Lembar Jumat Al-Rasikh

Archive for November 2007

MUTIARA HIKMAH

without comments

Hari-hari yang dialami manusia hanya ada dua macam, menyenangkan atau menyusahkan. Kalau menyenangkan janganlah angkuh dan kalau menyusahkan bersabarlah, jangan berputus asa, karena keduanya -yang menyenangkan dan menyusahkan- pasti berlalu.

Written by alrasikh

November 30, 2007 at 6:07 am

Posted in mutiara hikmah

HAKIKAT BERPAKAIAN

with 3 comments

Maka syaitan membujuk keduanya (untuk memakan buah itu) dengan tipu daya. Tatkala keduanya telah merasakan buah pohon itu, nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya, dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun surga.

(Q.S Al-A’raaf [7]: 22)

 

Berdasarkan sebuah penelitian yang dilakukan oleh tim Max Planck Institute for Evolutionary Anthropology di Lepizig, Jerman di bawah pimpinan Dr. Mark Stoneking – yang dikutip oleh Koran Tempo, edisi 3 Oktober 2003 dari jurnal ilmiah ‘Current Biology’ - menemukan bahwa ternyata kutu kepala merupakan cikal bakal dari kutu badan, sedangkan kutu badan yang senang bersembunyi di tempat-tempat yang gelap hanya muncul setelah manusia mengenakan pakaian.

Di sini para peneliti mencoba menghitung jumlah mutasi DNA pada kutu badan dan kutu rambut sehingga dengan penelitian tersebut mereka berpendapat bahwa manusia baru mengenal pakaian pertama kali sekitar 72.000 tahun yang lalu. Menurut mereka, nenek moyang kita – homo sapiens – yang berasal dari Afrika merasa gerah dan kemudian sebagian ada yang berpindah dari satu daerah ke daerah yang lain, dan ada yang bermukim di daerah dingin. Di sanalah konon awal mula mereka mengenal pakaian yang terbuat dari kulit hewan guna menghangatkan badan. Barulah sekitar 25.000 tahun yang lalu ditemukan cara menjahit kulit.

Anda boleh setuju atau tidak \dengan pandangan di atas. Terlepas dari benar tidaknya, Alqur’an telah menceritakan kisah Adam dan Hawa, bahwa keduanya tidak hanya sekedar menutupi auratnya dengan selembar daun, akan tetapi daun di atas daun agar auratnya benar-benar tertutup. Ini menunjukkan bahwa menutup aurat merupakan fitrah manusia yang diaktualkan kembali dalam kisah Adam a.s. dan istrinya. Apa yang dilakukan oleh pasangan nenek moyang kita itu dinilai sebagai awal usaha manusia untuk menutupi kekurangan-kekurangannya, menghindar dari apa yang tidak disenanginya serta memperbaiki penampilan dan keadaan yang mendorong terciptanya sebuah peradaban.

Upaya mereka berpakaian rapi, dengan menutup aurat juga mengisyaratkan bahwa berpakaian rapi – sebagaimana dikehendaki agama – dapat memberikan rasa tenang dalam jiwa pemakainya. Ketenangan batin ini merupakan salah satu dampak yang dikehendaki oleh agama. Betapapun agama atau kepercayaan, bahkan masyarakat memperkenalkan pakaian-pakaian khusus yang sesuai selera, kebutuhan atau bahkan simbol suatu kepercayaan tertentu. Masyarakat Tuareg di gurun Sahara, Afrika Utara misalnya, menutupi seluruh tubuh mereka dengan pakaian, agar terlindungi dari panas matahari dan debu pasir.

Masyarakat di kutub, lebih memilih pakaian tebal yang terbuat dari kulit domba untuk menghangatkan tubuh mereka. Kini tersebar pakaian jas buat pria. Walau, pakaian ini pada mulanya dipakai oleh buruh pabrik untuk menunjukkan rasa tidak senang kepada para bangsawan yang berpakaian mewah tetapi kini yang terjadi adalah sebaliknya, justru orang-orang kaya dan berkedudukan sosial tinggi yang memakainya. Di Mesir ada sekelompok biarawan Kristen Ortodoks yang memakai pakaian beserta alas kaki yang berwarna hitam. Bahkan mereka membiarkan jenggot dan rambut mereka yang hitam terurai tanpa dicukur. Mereka merasa bahwa dalam pakaian serba hitam itu mereka menemukan kedamaian. Warna hitam itupun mereka pertahankan hingga masuk liang lahat. Sementara negara menetapkan pakaian-pakaian dengan model dan warna tertentu bagi angkatan perangnya, untuk membedakan dengan angkatan perang negara lain. Hal ini disebabkan karena pakaian dianggap sebagai pembeda antara seseorang atau masyarakat dengan orang atau masyarakat lain. Bahkan, ada lambang-lambang dan tanda-tanda khusus dalam angkatan bersenjata untuk membedakan status dan pangkat seseorang. Begitulah fungsi pakaian sebagai pembeda atau pengenal.

Di sisi lain, pakaian juga berkaitan erat dengan rasa estetika atau keindahan. Seseorang yang berada di pedalaman papua ketika mengenakan pakaian koteka ratusan tahun yang lalu, pastilah ada unsur keindahan yang ditampilkanya sebagaimana dengan para diplomat di negara maju yang mengenakan jas dan black tie pada acara khusus. Demikian, pandangan terhadap keindahan berbeda antara satu dengan yang lain.

Islam tidak menekankan suatu pakaian tertentu, bahwa yang ditekankan hanyalah batas minimal yang harus ditutup serta fungsi pakaian. Alqur’an mengisyaratkan lima fungsi pakaian antara lain: 1) melindungi dari sengatan panas dan angin, 2) menjadi perisai dalam peperangan. Allah SWT berfirman: ”Dan Dia jadikan bagi kamu pakaian yang memelihara kamu dari panas dan pakaian dari (baju besi) yang memelihara kamu dalam peperangan” (Q.S. An-Nahl [16]: 81), 3) sebagai perhiasan, 4) sebagai penutup apa yang dianggap buruk oleh agama dan atau oleh pemakainya, dan 5) sebagai identitas/ pembeda antara seseorang dengan yang lainnya. Allah SWT berfirman:”Hai nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin: ’Hendaklah mereka mengulurkan jilbab keseluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu’. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (Q.S. Al-Ahzaab [33]: 59).

Warna pun sebenarnya tidak ditetapkan, walau warna putih merupakan warna yang sangat disenangi dan yang paling sering menjadi pilihan Nabi Muhammad saw. Namun tentunya, warna ini menjadi pilihan beliau SAW bukan saja karena warna putih tidak menyerap panas matahari, yang merupakan iklim umum di jazirah Arab dan sekitarnya, tetapi juga mencerminkan kesenangan pemakainya terhadap kebersihan karena sedikit saja noda pada pakaian putih akan segera tampak. Di sisi lain, ini menunjukkan kesederhanaan, karena dengan memilih satu warna tertentu, orang tidak akan mengetahui berapa jumlah pakaian Anda.

Adanya pakaian merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi jiwa, karakter, tingkah laku, serta emosi pemakainya. Bahkan identitas seseorang dan garis besar cara berfikirnya-pun dapat diketahui dari pakaiannya. Orang tua yang memakai pakaian anak muda dapat mengalir di dalam dirinya jiwa anak muda. Begitu pula dengan seseorang yang memakai pakaian kyai, dia akan berusaha berlaku sopan, demikian seterusnya. Namun, walau demikian, Alqur’an menyatakan bahwa pakaian ruhani (takwa) itu jauh lebih baik. “Dan pakaian takwa itulah yang paling baik” (Q.S. Al-A’raaf [7]: 26).

Jika pakaian takwa ini dikenakan seseorang, maka akan terpelihara identitasnya dan lagi anggun penampilannya. Anda akan menemukan dia selalu bersih walau miskin, hidup sederhana walau kaya, terbuka tangan dan hatinya. Tidak membawa fitnah, tidak menghabiskan waktu dengan hal-hal yang tidak bermanfaat, tidak menuntut yang bukan haknya dan tidak menahan hak orang lain. Bila beruntung dia bersyukur, bila diuji dia bersabar, bila berdosa ia istighfar, bila bersalah ia menyesal, dan bila dimaki ia tersenyum.

Keterbukaan aurat jasmani dapat ditoleransi oleh Allah bila ada kebutuhan mendesak, misalnya dalam rangka pengobatan. Sebab keharaman membukanya bertujuan menghindarkan manusia agar tidak terjerumus dalam sesuatu yang haram. Sebaliknya, tertutupnya aurat ruhani mengantar manusia untuk menutup jasmaninya.

Adalah suatu kekeliruan jika mengingkari pentingnya pakaian, tetapi lebih keliru lagi jika tidak selektif dalam memilih pakaian yang sesuai dengan kondisi sosial, ekonomi dan budaya masyarakat. Demikian juga, sangat keliru jika mereka mengabaikan petunjuk-petunjuk agama dalam hal berpakaian. Maka, salahlah apabila seseorang dipuji karena memilih pakaian yang dianggapnya baik. Tetapi lebih salah lagi jika melarangnya suatu pakaian yang dinilai oleh agamanya baik.

   ”… yang demikian itu adalah sebahagian tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat” (Q.S. Al-A’raaf [7]: 26).

Wallahu a’lam. 

                                                              Hari Nugroho

                                                                            Mahasiswa Arsitektur 2006 FTSP UII

Written by alrasikh

November 30, 2007 at 6:07 am

Posted in lembar jumat

MUTIARA HIKMAH

without comments

Sediakanlah waktu untuk membaca, karena membaca itu sumber hikmah. Sediakan waktu untuk tertawa karena tertawa itu musiknya jiwa. Sediakan waktu untuk berfikir, karena berfikir itu pokok kemajuan. Sediakan waktu untuk beramal, karena beramal itu pangkal kejayaan. Sediakan waktu untuk bersenda, karena bersenda itu akan menjadikan selalu nampak muda. Dan Sediakanlah waktu untuk beribadah, karena ibadah itu ibu dari segala ketenangan jiwa.

(anonim)

Written by alrasikh

November 30, 2007 at 6:06 am

Posted in mutiara hikmah

PERLUKAH PERAHU NABI NUH DIDATANGKAN KEMBALI?

with 3 comments

Dan suatu tanda (kebesaran Allah yang besar) bagi mereka adalah bahwa kami angkut keturunan mereka dalam bahtera yang penuh muatan. Dan kami ciptakan untuk mereka yang akan mereka kendarai seperti bahtera itu. Dan jika kami menghendaki niscaya kami tenggelamkan mereka, Maka tiadalah bagi mereka penolong dan tidak pula mereka diselamatkan. Tetapi (Kami selamatkan mereka) Karena rahmat yang besar dari kami dan untuk memberikan kesenangan hidup sampai kepada suatu ketika.

(QS. Yaasiin [36]: 41 – 44).

 

Allah SWT telah mengisahkan kepada manusia sejarah perahu Nabi Nuh a.s. dalam kitab-kitab suci-Nya, dari Taurat sampai Alqur’an, agar manusia memahami risalah para Rasul, bukannya menentangnya. Agar manusia senantiasa mendapatkan rahmat Allah dan bukan laknat-Nya. Allah menurunkan rahmat dan kasih sayang-Nya, agar manusia semakin bersyukur, atau segera mengoreksi dan memperbaiki diri, menggantinya dengan melaksanakan berbagai kebaikan, dan menyesalkan kejahatan yang terlanjur dikerjakan. Sayangnya, ternyata lebih banyak manusia yang kufur, dibandingkan dengan yang syukur.

Dalam sebuah film animasi yang berjudul Ice Age 2, isu global warming (pemanasan global) secara apik dan menarik diangkat sebagai core of story dalam film tersebut, dimana bongkahan-bongkahan es di antartika meleleh dan pada akhirnya daratan berubah menjadi lautan dengan seketika. Kemudian seluruh makhluk hidup berupa fauna diselamatkan hanya dengan satu buah perahu.

Secara substansial, cerita dalam film tersebut mungkin terinspirasi oleh azab yang ditimpakan oleh Allah kepada kaum Nabi Nuh. Film tersebut memvisualisasikan efek global warming yang merupakan akumulasi dari emisi gas akibat akselerasi proses industri dan cara hidup manusia yang tidak selaras dengan siklus alam, sehingga bongkahan-bongkahan es meleleh. Secara teoritis, peristiwa seperti itu sangatlah mungkin terjadi di masa mendatang, hanya tinggal menunggu waktu saja jika pemanasan global tidak diatasi.

Isu global warming dan dampaknya saat ini menjadi topik yang hangat sebagai bahan kajian dan penelitian para ilmuwan. Bahkan di Indonesia fakta yang telah didapatkan, kepulauan-kepulauan kecil di sekitar Sulawesi bagian timur, air laut telah naik dan menyebabkan abrasi sekitar ± 5 meter dari bibir pantai sebelumnya. Dan bukan tidak mungkin 30 tahun ke depan pulau ini akan tenggelam seperti yang dikisahkan dalam film Ice Age 2 tersebut.

Tidak bisa dipungkiri bahwa manusia adalah penyebab dari kerusakan bumi ini. Industri-industri yang didirikan dengan maksud membuka lapangan pekerjaan serta penggerak ekonomi secara tidak disadari telah menciptakan “smog dome”.  Mobil dan motor yang biasa kita pergunakan sehari-hari juga telah menghasilkan polusi. Bahkan asap dari hasil pembakaran sampah rumah tangga yang biasa kita dapati di pemukiman-pemukiman, terutama bahan-bahan non-organik yang ikut terbakar, ternyata ribuan kali lebih beracun dari pada asap yang dihasilkan oleh rokok. Asap dari kegiatan-kegiatan tersebut secara umum menghasilkan CO2 yang menjadi salah satu penyebab pemanasan global.

Belum lagi bangunan-bangunan gedung yang dipakai dengan tidak bijaksana, yang menyebabkan sumber panas temporal dari penggunaan AC dan heater, ternyata menghamburkan energi yang juga memberikan kontribusi terhadap pemanasan global sebesar ± 30 %.

Pertambahan penduduk yang sangat pesat serta industrialisasi yang selalu erat kaitannya dengan modernisasi telah membuat kerusakan bumi lebih cepat. Alih-alih dengan alasan pembangunan, yang terjadi sebenarnya adalah perusakan terhadap ekosistem alam secara makro. Maka, tidak mengherankan ketika kita yang meng-klaim diri sebagai manusia yang berperadaban modern akan menuai bencana dari sesuatu yang sadar atau tidak telah kita tanam. Dalam konteks ini sebenarnya jauh sebelum peradaban modern muncul, Allah telah mewanti-wanti manusia tentang kerusakan alam dalam Alqur’an surat Ar-Ruum [30] ayat 41:

Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan Karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).

Manusia modern – kita semua ini – harus  segera sadar akan kerusakan yang telah terjadi, karena secara tidak sadar kita adalah penyebab kerusakan yang paling ganas dibandingkan dengan kaum-kaum atau peradaban-peradaban sebelumnya. Jika kita sadar, perilaku kita sebenarnya telah melanggar larangan Allah terhadap perusakan alam. Karena dinyatakan dalam Alqur’an bahwa Allah tidak menyukai orang-orang yang membuat kerusakan:

Dan carilah pada apa yang Telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah Telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. (QS. Al Qashash [28]: 77).

Dalam cara pandang ini, kita sebagai manusia modern tidak bisa sepenuhnya menolak modernisasi, karena modernisasi adalah sebuah fase dan siklus yang alami. Faktor utama kerusakan lingkungan adalah pada manusianya, termasuk kita semua. Kita boleh mengampanyekan perlindungan terhadap lingkungan dan kita juga bebas mencela negara-negara industri yang menjadi penyumbang terbesar emisi penyebab pemanasan global, tetapi kita juga harus melihat diri kita, bahwa kita juga menjadi aktor penyumbang kerusakan lingkungan. Pemborosan energi yang kita lakukan, asap yang keluar dari motor/ mobil kita, dst. Maka dari itu, kita harus memulai dari diri sendiri, sudahkah perilaku kita bersahabat dengan lingkungan hidup atau sebaliknya, sudahkah kita menjaga kebersihan lingkungan kita atau sebaliknya, dst.

Paparan diatas adalah sekelumit gambaran perilaku kita sehari-hari yang sangat jarang kita perhatikan atau kita pedulikan. Bahwa sebenarnya perilaku kita itu sangat berimplikasi negatif terhadap lingkungan, yang ternyata juga berimplikasi langsung pada lingkungan global. Berbagai bencana alam yang membawa banyak korban adalah kiamat-kiamat kecil, agar kita dapat bermuhasabah dan mempersiapkan kehidupan secara lebih baik di masa mendatang untuk kemaslahatan bersama. Sehingga dengan demikian, Allah SWT tidak perlu mendatangkan lagi perahu Nuh yang kedua.

Wallahu a’lam

Moch. Sofwat El Maki

Mahasiswa Arsitektur FTSP – UII

Written by alrasikh

November 30, 2007 at 6:05 am

Posted in lembar jumat