Lembar Jumat Al-Rasikh

Archive for February 2008

MUTIARA HIKMAH

with one comment

 

Dari Ibnu Mas’ud r.a, ia  berkata:  Rasulullah SAW bersabda : ”Tidak halal darah seorang muslim kecuali karena salah satu di antara tiga perkara: orang yang telah kawin berzina, jiwa dengan jiwa dan orang yang meninggalkan agamanya yaitu merusak jama’ah.

(HR. Bukhari dan Muslim)

 

Written by alrasikh

February 28, 2008 at 5:42 am

Posted in mutiara hikmah

MELETAKKAN SYARIAT ISLAM SECARA PROPORSIONAL

with 6 comments

Dan Katakanlah: “Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; Maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) Biarlah ia kafir.” Sesungguhnya Kami telah sediakan bagi orang orang zalim itu neraka, yang gejolaknya mengepung mereka. dan jika mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek.

(Q.S. Al-Kahfi [18]: 29)

 

Merasa diri paling benar adalah awal dari kesalahan, sebab kebenaran tidak datang dengan wajah tunggal. Adakalanya kebenaran menurut diri sendiri (subyektif), ada juga  kebenaran menurut orang banyak (obyektif), dan ada pula kebenaran menurut Allah (universal). Yang paling sulit dalam hidup ini adalah mengubah diri menjadi lebih baik.

Sebagaimana yang saya ketahui dan saya pelajari selama ini bahwa kitman al-Ilm (menyembunyikan ilmu) itu hukumnya haram karena tidak sedikit hadits Nabi SAW yang membicarakan perihal pelarangan penyembunyian ilmu. Misalnya, dalam sebuah riwayat, Nabi SAW pernah bersabda tentang perintah menyampaikan sesuatu yang baik, walaupun satu ayat (ballighû ‘anni walau ayah). Esensi perintah hadits tersebut sebenarnya menunjukkan keharusan bagi orang yang mengetahui suatu hal yang baik untuk disampaikan pada orang lain yang belum mengetahuinya atau memberi penjelasan jika ada orang yang bertanya. Akan tetapi, sebagaimana yang disampaikan dalam paragraf pembuka di atas, menyampaikan sesuatu tidak selayaknya diikuti oleh paksaan untuk menerima seratus persen apa yang disampaikan. Terlebih mengklaim bahwa apa yang disampaikan adalah benar secara mutlak, sedangkan yang lain adalah salah.

Judul tulisan ini sebenarnya bukanlah “Meletakkan Syari’at Islam secara Proporsional” melainkan “Tiga Dalil Syariat” yang merupakan tulisan Nadirsyah Hosen seorang cendekiwan muslim yang saat ini berdomisili di Australia. Merupakan kearifan bagi ulama jika meletakkan syariat secara proporsional karena tidak sedikit ulama yang memaksakan kehendaknya alias mengutamakan keinginan, kepentingan, dan hawa nafsunya dalam menggunakan dalil untuk dijadikan landasan terhadap apa yang ia perbuat.

Belakangan ini ada kecenderungan sebagian umat Islam untuk menjadikan syariat Islam seolah-olah bagaikan obat antibiotik yang dapat menyembuhkan semua penyakit di setiap tempat dan di segala zaman. Mereka berpandangan bahwa syariat Islam itu sempurna dan karenanya mengatur seluruh aspek kehidupan masyarakat dari mulai ibadah, muâmalah sampai sistem pemerintahan. Klaim kesempurnaan syariat Islam ini selalu diulang-ulang dalam berbagai kesempatan. Implikasinya adalah syariat Islam seakan-akan tidak membutuhkan teori atau ilmu non-syariat. Semua problematika ekonomi, politik, sosial, budaya, dan hukum bisa dipecahkan oleh syariat Islam yang telah diturunkan Allah beberapa abad silam. Saat ini, sudah selayaknya dilakukan tinjauan ulang terhadap klaim kesempurnaan syariat Islam.

Tiga Dalil Syariat

Klaim kesempurnaan syariat biasanya didasarkan pada tiga dalil. Pertama, dalam surah al-Maidah [5] ayat 3 Allah telah dinyatakan, “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.” Kalimat ini sebenarnya hanyalah penggalan ayat yang sebelumnya berbicara mengenai keharaman makanan tertentu dan larangan mengundi nasib dan larangan untuk takut kepada orang kafir. Itulah sebabnya konteks ayat itu menimbulkan pertanyaan akan kata “sempurna”: apakah kesempurnaan itu berkaitan dengan larangan-larangan di atas atau berkaitan dengan keseluruhan syariat Islam?

Dari sudut peristiwa turunnya ayat, potongan ayat di atas turun di hari Arafah saat Nabi Muhammad SAW menunaikan ibadah haji. Itulah sebabnya sebagian ahli tafsir membacanya dalam konteks selesainya aturan Allah SWT mengenai ibadah mulai dari shalat sampai dengan haji. Sebagian ahli tafsir menganggap potongan ayat ini turun saat fathu makkah. Sehingga dikaitkan dengan larangan sebelumnya untuk takut kepada kaum kafir, penggalan ayat “kesempurnaan” ini dibaca dengan makna, “sungguh pada hari ini telah Aku tundukkan musuh-musuh kalian.”

Di sisi lain, sejumlah ulama berpendapat bahwa kesempurnaan yang dimaksud dalam ayat ini terbatas pada aturan halal dan haram. Mereka tidak menganggap bahwa pada hari diturunkannya ayat itu syariat Islam telah sempurna karena ternyata setelah ayat tersebut masih ada ayat Qur’an lain yang turun seperti ayat yang berbicara tentang riba dan kalalah.

Kedua, klaim kesempurnaan syariat Islam juga didasarkan pada surah an-Nahl [16] ayat 89, “Dan Kami turunkan kepadamu al-Kitab (Alqur’an) untuk menjelaskan segala sesuatu.” Menurut Mahmud Syaltut, ketika Alqur’an memperkenalkan dirinya sebagai tibyanan likulli syay’i, bukan bermaksud menegaskan bahwa ia mengandung segala sesuatu, tetapi bahwa dalam Alqur’an terdapat segala pokok petunjuk yang menyangkut kebahagiaan hidup duniawi dan ukhrawi. Jadi, cukup tidak berdasar kiranya kalau ayat ini diajukan sebagai bukti bahwa syariat Islam mencakup seluruh hal.

Ketiga, dalam surah al-An’am [6] ayat 38 disebutkan, “Tiadalah Kami alpakan sesuatu pun di dalam al-Kitab. Sejumlah ahli tafsir menjelaskan bahwa Alqur’an tidak meninggalkan sedikit pun dan atau lengah dalam memberikan keterangan mengenai segala sesuatu yang berhubungan dengan tujuan-tujuan pokok Alqur’an, yaitu masalah-masalah akidah, syariat dan akhlak, bukan sebagai apa yang dimengerti oleh sebagian ulama bahwa ia mencakup segala macam ilmu pengetahuan. Sebagian ahli tafsir lainnya menganggap kata “al-Kitab” di atas bukan merujuk pada Alqur’an, tetapi pada lauh al-mahfuz. Sehingga segala sesuatu terdapat di dalam lauh al-mahfuz, bukan di dalam Alqur’an.

Dari pembahasan di atas dapat dikatakan bahwa secara umum Alqur’an, sebagai sumber utama, hanya memberikan pokok-pokok masalah syariat, bukan menjelaskan semua hal secara menyeluruh dan sempurna. Alqur’an disamping sebagai huda (petunjuk), syifa’ (obat) dan lainnya, juga hanya sebatas sumber yang memberikan informasi dalam segala hal, namun informasi tersebut bersifat umum dan membutuhkan penjelasan. Di sinilah fungsi ijtihad untuk menjelaskannya, sebagaimana dialog yang terjadi antara Nabi Muhammad SAW dengan Muadz bin Jabal. Sewaktu Rasulullah SAW hendak mengutus Muadz untuk menjadi qodi (hakim) di daerah Yaman, beliau bertanya: “Bagaimana cara kamu menyelesaikan perkara jika kepada kamu diajukan suatu perkara?” Muadz menjawab, “Akan aku putuskan menurut ketentuan hukum yang ada dalam Alqur’an.” “Kalau tidak kamu temukan dalam Kitab Allah?” Tanya Nabi selanjutnya. “Akan aku putuskan menurut hukum yang ada dalam Sunnah Rasul.” Jawab Muadz lebih jauh. “Kalau tidak juga kamu temukan dalam Alqur’an dan tidak pula dalam Sunnah Rasul?” Nabi mengakhiri pertanyaannya. Muadz menjawab, “Aku akan berijtihad dengan seksama,” kemudian Rasul pun mengakhiri dialognya sambil menepuk-nepuk dada Muadz seraya beliau bersabda, ”segala puji hanya teruntuk Allah yang telah memberikan petunjuk kepada utusan-Nya, jalan yang diridhai-Nya.”      

Di samping itu, hadits merupakan penjelas terhadap Alqur’an sebagai sumber utama jika memang memerlukan penjelasan. Perintah shalat misalnya, yang masih membutuhkan penjelasan yang gamblang, hal ini digambarkan detainya dalam hadits Nabi Muhammad SAW mulai dari takbiratul ihram sampai salam.

Meletakkan Syari’at secara Proporsional

Selain seringkali memahami tiga dalil di atas secara literal dan sepotong-sepotong, kalangan yang mengklaim kesempurnaan syariat Islam juga sering alpa bahwa ayat hukum dan hadits hukum jumlahnya sangat sedikit. Di antara yang jumlah terbatas itu, hanya sedikit saja yang berkekuatan qath’i al-dalalah (pasti dan spesifik). Dan hanya itulah yang masuk kategori syariat.

Kalau kita buka kitab fiqh, maka hanya sekitar dua puluh persen saja yang berisikan syariat, selebihnya merupakan opini, interpretasi, pemahaman, atau penerapan (tathbiq) yang kita sebut dengan fiqh. Fiqh isinya jauh lebih luas ketimbang syariat. Disadari atau tidak, ketika syariat Islam diklaim meliputi segala sesuatu, syariat dan fiqh seringkali dirancukan. Sebagai contoh, tidak ada ayat hukum dan hadits hukum yang secara jelas, langsung dan tegas serta berkekuatan qath’i al-dalalah menyatakan kewajiban mendirikan negara Islam. Klaim kewajiban itu lahir dari pemahaman atau interpretasi yang telah berlangsung sepanjang sejarah Islam. Menolak kewajiban mendirikan negara Islam tidaklah berarti menolak syariat Islam.

Klaim kesempurnaan syariat Islam juga menimbulkan paradoks. Jika benar segala sesuatu telah terdapat dalam syariat Islam, maka bagaimana kita meletakkan ijtihad dalam masalah ini? Ijtihad justru diperlukan karena syariat Islam tidaklah “sempurna.” Masih banyak problematika umat yang tidak diatur secara tegas, pasti dan jelas dalam Alqur’an dan hadits. Di sinilah perlunya kreativitas umat untuk memanfaatkan potensi akalnya. Celakanya banyak kalangan yang tidak bisa membedakan antara penafsiran para ulama (salaf dan khalaf) dalam kitab fiqh, kitab syarh hadits dan kitab tafsir dengan kesucian kitab suci. Mereka menganggap penafsiran dan pemahaman itu juga termasuk kategori syariat yang tidak bisa diutak-atik.

Selama klaim kesempurnaan syariat Islam tidak didudukkan secara proporsional, maka umat Islam akan cenderung menolak semua ijtihad dan teori-teori baru. Setiap terobosan baru akan dianggap mengutak-atik ajaran yang sudah sempurna. Kalau sudah sempurna, untuk apa lagi ada pembaharuan? Untuk itu marilah kita letakkan secara lebih proporsional klaim kesempurnaan syariat Islam tersebut. Karena syariat Islam sesungguhnya hanya mengatur hal-hal yang pokok semata (ushuliyah) dan selebihnya adalah penafsiran, termasuk penafsiran yang lebih kontekstual, humanis, plural, dan liberal.

Wallahu a’lam bi ash-Shawab.

 

Fathurrahman al-Katitanji

Mahasantri PPUII dan Mahasiswa FIAI ‘04

Written by alrasikh

February 28, 2008 at 5:42 am

Posted in lembar jumat

MUTIARA HIKMAH

without comments

Dari Abu Hurairah r.a., ia berkata:  sesungguhnya Rasulullah SAW, telah bersabda: “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, maka hendaklah ia berkata baik atau diam; barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, maka hendaklah ia memuliakan tetangga; dan barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, maka hendaklah ia memuliakan tamunya.”

(H.R. Bukhari dan Muslim).

Written by alrasikh

February 19, 2008 at 11:41 pm

Posted in mutiara hikmah

MENGAKTIFKAN INDERA KEENAM UNTUK MELIHAT ALLAH SWT

with 64 comments

Dan barang siapa di dunia ini buta hatinya, maka di akhirat nanti juga akan buta, dan lebih sesat lagi jalannya.

(QS. Al-Israa’ [17]: 72)

 

Mendengar kata ‘indera keenam’ pasti yang terbayang dalam benak kita adalah orang-orang sakti yang memiliki ilmu kanuragan tinggi, sakti mandraguna, bisa melihat apa yang orang lain tidak bisa lihat, dan bisa merasakan apa yang orang lain tidak rasakan. Manusia sebenarnya memiliki enam indera. Namun yang kita tahu selama ini hanyalah lima indera saja atau yang biasa disebut ‘panca indera’. Fungsi dan mekanisme kerja indera keenam dan panca indera sangat berbeda.

Panca indera terdiri dari mata, telinga, hidung, lidah dan kulit. Mata, digunakan untuk melihat. Hanya dapat melihat sesuatu apabila ada cahaya. Secara fisika, benda dapat kita lihat karena benda tersebut memantulkan cahaya ke mata kita. Jika tidak ada pantulan cahaya, meskipun di depan kita ada suatu benda, benda tersebut tidak akan bisa kita lihat. Misalnya dalam kegelapan, kita bahkan tidak akan mampu melihat tangan kita sendiri. Maka bersyukurlah kepada Allah SWT karena diberikannya sinar atau cahaya.

Indera penglihatan ini memiliki keterbatasan. Ia hanya mampu melihat jika ada pantulan cahaya pada frekuensi 10 pangkat 14 Hz. Mata tidak bisa melihat benda yang terlalu jauh. Tidak bisa melihat benda yang terlampau kecil seperti sel-sel ataupun bakteri. Tidak bisa melihat benda yang ada dibalik tembok. Bahkan mata kita sering ‘tertipu’ dengan berbagai kejadian. Misalnya pada siang hari yang terik, dari kejauhan terlihat air yang mengeluarkan uap di atas jalan beraspal. Namun apabila kita mendekat ternyata yang kita lihat tidak benar adanya. Ini yang kita sebut fatamorgana. Tipuan lain adalah pembiasan benda lurus dalam air, sehingga benda tersebut kelihatan bengkok. Bintang yang kita lihat di langit sangat kecil ternyata sungguh sangat besar, dan lebih besar dari bumi yang kita tempati.

Penglihatan oleh mata kita sangat kondisional, seringkali tidak ‘menceritakan’ keadaan yang sesungguhnya pada otak kita. Bukti-bukti di atas memberikan gambaran bahwa indera mata kita mengalami distorsi alias penyimpangan yang sangat besar. Namun, mata inilah yang kita gunakan untuk melihat dan memahami dunia nyata yang ada di luar diri kita. Matapun tidak bisa melihat apa yang ada dalam diri kita dan yang ada dalam diri orang lain. Apa yang orang lain pikirkan dan rasakan tidak bisa dilihat oleh mata. Mata sungguh sangat terbatas.

Namun keterbatasan ini harus pula kita syukuri. Bayangkan saja apabila mata kita bisa melihat benda yang ukurannya mikroskopis seperti bakteri ataupun jamur. Maka kita tidak akan bisa makan dengan tenang dan nikmat, sebab semua makanan yang kita makan mengandung bakteri dan jamur yang bentuknya sangat menyeramkan. Satu menit saja kita menyimpan makanan dalam keadaan terbuka maka jamur dan bakteri sudah ada pada makanan tersebut. Atau seandainya mata kita tidak terbatas, maka kita akan bisa melihat setan-setan dan jin-jin yang berkeliaran di sekitar kita, dapat melihat orang di balik tembok, dapat melihat proses pencernaan yang terjadi dalam tubuh kita sendiri sehingga menjadi kotoran. Sungguh kehidupan kita akan sangat menyeramkan.

Indera selanjutnya adalah telinga. Ia merupakan organ tubuh yang digunakan untuk mendengarkan suara. Telinga hanya bisa mendengar suara pada frekuensi 20 s/d 20 ribu Hz. Suara yang memiliki frekuensi tersebut akan menggetarkan gendang telinga kita, untuk kemudian diteruskan ke otak oleh saraf-saraf pendengar. Hasil dari interpretasi otak, suara dapat ditandai dan dikerahui. Apabila suara getarannya dibawah 20 Hz maka suara tidak bisa didengar, dan apabila melebihi 20 ribu Hz maka suarapun tidak akan mampu didengar dan bahkan gendang telinga akan pecah alias rusak.

Pada intinya telinga kitapun memiliki keterbatasan layaknya mata. Allah SWT memberikan batasan pendengaran pada kita sebagai karunia dan rahmat yang harus pula kita syukuri. Bayangkan saja jika pendengaran kita tidak dibatasi, maka kita akan bisa mendengarkan suara-suara binatang malam, juga kita bisa mendengarkan suara jin sedang bercakap-cakap, dan lain sebagainya, maka hidup kitapun tidak akan tenang.

Indera yang ketiga adalah hidung. Indera ini digunakan untuk merasakan bau. Di dalam rongga hidung terdapat saraf-saraf yang akan menerima rangsangan bau yang masuk. Selanjutnya saraf menghantarkannya ke otak untuk diterjemahkan. Sebagaimana mata dan telinga, hidung juga memiliki keterbatasan kemampuan. Misalnya, apabila hidung kita menerima aroma makanan yang terlalu pedas maka kita akan bersin-bersin. Apabila hidung sering merasakan bau busuk maka kepekaannya terhadap bau busuk akan hilang. Misalnya kita tinggal di lingkungan yang banyak sampah berbau busuk. Awalnya kita amat terganggu dan tidak tahan dengan bau tersebut, namun lama kelamaan kita tidak akan merasakan bau busuk tersebut.

Indera keempat dan kelima adalah indera pengecap dan peraba, yakni lidah dan kulit. Lidah digunakan untuk mengecap rasa, sedangkan kulit untuk merasakan kasar, halus, panas, dingin, dan lain-lain. Kedua indera inipun memiliki keterbatasan dalam memahami fakta yang ada di luar dirinya. Kalau kulit kita dibiasakan dengan benda kasar terus dalam kurun waktu yang lama, maka kepekaan kulit kita untuk memahami benda yang halus juga akan berkurang. Begitu juga dengan kemampuan lidah kita. Dalam kondisi tertentu, misalnya kita terbiasa dengan makanan pedas, maka lidah tidak akan merasakan enaknya makanan yang tidak terasa pedas.

Dengan berbagai penjelasan di atas tidak diragukan lagi bahwa lima indera yang kita miliki semuanya serba terbatas, kondisional, dan seringkali tertipu oleh hal-hal yang sebenarnya jelas namun terinterpretasi secara tidak jelas. Sebenarnya manusia memiliki indera yang lebih hebat lagi dibandingkan dengan panca indera. Itulah indera keenam. Setiap orang memiliki indera keenam yang bisa berfungsi melihat, mendengar, merasakan, dan membau sekaligus. Indera tersebut yakni hati kita. Akan tetapi beberapa potensi fungsi hati di atas tidak pernah mampu kita maksimalkan. Kenapa? karena memang kita tidak pernah melatihnya.

Manusia terlahir sudah memiliki indera keenam yang berfungsi dengan baik. Karena itu seorang bayi dapat melihat ‘dunia dalamnya’. Ia menangis dan tertawa sendiri karena melihat ada ‘dunia lain’. Seorang anak pada masa balitanya bisa melihat dunia jin misalnya. Akan tetapi seiring dengan bertambahnya waktu, kemampuan indera keenam tersebut menurun drastis. Sebabnya adalah orang tua kita tidak melatih indera keenam kita. Mereka lebih melatih panca indera kita untuk memahami dunia luar. Orangtua kita sangat risau apabila kita tidak bisa menggunakan panca indera kita dengan baik. Namun sebenarnya kemampuan penginderaan hati kita jauh lebih dahsyat.

Hati kita bisa merasakan, melihat, dan mendengar apa yang tidak dirasakan, dilihat, dan didengar oleh panca indera. Kita bisa ‘kenalan’ dengan Allah SWT hanya dengan cara mengaktifkan fungsi hati kita dengan baik. Kita bisa melihat Allah hanya dengan hati kita, bukan dengan mata. Kita bisa merasakan adanya Allah bukan dengan kulit kita, namun dengan hati. Allah SWT sudah mengingatkan kita dalam Alqur’an akan pentingnya menghidupkan hati, dalam Alqur’an surat Al-Israa’ [17] ayat 72 disebutkan: 

“dan barang siapa di dunia ini buta hatinya, maka di akhirat nanti juga akan buta, dan lebih sesat lagi jalannya”.

Rasulullah SAW pernah mengingatkan para sahabat akan pentingnya mengedepankan fungsi hati sebagai raja bagi kehidupan. Apabila kita menjadikan akal kita sebagai raja dan hati menjadi pengawalnya, maka tunggulah kehancuran hidup kita. Hati kita akan tertutup dengan bercak hitam sehingga kita tidak mampu mengenal Allah. Akal menjadi raja untuk diri kita karena kita membiasakan diri menilai kebahagiaan hidup hanya melalui apa yang dirasakan di dunia ini saja. Yang dilihat oleh mata, didengar oleh telinga, dirasakan oleh lidah dan kulit, semuanya diinterpretasikan di otak (akal). Sehingga kitapun lebih memercayai rsio, logika dan nalar kita untuk mengukur kebahagiaan hidup. Pola ini akan membawa kita pada pola hidup yang mengandalkan akal dan mengesampingkan hati nurani. Banyak orang yang pintar dan cerdas dalam menguasai suatu ilmu namun kering akan ruhani ketuhanan. Mereka tidak mampu melihat sesuatu yang metafisik, sesuatu dibalik segala ciptaan yang tak terbatas. Mereka akhirnya juga tidak mampu mereguk nikmatnya ibadah dan tidak mampu merasakan kehadiran Allah SWT.

 Berbeda halnya apabila hati kita yang menjadi raja bagi diri kita. Kita akan bisa merasakan kehadiran Allah SWT dalam hidup kita. Dalam kehidupan sosial, kita juga bisa merasakan apa yang orang lain rasakan (peka). Oleh karena itu jadikanlah hati sebagai raja bagi diri kita.

Orang yang tidak melatih hatinya saat hidup di dunia – sehingga hatinya tertutup – maka mereka akan dibangkitkan oleh Allah SWT di akhirat nanti dalam keadaan buta. Dalam surat Thahaa [20] ayat 124 disebutkan:

“Barangsiapa yang berpaling dari peringatanKu, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan kami akan menghimpunnya pada hari kiamat dalam keadaan buta”.

Lalu, bagaimanakah cara melatih hati kita untuk bisa ‘melihat’ Allah SWT? Mari kita menuntut ilmu demi mengharap ridha Allah SWT, bekerja karena Allah SWT, sholat, puasa, bersedekah, dzikir, do’a, dan semua bentuk ibadah adalah karena Allah SWT, dengan hati yang tulus dan ikhlas. Insya Allah kita akan bisa melihat Allah SWT di dunia ini dan juga di akhirat kelak. Wallahu a’alam bi showab.

 

Muhammad Nizaar

Pengurus Takmir Masjid Baitul Qohhar UII Cik Ditiro

Written by alrasikh

February 19, 2008 at 11:41 pm

Posted in lembar jumat