Lembar Jumat Al-Rasikh

Archive for December 2006

MUTIARA HIKMAH

without comments

Dari Anas r.a., do’a Rasulullah SAW: Ya Allah, aku berlindung padaMu dari kelemahan, kemalasan, sifat pengecut, sia-siakan usia dan dari sifat kikir.

(HR. Muslim) 

Written by alrasikh

December 22, 2006 at 11:07 am

Posted in mutiara hikmah

BERDAMAI DENGAN STRES

without comments

“Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang

melainkan (sekadar) apa yang Allah berikan kepadanya. Allah kelak

akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan.”

 (QS. Ath-Thalaaq [65]: 7)

 

Kali ini saya ingin menceritakan kisah jenaka untuk Anda. Siapa tak kenal Nasrudin Hoja? Tokoh sufi khayalan yang satu ini sangat masyhur karena tingkahnya yang jenaka. Pernah suatu hari, ia terlihat duduk termenung. Pandangannya sesekali kosong. Dan jangankan lagi santai, sedang bekerja pun ia bisa terhanyut dalam kehampaan sesaat. Seseorang lalu menghampirinya. Ia heran, kenapa Nasrudin kelihatan tak bergairah. Ada apa gerangan? “Aku lagi stres. Pusing, tak jelas harus berbuat apa. Padahal, aku sudah serius bekerja,” katanya sembari menarik nafas panjang. Tarikan nafas itu cermin ketertekanan.

            Ternyata, Nasrudin stres karena di mata majikannya, tak ada pekerjaannya yang dianggap beres. Ini salah, itu juga salah. Begitu pula di rumah. Istrinya selalu menyalahkannya. Hingga pernah suatu saat ia mengeluh pada istrinya: “Dulu, waktu baru nikah, setiap kali aku pulang ke rumah, kau membawakan sandalku, dan anjing kita menyambut dengan gonggongan. Kini terbalik, anjing kita malah yang membawakan sandal, dan kau yang menggonggong.”

Mendengar kegusaran Nasrudin, istrinya tak kalah tangkas menangkis. Perang mulut pun tak terelakkan. Masalah bertambah runyam karena anaknya ikut-ikutan mengatur. Tak disangka, rumah pun bisa jadi sumber “malapetaka” baginya. Tiada hari tanpa masalah. Nasrudin pun jadi uring-uringan. Karena itu, ia lebih senang menyendiri. Mungkin saja Nasrudin memahami sebuah ungkapan, “Kebenaran itu bukan untuk dipelajari, melainkan ditemukan dalam diam.”

Tidak mau terus-menerus dibebani masalah, Nasrudin pun putar akal. Ketemu obatnya. Ia lalu membeli sepatu nomor 40, kendati kakinya berukuran 42. Anda bisa bayangkan, Nasrudin yang disiksa stres lalu menciptakan stres tandingan dengan memakai sepatu kekecilan. Hasilnya, ia merasa plong kala melepas sepatunya, setelah seharian dirongrong stres. “Uh, leganya,” ujar Nasrudin cerah.

Ada-ada saja kelakuan Nasrudin. Namun, dari cerita ini bisa ditarik garis apa saja. Misalnya, bahwa sebenarnya kehidupan itu intinya ada di hati. Jika “hati itu gelap”, sulit menemukan kebenaran. Jadi, butuh “cahaya” Ilahi. Cahaya inilah yang akan menuntun kita menemukan kebenaran. Akan tetapi, cahaya itu tak selalu menyala terang. Saat angin bertiup sangat kencang, cahaya itu bisa padam dan keadaan menjadi gulita. Saat seperti itu, kita takkan mampu memahami masalah sendiri dengan dalam. Maka yang muncul kemudian adalah stres.

 

Hidup Tanpa Stres

Tuhan menciptakan manusia dengan segenap keunikan. Sejak ia dilahirkan, manusia sudah mulai belajar mengenal sifat-sifat lingkungannya. Pun bagaimana cara menghadapinya. Proses ini berlangsung terus menerus dalam kehidupannya. Dalam proses itu, ada tuntutan terhadap masalah yang mewarnai kehidupan emosional seseorang. Entah itu emosi positif, seperti cinta, bahagia, dan senang; atau emosi negatif, seperti rasa takut, cemas, marah, tertekan, dan rasa bersalah. Situasi yang menekan tersebut merupakan pemicu timbulnya stres.

Stres merupakan sesuatu yang tak terpisahkan dari kehidupan manusia. Bahkan, stres sudah menjadi bagian dari kehidupan itu sendiri. Stres menyerang tidak pandang bulu. Ia datang akibat adanya situasi eksternal atau internal yang menimbulkan tekanan dan gangguan pada keseimbangan hidup seseorang. Stres biasanya menampilkan diri melalui berbagai gejala, seperti meningkatnya kegelisahan, ketegangan, dan kecemasan. Juga dapat tampil dalam perubahan pada perilaku: jadi tidak sabar, lebih cepat marah, atau menarik diri dari lingkungan sosial. Namun begitu, meski cukup sering mengganggu, stres tidak perlu selalu dilihat sebagai hal negatif. Dalam hal-hal tertentu, stres memiliki implikasi positif. Istilah psikologisnya, eustress atau stres dalam artian positif, yakni keadaan yang dapat memotivasi dan berdampak menguntungkan. Misalnya, karena merasa tertinggal, seseorang memotivasi diri sendiri sehingga dapat berprestasi gemilang.

Dalam kajian psikologi populer, stres terjadi jika seseorang dihadapkan pada peristiwa yang dirasakan sebagai ancaman terhadap kesehatan fisik maupun psikologisnya. Karena itu, sebagian orang mendefinisikan stres sebagai tekanan, desakan, atau respon emosional. Dengan kata lain, stres merupakan keadaan tertekan di mana beban yang dirasakan seseorang tidak sepadan dengan kemampuannya untuk mengatasi beban tersebut. Makanya, jika tidak ingin dirongrong stres terus menerus, kita perlu melakukan usaha-usaha untuk menguasai, mengurangi, menoleransi, dan meminimalkan tekanan-tekanan tersebut.

Lima belas abad silam, Allah ‘azza wa jalla telah memberi pencerahan. Dia yang Maha Pengasih menganjurkan manusia untuk bersabar ketika menghadapi berbagai kenyataan hidup. Kesabaran dapat diartikan sebagai kemampuan untuk menghayati realitas yang terjadi, menyadari bahwa realitas itu diciptakan oleh Allah, dan kesediaan untuk menerima kenyataan yang boleh jadi tidak menyenangkan secara fisik pun psikis. Istilah ini juga dikenal sebagai kelapangdadaan (al-basith). Ketahuilah, tidak ada anjuran dari Sang Khaliq kecuali secara potensial manusia mampu melakukannya. Tidak ada anjuran untuk bersabar atau berlapangdada tanpa ada potensi untuk memiliki kelapangdadaan atau kesabaran. Karena itu, tidak ada alasan untuk stres. Mahabenar Allah dalam firman-Nya:

 “Bukankah kami telah melapangkan untukmu dadamu? Dan kami telah menghilangkan daripadamu bebanmu yang memberatkan punggungmu? Dan Kami tinggikan bagimu namamu (derajatmu)? Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah [94]: 1-5)

 

Tahajud sebagai Terapi

Telaah psikoneurologi menyebutkan bahwa masyarakat modern menjalankan aktivitas yang didominasi oleh keterlibatan otak kiri. Konsekuensinya adalah terbentuknya individu-individu yang mengedepankan rasionalitas seraya cenderung menihilkan keterlibatan emosionalitas dalam pelbagai aktivitas mereka. Daya analisisnya canggih, namun empatinya rendah. Retorikanya gegap-gempita, tapi penghayatannya akan masalah sunyi senyap. Sebuah fenomena yang umum sebagai hasil dari digunakannya satu sisi otak saja.

Untuk merekonstruksi masyarakat yang bertindak-tanduk demikian, dibutuhkan wahana yang mampu mengaktifkan kembali kebutuhan setiap individu untuk dapat menjadi lebih cerdas secara emosional dan spiritual. Tanda-tanda munculnya kembali rasa rindu khalayak luas akan kejernihan emosi dan kebeningan spiritual menunjukkan peningkatan belakangan ini. Hal tersebut tampak dari menjamurnya berpuluh-puluh pelatihan serta seminar tentang emosi dan spiritualitas. Juga ramai sekali diselenggarakan majelis dzikir dan doa secara massal.

Sebuah penelitian bertajuk “Religion and Spirituality in Coping with Stress” yang dipublikasikan oleh Journal of Counseling and Values (2001) menunjukkan bahwa semakin penting spiritualitas bagi seseorang, maka semakin besar kemampuannya mengatasi masalah yang dihadapi. Penelitian ini menyarankan bahwa spiritualitas bisa memiliki peran yang penting dalam mengatasi stres. Spiritualitas bisa melibatkan sesuatu di luar sumber-sumber yang nyata atau mencari terapi untuk mengatasi situasi-situasi yang penuh tekanan di dalam hidup. Kesehatan spiritual mencakup penemuan makna dan tujuan dalam hidup seseorang, mengandalkan Tuhan atau suatu kekuatan yang lebih tinggi (The Higher Power), merasakan kedamaian, atau merasakan hubungan dengan alam semesta.

Satu anjuran yang kerap digemakan sebagai sarana pendekatan diri kepada Tuhan adalah shalat tahajud. Hal yang menggembirakan, shalat malam ternyata bermanfaat untuk kesehatan. Khasiat ini dibuktikan melalui sebuah riset. Adalah Dr. Mohammad Soleh dalam bukunya Terapi Shalat Tahajud mengungkapkan bahwa tahajud bisa mencegah stres dan meningkatkan daya tahan tubuh manusia. Tentu bila itu semua dikerjakan secara teratur dan ikhlas. Saking utamanya shalat di sepertiga malam terakhir ini, Rasulullah SAW bersabda:

“Setan mengikat pada tengkuk tiap orang di antara kamu, ketika ia tidur, dengan tiga ikatan (simpul). Setiap simpulnya ditiupkan ucapannya, ‘Bagimu malam yang panjang, tidurlah dengan nyenyak.’ Maka apabila ia bangun dan menyebut nama Allah, terurailah satu simpul. Bila ia berwudhu, terurailah satu simpul lagi. Dan ketika ia shalat, maka terurailah simpul terakhir; lalu di pagi hari, dirinya menjadi segar, bersemangat dan hatinya pun terang. Jika tidak, maka di pagi hari jiwanya dililit kekalutan dan malas untuk beraktivitas.” (HR. Muttafaq ‘Alaih)

Agaknya, benar kata orang bijak, “Take time to pray. It is the greatest power on earth.” Jadi, shalatlah tahajud dengan ikhlas jika ingin hidup tenang dan sehat. Ibnu Mubarrak berkata dalam bait syairnya, “Saat malam tiba berselimut gulita// Kala manusia lain lelap dalam tidurnya// Mereka lawan beratnya malam dengan ibadah// untuk merebak cahaya Yang Kuasa// Rasa takut kepada-Nya menerbangkan kantuk mereka// Sedang orang yang merasa aman dari murka-Nya// terbuai dalam mimpi-mimpinya.” Wallaahu a’lam bisshawab.

 

Ardiman Adami

Master of Advisor IMAMUPSI UII

Written by alrasikh

December 22, 2006 at 11:05 am

Posted in lembar jumat

MUTIARA HIKMAH

without comments

Rasulullah SAW bersabda, “Tidak ada wara’ (teguh beragama) yang lebih baik daripada menjaga diri. Tidak ada ibadah yang lebih mengesankan daripada tafakkur. Dan, tidak ada iman iman yang lebih sempurna daripada malu dan sabar.”

(HR. Ibnu Maajah ath-Thabrani)

Written by alrasikh

December 22, 2006 at 11:01 am

Posted in mutiara hikmah

Gladi Resik Kematian

without comments

Barangsiapa yang keluar dari rumahnya untuk menunaikan haji atau umrah, lalu mati (di perjalanan), maka baginya pahala haji dan umrah hingga hari kiamat. (Al-Hadits)

 

Seperti tradisi tahun-tahun sebelumnya, kita patut bersyukur menyaksikan semangat kaum Muslim dari seluruh penjuru dunia yang akan berziarah ke Tanah Suci yang tidak menunjukkan tanda-tanda kejenuhan. Setiap tahun tidak kurang dari dua setengah juta manusia bertafakkur di padang pasir Arafah, di bawah cakar dan sengat matahari. Kemudian mereka bergerak, dan bola api itu pun tenggelam. Manusia sebanyak itu merayap, di atas roda karet, alas kaki, seperti hamparan karpet dari kaki langit ke kaki langit yang lain, beringsut-ingsut perlahan. Manusia bagai arus benang halus di lautan karpet yang menggelombang laksana senja kala itu, demikian Taufiq Ismail dalam pengantarnya untuk buku Orang Jawa Naik Haji, gubahan Haji Danarto.

Taufiq membayangkan manusia di kejauhan bagaikan secarik benang pintalan yang beringsut dalam samudera benang di hamparan karpet yang bergerak dari Arafah menuju Muzdalifah, yang disebutnya sebagai gladi resik menyongsong Hari Kiamat. Seolah Allah Yang Maha Besar itu bertindak selaku sutradara untuk sebuah adegan massal yang disebut-sebutnya sebagai yang paling kolosal yang tak terdapat di bagian manapun di dunia ini, yang hanya bisa digerakkan atas kuasa dan kehendak Allah semata. Dalam perhelatan akbar itu, manusia berperan sebagai benang warna-warni yang seketika berubah menjadi lautan kapas.

Manusia yang kapas itu, masih mengikuti Taufiq, luluh dan lumat di hamparan terik padang pasir Arafah, terseruk-seruk di masâa dan tersungkur sujud, menangis di atas pualam Masjidil Haram. Dalam adegan kolosal ini tidak ada lagi dialog bijak bangsawan, kata mutiara sang pelajar, jimat pusaka nenek moyang, senjata sakti hasil pertapa kesatria, kekuasaan ghaib dewa-dewa. Semuanya sirna. Dewa-dewa mampus. Gerombolan hikayat nenek moyang dan angan-angan fantastik mati sudah, ditusuk dengan talbiah, dicincang dengan zikir. Manusia yang kapas itu menyerukan talbiah dalam koor panjang, laa-syariikalak! Dikau tanpa sekutu, Dikau tiada berbagai kuasa!

Manusia yang kapas itu menemukan kesejatian dirinya dalam berihram, kata Komaruddin Hidayat dalam sebuah artikelnya di Mingguan PESAN (2000). Karena, dengan berihram, katanya, kita dididik untuk melepaskan diri dari klaim-klaim superioritas, ketidaksamaan derajat, dan sebagainya. Kita berhadapan dengan Allah dalam keadaan polos, dan dengan kesadaran bahwa dunia ini memang sementara, tidak abadi, bahkan tidak lebih dari panggung sandiwara yang ditaburi cahaya gemerlapan, tetapi sebentar lagi akan berakhir dan layar harus ditutup. Pada saat itu, semua penonton pun pulang dalam kesunyian diri masing-masing, tanpa mengenakan pangkat dan jabatan. Semua kembali menghadap kepada-Nya dalam ketelanjangan sejati, tanpa membawa mobil pribadi, rumah megah, harta melimpah, istri nan cantik, dan anak yang  manis-manis.

Mungkin inilah makna bahwa ibadah haji itu lambang egalitarianisme yang konkrit sebagaimana yang diisyaratkan Buya Syafi’i Ma’arif. Lihatlah misalnya, pakaian ihram yang dikenakan para jamaah haji itu semuanya sama, tidak peduli tuan raja ataupun rakyat jelata. Segala status sosial berguguran seiring pekik gemuruh takbir, tasbih dan tahmid yang dikumandangkan dengan penuh kekhusyukan dan kepasrahan. Kesombongan dipaksa mencair dalam rasa persatuan dan kesatuan yang terjalin selama perjalanan religius umat Islam dari seluruh pojok bumi itu. Ibadah haji mengajak orang untuk tidak berbangga-bangga dengan asal-usul keturunan, kekayaan, dan simbol-simbol fatamorgana dunia.

Sebagian orang mungkin tersentak hati ketika mengenakan pakaian ihram. Pikiran dan imajinasi akan membayangkan bagaimana suatu saat nanti akan mengenakan kain kafan, atau ketika dikafani. Bahkan, begitu transendennya pengalaman batin saat berpakaian ihram itu, di antara jamaah ada yang merasa satu kakinya seperti meninggalkan dunia melangkah ke alam akhirat. Dalam tamsil Komaruddin Hidayat, ziarah religius haji adalah suatu metode yang secara luar biasa mampu menyentuh kesadaran eksistensial manusia, bahwa dunia ini adalah tempat indekost untuk menyemai benih-benih amal shalih sebagai bekal iman kita demi kehidupan yang lebih abadi.

Kesadaran serupa ini seringkali ditemukan di padang Arafah, tatkala manusia luluh dalam kesejatiannya yang lemah. Ketika itulah manusia yang kapas dan layu itu, mengadukan kesejatiannya kepada Allah dalam larutan kesyahduan padang pasir Arafah yang menyengat. Manusia-manusia itu membentangkan ketololannya di hadapan Allah, mengadukan kedhaifannya di pangkuan Ilahi. Sebagaimana pengakuan Haji Danarto: tidak ada yang perlu hamba pertahankan di dunia ini, suatu tempat yang tidak cocok, suatu tempat yang bikin gerah, peluh dan air mata hamba, sama derasnya berlelehan.

Para ulama mengatakan bahwa ketika melaksanakan ibadah haji, sebenarnya kita meninggalkan pekerjaan, keluarga, dan tetangga untuk pergi ke Baitullah. Haji pada hakikatnya merupakan gladi resik (latihan) untuk kembali kepada Allah. Haji adalah latihan kematian, karena kita meninggalkan tanah air, keluarga, tetangga, harta benda, dan semua atribut duniawi lainnya dengan satu niat: menemui Allah. Kita ingin bersimpuh di Rumah-Nya yang suci, dan kita pun ingin membasahi pipi kita dengan tangisan permohonan ampun dari Allah. Karena kita terlahir di dunia fana ini, maka jauh di lubuk hati kita sebenarnya mempunyai kerinduan untuk kembali ke tanah air tempat asal muasal pertama kita yang sejati, muara hakiki kehidupan, Allah Al-Mashir (Tempat Kembali).

Haji merupakan cara berangkat menuju Tuhan dengan sukarela. Menurut Ibn Arabi, dalam Al-Futuhat Al-Makkiyah, kita akan kembali kepada Allah dengan cara yang berbeda. Ada yang kembali dengan cara terpaksa, yang disebut ruju’ idhthirari. Setuju atau tidak, kita semua akan dipanggil keharibaan-Nya, dan itulah yang kita sebut mati. Ada pula cara kembali yang lain, yakni kita disuruh kembali kepada Allah dengan cara sukarela, yang disebut ruju’ ikhtiyari. Kembali seperti inilah yang dilakukan oleh para jamaah haji.

Akhirnya, ada sebuah doa yang biasa diamalkan setiap orang yang hendak menunaikan rukun Islam yang kelima ini. Doa itu disunatkan untuk dibaca sesudah shalat fardhu di bulan Ramadhan, berbunyi: Ya Allah, karuniakanlah kepada kami pada tahun ini, kesempatan untuk berhaji ke Rumah-Mu yang suci. Pada tahun ini, dan kalau bisa setiap tahun, selama Engkau berikan kepadaku kemudahan, kesehatan, dan kelapangan rezeki. Dan jangan sampai kami ini tidak sempat menjenguk tempat-tempat yang mulia. Dan janganlah kami tidak diberi kesempatan untuk berziarah ke kuburan Nabi-Mu SAW. Jadikanlah dalam apa yang Kau tetapkan pada Lailatul Qadar, berupa qadar yang tak bisa diubah atau diganti. Tuliskanlah kami, di antara orang-orang yang berhaji ke Rumah-Mu yang suci, yang hajinya mabrur, yang saâinya masykur, yang diampuni dosa-dosanya, yang dihapuskan kesalahan-kesalahannya.

Itulah doa yang kalau dibaca, lalu kita meninggal dunia sebelum sempat naik haji lantaran belum ada rezeki, maka kita akan dihitung Allah sebagai orang yang berziarah ke tanah suci. Doa itu sekaligus sebagai penghibur bagi kita yang ditinggalkan yang belum dapat menunaikan ibadah haji. Sedangkan bagi mereka yang telah diberi kesempatan menginjakkan kaki di tanah suci, kita berharap mereka akan memperoleh predikat haji mabrur yang tidak hanya sekedar untuk mengejar surga yang bersifat eskatologis, namun lebih daripada itu juga harus mempunyai dampak ‘kekinian’ dan ‘kedisinian’.

Haji pada dasarnya adalah perjalanan ruhani dari rumah-rumah kotor yang selama ini mengungkung kita menuju Rumah Allah yang suci supaya bisa beristirahat untuk melakukan refleksi batin. Haji yang mabrur adalah haji yang berhasil mencampakkan sifat-sifat hewaniah dan menyerap sifat-sifat rabbaniyah (ketuhanan). Haji mabrur bukan hanya dzikir, melainkan juga transformasi spiritual untuk berhijrah dari keangkuhan diri menuju kesempurnaan iman yang sebenar-benarnya. Satu hal yang prinsipil adalah, jangan sampai kita terjatuh pada praktik hedonisme religius, yaitu melakukan ibadah haji hanya untuk kesenangan pribadi saja. Bila semua rangkaian manasik haji itu telah berhasil kita lalui dengan penuh keikhlasan, berarti haji kita mabrur. Semoga saudara-saudara kita yang akan menunaikan ibadah haji, hajinya mabrur, dan semoga Allah memberi kesempatan untuk memnunaikan ibadah haji bagi saudara-saudara kita yang belum mampu menunaikannya.

 

Fathorrahman, S.FilI.

Mahasiswa Islamic Research MSI-PPs UII Yogyakarta

Written by alrasikh

December 22, 2006 at 10:58 am

Posted in lembar jumat