Lembar Jumat Al-Rasikh

Archive for January 2008

MUTIARA HIKMAH

without comments

Dari Anas r.a., ia berkata: saya telah mendengar Rasulullah SAW bersabda: Allah ta’ala telah berfirman: “Wahai anak Adam, selagi engkau meminta dan berharap kepada-Ku, maka Aku akan mengampuni dosamu dan Aku tidak akan pedulikan lagi. Wahai anak Adam, walaupun dosamu sampai setinggi langit, bila engkau mohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku memberi ampun kepadamu. Wahai anak Adam, jika engkau menemui Aku dengan membawa dosa sebanyak isi bumi, tetapi engkau tiada menyekutukan sesuatu dengan Aku, niscaya Aku datang kepadamu dengan (memberi) ampunan sepenuh bumi pula.”

(H.R. Tirmidzi, hadits hasan shahih).

Written by alrasikh

January 31, 2008 at 2:27 am

Posted in mutiara hikmah

MENJEMPUT REZEKI

with 4 comments

“Dan tidak satu pun makhluk yang bergerak (bernyawa) di bumi melainkan semuanya dijamin Allah rezekinya. Dia mengetahui tempat kediamannya dan tempat penyimpanannya. Semua (tertulis) dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuz).”

(QS. Huud [11]: 6).

 

Setiap manusia sudah ditetapkan rezekinya masing-masing. Jangan takut tidak kebagian rezeki dari Allah. Karena sebagaimana disebutkan dalam ayat di atas, Allah telah menetapkan rezeki bagi setiap makhluk yang bernyawa. Orang yang beriman kepada Allah tentu tidak akan pernah mengeluh tentang apa yang ia peroleh. Sekalipun yang didapatkannya hanya cukup untuk makan sehari-hari. Karena ia yakin bahwa Allah telah menetapkan rezeki baginya.

   Sekalipun rezeki itu telah ditetapkan bagi setiap makhluk yang bernyawa, manusia tidak boleh tinggal duduk diam dengan mengharap rezeki datang begitu saja. Manusia juga harus berikhtiar untuk menjemput rezeki yang telah ditetapkan Allah tersebut. Karena rezeki itu bukan seperti hujan yang turun dari langit begitu saja tanpa disertai ikhtiar. Apa yang kita tabur, tentu kelak kitapun akan menuainya. Allah Maha Pengasih. Ia tidak akan pernah menyia-nyiakan usaha hamba-Nya. Apa yang diusahakan manusia tentu ia pun akan mendapatkan imbalan yang setimpal.

Begitu pula dengan rezeki. Orang yang berusaha dengan sungguh-sungguh tentu akan mendapatkan rezeki yang lebih baik daripada orang yang hanya duduk diam tanpa melakukan apa pun yang dapat mendatangkan rezeki. Perusahaan-perusahaan yang berdiri megah diawali dengan peluh. Manusia biasanya hanya melihat segala sesuatu dari luar saja. Ia tidak melihat bagaimana seorang pengusaha yang sukses mengalami jatuh-bangun sehingga mendapatkan apa yang telah ia usahakan.

Ada cerita menarik dari salah seorang penjual bubur ayam yang pernah saya temui. Pada kaca gerobaknya tertera tulisan ‘MENJEMPUT REZEKI’. Penjual bubur ayam ini tampaknya menyadari bahwa yang dilakukannya bukanlah dalam rangka mencari rezeki. Tetapi yang dilakukannya adalah menjemput rezeki yang telah ditetapkan Allah SWT baginya. Manusia tidak perlu memaksakan diri dalam mengejar rezeki-Nya. Tetapi juga bukan berarti ia tidak berusaha uintuk berikhtiar menjemput rezeki-Nya. Ikhlaskan diri dalam setiap ikhtiar yang dilakukan.

Setiap manusia memiliki cara yang berbeda-beda dalam menjemput rezeki. Tinggal bagaimana cara manusia itu sendiri untuk mengetahui potensinya dan menjemput rezeki yang telah ditetapkan untuknya. Seorang yang ahli dalam meracik makanan tentu sangat baik jika ia menjemput rezekinya dengan cara mendirikan usaha rumah makan. Seorang yang mahir dalam membuat suatu kerajinan tangan, membuat souvenir misalnya, bukan tidak mungkin ia akan menuai sukses dengan usahanya tersebut.

Orang yang merasa bahwa dirinya jauh dari rezeki adalah orang-orang yang pesimis. Keimanan mereka masih perlu dipertanyakan. Allah telah menetapkan rezeki bagi masing-masing hambanya sebelum ia keluar dari rahim ibunya. Bahkan pada saat empat bulan didalam kandungan rezeki seorang hamba sudah ditetapkan Allah SWT. Manusia tidak perlu takut akan rezeki yang telah ditetapkan Allah SWT untuknya. Sesunguhnya Allah SWT Maha Pengasih. Ia tidak akan menyia-nyiakan hambanya yang berikhtiar menjemput rezekinya dengan mengaharap ridha-Nya.

Selain itu banyak cara yang bisa mengundang rezeki yang bisa dilakukan. Salah satunya dengan cara silaturrahmi. Silaturrahmi merupakan salah satu cara yang sangat mudah dilakukan tapi sangat baik manfaatnya. Semakin banyak relasi yang dimiliki maka peluang untuk memperoleh rezeki semakin terbuka lebar. Hal ini bukan berarti kita berharap menengadahkan tangan kepada orang lain untuk mau memberikan sebagian rezeki mereka kepada kita. Tapi mempermudah jalan kita untuk memperoleh masukan dari mereka yang memiliki pengalaman yang berbeda dalam usahanya masing-masing. Misal seseorang yang sedang mencari pekerjaan mendapatkan kemudahan tentang informasi lowongan pekerjaan karena memiliki banyak kenalan yang bisa membantunya.

Setiap manusia pasti mempunyai keinginan yang terbaik bagi dirinya. Namun keinginan tersebut harus disertai dengan ikhtiar. Dengan adanya ikhtiar, maka Allah SWT akan memudahkan untuk mencapainya. Sebaliknya, kemalasan akan membawa manusia kepada keterbelakangan. Malas bukan merupakan alasan untuk menghindar dari suatu kewajiban. Setiap orang diberikan pilihan, tinggal bagaimana ia memilih yang terbaik bagi kehidupannya. Jika yang dipilih bisa membawa dirinya pada kemelaratan, itu merupakan pilihannya. Tapi manusia yang memiliki akal pikiran tentu akan memilih sesuatu yang dapat merubah hidupnya menjadi lebih baik.

Milikilah rasa optimis, karena optimisme akan mempermudah pencapaian cita-cita dan keinginan. Orang yang optimis tidak pernah mengenal kata putus asa. Karena Allah SWT melarang hambaNya sikap berputus asa (Q.S. Yusuf [12]: 87). Setiap kali ia ditimpa cobaan ia selalu mengevaluasi diri (muhasabah) agar bisa lebih baik lagi di masa mendatang. Orang yang optimis tidak pernah takut akan bagian rezeki yang diperolehnya. Ia percaya bahwa Allah telah menetapkan rezeki baginya. Ia pun yakin bahwa Allah tidak akan menyia-nyiakan hamba-Nya yang berikhtiar untuk menjemput rezeki dari-Nya.

Ikhtiar juga perlu diiringi dengan doa. Dua hal tersebut tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Memohon kepada Allah SWT agar dimudahkan dalam menjemput rezeki dari-Nya. Namun, sebagian manusia enggan berdoa. Ironisnya mereka berharap memperoleh rezeki yang banyak dari-Nya, padahal Allah berfirman: “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku kabulkan permohonan orang yang berdoa kepada-Ku. Hendaklah mereka itu memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku agar mereka memperoleh kebenaran” (Q.S. Al Baqarah [2]: 186).

Selain itu, seorang hamba sudah seharusnya untuk menaati perintah-perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya agar doa yang kita panjatkan mendapat perhatian dari-Nya. Gunakan waktu-waktu mustajabnya doa dalam berdoa kepada Allah SWT. Seperti pada waktu sepertiga malam terakhir, diantara iqamat dan adzan, dan pada saat sujud dalam sholat. Adukan apa yang menjadi permasalahan hanya kepada Allah SWT. Agungkan Dia dalam setiap doa yang dipanjatkan. Bermohonlah kepada-Nya dengan penuh rasa harap dan cemas (Q.S. Al-Anbiyaa’ [21] : 90)

Manfaatkan sebaik-baiknya apa yang telah dititipkan Allah SWT kepada kita. Jika Dia telah memberikan rezeki kepada hamba-Nya, tunaikanlah kewajiban untuk mengeluarkan sebagiannya bagi saudara-saudara kita yang membutuhkan. Jangan sampai kufur terhadap nikmat-Nya yang telah dikaruniakan. Bersihkanlah harta yang dititipkan itu dengan cara mengeluarkan zakat. Bersedekah kepada orang lain tidak akan mengurangi bagian dari rezeki yang diperoleh. Tetapi justru bisa menjadi tabungan kelak, baik di dunia maupun di akhirat. (Q.S. Al-An’aam [6] : 160).

Rezeki yang telah dititipkan sebaiknya disikapi dengan bijak dalam pengelolaannya. Harta yang hanya disimpan tidak akan pernah beranak pinak menjadi banyak. Untuk itu perlu keahlian dalam mengaturnya. Mempergunakannya dengan memprioritaskan kebutuhan yang paling utama. Orang yang tidak punya pengaturan yang baik terhadap harta yang dimiliki, maka ia akan selalu merasa kurang dengan apa yang telah diperolehnya walaupun ia memiliki harta yang banyak. Tetapi bagi yang mengerti bagaimana mengelola rezeki dengan baik maka ia akan selau merasa cukup dengan apa yang telah diperolehnya. Bahkan mungkin ia merasa lebih.

Yakinlah bahwa bagian rezeki yang telah ditetapkan Allah SWT kepada hambanya tidak akan berkurang sedikitpun. Jemputlah rezeki yang telah ditetapkan Allah SWT dengan hati yang ikhlas. Jangan pernah mengeluh dari apa yang telah diberikan Allah SWT. Berusaha untuk senantiasa merasa cukup dan tetap terus berikhtiar untuk meraih ridhanya.

Wallahu a’lam.

 

 

Rakhmad Fadli

Mahasiswa Teknik Informatika UII

Written by alrasikh

January 31, 2008 at 2:26 am

Posted in lembar jumat

MUTIARA HIKMAH

without comments

Rasulullah SAW bersabda: Barangsiapa mengucapkan: Laa ilaaha illallah, sehari seratus kali, maka baginya seperti memerdekakan 10 budak, dan dicatat baginya 100 kebaikan,dan dihapus darinya 100 kesalahan, serta doanya ini menjadi perisai baginya dari syaithan pada hari itu sampai sore. Dan tak seorangpun yang mampu menyamai hal itu, kecuali seseorang yang melakukannya lebih banyak darinya”. Dan beliau bersabda: “Barangsiapa mengucapkan: Subhaanallah wa bihamdihi, satu hari 100 kali, maka dihapuskan dosa-dosanya sekalipun seperti buih di lautan”(H.R. Bukhari dan Muslim).

Rasulullah SAW bersabda: Saya telah melihat seseorang bergelimang di dalam kenikmatan surga dikarenakan ia memotong pohon dari tengah-tengah jalan yang mengganggu orang-orang (H.R. Muslim)

Written by alrasikh

January 23, 2008 at 9:32 am

Posted in mutiara hikmah

MENABUR KESEMPATAN MENUAI KEIMANAN

without comments

Setan berhasil menggelincirkan Adam dan Hawa, lalu mengeluarkan mereka dari surga itu. Kami perintahkan, “Turunlah kamu, kamu semua akan saling bermusuhan, dan di bumi kamu akan mendapatkan tempat tinggal sementara, juga kesenangan terbatas.”

(Q.S. Al Baqarah [2]: 36).

 

Salah satu anugerah terbesar Allah SWT kepada nabi Adam dan Hawa adalah diberikannya kesempatan untuk bertaubat setelah menikmati buah terlarang di surga. Kesempatan tersebut sangatlah berharga bagi mereka berdua untuk menebus dosa di bumi sehingga derajat ketaqwaannya bisa terangkat kembali. Demikian pula kesempatan yang diberikan oleh nabi Muhammad SAW kepada Umar bin Khaththab yang hendak berniat jahat kepadanya. Di kemudian hari sahabat Nabi SAW ini dikenal pembela Islam yang sangat pemberani. Pun demikian ketika Raden Mas Said bekas berandal diberi kepercayaan bertaubat oleh Sunan Bonang, dan sejarah mencatat Sunan Kalijaga menjadi wali sebenar-benarnya bagi “wong Jowo” yang membuat wali sanga yang lain segan dan menaruh hormat padanya.

Memberi kesempatan, menggelar peluang atau membuka kemungkinan bagi orang lain untuk berubah adalah perbuatan mulia. Memang sikap dan perilaku ini berat dan butuh latihan. Biasanya kita sudah mencap orang lain dari luarnya dulu atau dari torehan sejarah mereka. Jarang di antara kita yang mampu melihat potensi atau masa depan seseorang, sehingga kita tidak memberi kesempatan, peluang atau kemungkinan baginya. Latihan akan kita mulai dari introspeksi diri, bagaimana kita bersikap pada orang lain.

Sudahkah kita memberi kesempatan pada orang yang lebih muda untuk maju melebihi kita? Sudahkah kita sebagai orang tua menggelar kesempatan pada anak kita untuk mengungkapkan pengalamannya di sekolah? Sudahkah kita sebagai guru atau dosen membuka kesempatan murid atau mahasiswa untuk dialog, diskusi bahkan membantah pernyataan kita? Sudahkah kita bertanya pada bawahan kita, bagaimana kita harus bersikap pada mereka?

Bilakah kita memberi kesempatan orang lain berbicara mengungkapkan isi hatinya? atau kita sibuk merecoki mereka dengan “doktrin” yang kita anggap “pencerahan.” Atau bisakah kita memberi peluang pada lawan bicara untuk menyelesaikan kalimatnya dulu, kemudian baru kita gantian bercakap? Bilakah parkir kendaraan kita memberi kesempatan kendaraan orang lain untuk parkir juga? Atau apakah jalannya kendaraan kita di jalan memberi peluang orang lain untuk mendahului? Atau bilakah tandatangan kita dikolom paraf memberi kesempatan orang lain untuk menorehkan tandatangannya juga?

Judul diatas seharusnya adalah “Memberikan Kesempatan adalah Sebagian dari Iman”, tetapi saya belum menemukan landasan dalilnya, sehingga judul tersebut yang saya gunakan, dengan tidak mengurangi maksud dan tujuan dalam tulisan ini.

Definisi iman sendiri adalah seperti jawaban Rasulullah SAW ketika Jibril bertanya padanya tentang iman: “Engkau beriman kepada Allah, para malaikatNya, kitab-kitab-Nya, para rasulNya, kepada hari akhir Akhir dan engkau ber-iman kepada takdir, yang baik maupun yang buruk.” (H.R. Al-Bukhari, I/19,20 dan Muslim, I/37).

Iman adalah perkara pokok, sedangkan amalan merupakan  perkara cabang. Cabang-cabang iman bermacam-macam, jumlahnya banyak, lebih dari 72 cabang. Dalam hadits lain disebutkan bahwa cabang-cabangnya lebih dari 70 buah. Dalil cabang-cabang iman adalah hadits Muslim dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda: “Iman itu tujuh puluh cabang lebih atau enam puluh cabang lebih; yang paling utama adalah ucapan “la ilaaha illallaahu” dan (iman) yang paling rendah adalah menyingkirkan rintangan (kotoran) dari tengah jalan, sedangkan rasa malu itu (juga) salah satu cabang dari iman.” (HR. Muslim, I/63).

Al-Hafizh Ibnu Hajar telah meringkas perihal iman tersebut dalam kitab Fathul Baari. Sesuai keterangan Ibnu Hibban, beliau berkata, “Cabang-cabang ini terbagi dalam amalan hati (24 cabang), lisan (7 cabang) dan badan (38 cabang).” Salah dua cabang iman adalah berakhlak yang baik atau berbudi perangai yang baik dan bermurah hati. Saya yakin bahwa memberi kesempatan adalah termasuk di dalamnya. Sehingga memberi kesempatan, kalaupun bukan merupakan “cabang utama” dari keimanan, bolehlah dianggap sebagai ‘ranting keimanan.”

Kalimat “…menyingkirkan rintangan (kotoran) dari tengah jalan…” pada hakikatnya adalah memberi kesempatan orang lain untuk melewati jalan tersebut, bahkan menjamin keselamatannya selama berada di jalan tadi. Cabang iman “terendah” ini bukan sekedar mendoakan keselamatan orang berjalan atau mengingatkan secara lisan akan bahaya atau rintangan, tetapi hadits ini menganjurkan untuk memberi kesempatan dan menjamin keselamatan orang berjalan di atasnya.

Belajar mendengar, berusaha diam dan berlatih memahami orang lain merupakan rangkaian “workshop memberi kesempatan.” Memberi kesempatan, sekali lagi, merupakan “ranting keimanan.” Niscaya bila ranting keimanan banyak dan mantap, maka kokohlah cabang keimanan dan diharapkan subur pula pohon “keberagamaannya.” Sehingga buah yang dihasilkannya pun bukan “buah terlarang” tetapi “buah tersilahkan”. Tersilahkan untuk dipersembahkan kepada Allah SWT dan dinikmati oleh umat dan alam (perwujudan rahmatan lil’aalamiin).

Buah keimanan tersebut dapat disaksikan, dinikmati dan dipelajari juga oleh kita. Bagaimana kita mendorong orang maju melebihi kita? Bagaimana kita menggelar kesempatan pada anak kita untuk mengungkapkan pengalamannya? Bagaimana kita membuka kesempatan mahasiswa untuk dialog? Bagaimana kita membiarkan bawahan bicara? Atau bagaimana kita memberi kesempatan orang berbicara? Atau bagaimana kita memberi peluang orang untuk menyelesaikan kalimatnya? Atau bagaimana kita memberi kesempatan kendaraan orang lain untuk parkir? Atau bagaimana kendaraan kita memberi peluang untuk didahului? Atau bagaimana tandatangan kita memberi kesempatan tandatangan orang lain ditorehkan?

Atau saat ini, bagaimana kita memberi kesempatan pada khatib untuk menyampaikan khutbahnya?, tidak hanya dengan berdiam tetapi menyimak apa yang diutarakannya. Atau bagaimana cara duduk kita, apakah sudah memberi kesempatan jamaah lain untuk beribadah di samping kita atau sekedar lewat mengisi shaf didepan? Mari kita mulai menyuburkan pohon agama kita dengan merawat “ranting-ranting keimanan” kita, saat ini, dimulai dari hal yang kecil.

 

 

Yulianto P. Prihatmaji

Juru Terang Arsitektur FTSP UII

Written by alrasikh

January 23, 2008 at 9:32 am

Posted in lembar jumat