Archive for February 2007
MUTIARA HIKMAH
Pengekangan Diri
Ibrahim berkisah, “Suatu kali, Aku dipercaya untuk menjaga sebuah kebun buah. Pemilik kebun itu datang dan berkata padaku, ‘Bawakan aku sejumlah buah delima yang manis.’
Aku membawakannya beberapa, tetapi semuanya asam. ‘Bawakan aku buah delima yang manis,’ ujar sang pemilik kebun ini lagi. Aku membawakannya sepiring penuh delima, namun lagi lagi semuanya asam. ‘Kemulian atas Allah!’ pekik sang pemilik kebun. ‘Engkau telah menjaga kebun ini sekian lama, dan engkau tidak tahu mana delima yang matang?’ ‘Aku menjaga kebunmu, namun aku tidak mengetahui rasa delima karena aku tidak pernah mencicipinya sedikit pun,’ aku menjawab. ‘Dengan pengekangan diri seperti ini, engkau pastilah Ibrahim ibnu Adham,’ kata sang pemilik kebun. Ketika aku mendengar kata kata ini, aku pun meninggalkan tempat itu.”
MENGAJAK DENGAN SIKAP DAN PERILAKU
Lisan al-hal afsah min lisan al-maqal
(Pepatah Arab)
Ada banyak cara yang dilakukan oleh seseorang untuk menarik orang lain agar mengikuti keinginan, jejak, pikiran, ideologi atau agamanya. Cara yang paling banyak dilakukan adalah dengan berpidato di muka umum atau dengan cara memasang iklan di media massa. Sebagian lagi dengan cara berbicara dengan logika dan dalil-dalil argumentasi yang rasional.
Adalah Abu Hamid al-Ghazali, seorang ulama-filosof yang pernah menyinggung hal ini. Beliau berkata: “banyak orang yang berpendirian bahwa keyakinan atau iman berasal dari ilmu kalam dan dalil-dalil teoritik yang spekulatif. Ini adalah suatu bentuk kebodohan. Iman adalah cahaya yang dipancarkan Allah dalam jiwa hamba-Nya sebagai karunia dan hidayah. Ia bisa datang dari kesadaran batin yang kokoh dari sebuah mimpi dan bisa juga dari tingkah laku agung para agamawan.”
Al-Ghazali tampaknya lebih memuji cara yang terakhir. Nabi Muhammad SAW pun lebih menggunakan cara ini. “Suatu hari, seorang Arab Badui datang kepada Nabi sambil menyampaikan kata-kata kasar dan menantang. Ketika orang itu bertemu dengan sosok Nabi yang santun, penuh senyum, tenang, dan memancarkan cahaya kenabian, ia tertegun dan terpesona. Lalu ia bergumam: “Demi Tuhan ini bukan wajah seorang pembohong.” Tidak lama kemudian ia meminta Nabi untuk mengajarkan tentang Islam dan kemudian memeluknya.”
‘Aisyah istri Nabi pernah membuat kesaksian ketika ditanya tentang pribadi suaminya itu. Katanya: “Kana khuluquhu al-Qur’an,” (perilakunya adalah Alquran). Dan Alquran pun menyatakan: “Wa Innaka la ‘ala khuluqin adzim” kamu memang orang yang berbudi luhur dan agung). Dalam sebuah ayat lainnya Allah SWT berfirman: “Sungguh ada bagimu semua di dalam diri Rasulullah contoh yang baik bagi yang mengharap Allah dan hari kemudian.” (QS. al-Ahzab [33]: 21). Ayat ini merupakan sebuah penegasan bahwa Rasulullah SAW adalah contoh yang harus kita ikuti, sebab dengan mengikuti dan mencontoh jejak dan perilaku beliau, kita akan memperoleh keridlaan Allah dan Allah akan menjamin kebahagian hidup kita di hari kemudian.
Nabi Muhammad SAW suka mempererat antara sahabat-sahabatnya, menghormati orang yang mulia dari tiap golongan dan mengangkatnya sebagai pemimpin golongannya. Nabi pun suka mencari sahabatnya kalau tidak kelihatan dan suka memberikan hak kepada setiap orang yang hadir, hingga masing-masing yang hadir tidak merasa bahwa seseorang lebih mulia, karena lebih dekat kepada Rasulullah. Siapa saja yang duduk bersamanya atau mendekati beliau karena ada sesuatu keperluan, beliau melayani dengan penuh kesabaran, mengabulkan permohonan atau menolaknya dengan ucapan yang menyenangkan, sehingga orang-orang merasa lega. Semua orang terkesan dengan budi baik dan akhlaq Nabi Muhammad SAW yang menjadi bapak mereka, dan mereka mempunyai hak sama di mata Rasulullah.
Kita hidup dalam lingkungan masyarakat yang memerlukan adanya hubungan, baik secara pribadi maupun antara masyarakat keseluruhannya. Dalam tugas pekerjaan, perdagangan atau kegiatan sosial lainnya, hendaknya senantiasa menunjukan sikap yang terpuji. Kalau kita perhatikan riwayat-riwayat atau cerita-cerita di atas, rasanya kita akan menemukan Islam yang benar-benar damai, yang memang sedari awalnya diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW untuk menebar kedamaian di seluruh alam. Islam yang bermuka ramah dan santun, tetapi tetap tegas berwibawa dan memancarkan sinar kemuliaan, sebagaimana si pembawa Islam ini, Muhammad SAW.
Dalam konteks Indonesia yang dilanda berbagai krisis, mulai dari krisis ekonomi, politik, hingga krisis moral yang berawal dari krisis ketidakpercayaan, perilaku-perilaku Nabi yang santun semakin relevan untuk diikuti. Bukankah mengikuti sunnahNya adalah sebagian dari bukti cinta umat terhadapnya. Adalah wajar jika kita mengambil pelajaran dari junjungan umat Islam ini untuk meneladaniNya lantaran moralitas yang kini sedang dilanda krisis di Tanah Air kita tercinta.
Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang mau memberikan teladan yang baik bagi rakyatnya. Dia melakukan itu karena sadar bahwa kepemimpinannya itu akan dimintai pertanggungjawabannya di hadapan pengadilan Allah kelak. Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang tidak hanya sekedar memberikan nasehat, petunjuk-petunjuk, atau seruan-seruan untuk berbuat adil, tetapi pemimpin yang adil juga adalah pemimpin yang benar-benar mau berbuat adil untuk rakyatnya. Berbuat adil berarti tidak berlaku dzalim atas rakyatnya. Seorang sahabat Nabi, Umar bin al-Khatab pernah memikul sekarung gandum hanya gara-gara merasa bersalah karena telah berbuat dzalim terhadap rakyatnya yang lemah dan miskin.
Seorang pemimpin yang baik adalah pemimpin yang tidak hanya menyerukan kepada rakyatanya dan para pejabatanya untuk tidak menumpuk kekayaan, karena sejatinya dalam harta itu terdapat hak-hak rakyat miskin, tetapi pemimpin yang baik adalah pemimpin yang juga tanpa ragu untuk tidak menumpuk kekayaan demi kesejahteraan rakyatanya. Karena rakyat adalah segalanya bagi pemipin. Dia sadar bahwa dia tidak akan menjadi pemimpin jika tidak ada rakyat di bawahnya. Pemimpin yang sadar diri adalah pemimpin yang tidak hanya mendengarkan keluh kesah dan penderitaan rakyatnya tanpa berbuat sesuatu untuk kesejahteraan rakyatnya, tetapi pemimpin yang sadar diri adalah pemimpin yang setelah mendengarkan penderitaan rakyatnya, lalu melakukan perbuatan. Nabi telah mencontohkan semua ini.
Amar ma’ruf nahi munkar tidak akan berhasil tanpa suri tauladan yang baik dan santun. Nabi tidak hanya mengajarkan untuk menjalankan amar ma’ruf nahi munkar, tetapi mencontohkan amar ma’ruf dan nahi munkar yang baik dan santun, yang sesuai dengan wajah Islam sebenarnya. Nahi munkar bukan berarti melarang dengan kekerasan (Sarkasme) dengan garang tetapi dengan kesantunan dan kedamaian. Nahi munkar bukan berarti merusak, tetapi meluruskan dengan cara yang baik pula. Terlebih amar ma’ruf, suatu perintah untuk berbuat baik tetapi dilakukan dengan cara yang tidak santun, maka tujuan kebaikan itu tidak akan sampai. Kalaupun sampai maka tidak sempurna. Amar ma’ruf tidak hanya sekadar dalam ucapan, tetapi amar ma’ruf yang baik adalah amar ma’ruf yang diteladani dan dicontohkan dengan cara yang santun.
Dakwah atau mengajak orang lain yang paling efektif ternyata dengan bahasa yang lembut dan tingkah laku yang manis. Ia lebih kuat ketimbang bahasa mulut. Ada pepatah Arab yang mengungkapkan: “lisan al-hal afsah min lisan al-maqal”, yang artinya bahasa tubuh lebih efektif daripada bahasa mulut. Dan dakwah dengan budi pekerti atau perilaku yang santun adalah cermin kedewasaan dan kebijaksanaan orang yang beriman. Iman yang baik adalah iman yang dibuktikan dengan amal perbuatan yang baik pula.
Wallahu a’lam.
Agus Iswanto, S.S.
Mahasiswa Program Islamic Research MSI UII Yogyakarta,
Peminat kajian agama dan budaya
Hidayah Tuhan untuk Semua
Musa berkata: “Tuhan kami ialah (Tuhan) yang telah memberikan kepada tiap-tiap sesuatu bentuk kejadiannya, kemudian memberinya petunjuk (QS. Thaha [20]: 50).
Hidup manusia ibarat sebuah perjalanan ke sebuah tempat yang belum pernah sekalipun dikunjungi. Dalam perjalanan menuju tempat paripurna itu, banyak sekali jalan yang bisa ditempuh oleh manusia. Ada banyak jalan yang bisa mengantarkan manusia ke tempat tujuan dengan selamat. Namun, jauh lebih banyak lagi jalan yang justru menjauhkan dan menyesatkan manusia dari tempat yang dituju. Tidak semua jalan yang benar itu tampak baik dan mulus, ia seringkali penuh dengan lubang dan halangan. Manusia seringkali tergoda untuk melewati jalan yang tampaknya mulus, halus dan menyenangkan, padahal sebenarnya jalan itu sesat. Maka dari itu, semua manusia pada dasarnya membutuhkan hudaa (petunjuk), agar mampu membedakan mana jalan yang benar dan mana jalan yang salah. Yang dimaksud dengan kata “hadaa” pada ayat di atas adalah memberi petunjuk dengan memberikan akal, instinct (naluri) dan kodrat alamiyah untuk kelanjutan hidupnya masing-masing makhluk. Dalam hal ini, Allah memberikan petunjuk pada semua makhluk-Nya, kecuali yang tidak Dia kehendaki.
Allah swt menganugerahkan petunjuk-Nya bermacam-macam sesuai dengan peranan yang diharapkanNya dari makhluk. Hidayah Allah swt diberikan kepada setiap ciptaan-Nya (QS. Thaha [20]: 50). Allah menuntun setiap makhluk kepada apa yang perlu dimilikinya dalam rangka memenuhi kebutuhannya, misalnya anak burung yang ada di sarang, ia dapat hidup dari usaha induknya dalam mencari makan, atau lebah ketika membuat sarangnya dalam bentuk segi enam karena bentuk tersebut lebih sesuai dengan bentuk badan dan kondisinya atau manusia yang menyusui anaknya, semua ini terjadi karena petunjuk Allah swt. Itu semua adalah bentuk petunjuk yang paling primitif, untuk bertahan hidup. Setelah itu, tingkat hidayah di atasnya bukan hanya untuk bertahan hidup, akan tetapi petunjuk menuju jalan yang benar.
Memang tidak jarang kita sebagai salah satu makhluk-Nya telah mengetahui petunjuk dan pesan agama, tetapi ada saja hambatan sehingga petunjuk atau pesan itu tidak dapat kita laksanakan. Boleh jadi karena godaan nafsu atau setan atau boleh jadi karena kurangnya kemampuan. Nah disinilah petunjuk Allah swt yang dibutuhkan. Ketika orang buta bisa berjalan dengan sebatang tongkat tanpa kesulitan sebagaimana orang yang tidak buta atau yang tak kalah anehnya orang buta yang dapat dan mampu menghafal Al-Qur’an sebanyak 30 juz tanpa cacat disinilah petunjuk Allah membuktikan. Tidak itu saja, orang yang dulunya penjahat kelas kakap (pembunuh) sekarang sudah berbalik arah menjadi seorang kyai dengan ribuan santri tidak lain ini adalah petunjuk Allah untuk hamba-Nya yang dikehendaki.
Petunjuk tingkat pertama (naluri) terbatas pada penciptaan dorongan untuk mencari hal-hal yang dibutuhkan. Naluri tidak mampu mencapai apapun yang berada di luar tubuh pemilik naluri itu, pada saat tertentu datang kebutuhan untuk mencapai sesuatu yang berada di luar dirinya, sekali lagi manusia membutuhkan petunjuk, dan kali ini Allah menganugerahkan petunjuk-Nya berupa panca indra.
Namun, betapapun tajam dan pekanya kemampuan indra manusia, seringkali hasil yang diperoleh tidak menggambarkan hakikat yang sebenarnya. Betapapun tajamnya mata manusia, ia akan melihat tongkat yang lurus menjadi bengkok di dalam air. Bahkan penciuman anjing yang tajam, yang biasanya digunakan untuk melacak benda-benda di luar jangkauan manusia, suatu saat akan salah dalam peciumannya.
Yang meluruskan setiap kesalahan (panca indra ) adalah petunjuk Allah swt yang ketiga, yakni akal. Akal mengkoordinir semua informasi yang diperoleh indra kemudian membuat kesimpulan-kesimpulan yang sedikit atau banyak dapat berbeda dengan hasil informasi indra. Tetapi walau petunjuk akal sangat penting dan berharga namun ia hanya berfungsi dalam batas-batas tertentu dan tidak mampu menuntun manusia keluar dari jangkauan alam metafisik. Akal dapat diibaratkan sebuah pelampung, ia dapat menyelamatkan sesorang yang tidak bisa berenang di kolam renang atau bahkan di tengah lautan yang tenang. Tetapi jika ombak dan gelombang laut pasang datang bertubi-tubi setinggi gunung, maka ketika itu yang pandai berenang dan yang tidak bisa berenang keadaannya akan sama. Ketika itu manusia tidak hanya membutuhkan pelampung, tetapi sesuatu yang melebihi pelampung. Karena itu manusia memerlukan petunjuk yang melebihi petunjuk akal, sekaligus meluruskan kekeliruan-kekeliruannya dalam bidang tertentu. Petunjuk atau hidayah yang dimaksud adalah hidayah agama.
Macam-macam Hidayah
Ulama membagi hidayah atau petunjuk kepada dua katagori: pertama, petunjuk menuju kebahagiaan duniawi dan ukhrawi. Cukup banyak ayat-ayat Alquran yang menggunakan akar kata hidayah dalam pengertian ini, misalnya: “Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al Quran) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al Kitab (Al Quran) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al Quran itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.”(QS. asy-Syura [42]: 52) atau “Dan adapun kaum Tsamud, maka mereka telah Kami beri petunjuk tetapi mereka lebih menyukai buta (kesesatan) daripada petunjuk.” (QS. Fushshilat [41]: 17). Kata hidayah yang pelakunya manusia adalah hidayah dalam bentuk pertama ini.
Kedua, petunjuk serta kemampuan untuk melaksanakan isi petunjuk. Ini dapat dilakukan Allah semata karena itu di tegaskanNya: “Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerimapetunjuk.”(QS. Al-Qashash [28]: 56)
Ditegaskan lagi dalam tafsir Al Mishbah karya M. Quraish Shihab, Thahir Ibn ‘Asyur membagi hidayah kepada empat tingkatan:
Pertama, apa yang dinamainya al quwa al muharrikah wa al mudrikah yaitu potensi penggerak dan tahu. Potensi ini mengantarkan seseorang untuk dapat memelihara wujudnya. Banyak hal yang dicakupnya, bermula dari naluri bayi yang menyusu atau menangis ketika sakit, sampai pada perasaan yang mengantarnya menyingkirkan bahaya dan ancaman atau mendatangkan kemaslahatan dirinya, berupa meminta makan dan minuman, menggaruk kulit katika gatal, memejamkan mata bila terganggu, bahkan sampai pada puncaknya yaitu mengambil kesimpulan yang bersifat aksioma sebagai hasil pengamatan akal.
Kedua, adalah petunjuk yang berkaitan dengan dalil-dalil yang dapat membedakan antara yang haq dan bathil, yang benar dan salah, sunnah dan bid’ah. Ini adalah hidayah pengatahuan teoritis.
Ketiga, yang tidak dapat dijangkau oleh analisis dan bermacam-macam argumentasi yang bersifat aqliyah, atau apabila diusahakan akan sangat memberatkan manusia. Biasanya hidayah ini dianugerahkan Allah dengan mengutus para rasulNya serta menurunkan kitab-kitabNya dan inilah yang diisyaratkan dalam firmanNya: “Kami telah menjadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami dan telah Kami wahyukan kepada, mereka mengerjakan kebajikan, mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, dan hanya kepada Kamilah mereka selalu menyembah.”(QS. Al Anbiya’ [21]: 73).
Hal ini jelas bahwa hidayah yang dimaksud ini adalah hidayah yang diperuntukkan untuk orang-orang khusus yang dikehendaki Allah dalam rangka meyampaikan perintah-Nya.
Keempat, yang merupakan puncak hidayah Allah adalah yang mengantarkan tersingkapnya hakikat-hakikat yang tertinggi, serta aneka rahasia yang membingungkan para pakar dan cendekiawan. Hidayah ini di peroleh melalui wahyu atau ilham yang shahih atau limpahan kecerahan yang tercurah dari Allah. Apa yang diperoleh para nabi pun dinamai oleh Alquran hidayah. Firman Allah: “Mereka itulah (para nabi-nabi yang disebut sebelum ini nama-namanya) adalah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka ikutilah petunjuk mereka”(QS. Al An’am [6]: 90).
Dalam pengertian lain, hidayah memiliki dua kategori, pertama, hidayah ilal Islam, artinya bahwa yang diberi petunjuk belum berada pada jalan yang benar atau hanya mengandung maksud pemberitahuan terhadap suatu hal yang benar. Hidayah seperti ini terjadi pada semua makhluk Allah, baik itu manusia, jin, hewan, tumbuh-tumbuhan dan makhluk lainnya.
Kedua, hidayah fil Islam, artinya bahwa yang diberi petunjuk berada dalam jalan yang benar, akan tetapi belum sampai pada tujuan yang hakiki. Oleh karena itu ia masih diberi petunjuk yang lebih jelas agar sampai pada tujuan yang sebenarnya. Misalnya ketika panggilan adzan dikumandangkan, hanya beberapa orang yang mau menghadiri panggilan tersebut dan yang lainya sibuk dengan aktivitasnya masing-masing, hal ini merupakan hidayah bagi orang-orang yang menghadiri panggilan itu.
Maka, tidak usah heran jika yang terjadi di dunia, khususnya Indonesia, yang mayoritas agamanya Islam, bukannya kebaikan atau kemaslahatan ummat tapi sebaliknya kehancuran dan kemunduran yang terjadi, jika kita tidak mau meningkatkan kualitas diri dalam kehidupan dan tahu maksud tujuan Islam, yakni rahmatan lil’alamin.
Penutup
Sebagai penutup tulisan ini, yang perlu kita ketahui dan sadari adalah bahwa hidayah Allah swt bertebaran di alam semesta ini untuk semua makhluk-Nya. Di manapun kita berada, di situlah hidayah Allah terhampar luas. Kita sebagai salah satu makhluk-Nya yang telah diciptakan dengan sebaik-baiknya (QS. At-Tien : 4) dan sebagai penyempurna, kita diberi akal untuk berfikir agar dapat mencapai hidayah Ilahi. Seyogyanya kita memanfaatkan kesempatan dengan sebaik-baiknya.
Wallahu A’lam
Fathurrahman Al Katitanji
Mahasiswa Syariah FIAI dan santri Ponpes UII, kini aktif di 12 Organisasi
Mutiara Hikmah
LUKA KARENA KATA-KATA
Suatu Ketika ada seseorang anak laki-laki yang mempunyai sifat pemarah. Ayahnya berusaha keras untuk membuang sifat keras itu. Suatu hari ia memangil anaknya dan memberikanya sekantong Paku. Paku? ya Paku! Sang anak heran Tapi bibir ayahnya justru membentuk senyum bijak. Ia berkata agar ia memakukan paku setiap ia marah di pagar belakang rumahnya. Ajaib! Dihari pertama sang anak menacapkan 48 paku! begitu selanjutnya. Setelah itu jumlah paku yang tertancap berkurang secara bertahap Ia menemukan fakta bahwa lebih mudah menahan amarahnya daripada memakukan paku ke pagar. Akhirnya, kesadaran itu mebuahkan hasil amarahnya dan tidak cepat kehilangan kesabaran. “Hmm, kamu telah berhasil dengan baik anakku. Tapi lihatlah lubang-lubang di pagar ini. Pagar ini tidak akan pernah seperti sebelumnya. kata si ayah bijak. Sang ayah sengaja memotong kalimatnya pendek-pendek agar si anak bisa mencerna maksudnya dengan baik. Si anak menatap sang ayah dengan sikap menunggu, apa kelanjutan ujaran ayah itu. “Ketika kamu melontarkan sesuatu dalam kemarahan, kata-katamu itu meninggalkan bekas seperti di lobang di hati orang lain. Kamu dapat menusukkan pisau lalu mencabut pisau itu. Tetapi, tidak peduli beberapa kali kamu meminta maaf luka itu akan tetap membekas. Dan luka karena kata-kata adalah sama buruknya dengan luka fisik.” ucap sang ayah lembut tapi sarat makna. Sang Anak membalas tatapan lembut ayahnya dengan mata berkaca-kaca. Pelajaran yang diberikan ayahnya begitu tajam dan menghujam relung hatinya.