Lembar Jumat Al-Rasikh

Archive for June 2007

MUTIARA HIKMAH

without comments

Rasulullah SAW bersabda:

Tiga hal yang aku takutkan bila terjadi pada umatku; kesalahan seorang ulama, hukuman tidak adil yang diputuskan oleh penguasa yang dzalim, dan hawa nafsu yang selalu diperturutkan.”

(HR. As Syihaab)

Written by alrasikh

June 28, 2007 at 2:16 am

Posted in mutiara hikmah

DAKWAH YANG MENYEJUKKAN

without comments

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk”.
(QS. An-Nahl [16]: 125).

 

Sebagai seorang muslim, sudah menjadi suatu kewajiban bagi kita untuk menyayangi setiap manusia. Lantas mengapa masih saja ada di antara kita yang tetap berada di masjid-masjid sedangkan orang lain membinasakan dirinya? Padahal makna dari cinta dan kasih sayang adalah tidak memilih siapa dan di mana tempatnya. Mengapa kita tinggal diam sedangkan kedurhakaan merajalela dan menyebar ke mana-mana seperti wabah. Tidakkah kita merasa takut bila pengaruhnya akan menimpa diri kita sendiri dan akan mengantarkan kita kepada azab Allah yang sungguh perih di neraka?

Sesungguhnya telah datang waktunya bagi kita untuk menggunakan metode dakwah yang dipakai oleh Rasulullah, yakni dakwah yang menyejukkan. Rasulullah bersabda:“Sampaikanlah dariku sekalipun hanya satu ayat.” (HR. Bukhari, Ahmad Tirmidzi dan lain-lainya). Jadi jelas, anjuran kepada sebuah kebaikan seperti halnya dakwah adalah wajib karena akan membawa kepada kebahagiaan bagi orang yang berdakwah dan keselamatan bagi orang yang mendengarkannya.

Memang benar, Rasulullah SAW telah meraih keberhasilan luar biasa yang belum pernah terjadi hal yang semisal dengannya dalam sejarah manusia, karena Beliau memiliki akhlak dan kesabaran yang agung dalam berdakwah. Bahkan musuh yang datang kepadanya, berbalik menjadi teman. Begitulah keutamaan dakwah yang menyejukkan dan telah dicontohkan oleh Baginda Rasulullah kepada kita. Jadi mengapa kita yang mengaku umatnya tidak menirukan hal yang serupa dengan Beliau?

Allah SWT mencela orang yang menyembunyikan ilmu dan orang yang mengingkari kebaikan yang telah diberikan oleh Allah kepadanya, padahal seharusnya ia serukan juga kepada orang lain. Untuk itu Allah berfirman dalam surat Al-Baqarah [2] ayat 159-160 yang artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al Kitab, mereka itu di laknati Allah dan di laknati (pula) oleh semua (makhluk) yang dapat melaknati, kecuali mereka yang telah taubat dan mengadakan perbaikan dan menerangkan (kebenaran), maka terhadap mereka itulah Aku menerima taubatnya dan Akulah Yang Maha Menerima taubat lagi Maha Penyayang.”

Dakwah adalah sebuah metode yang pas untuk menyampaikan wahyu Illahi. Pertanyaannya, bagaimana metode dakwah itu disampaikan? Pada kondisi dan tempat yang bagaimana sebaiknya untuk berdakwah?

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dan dihindari dalam rangka mencapai dakwah yang menyejukkan: Pertama, sebagian da`i ada yang menuding para pelaku kemaksiatan dengan menyebut nama-nama mereka secara terang-terangan atau mengecam mereka dan tak jarang dengan caci maki di hadapan orang banyak seraya membeberkan maksiat yang mereka lakukan. Ini jelas salah dan untuk itu Imam Syafi`i mengatakan: “Kemukakanlah nasihatmu kepadaku dengan empat mata, jangan mengemukakannya kepadaku di hadapan orang banyak, sesungguhnya nasihat di hadapan orang banyak sama dengan melecehkan harga diri. Aku tidak mau mendengarnya. Jika engkau menentangku dan tidak mau menuruti saranku maka janganlah terkejut bila nasihatmu tidak ditaati.Dalam hal ini, kita harus sadar bahwa yang berhak mencaci dan melaknat manusia adalah Allah semata Yang Maha Sempurna. Tidak ada seorang pun manusia yang berhak mencaci dan melaknat manusia lain.

Kedua, banyak da`i menyampaikan dakwah hanya di masjid saja, sedangkan kita ketahui bahwa orang-orang yang datang ke masjid adalah orang-orang yang, meskipun dengan kadar kesadaran dan niatnya masing-masing, sebelumnya pasti sedikit banyak telah mengetahui kebenaran. Sedangkan saudara-saudara kita yang jauh dari ibadah dan tempat beribadah kepada Allah (di tempat-tempat maksiat), tidak tergubriskan oleh mereka (para da`i). Sedangkan mereka mungkin tidak tau apa-apa, atau paling tidak, sulit mendapatkan akses dakwah. Bahkan tidak sedikit pula para da’i yang tidak sudi untuk mendekati tempat-tempat itu dengan berbagai macam alasan. Padahal kita ketahui bahwa tempat-tempat semacam itu jelas bisa mendatangkan dosa bagi mereka. Dan kita berkewajiban untuk mengajak mereka kepada kebenaran, setelah itu barulah kita serahkan lagi kepada mereka untuk mengambil keputusan.

Ketiga, tidak adanya kesabaran kita dalam menyampaikan kebenaran kepada orang yang berhak menerimanya. Kita sering berharap ketika berdakwah maka orang yang mendengarkan langsung menerimanya. Jika tidak, maka setelahnya kita akan pergi meninggalkannya begitu saja serta tidak ada kegigihan dalam bersikap dan berusaha. Padahal Rasulullah saja tidak dengan serta merta bisa langsung diterima oleh bangsa Arab waktu itu. Beliau melakukan dakwah dengan cara bertahap.

Keempat, bahwa sebagian watak da`i ada yang tidak dapat menyampaikan kebajikan secara benar, sehingga kebajikan yang disampaikan terkesan kasar lagi keras sehingga tidak dapat diterima oleh orang lain. Allah berfirman: ”Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhi diri dari sekelilingmu….(QS. Ali-Imran [3]:159).

Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah…..,(QS. Fushshilat [41]: 33). Kelembutan dan kasih sayang sebagai senjata dan kesabaran sebagai kendaraannya adalah metode yang sangat ampouh dalam berdakwah, sebagaimana digunakan oleh Rasulullah SAW dan para Nabi terdahulu. Sikap lembut dalam menyampaikan kebenaran lagi diutarakan dengan kasih sayang, bukan dengan menuding orang-orang yang melakukan kedurhakaan, dan tanpa memilih dimana tempatnya, merupakan salah satu faktor meresapnya hidayah ke dalam hati. Hanya dengan cara inilah, manusia dapat dibawa ke jalan kebaikan. ”Sesungguhnya Allah Maha Lembut lagi menyukai kelembutan dalam semua urusan” (HR. Bukhari, Muslim, Ahmad, dan lain-lainnya).

Orang yang bijak adalah orang yang menyampaikan sebuah kebenaran dengan lemah-lembut dan penuh rasa kasih sayang. Sadarkah kita bahwa sesungguhnya kita kurang memiliki kebijakan. Sesungguhnya kita kurang memiliki belas kasih. Sesungguhnya kita kurang memiliki cara dan taktik. Kita hanya memusatkan perhatian kita pada masjid-masjid dan meningggalkan tempat-tempat lain. Kalau ahli masjid semuanya dalam keadaan siap, tentu mereka datang untuk menunaikan shalat. Mereka adalah orang-orang yang istiqamah, ahli ibadah, lagi benar melakukan ruku` dan sujud. Akan tetapi, saudara-saudara kita, kerabat kita, anak-anak kita, tetangga kita, dan teman-teman kita yang ada di luar masjid, terlebih tempat-tempat hiburan (maksiat), maka siapakah yang akan menunjuki mereka ke jalan Allah yang lurus? Mari kita berdoa jangan sampai seseorang diantara kita lalai terhadap ayat-ayat Alqur`an karena resikonya sangat besar bagi diri kita sendiri dan tentunya orang lain di akhirat nanti. Jadi mari dari sekarang kita mengevaluasi dan memperbaikinya.

Ya Allah sesungguhnya kami telah berserah diri, beriman dan membenarkannya. Maka dari itu ya Allah, bukalah untuk kami pintu perkenan-Mu. Tolonglah kami dengan hidayah dan inayah, berilah kami dengan karunia dan kenikmatan serta anugerah dalam pemberian-Mu, kembalikanlah yang hilang dari tangan kaum muslim selama ini. Ya Allah, berilah kami petunjuk ke jalan-Mu yang lurus dan teguhkanlah kami pada kebenaran sampai kami bersua dengan-Mu di yaumil akhir nanti.

Segala puji bagi Allah Tuhan Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, dan semoga shalawat beserta salam tercurahkan sebanyak-banyaknya kepada Baginda Nabi Muhammad SAW, keluarga, para sahabat, para mujahid dan para alim ulama.

Wallahu a`lam bishshowwab.

Mashudi Antoro

Mahasiswa Teknik Informatika 2004 FTI-UII.

(Disadur dari buku Cambuk Hati

Cetakan ke 10, Rabi`ul awal 1425 H/ April 2004 M.)

Written by alrasikh

June 28, 2007 at 2:15 am

Posted in lembar jumat

MUTIARA HIKMAH

without comments

Semakin keras sikap anda pada diri sendiri, semakin mudah hidup memperlakukan anda.

(Anonim).

Written by alrasikh

June 21, 2007 at 1:10 am

Posted in mutiara hikmah

TEGAR MENGHADAPI KESULITAN

with 3 comments

Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan; sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.

(QS. Al-Insyirah [94]: 5 – 6)

Liku-liku kehidupan ini memang tidak bisa dikalkulasi dengan hitungan matematis. Negeri yang katanya demikian makmur ini sedang terancam kekurangan sandang, pangan dan papan. Kegoncangan melanda di mana-mana. Musibah datang silih berganti. Kegelisahan menjadi selimut kehidupan yang tidak bisa ditanggalkan. Mengapa kesulitan itu mesti ada? Sebuah pertanyaan yang mungkin kerapkali dilontarkan oleh sebagian orang yang akrab dengannya. Kesulitan, seringkali hadir di hadapan manusia yang tentu tidak pernah menginginkannya, atau bahkan benci dengannya. Kesulitan bak tembok raksasa yang hadir menghimpit dan membatasi ruangnya untuk berkembang dan bergerak menuju sesuatu yang sedang diperjuangkan.

Atas segala sesuatu yang menyenangkan, manusia akan cenderung langsung berebut, tanpa terlebih dahulu berfikir tentang syarat untuk memperoleh kesenangan itu. Jika sudah bicara soal syarat-syarat, rata-rata akan segan untuk menerima, seolah-olah yang diinginkan hanyalah mendapat keuntungan tanpa menemui kesulitan apapun. Sering orang sudah takut mendengar sesuatu yang berbau kesulitan tanpa memperhitungkan apakah ketakutannya itu sudah tepat atau tidak? Ketakutan yang tidak proporsional tidak hanya bisa menghalangi orang untuk memperoleh kebaikan tetapi juga kerap menjadi biang keladi munculnya keburukan-keburukan baru yang muncul.

Jika kita mau berpikir, apabila di dunia ini tidak ada kesulitan, maka niscaya dunia akan terasa hampa dan kosong. Akan banyak orang frustrasi karena tidak ada tantangan yang menghadang dihadapannya. Semua jadi terasa mudah dan nyaman. Maka, variasi kehidupan akan berhenti mengalir, yang ada adalah kejumudan yang membawa petaka bagi manusia. Dari kesulitan itupun lahir sekian lapis manusia dengan julukannya, karena kesulitan mampu memilah manusia sesuai dengan kemampuannya dalam menaklukkan dirinya.

Manusia didesain oleh Allah untuk mampu berjuang menghadapi kesulitan. Banyak hal yang sebenarnya harus kita pahami dari kesulitan, memahami posisi kesulitan dalam kacamata yang benar, insya Allah akan meringankan kita dalam menyikapi kesulitan itu. Bagaimana menyikapi kesulitan itu? “Barangsiapa yang menyerahkan urusannya kepada Allah niscaya Dia akan mencukupi apa yang dia inginkan.” demikian kata Imam Al-Qurthubi dalam Al-Jami’ Ahkamul Qur’an, 8/106.

Ada empat sikap yang harus kita bangun dalam menyikapi pergulatan hidup yang penuh dengan kesulitan. Pertama, kita harus menyadari bahwa realita hidup yang kita jalani adalah pergulatan menghadapi kesulitan. Siapapun orangnya, di manapun dan dalam keadaan bagaimanapun, selama kita hidup pasti akan bertemu dengan berbagai macam kesulitan. Sebagian ada yang berhasil dan ada yang gagal melewatinya. Proses perjuangan untuk menaklukkkan kesulitan-kesulitan inilah yang kemudian disebut dengan hidup. Membenci kesulitan sama saja dengan membenci kehidupan itu sendiri.

Kedua, kita harus menyadari bahwa kesulitan adalah milik semua orang, semua orang pasti akan menemui kesulitan dalam kehidupannya, semua orang akan mendapatkan jatah/ agenda kesulitannya sendiri-sendiri. Hanya bentuk dan kadarnya saja yang berbeda-beda. Masing-masing kita mempunyai kelebihan dan kekurangan yang menjadi bukti bahwa hidup yang kita jalani berada di atas prinsip yang adil. Kita tidak perlu iri dengan kemudahan yang didapat oleh orang lain, apalagi harus berbangga diri dengan kesusahan yang menimpa orang lain.

Kesulitan adalah sunnatullah, hukum yang telah Allah tetapkan. Mau tidak mau, suka atau tidak, manusia pasti akan berhadapan dengan kesulitan, sebab ini semua telah Allah tetapkan sebagai bagian dari lika-liku kehidupan manusia.

Allah berfirman dalam Alqur’an: Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar” (QS. al-Baqarah [2]: 155). Kesulitan adalah untuk menguji kesabaran manusia. Terlalu bodoh jika dalam hidup ini kita memimpikan keadaan yang seutuhnya serba enak dan mapan. Namun, bukan berarti kita tidak boleh berusaha untuk hidup bahagia, kita hanya diingatkan bahwa bahagia yang diimpikan itu tidak utuh, di sisi bahagia itu ada duka, bahkan tetesan air mata kesedihan. Selain itu, Allah juga menyadarkan bahwa sesudah kehidupan di dunia ini masih ada kehidupan di alam yang berbeda. Allah berfirman: Tetapi kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi. Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal (QS. al-A’laa [87]: 16 – 17). Allah berfirman: Dan sesungguhnya hari kemudian itu lebih baik bagimu daripada yang sekarang (permulaan) (QS. Adh-Dhuhaa [93]: 4).

Ketiga, kita juga harus mampu menyadari bahwa kadar kesulitan yang menimpa setiap orang setara dengan kesanggupan untuk memikul kesulitan itu. Allah tidak berbuat dzalim dengan memberi kesulitan di luar batas kemapuan seorang hamba untuk memikulnya. Allah berfirman dalam surat al-Baqarah [20] ayat 286: Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya.

Ini adalah bentuk kasih sayang Allah kepada manusia. Allah telah berkenan memberi kesulitan yang banyak mengandung hikmah dan kebaikan, selain bahwa semua kesulitan iitu tidak pernah melampaui batas kekuatan manusia.

Keempat, kita harus belajar bahwa dalam setiap kesulitan ada karunia kemudahan, Islam mengajarkan, bahwa letak kemudahan itu ada di balik kesulitan, karena sesunggunya bersama kesulitan ada kemdahan. Allah berfirman dalam surat al-Insyirah [94] ayat 5 – 6: Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan; sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.

Dari kesulitan-lah kita akan mampu mengenal siapa diri kita. Ia akan memberikan gambaran yang jelas tentang siapa diri kita sebenarnya. Karena ia adalah cermin yang mampu memberikan gambaran utuh tentang kepribadian dan karakter kita. Kesulitan sudah menjadi bayangan yang akan terus melekat kepada manusia yang hidup di dunia ini. Ia tidak akan dapat disingkirkan dalam perjalanan manusia. Kesulitan diciptakan oleh Allah untuk mengetahui siapa-siapa dari hambaNya yang bersyukur dan juga menjelaskan siapa saja dari hambaNya yang kufur. Kesulitan juga menjadikan sarana bagi manusia untuk dekat kepada Tuhannya. Tatkala semua usaha manusia tidak mampu mengatasi, maka semua secara alami manusia akan menyebut Tuhannya agar diturunkan pertolongan. Itulah hikmah di balik kesulitan. Maka janganlah kita membenci kesulitan, karena terkadang melalui kehadirannya kita menjadi dekat kepada Pencipta kita, melaluinya kita menjadi manusia yang bersyukur.

Inilah realita hidup manusia. Kesulitan jika dipahami dengan bijaksana akan menumbuhkan kesadaran dalam diri bahwa kesulitan adalah bagian dari lembaran hidup yang sepanjang hayat akan digeluti. Jika demikian, maka tidak akan ada lagi perasaan gentar untuk menghadapinya.

Wallahu a’lam bish-Shawwab..

Putut Sutarwan

Mahasiswa MSI UII

Written by alrasikh

June 21, 2007 at 1:10 am

Posted in lembar jumat