61 Tahun Proklamsi, 63 Tahun UII
Dan tiadalah Kami mengutus engkau (wahai Muhammad) kecuali untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam (QS. Al-Anbiyaa’ [21]:107).
Bulan Agustus tahun 2006 ini barangkali merupakan bulan yang layak menjadi ajang refleksi bagi segenap civitas akademik UII, yang sekaligus adalah warga bangsa Indonesia. Pada bulan inilah peringatan milad, yang dihitung berdasarkan tahun Qomariyah, memasuki masa ke-63, yang juga beriringan dengan peringatan proklamasi kemerdekaan ke-61 Republik ini. Dua peringatan yang memiliki begitu dalam makna bagi kehidupan dan perjalanan enam dekade bangsa dan secara khusus keluarga besar UII.
Adalah sebuah realitas sejarah, bahwa founding fathers republik ini adalah juga bidan yang membantu kelahiran Sekolah Tinggi Islam (STI) yang di kemudian hari berubah menjadi Universitas Islam Indonesia (UII). Tak heran jika UII kemudian menjadi sebuah representasi keislaman sekaligus kebangsaan, selain juga sebagai pengampu tugas pertama pendidikan tinggi di republik ini. Banyak memang yang berubah seiring dengan laku sejarah. Meskipun menjadi akar bagi embrio pendidikan Islam di tanah air, toh gelar PTI telah menjadi milik berbagai universitas, institut dan sekolah tinggi di bawah Departemen Agama. Pun sebagai pioneer pendidikan tinggi, UII bukan merupakan universitas ber-rating A yang kursinya menjadi rebutan anak-anak terbaik negeri ini.
Belajar dari Akar Sejarah
Satu hal yang selamanya tidak akan berubah adalah kenyataan sejarah dalam diri UII, yang harus disadari segenap civitas akademik di dalamnya. Kenyataan bahwa UII bukan hanya yang pertama, tetapi juga yang mendapat misi untuk mengemban tugas keunggulan bagi masa depan bangsa yang lebih baik. Tugas ini, meskipun mudah untuk diucap, ditulis dalam program dan rencana kegiatan, jelas tidak mudah dilaksanakan mengingat perubahan arus global yang makin meniscayakan persaingan dalam kerangka internasional, pun dalam bidang pendidikan. Sebagai lembaga pendidikan, UII tidak hanya akan berhadapan dengan masalah penurunan kuantitas sumber daya manusia yang ingin menuntut ilmu di berbagai program studi yang disediakan, tetapi juga menghadapi tuntutan peningkatan kualitas output dan outcome-nya di masyarakat.
Benar bahwa UII memiliki banyak mahasiswa berprestasi yang mampu berbicara di berbagai even tingkat nasional di negeri ini. Dan adalah juga benar bahwa UII telah menghasilkan banyak alumni dengan berbagai jabatan baik di lembaga pemerintah maupun swasta di hampir seluruh wilayah negeri ini. Namun yang tak boleh dilupakan adalah bahwa kewajiban besar UII membawa nama bangsa ini di tingkat dunia belumlah sepenuhnya selesai. Apalagi ciri kesempurnaan yang ditonjolkan UII adalah rahmatan lil ‘alamiin (rahmat bagi semesta alam). Sebuah tugas mulia yang tidak hanya menuntut kerja keras tapi juga keikhlasan dalam perjuangan panjang yang belum diketahui akhirnya.
Dalam Jami’ul Bayan, Ath-Thabari (224H-310H) menukil dua pendapat mengenai makna al-‘alamiin sebagai sasaran rahmat yang dibawa Nabi Saw dalam surat Al-Anbiyaa’ [21]: 107 tersebut. Pendapat pertama menyebutkan bahwa komunitas yang included dalam kata al-‘alamiin adalah kaum beriman saja. Adapun pendapat kedua, menyebutkan bahwa seluruh umat manusia adalah sasaran yang harus mendapat rahmat dari risalah Nabi Saw yang berarti bahwa tidak ada batas agama dan sekat kebangsaan dalam menerima rahmat ini. Ath-Thabari sendiri memilih pendapat kedua sebagai pilihan terbaik bagi tugas Nabi Saw yang dipenuhi semangat universalisme ajaran Islam.
Pendapat yang berasal dari Ibnu Abbas r.a. ini meniscayakan luasnya cakupan tugas UII ketika klaim rahmatan lil ‘alamiin menjadi ujung tombak dalam melaksanakan misi pengabdian kepada masyarakat. UII dituntut tidak hanya menjadi sebuah komunitas yang siap bergaul dan bersaing dengan masyarakat dunia di ‘desa global’ dengan segala konsekuensi pertukaran, akulturasi dan benturan budaya serta ideologi di dalamnya, tetapi juga mampu memberi sumbangan konstruktif bagi jalannya dunia yang penuh dengan kedamaian (salaam) dan kerjasama (ta’awun) bagi kemakmuran hidup penghuninya.
Tugas besar yang menuntut tanggung jawab seluruh civitas akademik UII ini, jelas membutuhkan banyak pengorbanan. Ego dan semangat lokalitas yang sempit sudah harus dihilangkan dan diganti dengan semangat kemanusiaan dan visi komunal yang meletakkan kepentingan bersama di atas ambisi individual. Kesadaran ini selanjutnya harus diikuti dengan profesionalisme dalam diri segenap civitas akademik akan tugas dan wewenang (wewenang dan tanggung jawab) yang diemban, baik dalam lingkup UII maupun dalam lingkup bangsa.
Melihat Realitas Masa Kini demi Masa Depan
Sebagai bagian dari anak bangsa, adalah sangat realistis jika UII mau dan mampu melakukan refleksi kritis terhadap diri dan peran kebangsaan yang selama ini telah dilaksanakan. Sudahkah bangunan-bangunan megah yang dibangun insinyur dan arsitek yang dahulu belajar di UII juga telah diringi oleh pembangunan jiwa yang menjadi perisai bangsa dari ancaman korupsi dan penyelewengan kekuasaan oleh sebagian aparatnya? sudahkah lembar-lembar skripsi, tesis, dan disertasi yang ditulis alumni UII menjadi pijakan kebijakan yang secara ilmiah dapat dipertanggung jawabkan demi masa depan negeri ini? Sudahkah semangat perubahan dalam setiap demonstrasi mahasiswa juga menjadi semangat yang menjiwai segenap kebijakan para mahasiswa tersebut saat mereka memegang amanah dalam lingkar kekuasaan di negeri ini?
Dengan menjawab berbagai pertanyaan di atas, sebenarnya sebagai warga UII, kita tidak hanya menjawab apa yang telah kita lakukan dalam menghadapi tantangan zaman yang akan selalu berkembang. Lebih jauh kita juga akan menjawab amanah umat kepada UII dalam menyelenggarakan sebuah pendidikan tinggi yang sesuai dengan prinsip-prinsip dasar ajaran Islam. Jawaban atas pertanyaan di atas adalah juga fondasi saat ini demi menjawab masa depan UII sekaligus masa depan bangsa ini. Ada baiknya kita kembali mengingat pesan besar untuk UII dari Bung Karno, yang atas namanya (dan Bung Hatta), proklamasi kemerdekaan bangsa ini dikumandangkan: “…dirikanlah pergedungan University Islam Indonesia dengan tjorak nasional jang berdjiwa Islam, dan hendaknja merupakan pergedungan University jang besar di Asia Tenggara…”. Wa Allahu A’lamu.
Yuli Andriansyah