Archive for September 2007
MUDIKLAH, PULANGLAH KE DESA
Dan demikianlah Kami adakan pada tiap-tiap negeri, penjahat-penjahat yang terbesar agar mereka melakukan tipu daya dalam negeri itu. Dan mereka tidak memperdayakan melainkan dirinya sendiri, sedang mereka tidak menyadarinya.
(QS. Al-An’am [6]: 123).
Istilah “desa” sampai saat ini masih identik dengan berbagai stereotipe yang menggambarkan kekolotan penduduknya. Kemiskinan, ketertinggalan, ke-tidakberpendidikan, dan ketidaktahuan akan teknologi menjadi satu image yang lekat dengan istilah “desa”. Dalam bahasa yang lebih gaul, istilah ini kemudian berkembang menjado “ndeso”, “katrok”, dan lain sebagainya. Indonesia yang merupakan negara kepulauan dengan potensi kekayaan alam luar biasa sebenarnya lebih banyak terdiri atas desa daripada kota. Desa dalam terminologi yang saya gunakan di sini tentu saja lebih mengacu kepada penggambaran suasana geografis dan keterbatasan akses informasi yang dimilikinya. Namun, dalam kondisi yang demikian, ia masih dihuni oleh manusia-manusia Indonesia asli yang begitu kuat kandungan nilai gotong royong dan kasih sayangnya.
Saya tidak asal-asalan ketika mengatakan hal ini. Penelitian yang dilakukan oleh Zimbardo, seorang pakar Psikologi Sosial, menyatakan ada beberapa perbedaan mendasar pada karakter orang desa dengan orang kota. Pertama, orang kota lebih agresif, lebih galak, dan lebih jahat daripada orang kampung (ini adalah hasil penelitian yang sifatnya umum dan tidak menutup kemungkinan bagi adanya pengecualian-pengecualian). Kedua, orang kota lebih agresif karena mereka hidup dalam masyarakat yang anonim. Di kota, manusia menjadi serigala yang memangsa sesamanya. Dalam bahasa agama, masyarakat kota dikatakan telah mengalami putusnya tali silaturahmi.
Desa: Simbol Ketertindasan
Tengoklah sejenak apa yang terjadi di desa. Masyarakat kita adalah masyarakat agraris yang menempati rentengan kepulauan berjuluk Nusantara (jawa: nuswantoro). Kepulauan yang berderet-deret dari Sabang sampai Merauke dengan kesuburan tanah yang begitu luar biasa. Saking suburnya tanah Indonesia, saking melimpahnya sumber daya alam yang dikandung oleh kepulauan ini, seorang Mufti Mesir, Mahmud Syaltut sampai mengatakan bahwa Indonesia adalah “cuilan” tanah surga yang ditanamkan di dunia.
Tapi lihatlah sejenak mereka yang ada di desa-desa.
Entah anda telah tahu atau hanya pura-pura tidak tahu. Yang pasti musim tanam di desa selalu diiringi dengan mahalnya harga pupuk yang dijual kepada para petani. Dan musim panen diirngi dengan anjloknya harga hasil panen yang dibeli dari para petani. Maka, jangan kaget kalau dulu ketika panen seorang petani mampu menambah satu dua barang dalam etalase ruang tamunya, maka sekarang anda justru akan melihat berkurangnya satu dua barang di etalase sederhana tersebut ketika mereka tengah memanen hasil pertaniannya. Para petani yang menjadi tulang punggung ketahanan pangan sebuah negeri agraris justru menjadi pihak yang paling sengsara akibat ulah oknum yang tak punya nurani.
Mereka adalah para penimbun pupuk, mereka yang punya akses untuk melegalkan impor beras dan mengakibatkan anjloknya harga beras petani nusantara. Mereka adalah para pejabat yang mampu memainkan perannya untuk mengerat sedikit atau banyak uang rakyat. Para petani, baik petani daratan maupun petani lautan (baca: nelayan) adalah obyek penderita pertama bagi terpuruknya kondisi negeri ini. Dan sampai saat ini masih belum ada kepastian yang jelas sampai kapan penderitaan dan ketertindasan ini akan tetap mereka rasakan.
Lambang ketertindasan lain yang juga lekat dengan rakyat desa adalah bagaimana politisi kota menjadikan mereka sebagai komoditas politik yang berorientasi bukan pada perjuangan kesejahteraan rakyat, melainkan pada peningkatan pendapatan (baik suara maupun ekonomi) partai. Mereka (baca: politisi) yang dari kota berduyun-duyun datang ke desa dengan menyajikan janji-janji bernama kesejahteraan, kesepadanan, peningkatan ekonomi, pemerataan fasilitas dan lain sebagainya. Dalam konteks ini, para politisi bahkan rela mengenakan topeng beraut senyum yang tak henti-henti. Dan entah mereka sadari atau tidak, janji-janji tersebut secara otomatis kemudian membangun “kotak-kotak” kepartaian yang bisa jadi menimbulkan konflik antar warga dalam skala tertentu serta rusaknya tatanan gotong royong dan landasan nilai kasih sayang mereka.
Dan ketika partai-partai para politisi itu telah memperoleh kemenangan dalam pemilihan, merekapun masih dalam sunggingan senyum. Bukan kepada para warga yang telah memilih partai mereka dan mengharap sejenak perjuangan untuk mereka. Para politisi itu tersenyum lebih disebabkan oleh bayangan kursi empuk yang menggelantung di atas kepalanya, dan sebentar lagi akan menjadi sarana penumpukan kejayaan ekonomi pribadi tanpa ada sebersit pun ingatan kepada warga desa yang mereka bodohi itu.
Dan masih banyak lagi sebenarnya pola penindasan yang terjadi di desa. Yang pasti, di negeri yang kaya ini, tidak ada yang namanya kemiskinan, yang ada adalah pemiskinan!
Anak-anak yang Terbelenggu Mimpi
Yang menjadi topik hangat dalam perbincangan perguruan tinggi, baik jajaran pengelola, dosen, dan bahkan mahasiswanya saat ini adalah bagaimana agar output (lulusan) yang dihasilkan oleh perguruan tinggi tersebut memiliki kesiapan kerja yang maksimal dan dapat bersaing di pasar kerja. Hal ini tentu tidak salah karena kita sebagai bangsa yang terhormat masih tidak mau kalah begitu saja dengan “gempuran” tenaga kerja asing yang bisa dengan mudah masuk ke Tanah Air pasca globalisasi. Namun, orientasi yang demikian juga tidak seratus persen (minimal menurut saya) benar, karena hal itu kemudian justru menciptakan belenggu-belenggu mimpi dan mereduksi definisi tentang “sukses”. Maka makna dari terminologi sukses kemudian adalah ketika seorang lulusan perguruan tinggi mampu bersaing dengan sesamanya dalam memperebutkan satu pekerjaan tertentu dalam ranah industri yang kemudian dia menangkan. Selanjutnya, ia akan menjalani rutinitas pekerjaannya dengan gaji yang tinggi, tinggal di ibukota, dan lain sebagainya.
Impian anak didik kita, khususnya para mahasiswa saat ini adalah bagaimana mereka mengasah diri dan jiwa mereka dengan berbagai kompetensi. Hanya saja, semua kompetensi yang diharapkan tersebut kemudian diorientasikan pada mimpi-mimpi tentang kota, mimpi-mimpi tentang gedung yang menjulang tinggi dan kantor yang ber-AC dengan fasilitas lengkap. Maka, sama sekali tidak terbersit dalam benak mereka bagaimana agar berbagai kompetensi yang mereka miliki tersebut mampu memberikan andil dalam mengurangi atau menekan proses pemiskinan yang dilakukan atas para petani di desa-desa. Bahkan tidak akan terpikir dalam onggokan otak mereka bagaimana laki-laki dan perempuan desa yang belum lama menikah harus berpisah untuk menjadi tenaga kerja kasar di negeri tetangga. Apakah tanah negeri khatulistiwa ini sudah tidak subur lagi sehingga para pemimpin bangsa selaku “Bapak” bagi rakyatnya harus membiarkan anak-anaknya menyusup ke negeri padang pasir tandus hanya untuk sekedar mencari makan bagi anak-anaknya di desa?
Tulisan ini tentu saja tidak saya tujukan kepada mereka yang merasa memimpin negeri ini (karena saya yakin telinga mereka tidak akan mampu menjangkaunya), melainkan sebagai satu sumbang pemikiran agar sepuluh atau dua puluh tahun yang akan datang, kekayaan materi yang ada di negeri ini tak hanya berputar di Jakarta, tapi juga mampu menjangkau perut buncit anak-anak (baca: gizi buruk) yang tergeletak di pelosok-pelosok dari Sabang sampai Merauke. Dan bagi para perantau, khususnya anak-anak mahasiswa, kiranya mimpi-mimpi itu bisa sedikit mengendur dan tak lagi menjerat mereka, sehingga istilah “mudik” yang sebentar lagi akan mereka jalani bisa membangun satu impian bahwa mereka akan turut andil dalam mewujudkan mimpi desa-desa di tanah air yang berbunyi “one village, one product”. Amin..
Susilo Wibisono
Warga Dusun Curah Krakal, Desa Tambak Rejo, Muncar, Banyuwangi, Jawa Timur
MUTIARA HIKMAH
Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu menjadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap suatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.
(QS. Al-Ma’idah [5]: 8].
IBADAH PUASA: MEMUPUK KEPEKAAN
Orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, kemudian mereka tidak mengiringi apa yang dinafkahkannya itu dengan menyebut-nyebut pemberiannya dan dengan tidak menyakiti (perasaan si penerima), mereka memperoleh pahala di sisi Tuhan mereka. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.
(QS. Al-Baqarah [2]: 262).
Suara tangis anak kecil terdengar begitu jelas dari sebuah rumah tua. Berkali-kali anak kecil itu menangis, kemudian diam dan menangis lagi. Ibunya mencoba mendiamkan. Sang Ibu berkata: “Sabar ya nak, sebentar lagi… sekarang tidur dulu ya!” Kata-kata itu berkali-kali diucapkan sang ibu ketika anaknya terbangun dan menangis. Tiba-tiba dari luar terdengar seseorang mengetuk pintu dan memberi salam. Sang Ibu menjawab salam dan membuka pintu, tampak berdiri di depan pintu seorang laki-laki memikul satu karung gandum yang kemudian diletakkan di depan sang Ibu. Laki-laki itu berkata: “ini ada sedikit gandum, masakkan untuk anakmu! Kemudian laki-laki itu pergi, hilang di tengah kegelapan. Rupanya laki-laki itu sudah lama memperhatikan apa yang terjadi di rumah itu. Dia juga melihat bagaimana sang Ibu tadi memasak beberapa bongkah batu untuk membuat anaknya tenang dan tertidur.
Inilah sosok Umar bin Khaththab r.a., pemimpin yang telah diakui kehebatannya. Umar bin Khaththab dikenal sebagai orang yang cerdas, keras dan tegas. Islam mencapai kemajuan yang pesat di bawah kepemimpinannya, beliau memiliki kepekaan sosial yang tinggi. Pembentukan Baitul Mal adalah inisiatif dari beliau.
Ramadhan adalah momen yang tepat untuk memupuk potensi kepekaan manusiawi kita, yang mungkin telah terkubur selama sebelas bulan, bahkan mungkin bertahun-tahun. Pada dasarnya semua manusia mempunyai potensi di untuk bersifat dengan sifat-sifat yang baik (asma’ul husna). Allah berfirman: Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan) (QS. Al-A’raf [7]: 172).
Potensi ketuhanan telah tertanam dalam setiap diri manusia, sekalipun ia adalah seorang atheis. Oleh karena itu di dalam jiwa setiap manusia pada hakikatnya terdapat cahaya dari 99 sifat yang dimiliki oleh Allah SWT. maka pantaslah, ketika para sahabat betanya kepada Aisyah, bagaimanakah akhlak Rasulullah, Aisyah menjawab, “akhlak beliau adalah Alqur’an”.
Ar-Rahman dan ar-Rahim (Yang Maha Pengasih dan Yang Maha Penyayang) adalah sifat Allah. Kedua sifat ini juga diberikan kepada manusia, walaupun sering dilupakan oleh manusia sendiri. Sifat-sifat yang lain seperti ar-Raziq (dermawan) dan al-‘Adil (adil) juga dimiliki oleh manusia, tetapi mengapa sifat-sifat itu tidak muncul?
Di dalam jiwa manusia terdapat belenggu-belenggu yang menyebabkan sifat-sifat baik tersebut (suara hati) sulit dikeluarkan. Di antara yang menjadi belenggu tersebut adalah apa yang dibaca, prasangka negatif, prinsip hidup, pengalaman, kepentingan, sudut pandang dan pembanding (Ary Ginanjar Agustiar, 2005). Untuk mengeluarkan sifat-sifat baik tersebut, semua yang menjadi belenggu tersebut harus dihilangkan.
Ketika kita berhenti di lampu merah, sering kita melihat anak-anak kecil yang mengamen dan berlarian menghampiri kita, mengharap belas kasihan kita sambil menyanyikan sebuah lagu. Apabila kita berprasangka positif, kita akan mudah saja memberikan anak itu sejumlah uang. Tetapi apabila kita berprasangka negatif, “untuk apa kita berikan, mungkin hanya akan digunakan untuk main-main, hura-hura dan sebagainya”. Lalu ia membenarkan prasangka-prasangka negatif tersebut, maka mereka pun tidak akan memberi. Ia tidak menyadari bahwa itulah belenggu yang merupakan penyakit dalam jiwanya. Akibatnya sifat dermawan yang dimiliki tertutupi. Begitu juga dengan faktor yang lain, tanpa disadari ia akan menjadi penyakit hati. Kemudian hati mereka menjadi keras bagaikan batu, bahkan lebih keras. (QS. Al-Baqarah [2]: 74).
Berpuasa bukan sekedar menahan diri dari makan, minum dan berhubungan suami-istri di sing hari, tetapi lebih dari itu, puasa harus mampu melatih kepekaan kita terhadap kesulitan orang lain. Ketika kita terbiasa mendapatkan kenikmatan dan kesenangan, biasanya kita akan mampu merasakan kesulitan orang lain. Di Bulan Ramadhan kita sanggup berpuasa, menahan diri dari makan, dan minum yang mungkin kita tidak sanggup menahannya di bulan-bulan yang lain. Mengapa kita mampu melakukannya? itu disebabkan karena kita mempunyai potensi untuk itu. Oleh karena itu di bulan Ramadhan ini kita harus berusaha dengan segenap tenaga untuk mengeluarkan semua potensi yang ada dalam diri kita masing-masing, bebaskan jiwa dari belenggu-belenggu yang negatif.
Lapar dapat melatih kita untuk merasakan bagaimana pedihnya para fakir miskin yang kelaparan, bahkan kadang-kadang berhari-hari mereka tidak makan. Selaian berpuasa kita juga harus membiasakan diri untuk hidup bersama orang-orang yang sedang dalam kesulitan atau sedang ditimpa musibah, bergaul dengan orang miskin, sehingga kita juga merasakan bagaimana sulitnya hidup mereka, dengan demikian hidup kita akan lebih mempunyai makna, bukan sekadar untuk diri kita sendiri, tetapi juga untuk orang lain.
Oleh karena itu, peluang yang diberikan oleh Allah SWT di bulan ini harus dapat kita gunakan sebaik-baiknya. Karena tidak semua orang diberi kesempatan dua kali. Mungkin kita termasuk orang-orang yang beruntung diberi kesempatan untuk kembali memperbaiki bekal kita kembali ke hadhirat-Nya. Amalan-amalan ritual peribadatan harus kita iringi dengan amalan sosial, terutama bersedekah. Ia, selain merupakan amalan yang sangat disukai oleh Rasulullah SAW di bulan Ramadhan, juga merupakan suatu bentuk kepedulian kita sebagai umat Islam terhadap sesama. Rasul SAW bersabda sebaik-baik sedekah adalah sedekah pada bulan Ramadhan (HR. Al-Baihaqi, Al-Khatib dan Turmudzi). Pada dasarnya Islam mengajarkan bagaimana kita selalu peka terhadap penderitaan orang lain melalui amalan sedekah.
Mulailah memberi sedikit makanan berbuka untuk tetanggga, memberi makan anak yatim, membantu fakir miskin, dan membantu siapapun tanpa pandang bulu dengan ikhlas, ringan, dan tanpa ada sedikitpun rasa keberatan. Insya Allah, dengan begitu, hati kita akan selalu terbuka dan peka terhadap penderitaan orang lain, siapapun dia. Bukan hanya pada bulan ini, akan tetapi juga pada sebelas bulan lainnya. Semoga bulan Ramadhan ini menjadi bulan berkah dan maghfirah serta membawa hidayah bagi kita semua, amin.
Marzuki Abubakar
Mahasiswa MSI-UII
MUTIARA HIKMAH
Bermegah-megahan telah melalaikan kamu. Sampai kamu masuk ke dalam kubur. Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu). Dan janganlah begitu, kelak kamu akan Mengetahui. Janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin, niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka Jahiim. Dan Sesungguhnya kamu benar-benar akan melihatnya dengan ‘ainul yaqin. Kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu).
(QS. At-Takaatsuur [102]: 1-8).