Archive for May 2007
MUTIARA HIKMAH
Rasulullah SAW bersabda:
Dunia ini dibanding akhirat tiada lain hanyalah seperti jika seseorang diantara kalian mencelupkan jarinya ke lautan, maka hendaklah dia melihat air yang menempel di jarinya setelah dia menariknya kembali. (H.R. Muslim, At-Tirmidzi, Ibnu Majah)
KESHALIHAN LINGKUNGAN
Dan Dialah yang menjadikan kamu khalifah di bumi.
(QS. Fathir [35]: 39)
Berapa banyak dalam sehari ini kita melanggar peraturan lalu lintas, melampaui marka garis tengah jalan, atau melewati lampu merah? Berapa banyak hari ini kita menghamburkan bensin dengan memain-mainkan pedal atau handle gas secara berlebihan? Berapa lama kita membiarkan lampu-lampu rumah kita menyala tatkala hari telah terang? Berapa kali kita membiarkan air mengucur di kran-kran atau AC menyala tanpa ada orang di dalamnya? Berapa kali dalam sebulan ini kita sudah membakar sampah? Sadarkah kita bahwa asap yang kita timbulkan mengganggu tetangga? Atau suara knalpot yang memekakkan telinga banyak orang? Seberapa banyak batang pohon yang pernah kita tanam selama kita hidup? Berapa kali kita berwudlu sambil berpikir untuk berhemat dalam pemakaian air? Berapa kali kita mempersilakan pemulung mengambil sampah yang masih bisa digunakan atau didayagunakan? Atau justru menghardiknya dengan menempeli rumah dan lingkungan kita dengan “Pemulung dilarang Masuk!”
Manusia adalah penyebab kerusakan bumi. Asap hasil bakaran sampah rumah tangga yang biasa kita dapati di permukiman-permukiman, terutama bahan-bahan non organik yang ikut terbakar, ternyata ribuan kali lebih beracun dari asap rokok. Terlebih lagi, asap yang tidak bisa dikontrol akan mengakibatkan terganggunya lingkungan sosial. Belum lagi kenyataan bahwa asap secara umum menghasilkan CO2 yang menjadi salah satu penyebab timbulnya pemanasan global. Bangunan-bangunan gedung yang dipakai dengan tidak bijaksana ternyata menghamburkan energi yang juga berkontribusi terhadap pemanasan global sebesar lebih dari 30%. Air yang kita pakai, tidaklah gratis, karena ia harus didukung oleh lingkungan alami berupa ruang hijau, dan hutan yang terjaga kelestariannya. Tanpa hutan dan ruang hijau – yang terus dibabati itu – air tanah yang seharusnya terserap segera akan berubah menjadi air bah. Hasilnya adalah sebuah paradoks dimana di satu sisi kita kebanjiran, di sisi lain air menjadi langka. Bahkan di kota-kota besar di dunia, air sudah lebih mahal daripada bensin. Dan pemulung – yang sering kita lihat dengan sebelah mata – dari sisi pengelolaan sampah (waste management) adalah pahlawan lingkungan karena mampu menerapkan strategi 3R (reuse, reduce, dan recycle atau penggunaan kembali, pengurangan volume, dan daur ulang sampah).
Manusia modern – kita semua – adalah penyebab kerusakan bumi yang paling ganas dibandingkan dengan peradaban-peradaban masa lalu. Modernisasi di segala bidang serta pertambahan penduduk yang sangat pesat telah membuat kerusakan bumi jauh lebih cepat dan lebih destruktif. Tak mengherankan, manusia modern pulalah yang menuai bencana-bencana global. Perubahan iklim global adalah akumulasi akibat dari akselerasi proses industri dan cara hidup yang tidak selaras dengan siklus alami. Penyakit-penyakit seperti Flu Burung, SARS dan HIV-AIDS menjadi penyakit global karena akumulasi perubahan cara hidup manusia yang cenderung berlebihan, merusak daur kehidupan alami, dan kecenderungan pola hidup yang menyimpang. Modernisasi di satu sisi adalah karunia, buah dari akal budi manusia dalam mengelola bumi, sebagai khalifah di bumi. Namun di sisi lain, modernisasi juga menyimpan potensi merusak yang lebih besar. Manusia modern, apapun agama dan kepercayaannya, tak kebal terhadap kenyataan paradoksal ini. Dalam konteks ini peringatan Allah yang telah mewanti-wanti manusia untuk tidak berbuat kerusakan menjadi sangat relevan dan bersifat universal. Dalam Alqur’an Surat Al-Qashash [28] ayat 77 dinyatakan bahwa Allah tidak menyukai orang-orang yang membuat kerusakan:
Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan kebahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan (QS. Al-Qashash [28]: 77).
Bukan kebetulan pula ayat ini berada di tengah-tengah cerita tentang Qarun, orang kaya yang berlebih-lebihan lagi menyombongkan ilmunya dan kemudian dibenamkan oleh Allah ke dalam bumi. Kebinasaan Qarun adalah sebuah potret datangnya bencana dahsyat karena tabiat manusia yang ‘berbuat kerusakan di muka bumi.’ Di sini kita dapat mengambil pelajaran berharga bahwa kekayaan dan ilmu – yang dalam makna yang luas sering dianggap ‘tujuan’ dari kehidupan modern ini – juga mengandung resiko bila tanpa didasari oleh keimanan dan keshalihan.
Lantas bagaimana kita sebagai muslim harus bersikap dalam kehidupan modern yang sangat tidak ramah lingkungan ini? Islam mempunyai perhatian yang sangat tinggi terhadap lingkungan. Tidak hanya sumpah Allah dalam Alqur’an yang sering memakai elemen lingkungan yang berguna secara simbolis sebagai pengingat kita, tetapi juga secara praktis memberi pesan-pesan yang menyeru pada timbulnya sikap yang shalih terhadap lingkungan. Khalifah fil Ardh dalam konteks ini seharusnya diterjemahkan sebagai manusia yang mampu mengelola bumi dan seluruh isinya dengan penuh kebijaksanaan: sebuah keshalihan lingkungan.
Dalam cara pandang ini, kita tidak menolak modernisasi, tetapi kita seharusnya juga menolak kedzaliman perilaku terhadap lingkungan hidup yang pada akhirnya akan menenggelamkan kita ke dalam bencana-bencana. Perilaku sosial yang dicontohkan oleh Nabi dan para sahabat pun mencerminkan hal itu. Sebidang tanah kosong yang ditelantarkan, secara hukum (syariat), diperbolehkan untuk ‘diambil alih’ dan dikelola oleh masyarakat. Secara umum Islam menghendaki setiap jengkal lahan di muka bumi ini mempunyai peran bagi kesejahteraan manusia di mana sebagai timbal baliknya, manusia juga harus menjadi khalifah – pengelola – yang bijaksana.
Peran tersebut di atas tentu saja tidak hanya dimaknai sebagai ‘lahan budi daya’ dari sisi ekonomi, tetapi juga lahan yang berperan sebagai penyangga kelangsungan hidup semua makhluk di dalamnya – peran sebagai bagian dari ekosistem. Tak mengherankan, tradisi Islam dalam konteks pengelolaan lahan ini sangat didominasi dengan citra keindahan Taman Islam. Taj Mahal di India, taman-taman di Isfahan Iran, Spanyol, Maroko hingga Taman Sari di Yogyakarta diciptakan dengan cita rasa keindahan sangat tinggi, teknik pengairan yang canggih, pemilihan jenis tanaman yang teliti dan konfigurasi ruang terbuka – tertutup yang sempurna, yang semuanya mencerminkan ekspresi keindahan dan kecintaan terhadap Tuhan. Tentu saja ekspresi simbolis ini juga bermanfaat secara praktis, yaitu taman-taman dan ruang terbuka hijau yang bermanfaat secara luas sebagai penyangga ekosistem lingkungan hidup kita. Gambaran surga di dalam Al Quran, kecintaan terhadap Allah, sangat memengaruhi perilaku umat kala itu yang kemudian diekspresikan dengan menciptakan lingkungan yang indah secara visual dan sangat ramah dari sisi keberlanjutan lingkungan.
Di masa kini, sesungguhnya peluang untuk menjadi shalih lingkungan ini sangat luas. Menciptakan taman hijau di rumah dan lingkungan kita, misalnya dengan memanfaatkan lahan-lahan ‘tidur’, atau menanami lahan pinggir jalan dengan tanaman peneduh adalah contoh kecil saja. Lebih jauh lagi adalah perlunya kepedulian pada persoalan-persoalan global dan mampu memberi tanggapan dengan perilaku yang shalih. Pemanasan global, membesarnya lobang ozon, berkurangnya air tanah, krisis energi, banjir dan polusi adalah daftar persoalan yang kompleks yang perlu dipelajari dengan seksama. Perilaku apa yang akan memperparah keadaan dan kegiatan apa yang dapat mengurangi risiko kerusakan adalah perkara yang harus dipelajari dan diajarkan karena tidak semua orang memahami implikasi-implikasi tindakannya dilihat dari sudut pandang lingkungan hidup. Paparan di awal tulisan ini hanyalah sekelumit daftar perilaku kita sehari-hari yang sangat jarang kita perhatikan – atau kita pedulikan – bahwa ia berimplikasi negatif pada lingkungan, yang ternyata juga berimplikasi pada lingkungan global.
Di sinilah perlunya penyadaran akan pentingnya perilaku yang shalih terhadap lingkungan sebagai sebuah pengejawantahan Islam, umat Islam sebagai sebaik-baik umat, dan muslim sebagi khalifah di muka bumi. Keshalihan pada lingkungan ini juga harus dipelajari, dikaji dan diajarkan sejalan dengan pembelajaran kita terhadap tauhid, ibadah, ataupun ‘ilmu agama’ yang lain. Tanpa adanya pembelajaran ini, maka umat Islam akan senantiasa berada dalam ‘kegelapan’ dengan tetap mempraktikkan perilaku yang pada hakikatnya ‘membuat kerusakan di muka bumi.’ Secara ilahiah, perilaku kita telah melanggar larangan Allah. Dalam konteks duniawi, umat Islam akan dengan mudah dituduh sebagai umat yang tidak punya kepedulian lingkungan yang kuat. Di sini perlu sebuah gerakan penyadaran akan pentingnya kajian keshalihan lingkungan ini. Para ilmuwan Muslim harus turut mendidik masyarakat luas dengan dakwah lingkungannya. Para dai harus turut memelajari wacana lingkungan agar kajian-kajian mereka memuat pesan-pesan yang gayut dengan problem lingkungan saat ini.
Ilya F. Maharika
Dosen Arsitektur FTSP UII
MUTIARA HIKMAH
Semua orang bisa menyerah. Itu hal termudah yang bisa dilakukan di dunia. Tapi tetap bertahan di kala semua orang menganggap Anda gagal, itulah kekuatan sejati (Anonim).
Hikmah Kenaikan Isa Al Masih a.s. dalam Ideologi Islam
Allah selalu menganjurkan kepada manusia agar menjadikan peristiwa apapun yang terjadi di masa lampau sebagai pelajaran (‘ibrah) untuk menuju kehidupan yang lebih baik. Oleh karena itu, bukan sesuatu yang naïf apabila kita sebagai seorang muslim juga mampu mengambil pelajaran dari peristiwa yang oleh orang Kristen disebut dengan kenaikan Isa al-Masih atau Yesus Kristus. Terlepas dari persepsi pro dan kontra di antara umat Islam mengenai peringatan tersebut. Satu hal yang patut menjadi catatan kita, peringatan kenaikan Isa al-Masih bukan pada peringatan ceremonial-nya, akan tetapi lebih kepada implikasi yang lebih luas terhadap konsep yang tercipta dan muncul akibat adanya peringatan tersebut, terutama pengaruhnya terhadap ideologi dalam Islam.
Sebuah Ideologi dari Kenaikan Isa Al Masih
Masuknya ide kenaikan Yesus secara fisik ke langit meresap masuk ke dunia Islam secara bertahap. Yakni sejak sekitar tiga ratus tahun setelah masa Rasulullah saw. Yang perlu diperhatikan ialah mengapa hal itu bisa terjadi. Rasulullah saw telah menubuatkan bahwa di masa mendatang, Nabi Isa akan ‘turun’, namun beliau tidak menyebutkan dari mana turunnya. Beliau tidak pernah menyatakan bahwa ‘turunnya’ ini adalah dari langit, tetapi memang dikatakan bahwa Yesus akan ‘turun.’ Kitab Alqur’an sendiri menyatakan bahwa Rasulullah saw ‘diturunkan.’ Rasulullah adalah satu-satunya nabi yang dalam Alqur’an dinyatakan sebagai ‘diturunkan.’
Karena itu bisa dimengerti bahwa Rasulullah saw mengacu pada istilah Alqur’an tersebut tentang akan ‘turunnya’ sosok Nabi Isa di kemudian hari. Demikian juga makna pernyataan beliau yang menyatakan bahwa tidak ada nabi lain pada saat turunnya Isa al-Masih. Yang menjadi kontroversi adalah istilah ‘Isa al-Masih’, yang dianggap sebagai nama pribadi lalu ditafsirkan sebagai sosok historis Yesus yang hidup beberapa abad sebelumnya. Secara gradual, para cendekiawan kemudian meyakini bahwa jika Isa al-Masih disebut sebagai satu nama, maka pastilah sosok itu adalah yang turun di Nazareth di antara umat Musa, yaitu Nabi Isa a.s. Akibatnya ide ini menjadi berakar kuat pada keyakinan segolongan umat muslim dan menjadi bagian dari akidah mereka. Selanjutnya untuk mendukung pandangan tentang akan ‘turunnya’ Nabi Isa, mereka lalu menyatakan bahwa sudah sewajarnya kalau Yesus juga naik ke langit secara fisikal (jasmani).
Argumentasi mereka didasarkan pada pandangan bahwa sesuatu tidak akan turun kalau sebelumnya tidak naik dulu. Mereka lalu meyakini bahwa kenaikan Isa a.s. ke langit adalah secara fisik dan mereka melupakan Alqur’an yang tidak pernah menyebutkan bahwa Nabi Isa a.s. dinaikkan ke langit dengan tubuh jasmaninya. Satu-satunya referensi yang bisa ditemukan dalam Alqur’an yang mirip dengan keadaan itu ialah ayat: ‘Kebalikannya, Allah telah mengangkat ia kepada-Nya. . .’ (QS. An-Nisa [4]: 159). Dengan kata lain, Tuhan telah melakukan rafa’a (mengangkat) Isa a.s. kepada-Nya.
Ayat di atas tidak mendukung pandangan cendekiawan Muslim yang menyakini kenaikan Nabi Isa a.s. secara fisikal, karena hal itu hanya akan menimbulkan pertanyaan: sedang berada dimana Tuhan ketika mengangkat Nabi Isa kepada-Nya? Apakah Tuhan bukannya eksis ketika Yesus juga eksis? Bukankah Tuhan menempati seluruh alam semesta? Apakah Tuhan berada di atas, di bawah, di kiri atau di kanan Nabi Isa saat itu? Adalah suatu kenyataan bahwa tidak ada jasad yang bisa bergerak atau pindah ke arah Tuhan secara fisikal karena Tuhan bukanlah wujud fisikal, mengingat benda fisik hanya bergerak ke benda fisik lainnya.
Hal tersebut merupakan hukum yang bersifat tetap dan berlaku sekarang maupun di masa lalu. Sebagai manusia yang juga berpendidikan, tentunya juga bisa melakukan eksperimen apakah mungkin melakukan pergeseran suatu jasad jasmani ke arah wujud ruhani. Suatu benda hanya bisa bergerak ke arah benda lainnya. Dengan demikian bisa ditarik kesimpulan dari penafsiran ayat di atas oleh para cendekiawan Muslim tentang Tuhan mengangkat Yesus kepada-Nya secara fisikal, bisa menjadi indikasi bahwa Tuhan sedang tidak berada di tempat di mana Yesus berada pada saat sebelum kenaikannya, bahwa Tuhan sedang berada di suatu tempat di langit.
Konklusi inilah yang bisa ditarik dari argumentasi mereka tentang pengangkatan Nabi Isa kepada-Nya dimana Dia akan membawanya terus sampai ke perbatasan terjauh dari alam semesta, padahal menurut para ulama tersebut Nabi Isa ditinggalkan di langit tengah, seolah-olah Tuhan hanya mengisi ruang itu saja. Mereka ingin membuktikan sesuatu yang hasil akhirnya sudah diyakini sebelumnya di muka.
Menurut Alqur’an, arti kata ‘nuzul’ atau ‘turun’ tidak harus menggambarkan laku turun secara fisik dan kata ‘rafa’a’ juga tidak menggambarkan kenaikan secara jasmaniah. Kedua kata ini telah menimbulkan kerancuan dalam argumentasi ini. Keduanya berasal dari bahasa Arab dan karena itu sepatutnya cara penggunaannya berpedoman pada leksikon bahasa Arab. Kata ‘rafa’a’ atau kenaikan kepada Tuhan bila digunakan dalam Alqur’an, tidaklah melukiskan suatu laku kenaikan jasmaniah ke arah Tuhan. Rasulullah saw juga tidak pernah menggunakannya untuk mengartikan kenaikan secara jasmaniah. Rafa’a yang paling akbar adalah yang telah dilakukan oleh Rasulullah saw sendiri.
Kenaikan Isa Al Masih; Sebuah Pelajaran
Sebagaimana yang telah tertulis di depan bahwa segala sesuatu bisa dijadikan bahan untuk menuju kehidupan yang lebih baik, sekalipun kita harus mengambilnya dari orang atau kelompok yang tidak segolongan dengan kita. Dengan catatan bahwa hal tersebut memang layak dan pantas untuk kita amalkan dalam konteks agama Islam, dan memang seharusnya itu yang harus dilakukan.
Kisah kenaikan Isa al-Masih tersebut memberikan pelajaran kepada kita bahwa sebenarnya hubungan vertikal kepada Tuhan bisa dilakukan oleh semua orang, dalam pengertian yang paling sederhana. Hubungan tersebut tidak hanya dimonopoli oleh para rasul, Nabi dan para wali.
Bukan hanya nabi Isa a.s. yang pernah melakukan perjalanan spiritual yang kemudian menghasilkan suatu progress atau kemajuan dalam membentuk pribadi yang lebih mantap, nabi Muhammad saw pun telah melakukannya dalam peristiwa Isra’ dan mi’raj yang akhirnya membawa risalah perintah salat lima waktu. Kedua perjalanan spiritual dari utusan Allah tersebut memberikan gambaran pada kita bahwa dalam melakukan perjalanan spiritual, pada dasarnya terdapat berbagai macam hal yang bisa diambil sebagai sebuah kebaikan.
Kita sadar bahwa kita memang tidak bisa mempraktikkan perjalanan spiritual seperti layaknya Nabi dan Rasul Allah saw terdahulu. Tetapi memang Allah sebagai Tuhan yang maha adil, telah memberikan sarana kepada kita untuk bisa mempraktikkan esensi dari perjalan spiritual tersebut, yaitu dengan adanya perintah shalat. Secara tidak langsung perintah tersebut menjadi satu-satunya sarana bagi kita untuk bisa berinteraksi langsung dengan Allah SWT. Hal tersebut bisa didapat dan dilakukan bagi orang-orang yang mau berfikir dan merenung.
Lebih jauh dari itu, bukan hanya dapat merasakan perjalanan spiritual, tetapi memang perintah Allah tersebut menunjukkan betapa besar kasih sayang Allah kepada manusia sampai-sampai selalu menyediakan sarana untuk manusia agar bisa menuju satu kehidupan yang lebih baik.
Arif Lutviansori
Mahasiswa FH UII 2005