Archive for December 2007
MUTIARA HIKMAH
Dari Abu Malik, Al Harits bin Al Asy’ari r.a., ia berkata: ”Telah bersabda Rasulullah SAW: `Suci itu sebagian dari iman, (bacaan) alhamdulillah memenuhi timbangan, (bacaan) subhanallah dan alhamdulillah keduanya memenuhi ruang yang ada di antara langit dan bumi. Shalat itu adalah nur (cahaya), shadaqah adalah pembela, sabar adalah cahaya, dan Alqur’an (bisa) menjadi pembela atau musuh kamu. Setiap manusia bekerja, lalu dia menjual dirinya, kemudian pekerjaan itu dapat menyelamatkannya atau mencelakakannya.”
(HR. Muslim).
MENCARI HIDAYAH ALLAH
Tunjukkanlah kami jalan yang lurus.
(QS. Al-Fatihah [1]: 6)
Kata ihdinaa (tunjukkanlah kami) dalam ayat di atas merupakan bentuk kata perintah (fi’lu al-amr) dari kata hadâ-yahdii. Hadâ-yahdii sendiri artinya adalah memberi petunjuk kepada hal-hal yang benar. Kata hidayah merupakan bentuk fi’lu al masdar dari kata ini. Dalam Tafsir Munir karya Dr. Wahbah Az Zuhaily, hidayah ada lima macam. Satu hidayah ke hidayah yang lain bersifat hierarkis, di mana hidayah yang ada di bawahnya akan menyempurnakan hidayah yang ada di atasnya. Jadi semakin ke bawah maka semakin tinggi nilainya. Adapun kelima hidayah tersebut adalah sebagai berikut :
Pertama, hidayah ilhami. Hidayah ini adalah fitrah yang Allah SWT berikan kepada semua makhluk ciptan-Nya. Contohnya, Allah SWT memberikan hidayah ilhami kepada lebah yang suka hinggap di bunga untuk mengambil saripatinya, dapat membangun sarang yang menurut para ahli adalah desain yang paling sempurna berdasarkan fungsinya. Seorang bayi yang lapar diberi hidayah ilhami oleh Allah SWT untuk menangis dan merengek-rengek pada ibunya agar diberi ASI. Siapakah yang mengajari lebah dan bayi tadi untuk melakukan hal tersebut? Tentunya kita yang beriman kepada Allah SWT akan menjawab: itulah kekuasaan Allah SWT yang telah memberikan hidayah ilhami kepada makhluk-Nya. Semua makhluk yang diciptakan Allah SWT akan menerima hidayah ini. Dalam bahasa kita, hidayah ilhami ini adalah insting, yang merupakan tingkat inteligensi paling rendah.
Kedua, hidayah hawasi. Hidayah hawasi adalah hidayah yang membuat makhluk Allah SWT mampu merespon suatu peristiwa dengan respon yang sesuai. Contohnya adalah, ketika manusia mendapatkan kebahagiaan maka ia akan senang dan jika mendapatkan musibah maka ia akan sedih. Dalam istilah kita, hidayah hawasi ini adalah kemampuan inderawi.
Hidayah hawasi sangat dipengaruhi oleh lingkungan. Maka respon yang ditimbulkan dari sebuah peristiwa sangat tergantung dengan lingkungan kita. Jika lingkungan itu normal maka respon kita akan normal. Misalnya, orang yang mendapatkan musibah akan sedih karena lingkungannya mengajarkan untuk merespon peristiwa tersebut dengan bersedih. Di lain tempat dan waktu mungkin saja respon ini berubah karena lingkungannya merespon dengan hal yang berbeda. Maka untuk mendapatkan hidayah hawasi ini kita harus membuat atau mengondisikan agar lingkungan kita normal alamiah.
Ketiga, hidayah aqli (akal). Hidayah akal adalah hidayah yang diberikan khusus pada manusia yang membuatnya bisa berfikir untuk menemukan ilmu dan sekaligus merespon peristiwa dalam kehidupannya dengan respon yang bermanfaat bagi dirinya. Hidayah akal akan bisa kita miliki manakala kita selalu mengambil pelajaran dari segala sesuatu, segala peristiwa, dan seluruh pengalaman hidup kita ataupun orang lain. Allah SWT berfirman:
“Dia-lah yang mengeluarkan orang-orang kafir di antara ahli Kitab dari kampung-kampung mereka pada saat pengusiran yang pertama. kamu tidak menyangka, bahwa mereka akan keluar dan merekapun yakin, bahwa benteng-benteng mereka dapat mempertahankan mereka dari (siksa) Allah; Maka Allah mendatangkan bagi mereka (hukuman) dari arah yang tidak mereka sangka-sangka. Allah melemparkan ketakutan dalam hati mereka; mereka memusnahkan rumah-rumah mereka dengan tangan mereka sendiri dan tangan orang-orang mukmin. Maka ambillah (kejadian itu) sebagai pelajaran, wahai orang-orang yang mempunyai wawasan”. (QS. Al-Hasyr [59]: 2).
Yang dimaksud dengan ahli Kitab dalam ayat ini ialah orang-orang Yahudi Bani Nadhir pada masa Nabi Muhammad SAW di Madinah. Merekalah yang mula-mula dikumpulkan untuk diusir keluar dari Madinah karena mereka mengingkari Piagam Madinah.
Ayat ini memerintahkan kita untuk senantiasa mengambil hikmah dan ‘ibroh dari segala kejadian dalam kehidupan ini, dengan harapan kita tidak terjebak pada permasalahan yang sama. Hidayah akal ini akan bekerja dengan ilmu yang diperoleh, dari proses pembelajaran kehidupan yang telah dilakukan, yang kemudian digunakan untuk memilih respon yang terbaik bagi diri di masa mendatang. Semakin banyak kita mengambil pelajaran maka semakin tinggi kualitas hidayah akal kita.
Namun Hidayah akal ini mempunyai keterbatasan dalam menyeragamkan respon terhadap sebuah kejadian untuk seluruh manusia. Ada pepatah “lain ladang, lain pula belalangnya. Lain kepala, lain pula isinya.” Mungkin respon tertentu baik menurut kita, akan tetapi belum tentu baik menurut orang lain. Maka diperlukan sebuah standar untuk menyeragamkan mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang hak dan mana yang batil. Jawaban untuk hal ini ada pada tingkatan hidayah selanjutnya.
Keempat, hidayah dien (agama). Hidayah agama adalah sebuah panduan ilahiyah yang membuat manusia mampu membedakan antara yang hak dan yang batil, antara yang baik dan yang buruk. Hidayah agama ini merupakan standard operating procedure (SOP) untuk menjalani kehidupan. Tentunya yang membuatnya adalah yang Maha segala-galanya, yang menciptakan manusia itu sendiri, yaitu Allah SWT. Karena yang Allah SWT tentukan, pastilah itu yang terbaik. Allah SWT berfirman :
”…. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah [2]: 216).
Maka apa saja yang ditentukan oleh agama, pastilah itu yang terbaik untuk kita. Hidayah agama ini bisa kita peroleh manakala kita selalu belajar dan memperdalan agama Islam ini.
Seperti Allah SWT tegaskan dalam Alqur’an:
”Tidak wajar bagi seseorang manusia yang Allah berikan kepadanya al Kitab, hikmah dan kenabian, lalu dia berkata kepada manusia: “Hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembahku bukan penyembah Allah.” Akan tetapi (Dia berkata): “Hendaklah kamu menjadi orang-orang Rabbani, karena kamu selalu mengajarkan al Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya.” (QS. Ali Imran [3]: 79).
Semua orang mampu mempelajari agama ini (Al Qur’an dan As Sunnah), akan tetapi tidak semua orang berkemauan untuk mengamalkan agama ini. Kemauan untuk mengamalkan agama akan berbanding lurus dengan sejauh mana kita bisa manggapai hidayah taufiq.
Kelima, hidayah taufiq. Hidayah taufiq adalah adalah hidayah yang membuat manusia hanya akan menjadikan agama sebagai panduan hidup dalam menjalani kehidupannya. Hidayah taufiq ibarat benih yang Allah SWT semaikan di hati yang tidak hanya bersih dari segala hama penyakit, tetapi juga subur dengan tetesan robbani. Bersih dan suburnya hati akan terlihat dari pohon-pohon kebaikan dan amal yang tumbuh di atasnya. Hanya kesungguhan yang akan membuat kita pantas menerima hidayah taufiq dari Allah SWT. Firman Allah SWT :
”Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) kami, benar- benar akan kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan kami. Sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Ankabuut [29]: 69).
Maka tidak ada jalan lain agar kita mendapatkan Hidayah Taufiq Allah SWT, kecuali dengan jalan bersungguh-sungguh dan berjihad untuk menjalankan dan mengamalkan agama yang indah ini.
Penutup
Hidayah Allah SWT memerlukan perjuangan untuk mendapatkannya. Semakin besar perjuangan dan kesungguhan kita, maka insya Allah kita akan semakin mudah mendapatkannya, karena semuanya tergantung kepada usaha kita. Hidayah Allah SWT ibarat sinar matahari yang menyinari seluruh alam ini, dan kita adalah penerima sinar tersebut. Jika kita membuka diri dengan hati yang bersih maka kita akan mudah untuk mendapatkan sinar hidayah Allah SWT. Tapi jika kita menutupi hati dan diri kita dengan kotoran dan hama penyakit hati maka kita akan sulit untuk mendapatkan sinar hidayah-Nya.
Wallahu a’lam.
Cecep Sa’bana Rahmatillah
Alumni Takmir Masjid Ulil Albab (TMUA) UII
MUTIARA HIKMAH
Dari Abul Abbas Abdullah bin Abbas radhiallahu ‘anhuma beliau berkata: Suatu hari aku berada di belakang Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu Beliau bersabda, “Nak, aku akan ajarkan kepadamu beberapa patah kata: Jagalah Allah, Niscaya Dia akan senantiasa menjagamu. Bila engkau meminta sesuatu, mintalah kepada Allah, dan bila engkau meminta pertolongan, mintalah pertolongan kepada Allah. Ketahuilah, jika semua umat manusia bersatu padu untuk memberikan suatu kebaikan kepadamu, niscaya mereka tidak dapat melakukannya kecuali dengan sesuatu yang telah ditulis oleh Allah bagimu, dan jika semua umat manusia bersatu padu untuk mencelakakanmu, niscaya mereka tidak dapat mencelakakanmu kecuali dengan sesuatu yang telah ditulis oleh Allah bagimu. Pena telah diangkat dan catatan-catatan telah mengering.” (HR Tirmidzi, dia berkata, “hadits ini hasan shohih”).
Dalam riwayat selain Tirmidzi dengan redaksi: “Jagalah Allah, niscaya engkau akan senantiasa mendapati-Nya di hadapanmu. Kenalilah Allah di waktu lapang niscaya Dia akan mengenalimu saat kesulitan, ketahuilah bahwa apa yang ditetapkan luput darimu tidak akan pernah menimpamu dan apa yang telah ditetapkan menimpamu tidak akan pernah luput darimu. Ketahuilah bahwa kemenangan itu selalu mengiringi kesabaran, jalan keluar selalu mengiringi cobaan dan kemudahan itu selalu mengiringi kesusahan
MENJADI HAJI MABRUR
Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadaop Allah, yaitu bagi orang yang sanggup mengadakan perjalanan pergi kesana. Barangsiapa yang kafir (terhadap kewajiban haji) maka Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam?
(QS. Ali Imran [3]: 97).
Ini cerita dari seorang teman. Suatu ketika ia berkunjung ke sebuah kampung. Ia mendapati suasana yang memprihatinkan, di mana gedung-gedung sekolah dan madrasah terlihat rapuh, bahkan beberapa di antaranya ambruk. Setelah ngobrol-ngobrol dengan beberapa penduduk, ia jadi tahu bahwa di sana angka pengangguran begitu tinggi. Demikian juga banyak anak yang putus sekolah lantaran tak punya biaya. Perekonomian pedesaaan pun bertumpu pada pertanian, perdagangan tradisional dan kebanyakan penduduknya, kerja serabutan. Sampai di sini ia merasa trenyuh. Yah seperti biasa, katanya, ketika mendengar penderitaan rakyat, kita memang hanya bisa trenyuh.
Tetapi ketika dibilang bahwa di desa itu tiap tahun selalu ada, bahkan banyak yang berangkat haji ke Baitullah, baru ia kaget. Kok bisa? Sejauh yang ia tahu, ibadah haji memang hukumnya wajib dilaksanakan, tetapi tentu bagi yang mampu (man istatha’a ilaihi sabila). Jadi jika di satu desa banyak yang berhaji, tentu tingkat ekonomi penduduk desa tersebut juga tidak dapat dikatakan lemah sama sekali. Tetapi kenapa kondisi sekolah, madrasah, dan masjid tetap memprihatinkan? Kenapa di sana masih banyak pengangguran? Kenapa di sana masih banyak anak terlantar dan putus sekolah?
Niat Haji: Ibadah Atau..?
Setiap muslim yang menunaikan ibadah haji, pasti mendambakan dirinya meraih predikat haji mabrur, maknanya, secara singkat, adalah ibadah haji yang diterima Allah swt, dan dampak positifnya dapat dilihat pada perbaikan amal, baik secara individual maupun sosial. Tentu saja setiap yang berhaji tidak berharap bahwa hajinya adalah ibadah yang ditolak dan tidak berdampak positif (haji mardud).
Ibadah haji merupakan panggilan Allah terhadap orang yang telah mempunyai kesadaran spiritual-religius. Ironisnya, banyak orang yang menunaikan ibadah haji berkali-kali, padahal masyarakat di sekitarnya banyak yang hidup dalam kemiskinan, kurangnya akses pendidikan dan kesehatan yang layak.
Memang, tidak sedikit umat Islam yang melaksanakan ibadah haji bukan semata-mata sebagai kesadaran perintah Allah, tetapi demi kepentingan-kepentingan duniawi: seperti status sosial, membangun citra agamis, hingga untuk meraup kekayaan. Ada politisi pergi ke Tanah Suci untuk memperbaiki moralitas politiknya. Tokoh agama ke Tanah Suci untuk mendongkrak kewibawaannya. Selebriti ke Tanah Suci untuk menghapus citra hedonis dan kehura-huraan hidupnya. Bahkan ada juga yang ke Tanah Suci untuk berbisnis.
Dalam Islam, ibadah, di samping terkait dengan kepatuhan terhadap perintah Allah, juga mengandung makna sosial. Demikian pula dengan ibadah haji. Ibadah yang memerlukan kesiapan fisik material dan mental ini, secara spiritual merupakan gerakan kesaksian pada keagungan Tuhan (musyâhadah). Titik limit dari kesadaran kesaksian itu yang akan melahirkan kebaikan (birr) . Inilah pangkal dari haji mabrur, haji yang mampu memberikan kebaikan kepada sesama dan alam semesta. Kebaikan itu lahir dengan memaknai spirit dari ritus-ritus dalam prosesinya.
Makna dan Hikmah Ibadah Haji
Ibadah Haji seluruhnya adalah lambang perjuangan kemanusiaan. Thawaf (berputar berkeliling) di Ka’bah, adalah simbol perjuangan menyatukan langkah, pikiran dan hati manusia dalam kepasrahan total menuju satu titik dari mana mereka berasal dan kesana pula mereka kembali. Titik itu tidak lain adalah Allah. Dia adalah pusat eksistensi, kepadaNya seluruh alam semesta harus mengabdi dan menghambakan diri.
Perjuangan hidup seharusnya memang diarahkan dalam kerangka ini dan bukan ke arah yang lain. Sa’i (berlari-lari kecil) dari bukit Shafa ke bukit Marwah, adalah simbol perjuangan keras meraih hidup sejahtera. Simbol ini ditampilkan lewat peran seorang perempuan papa, Siti Hajar. Ia mencari air sumber kehidupan dan kesuburan bagi manusia dan alam. “Dan Kami jadikan dari air segala sesuatu” (QS. Al-Anbiya [21]: 30). Tuhan pun lalu menganugerahinya air Zam-zam.
Air Zam-zam sendiri melambangkan kehidupan yang bersih, murni, sehat dan halal. Dan, istri nabi Ibrahim a.s. sesungguhnya bukanlah sosok yang berjuang untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk manusia yang tidak berdaya; anaknya, Ismail, dan pada akhirnya diperuntukkan untuk berjuta-juta manusia. Selanjutnya wuquf (berdiam diri) di padang ‘Arafah. Ia adalah sebuah ritual haji paling inti. Disabdakan oleh Nabi Muhammad SAW, “al-Hajju ‘Arafah” (haji itu wuquf di ‘Arafah). Wuquf di ‘Arafah sendiri melambangkan kesetaraan manusia di hadapan Tuhan. Di tempat ini semua identitas sosial, kultural (budaya), politik, ekonomi, ideologi-ideologi, sekte-sekte, jenis kelamin, warna kulit, bahasa dan lain sebagainya, melebur dan tak kentara lagi.
Ini adalah pesan perjuangan yang paling mendasar dan ilahiyah. Artinya bahwa segala perbedaan yang sengaja diciptakan Tuhan atau diciptakan manusia, tidak boleh menjadi dasar bagi upaya-upaya manusia untuk merendahkan, meminggirkan atau menyingkirkan manusia yang lain. Wuquf di ‘Arafah, dengan begitu, adalah lambang persaudaraan di mana martabat manusia sesungguhnya adalah sama. “Sungguh orang-orang yang beriman (kepada Allah) adalah bersaudara” (QS. Yusuf [12]: 53).
Berpakaian Ihram, seperti ditegaskan Imam Junaid, adalah simbol dari kesadaran bahwa yang membedakan derajat manusia di hadapan Tuhan hanyalah takwa. (Q.S. al-Hujûrât [49]: 13). Sementara itu ibadah qurban yang juga dilakukan saat ibadah haji, sejatinya melambangkan perjuangan mewujudkan solidaritas sosial dan ekonomi.
Seandainya semua hikmah dari ibadah haji di atas dapat terwujud, artinya para jamaah haji mendapat predikat mabruk, pastinya berbagai krisis yang melanda negeri ini akan terkurangi. Terlebih lagi, jumlah jamaah haji asal Indonesia adalah salah satu yang terbesar. Namun, saat ini kita bisa melihat bahwa krisis, kemiskinan, pengangguran, ketimpangan, korupsi, dan segala hal yang jelek-jelek masih saja ada di bumi Indonesia tercinta ini. Berarti kita, dan terutama mereka yang sedang dan telah pernah menjalani ibadah haji, perlu mempertanyakan lagi ke-mabrur-an ibadah haji yang dijalani. Sejatinya yang perlu ditata adalah niat. Jika memang niat kita ikhlas, dan kita berusaha sekuat tenaga untuk menjaga keikhlasan niat tersebut, insya Allah kita akan mendapatkan hikmah ibadah haji.
Demikianlah makna dan hikmah yang terkandung dibalik pelaksanaan ibadah haji. Andaikan semua itu benar dihayati dan diamalkan dalam kehidupan setelah melaksanakan ibadah haji, maka tatanan kehidupan masyarakat yang adil dan sejahtera dan diridhai Allah akan terwujud.
Wallahu’alam bi al-shawab.
Disarikan dari tulisan
K.H. Husein Muhammad