun El-Minangkabawy

Mahasiswa Psikologi UIN Sunan KaIijaga

Written by alrasikh

January 28, 2010 at 4:42 pm

Posted in lembar jumat

Hikmah

leave a comment »

“Adapun manusia, apabila Rabbnya mengujinya dengan memuliakan kedudukannya dan mencurahkan nikmat (dunia) kepadanya maka dia pun mengatakan, ‘Rabbku telah memuliakan diriku.’ Dan apabila Rabbnya mengujinya dengan menyempitkan rezkinya ia pun berkata, ‘Rabbku telah menghinakan aku.’ Sekali-kali bukanlah demikian…”

(QS. al-Fajr [89]: 15-17)

Written by alrasikh

January 28, 2010 at 4:38 pm

Posted in mutiara hikmah

MUHASABAH: MEDIA MENINGKATKAN KUALITAS IMAN

with one comment

“Maka adapun orang yang catatannya diberikan dari sebelah kanannya, maka dia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah”. (QS. Al-Insyiqaq [84]: 7-8).


Jika kita amati secara mendalam, nampaknya Allah SWT. selalu mengirimkan hikmah dari i’tibar yang diperoleh dari bencana yang melanda dunia ini. Tak ubahnya perkataan yang pasti akan menggoreskan kesan (positif atau negatif) dihati pendengarnya. Begitupun dengan apa (musibah) yang Allah turunkan kepada manusia -sebagai bentuk kalam Tuhan yang bersifat teguran- tentu memiliki maksud dan tujuan yang terkadang kita merasa sulit atau bahkan kesulitan untuk memaknainya. Semestinya manusia menyadari hal itu lalu melakukan tindak lanjut (fedback) dari semua itu. Sekali lagi ini adalah keterbatasan manusia sebagai ciptaan tuhan (makhluk) yang memang sudah menjadi ketetapan sang pencipta (kholiq) untuk memahaminya.

Belakangan ini, Minggu, 11/01/2010, telah terjadi gempa bumi di Tasikmalaya dengan kekuatan cukup besar yaitu 5,4 SR walaupun tidak berpotensi tsunami (detikNews.com). Tentu musibah ini memberikan gambaran (isyarah) kepada kita bahwa dunia ini sudah semakin tidak bersahabat dengan manusia karena sebenarnya itu dampak dari ulah manusia sendiri yang tidak mau menyayangi alam. Sehingga Allah SWT. menurunkan azab sebagai balasan dari perbuatan manusia itu (QS. ar-Rum [30]: 41). Disisi lain, terlepas dari ramalan kiamat 2012 yang kontroversial itu sesungguhnya -menurut telaah penulis- hal itu mengisyaratkan bahwa semakin dekat waktu yang telah dijanjikan Allah SWT. yaitu yaum as sâ’ah (lebih dikenal dengan istilah kiamat).

Idealnya menanggapi semua itu, kita harus melakukan muhasabah (introspeksi) terhadap semua sikap dan tindakan kita selama ini. Sudahkah kita penuhi semua kewajiban kita sebagai makhluk Tuhan, dimana tujuan penciptaan manusia adalah untuk mengabdi kepada Allah (li’ibadatillah), atau justru perbuatan kita selama ini jauh dari nilai-nilai Ilahiyyah. Oleh karena itu, mari kita berintrospeksi diri demi menuju hidup yang sesuai dengan ajaran agama mengingat bahwa tidak ada jaminan kita akan bangkit dari tidur esok hari. Karena boleh jadi ajal menjemput sebelum kita bertaubat kepada Allah SWT atau Malaikat Izrail telah mencabut nyawa kita sebelum taubat kita benar-benar diterima oleh-Nya, yang lebih ironis bila nyawa ini melayang dikala kita sedang berbuat kemaksiatan atau berada dalam lembah kenistaan. Na’udzubillahi min dzalik…

Hakikat Muhasabah

Muhasabah atau introspeksi diri adalah kata yang hakikatnya sering disalahpahami oleh mayoritas orang. Mereka beranggapan introspeksi diri adalah mengingat perbuatan dosa yang telah dilakukan, dengan menyesali (nadamah) dan menangisinya (buka’). Padahal, pengertian tersebut bukanlah termasuk ke dalam muhasabah. Namun itu adalah salah satu dari syarat-syarat taubatan nasuhan (taubat yang murni). Merujuk kepada hadits Rasulullah saw. Tentang hakikat muhasabah, akan kita temukan yang dimaksud dengan muhasabah adalah memaksakan diri dan menundukkannya agar taat melaksanakan semua perintah Allah SWT. sebagai bekal di akhirat (Asep Sulhadi, 2007). Sesuai dengan konsep ini maka kita harus mengarahkan diri kita untuk selalu tunduk dengan perintah Allah SWT. dan Rasul-Nya, Muhammad saw. Dengan demikian diharapkan kita mampu melakukan muhasabah diri (introspeksi) yang hakiki. Sehingga kita dapat mengontrol semua tindakan kita agar selalu berada di jalan yang diridhoi Allah SWT.

Merujuk kepada pengertian introspeksi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), yaitu peninjauan atau koreksi terhadap (perbuatan, sikap, kelemahan, kesalahan, dsb) diri sendiri; mawas diri. Kita dapat simpulkan bahwa muhasabah itupun berarti sebuah upaya untuk menilai semua tindakan kita secara menyeluruh yang kemudian mengilhami manusia untuk melakukan perbaikan (ishlah). Dengan demikian kita akan selalu dalam kondisi yang stabil karena perbuatan kita terkontrol melalui muhasabah yang secara kontinyu kita lakukan. Pengertian ini juga sejalan dengan arti introspeksi menurut kamus Oxford (Oxford Dictionary) yaitu penilaian secara hati-hati terhadap pemikiran, perasaan (tindakan) dan lain lain (the careful examination of your own thoughts, feelings, etc).

Terlepas dari perbedaan pengertian di atas dapat kita pahami bahwa muhasabah pada prinsipnya adalah koreksi terhadap tindakan kita selama ini dan berusaha melakukan renovasi menuju akhlak yang lebih baik. Dan mengekang nafsu kita dari hal-hal yang berbau maksiat serta memaksakan diri untuk tunduk dan taat terhadap perintah Allah dan Rasul-Nya (ta’alim diniyyah) karena hal ini adalah harga mati, tidak bisa ditawar-tawar. Ini dilakukan demi memperoleh ridho ilahi (ibtighou mardhotillah) dan memperoleh keselamatan di dunia dan di akhirat kelak (alhasanah fid dunya wal akhiroh)


Hikmah di Balik Muhasabah

Ada sebuah kisah menarik yang dapat kita petik hikmahnya. Hiduplah seorang tabi’in shaleh yang bernama ‘Atha as-Salami. Suatu hari Atha bermaksud menjual kain yang telah ditenunnya. Setelah diamati dan diteliti secara seksama oleh si penjual kain, kemudian penjual kain itu berkata, “Wahai Atha, sesungguhnya yang engkau tenun ini cukup bagus, tetapi sayang ada cacatnya sehingga aku tidak dapat membelinya.” Begitu mendengar bahwa kain yang telah ditenunnya ada cacat, Atha termenung lalu menangis. Karena menurut ‘Atha kain itu sudah ia tenun dengan baik dan bagus serta tidak ada cacatnya.

Melihat Atha menangis, penjual kain itu berkata, “Wahai Atha sahabatku, aku mengatakan yang sebenarnya bahwa memang kainmu ada cacatnya sehingga aku tidak jadi membelinya. Kalaulah karena itu (cacatnya kain tenunan) engkau menangis, maka biarlah aku akan tetap membeli kainmu itu dan membayarnya dengan harga yang pas.”

Tetapi tawaran itu dijawab Atha, “Wahai sahabatku, engkau menyangka aku menangis dikarenakan kainku ada cacatnya? Ketahuilah, sesungguhnya aku menangis bukan karena kain itu. Aku menangis karena menyangka bahwa kain yang telah kubuat berbulan-bulan ini tidak ada cacatnya, tetapi dimatamu sebagai ahli tenun terlihat ada cacatnya. Begitulah aku menangis kepada Allah, dikarenakan aku menyangka bahwa ibadah yang kulakukan selama bertahun-tahun ini tidak ada cacatnya. Tetapi, mungkin dalam pandangan Allah sebagai ahlinya ada cacatnya, itulah yang menyebabkan aku menangis.

Ada dua hikmah yang dapat kita ambil dari kisah diatas. Pertama, kita harus sering melakukan muhasabah terhadap segala amal kebaikan yang telah kita kerjakan. Karena boleh jadi amalan yang selama ini kita anggap baik justru tidak artinya di sisi Allah SWT. Dr. Abdullah Nashih Ulwan dalam kitabnya yang berjudul Ruhaniyatud-Da’iah menjelaskan hakikat muhasabah sebagai berikut, “Hendaklah seorang mukmin menghisab dirinya ketika selesai melakukan amal perbuatan, apakah tujuan amal untuk mendapatkan ridha Allah atau apakah amalanya disusupi sifat ria’?. Kedua, jangan bersandar kepada amal yang telah kita lakukan untuk dapat masuk kesurganya Allah SWT. Kita harus bersandar kepada rahmat dan ampunan Allah SWT. (lemabang.wordpress.com)

Kisah singkat ini sungguh sangat menarik dan sarat makna. Seorang tabi’in yang mampu menyadari kesalahannya selama ini dalam beribadah karena kain tenunnya nyaris tidak jadi dibeli karena terdapat cacat dalam kain tersebut. Begitu juga dengan ibadah yang selama ini kita kerjakan, di satu sisi kita merasa sudah baik dan besar kemungkinan diterima oleh Allah. Namun disisi lain perasaan yang seperti ini justru akan merusak keutamaan amal kebajikan kita. Oleh karena itu, selayaknya jika kita harus selalu merasa randah dan menanggap bahwa ibadah kita masih jauh dari kesempurnaan. Sebab bisa jadi amalan yang kita lakukan selama ini tidak berarti apa-apa di sisi Allah karena kesombongan dan kelalaian hati kita. Sehingga kita bisa melakukan ibadah dengan semaksimal mungkin dengan niat yang tulus untuk mencapai cinta Tuhan (mahabbah).


Penutup
Begitu pentingnya muhasabah dalam hidup ini maka sudah sewajarnya kita selalu melakukannya setiap waktu. Terlebih setiap selesai melakukan suatu amal perbuatan supaya perbuatan sehari-hari (amaliyyah yaumiyyah) kita diterima dan bersih rasa sombong dan riya’ yang dapat menggugurkan pahala. Dengan membiasakan diri bermuhasabah berarti kita telah berusaha meningkatkan kualitas iman kita kenuju kesempurnaan. Bahkan kita pun akan menjadi orang yang beruntung di hari perhitungan amal (yaum al hisâb) nanti karena sedikit banyak kita telah memperhitungkan (membuat perhitungan) amal kita di dunia. Insya Alla.

Umar bin Al Khatab pernah berkata, ”Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab (hâsibû qobla an tuhâsabû)”. Oleh karenanya kita harus selalu mengintrospeksi amal kita dari waktu ke waktu secara terus menerus sebelum pada akhirnya nanti kita akan dihisab di akhirat. Dengan demikian kita akan mendapatkan kesempurnaan ibadah dan mampu menggapai kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Dan akhirnya, semoga kita menjadi golongan orang yang selalu berbenah diri, memperoleh catatan amal dari sebelah kanan serta mendapat ampunan dari Allah SWT. atas dosa yang telah kita perbuat. Amin ya Robbal ‘âlamîn. Wallâhu a’lamu bi ash shawâb.

Samsul Zakaria,

Mahasiswa Prodi Hukum Islam

FIAI UII, Angkatan2009

Written by alrasikh

January 19, 2010 at 11:08 pm

Posted in lembar jumat