Archive for March 2007
MUTIARA HIKMAH
Sesuatu yang baik, belum tentu benar.
Sesuatu yang benar, belum tentu baik.
Sesuatu yang bagus, belum tentu berharga.
Sesuatu yang berharga/berguna, belum tentu bagus.
(Anonim)
POLIGAMI DALAM PERBINCANGAN
Banyak negara, misalnya Turki, Mesir, Maroko dan seterusnya menganggap bahwa poligami sebagai tindakan yang menyimpang dari kostitusi, sehingga perubahan dan perbaikan terhadap undang-undang selalu disesuaikan dengan keyakinan dan budaya masyarakatnya. Indonesia adalah negara beragama dan berpenduduk mayoritas Muslim yang menganut budaya monogami (beristri satu). Seacara alami, masyarakat akan resah bila muncul budaya baru di tengah-tengah komunitas mereka. Mereka kemudian akan meng-hiba, menggunjing, menghujat dan mengkritik, akibatnya budaya ini tidak membawa rahmah bagi umat, justru memberikan “dosa” bagi umat. Hal ini barangkali yang terjadi dalam wacana poligami di Indonesia.
Masyarakat yang kontra dengan poligami beralasan keadilan, dalam arti keadilan imaterial (psikis). Keadilan yang sifatnya abstrak acapkali sulit untuk diukur, apalagi dikaitkan dengan pembagian kualitas waktu, persamaan dalam arti cinta, kasih, dan sayang, juga pada dukungan spiritual, moral dan intelektual. Ini sesuai dengan dalil Qurani yang secara tidak langsung melarang poligami dengan menetapkan syarat harus bersikap adil. Adil di sini dalam arti mengelola harta, adil terhadap anak yatim, dan adil terhadap para istri. Penegasan Allah SWT melalui firman-Nya surat an-Nisa’[4] ayat 129: “dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil diantara istri (mu), meskipun kamu sangat ingin berbuat demikian…”
Firman ini dibuktikan oleh agama-agama Abrahamik (Yahudi, Kristen, dan Islam) yang memiliki figur teladan dalam berpoligami, yakni Ibrahim kholilullah. Abraham atau Ibrahim berpoligami dengan restu Siti Sarah (istri pertama), tetapi pada akhirnya terbuanglah Siti Hajar (istri kedua) dan anaknya dari rumah dan negerinya. Ini adalah contoh kongkrit bahwa manusia tidak bisa berbuat adil sepenuhnya dan menunjukkan bahwa poligami hanya akan menghilangkan rasa kemanusiaan baik bagi laki-laki ataupun perempuan (suami ataupun istri).
Pertimbangan psiko-fisik anak juga sangat berperan penting untuk beristri lebih dari satu. Pengasuhan dan perawatan anak tidak bisa hanya dibebankan pada istri, suami juga memiliki kewajiban yang sama untuk mengasuh dan merawat anak. Jika laki-laki sudah sibuk dengan pekerjaannya, dan ditambah lagi sibuk dengan istri-istrinya, kapan waktu disisihkan untuk anak-anak? Di sinilah pembagian kualitas waktu untuk anak juga diperlukan. Bagaimana istri atau anak-anak bisa mendapat perhatian dan kasih sayang sepenuhnya dari seorang suami atau ayah kalau suami atau ayah membaginya dengan istri dan anak-anak dari istri lain?
Anak sebagai amanat Ilahi dan pewaris sekaligus penerus keturunan akan tumbuh dan berkembang dengan normal dan baik, jika anak mendapat kasih sayang dan pengasuhan yang baik. Baik anak laki-laki maupun perempuan, figur ayah dan ibu sangat diperlukan untuk membentuk kepribadiannya Baik buruknya generasi penerus keluarga, agama, bangsa dan negara tergantung bagaimana seorang ayah dan ibu mendidik, memberi teladan, mengasihi dan merawatnya.
Sedang masyarakat yang pro poligami selalu berdalih ekonomi: dalam menghadapi persoalan ekonomi seperti pengangguran dan kemiskinan, laki-lakilah yang lebih mampu untuk membiayai kebutuhan hidup secara ekonomi. Alasan ini menampakkan bahwa perempuan dianggap sebagai beban ekonomi dalam kehidupan, dengan kata lain perempuan hanya bisa ber-reproduksi tetapi tidak mampu berproduksi. Di dunia dewasa ini banyak perempuan yang tidak bergantung lagi pada laki-laki. Sekarang ini sudah banyak perempuan yang bekerja produktif sejak bekerja menjadi buruh gendong sampai bekerja di parleman, dari pekerja pengangkut sampah sampai bekerja di dunia seni. Dengan demikian anggapan lama bahwa hanya laki-laki yang mampu bekerja, melaksanakan pekerjaan yang paling produktif, tidak bisa lagi diterima. Jadi poligami tidak lagi merupakan solusi untuk menyelesaikan kerumitan persoalan ekonomi.
Alasan berikutnya adalah kemandulan, karena perempuan yang dinikahinya tidak mampu memberikan keturunan. Memang keinginan memiliki keturuann dalam sebuah pernikahan merupakan sesuatu yang alamiah. Tetapi kalau kemandulan yang dijadikan dalih, maka itu sebenarnya alasan yang terlalu mengada-ada. Pasangan suami-istri yang tidak bisa melahirkan anak bukan berarti mereka tidak bisa memelihara dan membesarkan anak. Bagaimana jalan keluar yang memungkinkan dan menyenangkan bila suami atau istri itu mandul?
Dewasa ini bencana alam, konflik kekerasan, kecelakaan transportasi baik darat, udara dan laut banyak memakan korban nyawa, banyak anak-anak yang kehilangan orang tua, maka mereka akan sangat beruntung dan bahagia kalau memdapatkan kasih sayang dan pengasuhan dari pasangan yang tanpa anak ini. Memang hubungan darah dengan anak itu amatlah penting. Tetapi itu bukanlah satu-satunya unsur yang paling baik dalam pengasuhan anak.
Alasan lain juga kerapkali dikemukakan, yakni angka perbandingan banyaknya laki-laki dan perempuan. Memang angka perbandingan ini tidak dapat dipungkiri, sebab secara psikologis perempuan lebih mampu bertahan hidup (survive) daripada laki-laki. Hal ini dapat dibuktikan dengan banyaknya lansia (lanjut usia) perempuan daripada lansia laki-laki. Kalau mereka yang berpoligami memilih perempuan-perempuan lansia, kemungkinan besar tidak menimbulkan banyak polemik dan persoalan di masyarakat. Tetapi persoalannya akan menjadi lain jika istri-istri yang dipoligami melebih istri pertama. Dan inilah yang selama ini terjadi.
Alasan lain yang dikemukan pro poligami adalah daripada “kumpul kebo” (berzina). Dalih ini sangat mengandung unsur nafsu yang tidak terkendali. Jika nafsu atau naluri kebinatangan yang berbicara pada diri manusia, maka berapa perempuan yang bisa memuaskan dan mengendalikan naluri ini? Prinsip Alquran mengatakan: Jika kebutuhan seksual seorang laki-laki tidak terpenuhi dengan satu istri, maka ia sebaiknya memiliki dua istri, jika gairah laki-laki lebih besar lagi maka ia bisa memiliki tiga sampai empat istri. Jika masih tidak bisa juga maka hendaknya taat, bersikap sopan santun dan mengendalikan diri.
Pengendalian diri dan ketaatan tidak hanya berlaku bagi para istri saja, tetapi penting juga bagi para suami. Budaya manapun sangat mengecam habis perempuan yang meninggalkan laki-laki untuk berhubungan dengan laki-laki lain. Sebaliknya bagaimana manusia bisa bertanggungjawab bersama sebagai khalifah di muka bumi kalau “separuh nyawanya” sibuk mengembangkan kerajaan hayawaniyah-nya.
Poligami yang sarat pro dan kontra dan memuat “dilema psikologis” ini bak dua mata pedang: di satu sisi dengan berpoligami nafsu hayawaniah dapat tersalurkan, dan di sisi lain nurani kemanusiaan bisa tercampakkan. Sehingga kemungkinan besar jawaban yang paling pas atas persoalan ini sebagaimana yang tersebut dalam Alquran adalah masing-masing pribadi hendaknya mengendalikan diri, bersikap sopan santun, dan berperilaku taat kepada keyakinan dan adat budayanya.
Lathifatul Izzah al Mahdi
Alumni Program Agama dan Filsafat Pascasarjana UIN Sunan kalijaga Yogyakarta
Mutiara Hikmah
Kadang-kadang datang kepadamu berbagai cahaya Ilahi, akan tetapi cahaya-cahaya Allah menemukan hatimu penuh dengan masalah duniawi, lalu kembalilah ke tempatdari mana ia turun. Hendaklah engkaou kosongkan hatimu dari segala sesuatu selain Allah, tentu Allaj akan memenuhi kehendakmu dengan makrifat dan kerahasiaan-Nya.
(Syaikh Ahmad Ataillah, dalam Al Hikam)
STRATEGI LANGIT
Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah syaitan, yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan (kekafiran). Mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya (QS. Al-Baqarah [2]: 257).
Para mujahid dan mushannif terkenal dari Palestina sering menggunakan istilah Strategi Langit seperti Abdullah el Tall sering menggunakan hal tersebut. Pada mulanya istilah ini digunakan pada awal lahirnya agama Islam di jazirah Arab, lalu tumbuh dan berkembang menjadi satu kekuatan yang mengisi dunia kemanusiaan dengan segala petunjuk dan bimbingannya.
Kita semua tentu telah mengetahui bahwa kata “strategi” adalah kata yang terkenal di kalangan militer dalam peperangan atau dengan istilah lain siasat. Kemudian bergandengan dengan kata taktik, yaitu upaya untuk mencapai tujuan, atau cara yang akan ditempuh. Dalam suatu perjuangan istilah strategi dan taktik sangat populer bahkan sudah mempunyai ilmu tersendiri. Saat ini sudah banyak buku panduan yang membahas dua istilah tersebut.
Hakikatnya
Bila Abdullah el Tall memakai istilah strategi langit, maka yang dimaksud di sini adalah ketentuan-ketentuan Yang Maha Kuasa terhadap hamba-hambanya agar mereka selalu lurus di jalan yang benar (shiratul mustaqim) tanpa tergelincir dari rel dan jalan yang tidak diridhai-Nya. Dalam Alquran ada istilah sunnatullah, yakni ketentuan-ketentuan dan garis yang ditentukan Allah di dunia dan tidak berubah untuk selama-lamanya. Allah menegaskan dalam Alquran surat Al-Fath [48] ayat 23: Sebagai suatu sunnatullah yang telah berlaku sejak dahulu, kamu sekali-kali tiada akan menemukan perubahan bagi sunatullah itu (QS. Al-Fath [48]: 23).
Sunnatullah atau strategi langit merupakan bagian dari ajaran Islam yang sangat penting sehingga Syeikh Muhammad Abduh dan Syeikh Muhammad Rasyid Ridha, sebagai ahli tafsir terkenal pada abad XX, banyak menguraikan hal ini. Maka, diharapkan kaum muslimin yang menginginkan kemajuan harus memahami ilmu ini. Seperti pada zaman Rasulullah SAW, para sahabat mengerti benar tentang sunnatullah dalam segala bentuknya. Artinya tidak sekedar melaksanakan ibadah, melipatgandakan amaliyah dan memperindah akhlaq, tapi memahami benar strategi langit yang terkandung dalam sunnatullah. Apalagi diantaranya ada yang tidak mampu dirasionalkan oleh akal manusia. Tentang strategi langit atau sunnatullah, mari kita kaji sebagian saja dari sekian banyaknya itu:
Syaitan dan Manusia Syaitan
Allah menciptakan iblis dan syaitan sebagai makhluk pembangkang kepada-Nya dan selalu memperdayakan manusia agar hidup sesuai dengan gaya mereka. Menjadi “manusia syaitan” menurut istilah Nabi saw. Seperti Nadhar bin Harist zaman Madinah dahulu yang seluruh aktivitasnya dicurahkan untuk menghancurkan Islam dan kaum Muslimin.
Allah menciptakan manusia dalam kandungan Sunnatullah dan diperingatkan manusia atas bahayanya, tetapi Allah pun memberi kesempatan yang panjang pada mereka untuk menguji iman, seperti disebutkan dalam Alquran surat Al-A’raf [7] ayat 14-15:
Iblis berkata: “Beri tangguhlah saya sampai waktu mereka dibangkitkan”. Allah berfirman: “Sesungguhnya kamu termasuk mereka yang diberi tangguh.” (Q.S. al-A’raf [7]: 14-15].
Demikian, penciptaan makhluk jahat syaitan dan teman-temannya yang merupakan salah satu bentuk sunnatullah atau strategi langit untuk menguji hamba-hamba Allah yang beriman.
Iman dan Ujian Hidup
Di dalam Alquran Allah telah menentukan bahwa Iman itu dekat dengan ujian hidup. Allah SWT menghendaki yang demikian agar bisa dibedakan mana yang beriman secara benar dan mana yang munafik. Begitu pula dalam perjuangan menegakkan kalimah Allah dalam segala bentuk dan situasinya. Sebagaimana Firman Allah:
Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.
(Q.S. Al-Ankabut [29]: 2-3).
Hak dan Bathil
Menurut Sayyid Sabiq, perkataan hak atau perkataan yang benar itu meliputi atau mempunyai pengertian aqidah yang sehat, ilmu yang nafi’ (bermanfaat), amal saleh dan akhlak terhormat.
Hampir setiap perkatan yang hak sering didahului atau digandengkan dengan perkataan bathil, yang digerakkan oleh syaitan yang berusaha merontokkan keimanan manusia dan menumpas yang hak.
Akan selalu terjadi pertarungan yang hebat antara yang hak dan bathil, dari zaman dahulu hingga sekarang bahkan sampai akhir zaman. Di akhir episode, strategi langit, atau sunnatullah akan keluar sebagai pemenangnya. Kehadirannya yang penuh dengan keajaiban sering tidak bisa dirasiokan oleh akal manusia. Seperti kisah dalam Alquran antara Musa penegak kebenaran (hak) melawan Fir’aun penganut kebatilan. Walaupun dalam keadaan terdesak, Musa masih yakin bahwa yang hak akan menghancurkan kebatilan, melalui mu’jizat dari Allah. Maka rombongan Fir’aun dapat dihancurkan.
Allah berfirman: “Sesungguhnya telah diperkenankan permohonan kamu berdua, sebab itu tetaplah kamu berdua pada jalan yang lurus dan janganlah sekali-kali kamu mengikuti jalan orang-orang yang tidak mengetahui” (Q.S. Yunus [10]: 89).
Sangat jelas bahwa strategi langit atau sunnatullah mengisyaratkan bahwa kebathilan akan runtuh. Demikian zaman nabi Musa, demikian zaman Nabi Muhammad dan para sahabat melawan para thaghut, dan demikian pula zaman sekarang.
Antara Kufur dan Zalim
Strategi langit selalu menginformasikan adanya kekufuran dan kedzaliman yang dilakukan oleh manusia. Seperti difirmankan Allah dalam surat Ibrahim [14] ayat 42:
Dan janganlah sekali-kali kamu (Muhammad) mengira, bahwa Allah lalai dari apa yang diperbuat oleh orang-orang yang dzalim. Sesungguhnya Allah memberi tangguh kepada mereka sampai hari yang pada waktu itu mata (mereka) terbelalak. [QS. Ibrahim [14]: 42).
Strategi langit atau sunnatullah itu amat luas meliputi masyarakat, negara dan dunia luas, semua dapat ditemukan dalam Alquran dan Hadist. Manusia hendaknya setiap saat dan dalam keadaan apapun selalu istiqamah dalam hidup dan perjuangan.
Abee Yazdan
Tulisan ini diadaptasi dari
Buletin Dakwah No. 48 Thn. Ke IX,1982