Lembar Jumat Al-Rasikh

Archive for April 2007

MUTIARA HIKMAH

with one comment

“Jangan memandang kecilnya suatu kemaksiatan, tapi lihatlah kepada kebesaran Zat yang engkau lakukan kemaksiatan terhadap-Nya.”

 

(Bilal bin Rabah r.a.)

Written by alrasikh

April 13, 2007 at 4:21 am

Posted in mutiara hikmah

CERMIN KITA ADALAH MASA LALU

without comments

Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kalian kepada Allah dan lihatlah masa lalu kalian sebagai acuan untuk masa depan kalian (Q.S. Al-Hasyr [59]: 18).

Tentang masa, selalu ada trikotomi yang membagi masa ke dalam masa lalu, masa kini, dan masa depan. Masa lalu adalah setiap hari, jam, menit, detik bahkan sepersekian detik yang telah berlalu dari saat ini. Maka masa lalu adalah bentangan panjang sejarah yang menampilkan berbagai kisah dan timbunan teori. Masa lalu adalah seluruh isi kurikulum pelajaran sejarah, mulai dari masa ketika bumi terbentuk, atau bahkan kehidupan sebelumnya, masa ketika dinosaurus berkuasa, masa para Nabi, masa Airlangga, masa Gadjah Mada, masa Jenderal Sudirman, masa Suharto, masa Habibie, masa Gus Dur, masa Megawati, bahkan separuh masa SBY sampai ketika kita selesai menghembuskan nafas kita sepersekian detik yang lalu.

Lantas masa kini? Masa kini adalah saat ini dimana kita ada , dan ia tak lebih dari sedetik yang di dalam detik itu kita “ada”, atau bahkan ia tak lebih dari sepersekian detik dimana kita “ada”. Bahkan bisa jadi, masa kini adalah satu ketiadaan, karena sepersekian detik setelah kita melakukan sesuatu, bahkan setelah kita selesai menghembuskan nafas terakhir kita telah masuk ke dalam bentangan masa lalu. Dan masa depan adalah setiap yang belum kita alami dan akan kita alami setelah sepersekian detik kita melakukan sesuatu.

Sehingga satu-satunya masa yang jelas dan pernah kita saksikan adalah masa lalu, karena masa kini dan masa depan adalah sesuatu yang belum pernah kita saksikan. Sehingga wajar kalau kemudian Allah menyuruh orang orang beriman belajar dari masa lalu untuk merenda masa depan, karena masa kini adalah ketiadaan dan masa depan adalah khayalan kecuali bahwa ruh kita akan meloncat dari raga ini di masa depan, entah bertahun-tahun yang akan datang atau bahkan beberapa detik yang akan tiba.

Maka secara metodologis, upaya merumuskan berbagai hal di masa depan mau tidak mau harus mengacu kepada kondisi masa lalu, sebagai satu cermin yang memantulkan realitas dan mengandung pesan tentang mana yang harus diperbaiki, mana yang harus ditingkatkan, mana yang harus diperlakukan demikian dan demikian dan seterusnya.

Kita, sebagai Muslim, sebagai orang Indonesia, sebagai diri individu, adalah bentangan masa lalu yang menumbuhkan setiap sel dan setiap elemen hingga menjadi sedemikian rupa kita adanya. Masa lalu umat Islam adalah sebuah kurva yang kian lama justru kian menurun oleh terjangan gelombang modernitas. Bagaimana mentalitas profetik yang diwariskan para Nabi kian lama kian terkikis oleh kemilau platinum yang sebenarnya hanya ada dalam onggokan kepala kita. Mimpi-mimpi modernitas kita anggap sebagai kenyataan yang pada akhirnya melumpuhkan mentalitas para Nabi yang secara potensial ada dalam diri kita umat Islam. Oleh modernitas yang kemilau, ruang pusaka dalam batin kita telah dimasuki tikus yang menggerogoti segala dampak sentuhan ayat-ayat Tuhan yang membekas dalam lubik sanubari kita.

Maka umat Islam yang dahulunya “asing”, dengan kuantitas yang sedikit dan kualitas yang banyak, kini menjadi “asing” dengan kuantitas yang besar dan kualitas yang kecil. Maka keberuntungan, kemenangan itu kini tak lagi menjadi milik semua. Keberuntungan itu adalah milik mereka yang mampu bertahan dalam ke-asing-annya melawan tikus-tikus yang kian menyerbu ruang pusaka diri kita.

Sebagai Indonesia, kita adalah bentangan sejarah yang semakin tidak jelas naik turunnya. Tonggak 98 yang seharusnya menjadi titik take off pesawat bernama Indonesia justru menghempaskan bangsa ini dalam keterjerumusan jurang yang dalam. Dominasi militer pra 1998 masih menyisakan kejelasan siapa benar-siapa salah, siapa kawan kebenaran dan siapa musuh kebenaran. Pasca 1998, segalanya justru kian kabur karena tidak ada batasan yang jelas akan semua hal itu.

Sebagai diri individual kita, hanya kitalah yang tahu (dan Gusti Allah tentu saja) bagaimana masa lalu yang pernah kita jalankan dan layak untuk kita jadikan “cermin” sebagai acuan merenda masa depan. Yang jadi masalah kemudian apakah kita sudah benar-benar menimbang segala aspek dalam diri kita? Dosa-dosa kita? Keburukan vs kebaikan kita? Mana yang kira-kira lebih berat? Watak macam apa yang harus ditingkatkan dan watak macam apa pula yang harus kita kekang? Semua perlu cermin yang bernama masa lalu. Dan masa lalu itu (perlu diingat), tak terbatas pada apa yang ada dalam diri kita semata, melainkan juga terkait dengan berbagai singgungan, interaksi yang kita jalin dengan segenap lingkungan kita, baik yang tampak maupun yang tak tampak.

***

Biar diskusi kita tak terlalu meluas (saya katakan diskusi karena saya senantiasa membayangkan wajah anda semua ketika menulis), saya berusaha mambatasi konteks pembicaraan kita sebatas pada diri kita sebagai individu, tak perlu gumedhe sebagai Indonesia apalagi mbagusi dengna identitas ke-ISLAM-an kita. Secuil saja dari bentangan masa lalu kita. Setiap kita, selama di KTP kita tertulis bahwa agama kita Islam, saya berani menjamin bahwa kita pernah berikrar dengan satu persaksian “agung” bahwa kita bersaksi bahwa Tidak Ada Tuhan selain Allah dan Bahwa Muhammad adalah Rasul Allah. Bagi kita yang level keislamannya lebih tinggi (dalam artian tidak hanya di KTP saja), bisa jadi kita mengulang ulang kalimat tersebut minimal sembilan kali dalam satu hari, yakni dalam sholat yang kita lakukan, walaupun kita seringkali “main-main” dan lupa akan keseriusan ikrar kita tersebut.

Padahal, kalau saya boleh agak merasa ngeri, ikrar syahadat yang kita ucapkan tersebut mengandung satu konsekuensi logis bahwa kita siap untuk meninggalkan segala “tuhan-tuhan” yang ada di dunia dan secara totalitas menyerahkan diri kita kepada Tuhan yang Satu. Dan jangan bayangkan yang dimaksud “tuhan-tuhan” itu seperti berhala sapinya Samiri, atau berhalanya Fir’aun, bahkan Namrudz. Saat ini bisa jadi “tuhan-tuhan” itu adalah konsepsi kita tentang harta kekayaan, kekuasaan, arogansi individual dan lain sebagainya yang kita letakkan melebihi nurani keTuhanan kita sendiri. Rasionalitas kita seringkali mengantarkan kita untuk ngakali Tuhan dan melogikakan berbagi hal dengan harapan agar hal tersebut terasa nyaman bagi kita tanpa memunculkan rasa bersalah akibat pelanggaran yang sebenarnya disadari oleh hati kecil kita.

Konsepsi syahadat pada dasarnya adalah satu ikrar untuk mengikat rasio kita dan menjadikannya alat yang menuntun kita menuju jalan cahaya, sebuah jalan terjal yang harus ditempuh dengan tatih-tatih derita karena apa yang kita jalani seringkali bertentangan dengan keinginan hawa nafsu keduniaan kita. Maka ketika telah terucap lafadz “Asyhadu an Laa Ilaaha Illa Allah wa Asyhadu anna Muhammadan Rasulullah,” seketika terhentilah segala proses rotasi dan revolusi partikel-partikel dalam diri kita. Karena ucapan itu menuntut satu konsekuensi yang sama sekali tidak mudah dalam konstelasi kehidupan kita. Bagaimana kita katakan mudah? Lha wong ketika para manusia tengah sibuk memperbudak diri di hadapan dunia, kita harus menahan segala deru nafsu atas semua itu.

Maka, sedikit demi sedikit kita upayakan perbaikan dengan mengaca pada masa lalu kita masing-masing. Nggak usah terlalu mbagusi seolah-olah kita optimis akan memperoleh surga-Nya, yang penting bagaimana sedikit demi sedikit kita belajar melunasi hutang kebohongan kita atas berbagai ikrar transendental yang kita ucapkan. Iyya-Ka na’budu wa iyya-Ka nasta’iin, sebaiknya segera juga kita tepati. Bukan dalam artian kalau sakit kita nggak perlu ke dokter lantas hanya berdoa saja. Bukan berarti pula kalau mau pintar kita gak perlu belajar, tapi ini adalah bagaimana kita memosisikan segala komponen diri kita, ya akal kita, ya hati kita, ya tubuh kita kepada satu keyakinan bahwa yang menjadi faktor dari semua hal tak lain dan tak bukan adalah Allah, apapun itu. Jadi jangan terlalu yakin bahwa ketika sehelai daun itu jatuh atau ketika kepala anda tiba-tiba kejatuhan kotoran burung, itu adalah perkara yang sifatnya independen dan tanpa campur tangan Faktor itu tadi. Tapi yakinlah, ketika anda selamat setelah motor anda keserempet truk, maka dibalik itu semua ada faktor, ALLAH!

Wa Allahu a’lam.

Susilo Wibisono

Written by alrasikh

April 13, 2007 at 4:20 am

Posted in lembar jumat

MUTIARA HIKMAH

without comments

Orang yang bisa menaklukkan orang lain itu kuat. Orang yang bisa menaklukkan diri sendiri itu hebat. (Lao-Tzu).

Thales pernah berkata bahwa hal yang paling sulit dalam hidup ini adalah mengenal diri sendiri. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika amat sedikit orang yang mampu mengenal Tuhannya. (Al Balyan).

Written by alrasikh

April 5, 2007 at 1:04 am

Posted in mutiara hikmah

Sebuah Catatan Kecil

without comments

Katakanlah: ”tiap-tiap orang berbuat sesuai dengan keadaan tabiatnya masing-masing”, Maka Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalannya.

(Q.S. Al Israa’ [17]: 84).

Beberapa waktu yang lalu ketika saya tengah dalam perjalanan pulang dari kampus UII dengan mobil angkutan tua, beberapa mobil dan motor yang berada di belakang kami membunyikan klakson, tanda kesal bahwa mobil kami sudah terlalu lama berhenti, nampaknya jalan Kaliurang sudah saatnya diperluas. Sekilas kejadian tersebut tidak ada yang istimewa, terlihat seperti biasa-biasa saja dalam keseharian kita. Namun sungguh, bagi saya momen ini banyak memberi pencerahan untuk merenungkan kembali ayat ke-84 dari surat Al Israa’. Katakanlah: ”tiap-tiap orang berbuat sesuai dengan keadaan tabiatnya masing-masing”, Maka Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalannya.

Nampaknya ada sikap kurang pas di keseharian kita yang melekat pada hampir setiap orang, celakanya kita menganggapnya biasa-biasa saja. Sekarang coba kita bertanya pada diri kita masing-masing, seberapa sering kita terlalu cepat menyimpulkan segala sesuatu. Contohnya seperti ilustrasi yang saya ceritakan tadi, bagi pengendara yang tidak sabar akhirnya menyalahkan supir angkutan karena lama berhenti dan menggangu kelancaran lalu lintas. Terus terang, saat itu saya sangat kasihan dengan sepasang kakek-nenek yang karena keterbatasan fisiknya agak susah untuk masuk dan duduk di mobil angkutan tersebut, dan saya salut dengan supir yang mampu memahami kondisi kakek-nenek tersebut. Lagipula kalau ada apa-apa dengan kakek-nenek tersebut, bisa-bisa mobil itu makin lama berhentinya, dan tentu pengendara di belakang akan lebih terganggu.

Permasalahannya di sini bukan pada siapa yang salah atau siapa yang benar, tetapi lebih kepada bagaimana cara kita menyikapi segala sesuatu. Sayangnya kita terkadang terlalu reaktif sehingga tidak mampu menengok lebih jauh apa yang ada di balik suatu kejadian dan menemukan apa permasalahan sebenarnya. Hal ini penting agar kita bisa menyikapi segala sesuatu sesuai dengan realita dan dalam porsi yang tepat, jangan cuma bisa mencari pembenaran atas ego sendiri dan tidak peduli apakah yang kita perbuat sudah sesuai atau belum dengan aturan agama dan ijtima’ (norma/ kesepakatan umum).

Contoh lain adalah ketika saya menjadi salah satu penulis di sebuah redaksi, dan kebetulan ada seorang teman saya yang membaca tulisan tersebut lalu mengetahui bahwa tulisan itu adalah tulisan yang saya buat dari nama dan keterangan kampus yang tertera di akhir tulisan. Karena tertarik dengan tulisan saya, ia lalu bercerita kepada teman-teman yang lain. Di lain kesempatan seorang teman bertanya: “Hai, katanya kamu sering nulis buat media cetak ya?” Saat itu yang pertama terbersit adalah bagaimana bisa ia mengatakan kata ‘sering’ padahal saya baru sekali menulis artikel. Atau, contoh lain lagi, ketika mahasiswa bertemu dengan salah satu dosen di ruang kuliah untuk pertama kali. Dosen itu datang terlambat dengan penampilan yang sangat berantakan, rambutnya tidak disisir rapi, kemejanya kumal karena tidak di setrika, dan wajahnya kusut seperti belum mandi. Mahasiswa menyimpulkan bahwa ia orang yang sembrono dan manajemen hidupnya amburadul. Padahal belum tentu demikian. Dan nyatanya, pada pertemuan minggu selanjutnya si dosen tadi terlihat lebih rapi dan datang tepat waktu dengan penampilan yang enak dipandang, begitu juga dengan minggu-minggu selanjutnya.

Nah, sekali lagi kita jatuh pada permasalahan yang sama, yaitu terlalu cepat menyimpulkan. Disini kita bisa melihat bahwa dalam transfer informasi dari satu orang ke orang yang lain, ada beberapa hal yang kadang menjadi distorsif. Celakanya, kadang distorsi itulah yang benar-benar kita yakini seratus persen, atau kadang kita menganggap bahwa kesan pertama adalah sebuah penilaian final.

Alhasil, kita terjebak pada kesimpulan yang terlalu dini. Bisa saja dosen yang berpenampilan tidak rapi pada pertemuan pertama itu baru mengalami musibah. Misalnya, anaknya sedang opname di Rumah Sakit sehingga ia harus menunggu sampai pagi dan ketika pagi ia berganti shift dengan istrinya. Ia ingat bahwa ia memiliki amanah mengajar, maka ia berusaha untuk tetap berangkat. Wah, luar biasa perjuangan dosen seperti ini, jarang ada dosen yang seperti ini, yang benar-benar berusaha menjaga amanahnya walaupun anehnya di satu sisi mungkin mahasiswa akan lebih senang kalau jam kuliahnya kosong. Bukankah hal seperti itu bisa saja terjadi. Saya mengatakan “bisa saja” menyatakan bahwa hal itu mungkin saja benar atau mungkin juga salah, permasalahannya kita tidak mengetahui apa penyebab yang sebenarnya.

Distorsi sangat rentan menyebabkan salah paham, padahal seperti yang kita ketahui bersama, kesalahpahaman adalah salah satu bentuk perilaku yang sering merepotkan kita umat Islam. Salah paham biasanya tidak menjadi masalah besar ketika kita tidak reaktif dan tidak terlalu cepat menyimpulkan. Namun ketika salah paham menjadi pemicu terhadap chaos, apalagi ditunggangi kepentingan dan dendam masa lalu, maka akan berakibat buruk terhadap umat. Bagaimanapun juga kita menjadi tidak produktif untuk bisa berpikir hal-hal lain yang lebih bermanfaat.

Hal-hal di atas sebenarnya tidak akan terjadi jika seseorang mampu bersikap bijaksana, karena ia akan memposisikan dirinya secara objektif untuk bisa melihat apa yang ada dibalik suatu kejadian. Ketika ia menerima informasi apapun dari yang ia lihat atau dengar, ia hanya menjadikan informasi tersebut sebagai hipotesa awal, bukan sebagai sebuah kesimpulan, sehingga ia akan selalu mencari sebab dan latar belakang dibalik kejadian dengan melakukan cross-check kepada pihak-pihak yang terlibat. Adil dengan tidak memihak dan mempertimbangkan segala sudut pandang untuk bisa menyatakan “Aha! Ternyata kejadian sesungguhnya seperti itu, kalau begitu ini yang benar dan ini yang salah.” Atau “… ini yang seharusnya dan ini yang tidak seharusnya.” Dst.

Ada satu ayat yang bisa menjadi inspirasi untuk kita, yaitu ayat ke-8 dari surat Al Maidah [5]: “Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlakulah adil, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” Saya rasa tidak terlalu sulit bagi kita untuk bersikap seperti ini, hanya butuh dibiasakan pelan-pelan. Namun tentu saja pada kenyataannya, tidak semua hal dapat kita tarik kesimpulan, hal itu karena sumber daya kita untuk melakukan cross-check tentu sangat terbatas. Dalam kondisi seperti ini lebih baik jika kita mau berlapang hati untuk bersabar dan berprasangka baik, serta mendoakan dengan ikhlas.

Saya sering mengilustrasikan hidup ini seperti berjalan di atas titian yang menghubungkan puncak dua gedung. Berawal dari gedung yang bernama ‘kelahiran’ dan berakhir pada gedung yang bernama ‘kematian’. Tidak ada jalan untuk kembali, satu-satunya pilihan adalah maju terus ke akhir titian atau jatuh. Hanya saja manusia tidak mempunyai sayap dan cenderung berbuat khilaf, oleh karena itu untuk bisa sampai dengan selamat maka kita harus berhati-hati dalam melangkah, kalau tidak, pasti akibatnya akan fatal. Sama halnya ketika kita menjalani keseharian hidup, tuntutan kehati-hatian ini menjadi lebih besar, karena tidak saja pribadi kita yang kadang sering lupa diri tetapi juga karena ada pengaruh eksternal yang bertiup sangat kencang, menyerang kita dari segala penjuru tiada habis-habisnya.

Nampaknya kita mesti harus banyak belajar bagaimana untuk menghormati dan menyayangi orang lain, berusaha memahami orang lain sebelum minta dipahami orang lain. Bukankah ada satu hadits dari Anas bin Malik radhiallâhu ‘anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Tidaklah (sempurna) iman seseorang diantara kalian hingga dia mencintai saudaranya sebagaimana dia mencintai dirinya sendiri” (H.R.. Bukhari dan Muslim). Saya tidak bermaksud menggurui siapapun, hanya niat yang tulus untuk berbagi. Hidup adalah proses, dan semoga Allah berkenan menjadikan proses ini sebagai langkah perbaikan diri. Anggaplah tulisan ini sebagai sebuah catatan kecil untuk kita semua. Siapa tahu dapat menjadi memo yang selalu mengingatkan kita kembali akan satu hal, impian kita bersama, yaitu melihat umat Islam ini menjadi satu sinergi, saling melengkapi, saling mengisi, dan tidak terpecah belah. Aamiin…

Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara, dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayatNya kepadamu agar kamu mendapat petunjuk” (Q.S. Ali ‘Imran [3]: 103).

Wahyu Ridhoni

Mahasiswa T. Informatika 2003

Written by alrasikh

April 5, 2007 at 1:03 am

Posted in lembar jumat