Lembar Jumat Al-Rasikh

Archive for October 2006

1 Syawal 1427 H

without comments

Segenap Staf Redaksi Buletin Jumat Al-Rasikh dan

Staf Direktorat Pendidikan dan Pengembangan Agama Islam

Universitas Islam Indonesia Mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1427 H

Minal Aidin wal Faizin Mohon Maaf Lahir dan Batin

Written by alrasikh

October 30, 2006 at 4:42 am

Posted in Uncategorized

MUTIARA HIKMAH

without comments

Ketika Isra’ Mi’raj, Rasulullah saw bertanya, “Wahai Tuhanku, apakah hasil dari puasa?Allah swt berfirman, “Puasa mewariskan hikmah dan hikmah mewariskan ma’rifah, dan ma’rifah mewariskan keyakinan.” Apabila seseorang telah memperoleh keyakinan (kepada Allah dan segala kehendakNya) maka ia tidak akan peduli (apakah) hari esoknya akan dipenuhi dengan kesulitan atau kemudahan.

(Kitab Al-Bihar, juz 77, hal. 27)

Written by alrasikh

October 30, 2006 at 4:36 am

Posted in mutiara hikmah

MENJINAKKAN “DUNIA”

without comments

Bagaimana mungkin seseorang mengaku cinta kepada Allah, sementara ia masih cinta kepada dunia?” (Ali Bin Abi Tholib)

Dunia sebagai lahan kebencian bagi mereka yang merindukan perjumpaan dengan-Nya adalah keseluruhan dari hal-hal yang menghalangi manusia untuk mencurahkan ketaatan dan kecintaannya kepada Allah. Sementara akhirat sebagai lawan dari dunia adalah keseluruhan dari hal-hal yang mampu menjadi perantara bagi manusia untuk mencapai perjumpaan abadi dengan-Nya, sebagai puncak dari segala impian manusia. Maka, “dunia” sebagai “hijab” segala kecintaan kepada Allah bisa jadi tidak hanya identik dengan hal-hal yang bersifat materi ataupun amaliah keduniaan yang sehari-hari dijalani manusia. Namun, bisa jadi ia adalah hal-hal berbau ritual yang dilaksanakan di atas pondasi riya’. Bisa jadi ia adalah shodaqoh manusia yang di bangun atas dasar perasaan ujub. Bisa jadi pula, ia adalah tradisi intelektual positif yang menimbulkan arogansi dan kesombongan serta perasaan lebih tinggi di hadapan manusia lain.

Demikian pula, “akhirat” sebagai “washilah” bagi kecintaan terhadap Allah tidaklah ter-‘bingkai’ hanya dalam bentuk ritual yang identik dengan ajaran formal agama semata. Bisa jadi, ia adalah segala jenis perniagaan kita yang dilandasi semangat untuk menjamin kehidupan keluarga demi ketaatan kepada perintah Allah. Bisa jadi, ia adalah segala pekerjaan kita yang memiliki tujuan untuk mengangkat derajat kaum miskin dan mereka yang hatinya tengah hancur karena derita yang dirasakannya. Bisa jadi pula, “akhirat” adalah segala pengetahuan dan keterampilan yang kita kuasai dan kita gunakan untuk berkhidmat kepada hamba-hamba-Nya, semisal, sekedar menyelipkan sebersit senyum di tengah muramnya kesedihan di muka hamba-hamba Allah tersebut.

Sehingga, seseorang yang memiliki kejernihan hati akan mengatakan bahwa “dunia” dan “akhirat” adalah dua keadaan batin dari hati. Segala yang lebih dekat dan berkaitan dengan kehidupan sebelum mati adalah “dunia”. Dan segala hal yang berkaitan dengan upaya menggapai kedekatan dengan-Nya serta berkaitan dengan kehidupan setelah kematian adalah “akhirat”. Sehingga, sebagaimana definisi yang telah disampaikan di awal, segala hal yang mengantarkan manusia kepada kenikmatan lahiriyah, kebangkitan hawa nafsu dan kelalaian atas-Nya adalah “dunia”.

Dunia dan akhirat bukanlah alam yang berada jauh di luar diri manusia. Dunia dan akhirat adalah dua alam yang ada dalam diri setiap individu. Alam yang pertama merupakan alam yang terendah dalam diri manusia, yakni ketika ia terhempas bersama bala tentara kegelapan dalam dirinya ke dalam kubangan yang penuh kelalaian dan kedurjanaan atas setiap kehendak-Nya. Alam yang kedua adalah setiap upaya untuk mengangkat derajat manusia menuju hakikat tujuan dasar dari kehidupannya. Laksana seekor anai-anai yang mengelilingi cahaya, dan menjadikan “cahaya” itu sebagai tujuan akhirnya, walaupun ia harus terbakar di dalamnya. Alam akhirat merupakan satu kondisi batin yang membatalkan segala motif tindak tanduk kecuali harapan akan perjumpaan abadi dengan-Nya.

Ketika harapan ini terpenuhi melalui jalan “akhirat”, maka berbagai implikasi lain akan mengikutinya. Akan bersamanya, sejuk hawa telaga kautsar yang memancarkan mata air keabadian. Akan bersamanya, bidadari-bidadari yang telah dijanjikan sebagai sahabat dalam mereguk keindahan taman surga. Akan bersamanya, Rasul Agung, Sang kekasih, beserta keluarganya yang suci dan para pembelanya yang senantiasa hidup di bawah panji syahadah.

Maka, apa yang di dalam Alquran dan Hadits disebut sebagai “dunia yang tercela” dan sekedar permainan (yang menjebak), serta senda gurau belaka sesungguhnya tidak berlaku bagi dunia itu sendiri. Tetapi yang dimaksud dengan segala ketercelaan dan “senda gurau” tersebut tidak lain kecuali kondisi manusia yang tenggelam di dalamnya, diperbudak oleh kecintaan kepadanya, serta keterbelengguan manusia atasnya. Maka dalam hal ini, manusia akan senantiasa memiliki dua dunia; dunia yang dikutuk karena ia tidak mampu men”jinak”kannya dan dunia yang diagungkan karena ia mampu men”jinak”kan dan mentransformasikannya ke dalam “dunia” sebagai “akhirat”.

Dunia yang tercela atau dunia yang dikutuk adalah segala yang bila seseorang memperolehnya di setiap lahan, di setiap madrasah, di setiap pasar, di setiap ladang, dengan mempertaruhkan kedudukan ruhaniah yang tinggi hanya dengan secuil rasa congkak, rasa ujub dan merasa bangga akan diri serta melupakan “asal” segala eksistensi. Semuanya timbul dari secuil harta dunia yang fana, padahal segala tatanan yang ada di atas dunia ini diciptakan demi sesuatu yang memiliki keabadian.

Dalam kenyataanya, manusia merupakan putra alam yang sifatnya fisik. Alam semesta menjadi ibu bagi manusia. Sehingga kecintaan terhadap dunia telah tertanam secara mendalam di dalam batinnya seiring dengan roda waktu yang mengiringi pertumbuhannya. Cinta kepada dunia itu terus tumbuh dan berkembang seiring dengan pergesekan antara dirinya dengan dunia yang setiap waktu dijalaninya. Jika ia memandang dunia sebagai lahan kesenangan serta kemewahan, dan kematian sebagai akhir dari semuanya, maka ia tidak akan bisa merasakan keakraban dan kemesraan dengan kehidupan abadi yang akan datang sesudah kehiodupan dunia itu. Tetapi jika hati kita menyadari akan kenyataan bahwa dunia ini adalah alam yang paling rendah dan eksistensinya tidak lebih selain tempat kerusakan, perubahan, alam ketaksempurnaan serta kehancuran, dan meyakini bahwa di luar itu masih ada alam yang di dalamnya terdapat segala keabadian dan kesempurnaan, maka hati kita dengan sendirinya akan mencintai alam itu dan menjadikan dunia sebagai sesuatu yang tidak berharga. Jiwa dan raga kita akan mengatakan bahwa eksistensi dunia yang ada di hadapan kita tak lain kecuali “jalan” dalam memperoleh keabadian.

Bagi, mereka yang memiliki “rasa” demikian, kematian adalah sesuatu yang begitu dirindukan dan terasa begitu dekatnya. Maka, malam-malamnya adalah munajat guna menangisi setiap langkah –langkah yang menyisakan noda dosa di dalam diri yang suci. Dan siang-siangnya adalah upaya meng”hambur-hambur”kan segala dunia demi meng-khidmat-kan diri kepada para hamba yang hancur hatinya guna benar-benar menundukkan dunia sebagai “jalan” memperoleh keabadian yang hakiki.

Puasa dan Ketundukkan “dunia”

Puasa sebagai media penyucian diri menuntut adanya upaya bagi manusia untuk membusungkan dada di hadapan “dunia”. Mampu menundukkannya dan pantang untuk tunduk kepadanya. Puasa yang secara etimologis (bahasa) berasal dari kata shoum, diartikan secara sederhana dengan kata “menahan”. Melalui hal ini, hendaknya kita menyadari bahwa setiap kenikmatan yang diperoleh manusia di atas dunia ini meninggalkan bekas kecintaan dan menjadi sebab bagi keterikatan manusia secara lebih jauh terhadap dunia. Makin banyak kenikmatan dan kesenangan yang diperoleh manusia di atas dunianya, maka makin kuat pula belenggu yang mengikat “diri”nya. Proses yang demikian akan terus berlangsung hingga hati manusia sepenuhnya menyerah kepada dunia dan segala daya tarik yang ditawarkannya. Hal ini merupakan satu pangkal dari segala dosa, pelanggaran dan kejahatan moral yang dilakukan manusia. Pemenuhan hawa nafsu dunia akan menjadi satu “momok” yang mewujud dalam pembunuhan, perampokan, pencurian, perzinahan, penyalahgunaan narkoba, dan berbagai kerusakan moral lainnya.

Transformasi konsep ritual puasa sebagai satu upaya untuk menahan dan membersihkan diri dari segala noda keduniaan harus memiliki implikasi bagi manusia dalam rangka membabat habis hawa nafsu kecintaan terhadap kefanaan dunia. Dan juga memupuk subur segala kecintaan terhadap keabadiaan. Satu eksistensi cinta yang diwujudkan dalam sedu sedan tangis di tengah keheningan pertanda sesal atas segala dosa dan pengkhidmatan atas segala derita di tengah-tengah para hamba yang hancur hatinya. Wa Allahu Alam…

Susilo Wibisono

Mahasiswa Psikologi FPISB UII

Written by alrasikh

October 30, 2006 at 4:35 am

Posted in lembar jumat

Simponi Bangsa dalam Nuzulul Qur’an

with one comment

Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Alquran) pada malam kemuliaan. Tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.

(QS. Al-Fajr [97]: 1-5)

Bagi umat Islam, peristiwa nuzulul Qur’an adalah peristiwa spiritual yang agung, dimana Alquran di turunkan saat Lailatul Qadar, dari Lauhul Mahfudz ke Langit Dunia, yang kelak dikenal sebagai “malam lebih seribu bulan”. Tetapi mengapa kita tidak menyongsongnya dengan kesiapan-kesiapan spiritual sehingga transformasi moral yang bisa berpengaruh terhadap proses kebangsaan belum terwujud semestinya?

Hanya ada dua jawaban terhadap pertanyaan seperti itu. Pertama, karena cara dan semangat menyongsong cahaya Alquran yang turun, tidak dengan spirit inklusif yang bisa membumikan Alquran dalam dataran kebangsaan, bahkan Alquran banyak dimanupulasi untuk kepentingan-kepentingan kelompok dan politik. Kedua, karena Alquran telah diacuhkan nilai-nilainya, sehingga banyak umat yang hanya memahaminya secara formal dan ritual saja, yang lalu dijadikan sebagai legitimasi pandangan-pandangan ideologisnya. Alquran terasa kering maknanya dalam kehidupan, hampir-hampir tidak muncul fenomena teosofianya dalam perilaku, khususnya pada kaum elit bangsa ini.

Dalam peristiwa nuzulul Qur’an, selain cahaya-cahaya Ilahiah yang turun ke muka bumi, sesungguhnya Allah juga menentukan “nasib” kita dalam nuansa takdir-Nya, untuk satu tahun ke depan. Karena itu jika Lailatul Qadar disebut “Malam Kepastian”, berarti ada bentangan sejarah yang bergulat antara Kehendak-kehendak Ilahi dengan kehendak-kehendak manusiawi, antara egoisme dan kesombongan-kesombongan dengan sikap-sikap kepasrahan hamba atas kelemahan dan keterpedayaan dirinya.

Inilah yang disebut dengan bisikan-bisikan moral, dimana menurut Sufi besar Ibnu Athaillah as-Sakandary, Allah swt memberikan petunjuk kepada umat manusia melalui dua simponi. Yang pertama, Allah memberi bisikan simponi lembut melalui anugerah nikmat dan karunia, agar hambaNya begitu mudah mengenalNya, mengingatNya, dan meyakini kebajikan-kebajikanNya. Jika cara ini ternyata masih harus berhadapan dengan pintu gerbang keangkuhan manusia, maka Allah melakukan dengan cara “membentak” dalam alunan nada simponiNya. Lalu bentakan Ilahiyah itu terwujud dalam bencana, tragedi dan cobaan-cobaan yang begitu keras.
Semua bisikan itu, begitu tampak aktual dalam keseharian bangsa kita. Simponi yang mengalun, terkadang terasa begitu merdu dan indah, terkadang begitu keras memilukan. Lebih memilukan ketika muncul vonis-vonis sejarah yang hanya didasarkan pada kepentingan penguasa, kalah dan menang, mayoritas dan minoritas, sehingga kebenaran dan kepastian-kepastian sejarah harus terhijab oleh gerakan-gerakan rekayasa elit yang membawa korban rakyat kecil.

Apa yang bisa kita bayangkan, ketika Alquran turun, bukan pada zaman Rasulullah Muhammad saw, tetapi turun pada saat ini, dan di negeri ini? Tentu saja, kita hanya bisa membuat metafora-metafora, tentang sebuah era yang disebut zaman kegelapan (jahiliyah), lalu muncul zaman pencerahan (an-Nuur), melalui siklus sejarah yang berulang, dengan simbol-simbol maknawi yang berinteraksi dengan sejarah kita hari ini. Sampai saat ini pun, kita tidak tahu persis, dimana sesungguhnya posisi bangsa ini dalam simbiosis Qurani; apakah kita dalam situasi dan kondisi yang digambarkan oleh surat-surat tertentu, atau ayat-ayat tertentu, ataukah kita sedang menuju suatu era pencerahan baru, setelah meninggalkan era jahiliah kita, dengan resiko-resiko perjuangan moral yang amat keras? Atau kah kita akan menjadi salah satu bangsa yang punah dan lalu digambarkan sebagai bangsa yang durhaka?

Inilah yang menjadi tantangan bagi para Mufassir negeri ini, yang selama era Orde Baru hingga era Reformasi, harus menghadapi kegagalan-kegagalan “pembumian Alquran”, hanya karena para Ulama Tafsir itu, sering terpaku oleh kepentingan yang berbeda-beda. Apalagi, Departemen Agama, tidak banyak berperan dalam membangkitkan penafsiran-penafsiran kontekstual (maudhu’iy) bagi landasan spiritualitas bangsa ini. Karena itu setiap peristiwa nuzulul Qur’an diperingati, yang muncul hanya aktivitas ritual yang tidak menyentuh esensi yang sesungguhnya dari semangat Qurani itu sendiri.


LAILATUL QADAR DAN KRISIS KEBANGSAAN

Kalau kita kembalikan pada siklus organik dari turunnya Alquran pada Surat Al-Qadr, ada beberapa hikmah bagi kebangsaan kita hari ini, yang bisa kita jadikan refleksi teosofis maupun sosial:

Pertama, Alquran secara global turun di malam hari, pada “malam kepastian”. Ini menunjukkan bahwa persoalan-persoalan bangsa sedang berada dalam eskalasi kegelapan global yang membutuhkan titik-titik cahaya pencerahan yang belipat ganda, lebih dari seribu bulan atau satu generasi. Bangsa ini membutuhkan sebuah pembaharuan yang benar-benar memberi lompatan sejarah yang bercahaya, dimana nilai-nilai ruhani harus membimbing organisme penyelenggaraan kebangsaan, dan bukan sebaliknya, rasionalisme dan teknokratisme “memaksa” elemen-elemen moral Ketuhanan untuk kepentingan sejarahnya, sebagaimana kita saksikan dewasa ini.

Kedua, turunnya para malaikat disertai spirit agung (ar-ruuh) ke muka bumi dengan membawa misi perdamaian, adalah isyarat bahwa konflik-konflik antar bangsa, dan konflik bangsa dengan masalahnya sendiri, hanyalah akibat sirnanya spirit keagungan dan keluhuran. Malaikat yang senantiasa menjadi simbol bagi “kebenaran langit”, sesungguhnya harus juga dimaknai sebagai “simbol keprihatinan” global, ketika sebuah bangsa tidak lagi berdaya untuk keluar dari lingkaran dilemanya. Ketidakberdayaan itu juga akibat dari keangkuhannya sendiri, yang terus menerus menjadi koloni bagi kehidupan sosial kemanusiaan. Sampai Malaikat harus “turun” ke bumi membawa solusi-solusi bagi persoalan-persoalan bumi.

Ketiga, bahwa Lailatul Qadar itu berakhir ketika fajar terbit, memberikan petunjuk lebih jauh, bahwa apa pun hebatnya pencerahan yang ingin kita lakukan bersama, hanya akan mengalami kegagalan, apabila kesiapan-kesiapan psikologis kita untuk menyongsong “rahmat Allah” dibalik cahaya yang bakal terbit itu tidak pernah terkondisikan baik secara kultural maupun struktural. Faktanya memang demikian, di tahun-tahun reformasi ini, yang muncul adalah kebijakan-kebijakan pemerintah secara instan dan rapuh dari berbagai sektor birokrasi, peradilan maupun HAM, bahkan begitu kuat dalam tarik menarik proyek-proyek yang begitu politis.


Sentuhan Qur’ani

Dari ketiga hikmah itu, kita bisa belajar bagaimana simponi kebangsaan kita bisa mengalunkan ayat-ayat Suci Alquran dalam kemerduan-kemerduan sejarah. Tentu saja, tanpa mengurangi hak-hak demokrasi suatu kelompok yang cenderung mengalunkan ayat-ayat suci Alquran dalam sebuah simponi yang kering dan verbal, kita terus menerus diingatkan agar semangat Alquran menyadarkan kita dalam sudut paling netral bahkan di titik nol sekali pun, untuk sebuah generasi baru yang mampu memainkan sebuah simponi yang lebih agung, indah dan damai. Jauh dari aroganis intelektual, pemenuhan hasrat-hasrat primordial, dan hegemoni maniak yang menjijikkan.

Sentuhan-sentuhan Qurani tidak akan pernah hidup dalam perilaku sehari-hari, manakala bangsa ini tidak pernah melakukan “penyucian jiwa”, sebagimana disebutkan dalam ayat, “Tidak akan menyentuhnya kecuali orang-orang yang menyucikan jiwanya” (Laa yamassuhuu illal muthahharuun). Pencucian psikologis, menjadi prasyarat, bagaimana kita bisa menyongsong abad pencerahan kebangsaan kita di masa depan (mathla’il fajr).

Apakah berarti perjalanan kebangsaan kita masih panjang? Bahkan butuh lahirnya suatu generasi baru yang benar-benar bersih dari lingkungan kegelapan masa lalu? Harapan futurologis, memang senantiasa memberikan jendela-jendela baru bagi keterbukaan masa depan. Namun, kita akan menjadi monumen-monumen cacimaki anak cucu kita di masa mendatang, manakala kita tidak pernah bersedia menjadi “ibu kandung” bagi lahirnya generasi baru itu, dengan sikap kita yang hanya memikirkan diri sendiri, kepentingan-kepentingan sendiri, nama besar kita sendiri, sementara generasi yang hendak meneruskan perjuangan merasa kehilangan cinta dan kasih sayang dari “orang tua”.

Alangkah mengerikannya, kalau mereka harus tumbuh dengan kepribadian konflik yang diwariskan oleh pendahulunya. Tetapi, janganlah kemudian kita trejebak oleh rasa naif, manakala perjuangan menghantar ke gerbang pencerahan ini, mengalami hambatan yang luar biasa, bahkan mendekati kegagalan bahkan juga kekalahan. Sebab simponi yang mendendangkan nada kekecewaan dibalik kesusahan yang menimpa kita, sesungguhnya merupakan suara-suara putus asa yang tidak sedikit pun memberikan keuntungan kita bersama. Dalam kitab Sufi Al-Hikam, disebutkan, “Hilangnya semangat energi kebangkitan dibalik kesusahan yang menimpa, adalah tanda-tanda kita terjebak oleh lingkaran nafsu.” Lalu kita akan kehilangan simponi yang lembut dan merdu, minimal untuk kita yang terus berjuang membersihkan debu-debu yang menjadi penghalang bagi pantulan cermin diri kita dalam mosaik kebangsaan ini. (dikutip dari http://sufinews.com dengan sedikit suntingan/ editing. Artikel ditulis oleh M. Luqman Hakiem)

Written by alrasikh

October 30, 2006 at 4:33 am

Posted in lembar jumat