Archive for November 2006
Mutiara Hikmah
Dari Ibnu Abbas r.a. bahwa Umar bin Khaththab r.a. berkata dalam khotbahnya: “Yang paling aku takutkan atas kalian adalah perubahan zaman (masa), menyimpangnya ulama dari kebenaran, berdebatnya seorang munafik dengan menggunakan Alquran, dan para pemimpin yang menyesatkan umat (yang memimpin) tanpa (menggunakan) ilmu.
Kebenaran dan Ketepatan Kebenaran dan Ketepatan dalam Memberi dan Menerima Informasi
Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya, yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu (QS. Al-Hujuraat [49]: 6).
Kaki gunung Uhud yang berada di utara Madinah, barangkali merupakan saksi utama kedahsyatan perjuangan Nabi Saw dan para shahabat dalam mengawal ajaran Islam di tahap paling awal peradaban muslim. Tempat ini pada Sya’ban tahun ketiga Hijriyah, merupakan saksi kedahsyatan Perang Uhud yang mempertegas sejarah kepahlawanan Khalid bin Walid (saifun min suyufil Llah) di medan perang, baik di masa jahiliyah maupun nanti di masa awal Islam. Ia juga menjadi saksi bagaimana sedikit saja kesalahan dalam mengorganisasi tenaga dan pikiran, dapat berbuah sangat pahit bagi keberlangsungan sebuah cita-cita mulia. Beberapa bagian pasukan Islam yang kala itu sudah hampir menang, tenggelam dalam keinginan jangka pendek memperoleh rampasan perang (ghanimah) yang merupakan simbol kepahlawanan di medan laga, sehingga lalai menjalankan tugas dan perang pun berakhir dengan kekalahan di pihak muslim. Nabi Saw sendiri bahkan terluka cukup serius sampai-sampai diberitakan telah meninggal.
Hal menarik dapat kita cermati dari kisah mengenai berita meninggalnya Nabi Saw ini. Di satu sisi Umar ra yang sebenarnya belum mengetahui kondisi persis Nabi Saw, memilih meneriakkan kecaman bagi mereka (pasukan lawan) yang dengan gembira meneriakkan telah meninggalnya Nabi Saw. Sedangkan di sisi lain, Abu Bakar ra yang tahu persis bahwa Nabi Saw sedang terluka parah, justru menasehati Umar ra agar tidak terlalu membuka fakta bahwa Nabi Saw masih hidup. Nabi Saw pun dalam kondisi ini memilih untuk tidak banyak mengungkapkan kondisinya dengan terus bertarung menghadapi musuh.
Ada kesan bahwa berita meninggalnya Nabi Saw sengaja tidak diverifikasi dan disebarkan secara lebih luas, mengingat banyaknya konsekuensi yang mengikutinya. Bisa dibayangkan jika Nabi Saw tetap tampil berperang, dan kondisi pasukan muslim sudah sedemikian terdesak. Hal yang hampir pasti terjadi tentunya adalah kekalahan pasukan dan berakhirnya masa depan dakwah islamiyah dari muka bumi. Nabi Saw lebih memilih opsi diam terhadap berita kematian beliau demi menjaga rasa puas di hati pasukan kafir Quraisy, sehingga korban lebih banyak dari pihak Muslim dan konsekuensi lebih jauh dapat dihindari.
Refleksi atas kejadian pada Perang Uhud ini tentu saja sangat menarik jika dikaitkan dengan realitas informasi dan penyampaiannya di dunia modern ini. Perkembangan yang pesat di bidang ICT (information and communication technology) dan perubahan dalam paradigma bermasyarakat, telah menghilangkan hampir semua sekat yang memungkinkan seseorang menutup atau menyembunyikan diri dari kejaran pencari dan pewarta informasi dengan berbagai latar belakang kepentingan. Dengan dalih keterbukaan, semua informasi mengenai pribadi, komunitas, kelompok agama, organisasi, lembaga dan institusi telah dibuka sedemikian lebar untuk dikonsumsi oleh masyarakat luas baik dengan penjelasan yang proporsional maupun tidak.
Benar bahwa terbukanya informasi akan memberi ruang bagi lebih banyak pihak untuk memperoleh pengetahuan, hiburan, pelajaran dan pilihan dalam hidup. Namun yang tidak boleh dilupakan adalah fakta bahwa dari sekian banyak informasi, terdapat beberapa bagian, sisi dan komponen yang tidak harus, tidak semestinya atau tidak layak dibuka kepada masyarakat secara umum, tanpa panduan dan pemilahan secara cermat. Perihal sesuatu yang tidak semestinya ini, Nabi Saw pernah menyabdakan: ”Man satara mu’minan fid Dunya ’ala khizyatin, satarahu Llahu yaumal Qiyamah (barang siapa menutupi aib (sesuatu yang membuat malu) seorang mu’min di dunia, maka Allah akan menutupi dirinya (dari sesuatu kesalahan yang memalukan ataupun mencelakakan) pada hari kiamat)”.
Hadits ini merupakan salah satu hadits yang terkenal bagi pemerhati studi dirayah hadits, mengingat riwayat perjalanan Abu Ayyub Al-Anshari yang amat gigih dalam mempertahankan dan menguatkan ingatan hadits ini di masa shahabat-shahabat seangkatan yang mendengarnya langsung dari Nabi Saw telah tiada. Diriwayatkan oleh ’Atho` bahwa Abu Ayyub yang bermukim di Madinah menempuh perjalanan panjang ke Mesir untuk menemui ’Uqbah bin ’Amir guna menanyakan hadits ini. Setelah menempuh perjalanan begitu jauh Abu Ayyub sampai di Mesir, dan menemui gubernur Mesir kala itu, meminta penunjuk jalan ke rumah ’Uqbah. Sesampai di rumah ’Uqbah, Abu Ayyub benar-benar hanya menanyakan perihal hadits ini, yang kemudian dibenarkan oleh ’Uqbah, dan langsung kembali ke Madinah (Muhammah ’Ajaj Al-Khatib, As-Sunnah qabla at-Tadwin, 176-177).
Menutup aib serta malu orang lain jelas merupakan hal sulit, mengingat secara naluriah, meskipun tidak suka dibuka aibnya, kita senang membicarakan aib orang lain. Apalagi jika dengan membukanya, disertai bumbu-bumbu tertentu, kita akan mendapat sesuatu yang lebih dan menghasilkan efek imagi, yang bisa jadi melegitimasi posisi dan popularitas seseorang di mata publik ataupun di mata masyarakat. Sebagai contoh, perceraian bagi pasangan yang sudah tidak memiliki kesepahaman bisa jadi adalah pilihan terbaik. Namun ketika proses di dalamnya digambarkan dan diberitakan secara berlebihan, dampak psikologis baik pada masyarakat, keluarga, ataupun rekan sekitar pasangan tersebut bisa jadi akan negatif. Mereka yang belajar psikologi pasti sadar bahwa anak yang sedang tumbuh memerlukan suasana kondusif dalam keluarga yang dengannya perkembangan dirinya dapat terjadi dengan baik.
Mungkin saja kita berharap bahwa pemberitaan semacam ini akan mampu memberikan banyak pelajaran bagi masyarakat. Namun jangan lupa masyarakat kita saat ini adalah masyarakat yang menyerap setiap pesan, tetapi hanya mampu memamah biaknya (Baudrillard, 1983). Masyarakat kita adalah masyarakat yang menyukai kedataran dan kedangkalan dalam bentuk baru dan mencintai permukaan (Jameson, 1991). Akibatnya bisa ditebak bahwa informasi yang sampai pada masyarakat hanya akan bergerak pada dataran luar yang jika tidak dikawal akan membawa dampak tidak sedikit pada perubahan dan pergeseran opini secara frontal. Dengan demikian ada hal lain dari sebuah informasi yang juga harus menjadi perhatian kita. Tidak hanya kebenaran dari konten informasi tersebut yang wajib kita pegang, tetapi juga ketepatan konteks dari informasi tersebut yang harus kita hargai.
Bagi kita yang mendapat amanah untuk memperluas informasi, harus lahir kesadaran akan perlunya pemilihan dan pemilahan secara benar dan tepat dari sekumpulan informasi yang akan kita berikan kepada masyarakat. Sebaliknya bagi kita yang menjadi bagian dari masyarakat penyerap informasi pun, harus timbul kesadaran akan pentingnya memperoleh informasi yang benar dan tepat sebagai penghormatan akan hak untuk tidak malu dan menanggung aib dari sumber informasi. Bukankah Alquran yang berisi kebenaran tersebut diturunkan melalui berbagai tahap dan fase agar tepat dengan kebutuhan dan kemampuan manusia menerima pesan-pesan-Nya? Wallahu A’lam.
Yuli Andriansyah
FE UII
Mutiara Hikmah
Rasulullah SAW bersabda kepada Anas bin Malik r.a., “Wahai Anas, bila kamu mampu hingga pagi dan petang tanpa memendam sifat dengki kepada seseorang, maka lakukanlah. Hal itu termasuk sunnahku. Siapa yang menyukai sunnahku, maka dia telah mencintaiku. Dan barang siapa yang mencintaiku, maka dia bersamaku di surga.” (HR. At Tirmidzi)
Surga di Hatimu
Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal shaleh, bagi mereka adalah Surga Firdaus menjadi tempat tinggal, mereka kekal di dalamnya, mereka tidak ingin berpindah dari padanya (QS. Al Kahfi [18]: 107 – 108).
Apa yang Anda bayangkan tentang surga? Saya yakin bayangan Anda tidak jauh berbeda dengan apa yang ada dalam benak saya. Dari kecil kita telah diberi sebuah gambaran yang luar biasa indah tentang surga. Tempat sempurna tanpa cacat yang dengan berbagai fasilitas kenikmatan tanpa batas. Ada bidadari yang menemani penghuninya, dalam taman yang mengalir sungai-sungai terindah. Setiap sudutnya sangat sempurna sampai-sampai khayalan kita tak mampu mencitrakannya dengan jelas.
Apakah Surga Benar-benar Ada?
Berbicara tentang surga, kita akan diajak memasuki alam yang jauh di luar jangkauan pikiran kita. Kita sebagai manusia sudah pasti penuh dengan keterbatasan. Pada saat detik ini kita berpijak, kita tidak tahu dengan pasti apa yang terjadi di belahan bumi lain. Atau ketika kita melakukan aktifitas saat ini, kita tidak tahu apa yang akan terjadi dalam beberapa hari ke depan, bahkan beberapa detik ke depan. Ini membuktikan bahwa ilmu yang kita miliki sangat sedikit, hanya seperti serpih yang tak terhitung dalam luasnya ilmu Allah. Butuh sikap rendah hati untuk mengakui bahwa akal kadang tidak mampu mencapai sesuatu yang melebihi batas logika kita.
Allah dengan taburan kasih sayang-Nya mengerti kelemahan kita sehingga Ia memberitakan tentang surga dalam firman-firmanNya dan menjelaskan tentang seluk beluknya. Bagi kita orang-orang beriman yang menerima Islam sebagai jalan hidup, kita meyakini bahwa eksistensi surga sama pastinya dengan eksistensi kematian. Begitu jelas sehingga tidak perlu dipertanyakan lagi. Disinilah letak indahnya rahasia Allah dalam menguji sejauh mana tingkat keimanan hamba-Nya sehingga pantas untuk menerima kado istimewa dari Allah berupa surga seperti yang telah dijanjikannya kepada orang-orang pilihan. Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa bersaksi bahwa tiada Tuhan yang patut disembah kecuali Allah semata dan tiada sekutu bagi-Nya dan bahwa Muhammad adalah hamba dan RasulNya, kalimat dan ruh yang diberikan kepada Maryam adalah perintah dari-Nya, surga adalah benar dan neraka adalah benar, maka Allah akan memasukkan ia ke dalam surga atas apa yang ia amalkan” (HR Mutafaqqun ‘alaih).
Orang-orang Pilihan
Mereka yang disebutkan dalam hadits di atas adalah orang-orang yang bertaqwa, sehingga dengan ketaqwaannya itulah mereka menjadi orang-orang yang beruntung memperoleh tiket masuk kepada kebahagiaan abadi taman Firdaus. Muncul sebuah pertanyaan bagi kita yang mengaku seorang muslim, apakah kita termasuk dalam golongan mereka, sehingga kita pantas memperoleh surga. Seberapa besar komitmen kita untuk melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya lalu sudahkah kita beristiqomah dalam jalan tersebut dengan mengikhlaskan diri hanya mengharap keridhoan-Nya. Allah SWT berfirman : “Sesunguhnya orang-orang yang mengatakan : “Rabb kami ialah Allah”, kemudian mereka tetap istiqamah maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita. Mereka itulah penghuni-penghuni surga, mereka kekal di dalamnya; sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al Ahqaaf [43]:13-14)
Sungguh sangat sulit untuk kita bertahan dalam fatamorgana dunia yang serba dinamis ini. Jatuh bangun kita mencoba bertahan melangkahkan kaki di jalan lurus-Nya. Sebuah kenyataan adalah, bahwa surga memang tidak didapat dengan cuma-cuma, butuh perjuangan keras dan sepenuh hati untuk meraihnya. Allah SWT berfirman: Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk Surga, padahal belum datang padamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersama-nya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat. (QS. Al Baqarah [2]: 214).
Pada dasarnya kehidupan kita di dunia ini hanya sebentar, sangat singkat dibanding kekalnya negeri akhirat. Sangat merugi apabila kita menukar kebahagiaan akhirat dengan keindahan semu duniawi. Lagi pula Allah telah menjanjikan bahwa selalu akan ada jalan keluar untuk setiap permasalahan yang kita hadapi sehingga setiap kesulitan pasti ada kemudahan.
Pelan Namun Pasti
Di atas kita sudah berbicara tentang gambaran surga, eksistensinya dan orang-orang pilihan yang beruntung memasukinya. Mengapa saya mencoba mengajak kita semua kembali merenungkan surga? Terus terang semua bermula pada satu hal bahwa setiap hari selalu saja kita mendengar kabar seseorang telah meninggal dunia. Entah siapa pun mereka, yang pasti sepertinya kita semua sedang menunggu jatah antrian itu. Bagaimanapun juga, fase tersebut pasti akan kita lalui.
Dengan me-refresh kembali ingatan kita tentang surga, seharusnya kita mampu membangkitkan semangat baru dalam diri, paling tidak untuk mulai menghitung-hitung dan mengevaluasi amalan kita. Misalnya bagaimana dengan sholat kita, apakah sudah lima waktu dan berjamaah di awal waktu? Jika sudah, apakah bisa ditambah dengan sholat-sholat sunnah? Begitu pula dengan bacaan Alquran kita, sudahkah kita mampu melafadzkan bacaan Qur’an dengan benar? atau jika sudah, apakah bisa kita meningkatkannya dengan mengerti maknanya dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Pelan namun Pasti. Tidak ada kata terlambat untuk merencanakan kebaikan dan bersegera menjemput Surga. Saat ini kita sudah harus berbenah diri, menyongsong kematian kita dengan penuh rasa percaya diri, dengan menyusun program yang mampu mendukung visi besar kita tersebut. Meskipun kita tidak tahu kapan kematian itu datang, besok pagi, lusa atau tahun-tahun mendatang, kita harus memiliki sebuah ‘master plan’ untuk mengejar keridhoan Allah. Kita harus yakin bahwa setiap usaha ikhlas kita akan dilihat oleh-Nya.
Allah SWT berfirman: Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya pula. (QS. Az Zalzalah [99]: 7 – 8).
Maka selama kita masih diberi kesempatan untuk bernafas dan ruh ini masih berada dalam jasadnya, selama itu pula kita mesti mengisi ruang hati kita dengan keindahan surga. Menghidupkan taman surga dan mengalirkan sungai-sungainya yang damai di dalam kerinduan hati kita. Mudah-mudahan Allah ridho memasukkan kita ke dalam golongan hamba-hambaNya yang shaleh dan memasukkan kita ke dalam surgaNya. Sungguh manusia penuh dengan kekhilafan, nampaknya kita mesti banyak-banyak bertaubat sehingga dengan rahmat dan ampunan Allah, kita mampu lebih optimis menyambut surga. Satu kurun waktu akan tertumpah habis dan fase baru yang kekal akan segera dimulai.
Allah SWT berfirman: Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Rabbmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah – Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui. Mereka itu balasannya ialah ampunan dari Rabb mereka dan surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal. (QS. Ali Imran [3]:133-136).
Wahyu Ridhoni
Mhs Teknik Informatika 2003