Archive for April 2008
MUTIARA HIKMAH
Diriwayatkan dari Aisyah r.a., disebutkan bahwa ketika sekelompok orang Yahudi masuk menemui beliau dengan mengatakan, “Kebinasaan semoga menimpamu.” Maka Aisyah r.a. yang mengetahui hal itu menjawab, “Semoga kebinasaan dan laknat untuk kalian.” (Mendengar itu) Nabi SAW bersabda: “Wahai Aisyah, apa itu? Sesungguhnya Allah tidak menyukai ucapan jorok dan keji; tapi bila kamu ingin menjawab ucapan mereka, katakan, “Wa’alaikum (dan atas kamu).”
(H.R. Bukhari-Muslim)
KISAH PERJUANGAN MANUSIA dan IBLIS
Berkata Iblis: “Aku sekali-kali tidak akan sujud kepada manusia yang Engkau telah menciptakannya dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk.”
(Q.S. Al-Hijr [15]: 33).
Tiada permusuhan yang abadi di dunia ini kecuali permusuhan antara anak Adam dan Iblis. Permusuhan ini dimulai pada suatu masa ketika Adam as diciptakan. Lalu Allah menempatkannya di surga yang penuh dengan kenikmatan bersama Hawa. Penciptaan manusia ini menuai protes dari kalangan para malaikat. “Dan ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, ‘Aku hendak menjadikan khalifah di muka bumi’. Mereka berkata, ‘apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih dan menyucikan namaMu?’ Dia berfirman, ‘sungguh Aku mengetahui apa yang tidak engkau ketahui’” (Q.S. Al-Baqarah [2]: 30). Akhirnya dengan segala ketundukannya, para malaikat mengakui kebenaran keputusan Allah SWT tersebut.
Untuk menunjukan tepatnya keputusan tersebut, Allah mengajarkan pada Adam nama-nama benda serta rahasia alam semesta yang tidak diajarkan pada para malaikat. Karena kecerdasan yang diberikan oleh Allah, nama-nama benda tersebut dapat diucapkan oleh Adam dengan sangat baik. Sesuatu yang tidak mampu dilakukan oleh para malaikat yang diciptakan oleh Allah dari cahaya. Hal ini menjadikan Adam sangat istimewa.
Atas keistimewaan tersebut, Allah SWT memerintahkan pada malaikat dan jin bersujud pada Adam. Malaikat melakukannya dengan penuh ketaatan, kecuali Iblis. Ia menolak karena ia merasa lebih baik dibandingkan dengan Adam. Iblis berpikir bagaimana mungkin dia bersujud pada Adam yang diciptakan dari tanah hitam yang bau busuk, sedangkan dia diciptakan oleh Allah SWT dari api yang lebih mulia (Q.S. Al Hijir [15] ayat 32-33).
Konon, sebelum Adam diciptakan, Iblis memiliki derajat yang sangat tinggi, behkan melebihi derajat malaikat. Ia pun kadang disebut sebagai pemuka para malaikat. Boleh jadi Iblis dengki kehadiran Adam mengganggu eksistensi dirinya. Dari sinilah permulaan permusuhan Iblis dan Adam yang mencapai puncak ketika Allah menyuruhnya bersujud kepada Adam. Dengan segala daya dan upaya, Iblis berusaha menggelincirkan Adam hingga merekapun sama-sama terusir dari surga.
Meskipun telah sama-sama diusir, Iblis tetap bertekad menggelincirkan manusia agar tidak patuh kepada Allah hingga kiamat tiba. Lalu bagaimakah cara Iblis menggelincirkan manusia?.
Ikuti salah satu kisahnya berikut ini. Saat terjadi banjir besar, Allah memerintahkan pada nabi Nuh untuk naik ke kapal yang telah dibuatnya beserta para pengikut setia dan hewan-hewan yang berpasangan. Tiba-tiba ia melihat seorang lelaki tua yang tidak dikenal. “Untuk apa kamu naik kapal ini?”, tanya Nuh.
Aku berada disini untuk memengaruhi para pengikutmu agar hati mereka bersamaku, sementara tubuhnya bersamamu. Nuh berkata, “keluarlah kamu dari kapal ini, kamu adalah makhluk terlaknat!”
Iblis pun berkata, “baiklah Nuh, aku akan turun, tapi aku ingin berkata sesuatu padamu wahai Nuh. Ada lima hal yang perlu kau ketahui, namun aku akan memberitahukanmu tiga saja, dan yang dua aku rahasiakan.” Lalu Allah mewahyukan pada Nuh untuk meminta yang dua yang dirahasiakan tersebut. “Apa yang dua itu hai Iblis?” Dua hal yang membinasakan manusia adalah keinginan yang berlebihan (nafsu berlebihan) dan kedengkian-nya. Karena keinginan yang berlebihan tersebutlah Adam dan Hawa diusir dari surga dan karena kedengkian-lah Aku terusir pula dari surga (HR. Abu Daud).
Kisah di atas merupakan pengakuan iblis sendiri tentang “senjata” yang akan digunakannya untuk menjerumuskan manusia ke dalam neraka. Iblis akan berusaha sekuat tenaga dengan cara apapun untuk menjerumuskan manusia. Iblis sudah jelas akan masuk neraka dan tentu saja dia akan mencari teman sebanyak-banyaknya untuk bersama-sama menderita di neraka nanti. Dalam hal ini tentu saja kita akan berkata “tidak mau!”
Iblis dapat menggelincirkan manusia dengan mengajak pada keburukan dan secara tidak langsung juga dengan modus lain, terlebih dahulu mengajak pada kebaikan dan selanjutnya kita diseret untuk berbuat buruk. Kita mungkin sebelum menjadi pejabat berjanji “tidak mau” melakukan korupsi apabila nanti menjadi pejabat. Ini adalah itikad baik, namun hati-hatilah, karena dengan itu akan banyak modus dan cara yang dapat diperbuat oleh iblis untuk merusak komitmen dan janji yang telah dimiliki oleh manusia. Hal ini merupakan suatu kenikmatan yang sebenarnya mematikan (membinasakan) kita. Seseorang yang melakukan penyelewengan atau diajak menyelewengkan uang mungkin pada awalnya merasa sangat bersalah dan tidak tenang. Namun karena daya tarik uang yang mendatangkan ‘kenikmatan’ itu, maka hati nurani menjadi “kebal” dan “buta.” Hal ini pula yang membuat orang mati hatinya.
Segala perbuatan buruk yang dilakukan pada awalnya memang tidak pernah menjanjikan sesuatu yang buruk. Si Iblis tentu tidak akan pernah membukakan akibat dari sesuatu perbuatan ketika dia sedang membujuk seseorang untuk berbuat jahat. Namun, ketika akibat perbuatan tersebut menimpa, maka iblis pun pergi meninggalkannya untuk mencari mangsa lain.
Hedonisme dan Materialisme
Secara kasat mata dapat kita saksikan bahwa dunia saat ini lebih menjanjikan hal-hal yang bersifat hedonistik, yang mengajarkan seseorang untuk mencari kenikmatan demi kenikmatan fisikal saja. Dunia telah mengarah pula pada paham materialisme yang mengajak manusia untuk mencari harta dan kemakmuran sebanyak-banyaknya. Semua ini bertolak belakang dengan ajaran-ajaran agama yang terus-menerus mengumandangkan kebenaran, keadilan, moralitas, dan belas kasih.
Fenomena ini dapat dipicu oleh acara-acara televisi yang mengumbar kesenangan dan kenikmatan hidup. Acara seperti ini perlahan-lahan dapat memengaruhi dan akhirnya mengubah nilai dan pola piker seseorang. Seseorang yang sering menonton TV dan tidak kuat pondasi agamanya, maka ia akan jatuh perlahan-lahan secara mental, ruhani, maupun fisik.
Persaingan karir dan pekerjaan yang semakin ketat dalam lingkungan bisnis yang tidak pasti juga membuat seseorang cenderung untuk hidup dalam kompetisi mengejar materi. Islam sebenarnya lebih banyak mengajarkan kehidupan yang kooperatif ketimbang kompetitif. Kehidupan yang saling tolong menolong dan saling melengkapi, bukan saling menjatuhkan. Kehidupan yang kompetitif juga cenderung membawa pada sifat dengki, yakni sifat tidak puas terhadap kemenangan ataupun kebaikan yang dimiliki orang lain. Maka yang timbul adalah mengambil cara yang tidak baik untuk menjatuhkan lawan. Layaknya Adam dan Iblis.
Sekali lagi, Adam dan Hawa diusir dari surga karena keinginannya yang berlebihan, dan Iblis diusir pula dari surga karena kedengkiannya. Yang namanya diusir tidak ada yang enak. Apakah kita mau diusir oleh Allah SWT dari bumi ini, mencari tempat yang bukan milik Allah? Tentu tidak mungkin. Maka tentu saja kita harus mempersiapkan diri berbuat dan berusaha memberikan persembahan yang terbaik kepada Allah SWT. Semua persembahan itu hanyalah demi kebaikan kita, bukan untuk Allah, sebab Allah tidak butuh kebaikan dari siapapun. Namun kitalah yang butuh kepada Allah.
Cerita singkat berikut semoga bermakna bagi Anda (dikutip dari buku Setengah Isi Setengah Kosong, 2006). Seorang tukang kayu bermaksud pensiun dini dari perusahaannya. Walaupun ia harus kehilangan uang bulanan, namun tekadnya sudah bulat. Ia sudah lelah bekerja dan umurnya sudah tua. Dia pun mengajukannya pada pimpinannya. Dengan alasan yang meyakinkan, sang pimpinan pun mengabulkannya namun dengan satu permintaan. Perusahaan mengharapkan tukang kayu tersebut membuatkan satu rumah untuk pengabdian terahirnya pada perusahaan. Tukang kayu menyetujuinya.
Sebenarnya dalam hati kecilnya ia berpikir bahwa perusahaan tidak mau rugi, bahkan saat-saat terakhirpun ia masih diperkerjakan. Hatinya pun tidak sepenuhnya tercurah pada pekerjaan tersebut. Ia pun mulai membuat rumah tersebut dengan bahan yang disediakan perusahaan seadanya dan ogah-ogahan. Alhasil, rumah pun jadi dengan hasil yang tidak optimal. Ia mengakhiri karirnya dengan prestasi yang tidak maksimal.
Ketika pemilik perusahaan datang melihat rumah tersebut. Sang tukang kayu menyerahkan kunci rumah yang telah dibuatnya. Pemilik perusahaan pun mengucapkan terima kasih. Seraya menyalami sang tukang kayu, pemilik perusahaan menyerahkan kembali kunci rumah tersebut pada si tukang kayu, “Ambillah, pakailah rumah ini untuk hari tuamu sebagai ungkapan terima kasih atas dedikasi dan loyalitasmu pada perusahaan.”
Betapa terkejutnya si tukang kayu, malu dan menyesal dirasakannya sewaktu menerima kunci rumah tersebut. Seandainya ia tahu bahwa rumah tersebut akan diberikan padanya, ia tentu akan bekerja dengan sungguh-sungguh.
Layaknya kisah tersebut, kitapun nantinya oleh Allah SWT akan diberikan rumah yang paling bagus di surga apabila kita membangun rumah kita di akhirat nanti dengan berusaha dan mengabdi sungguh-sungguh kepada Allah SWT. Mudah-mudahan kita semua mati dalam keadaan bersungguh-sungguh mematuhi perintah Allah. Amin.
Wallahu a’lam..
Muhammad Nizaar
Takmir Masjid Baitul Qohhar UII Cik Ditiro
MUTIARA HIKMAH
Rasulullah SAW bersabda: “Bantulah saudaramu, baik ia sebagai zalim atau mazlum.” Para sahabat bertanya dengan penuh keheranan: “Kita telah mengetahui bagaimana cara membantu saudara yang dimazlumi. Bagaimana cara membantu saudara yang zalim?” Ia menjawab: “Cegahlah ia jangan sampai berbuat lalim kepada orang lain”.
(Al-Hadits)
ALQUR’AN SEBAGAI PEDOMAN HIDUP
Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhaan-Nya kejalan keselamatan, dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka kejalan yang lurus.
(Q.S. Al-Maa’idah [5]: 16).
Alkisah, terdapatlah seorang pengembara yang terbangun dari keadaan tidak sadar dan mendapati dirinya di tengah hutan. Dia tidak tahu di mana ia berada, dari mana dia berasal, siapa dia, dan untuk apa dia ada di hutan itu. Yang dia tahu adalah bahwa dia berada di sebuah hutan belantara, dikelilingi belukar lebat, pepohonan, binatang liar, dan tanpa ada seorang manusiapun untuk tempat bertanya. Di sekitar tempat dirinya terbangun, tidak dia menemukan apapun yang bisa mengingatkan dirinya akan asal-usulnya, dan kenapa dia ada ditempat itu.
Seiring waktu berjalan, dia mencapai titik lelah untuk mencari siapa dirinya, dan kenapa dia berada di tempat itu. Akhirnya, yang lakukan dia dalam keseharian hanyalah bertahan hidup, tanpa tujuan dan arah yang pasti. Hingga suatu ketika datang seseorang yang mengaku sebagai utusan maha raja, yang menerangkan jati dirinya melalui sebuah surat dari sang raja, bahwa dia adalah seorang pangeran, yang berada dari suatu negeri, diutus ke tempat ini untuk mencari harta karun. Buktinya adalah secarik kertas kecil yang diselipkan di bajunya, berisi catatan tentang siapa dia dan misi apa yang dia bawa di hutan.
Cerita pengembara di atas, jika dianalogikan atau diandaikan dengan kehidupan kita sebagai manusia ibarat ‘pengembara’ yang hidup di ‘hutan’ dunia. Seandainya saja tidak ada ‘utusan’ yang membawa petunjuk, tentulah kita akan tersesat dan kebingungan dalam mengarungi hidup ini. Sebgaimana mereka yang tidak beriman seperti kaum materialis, atheis, dan hedonis yang hidup dalam kesesatan. Maka bersyukurlah kita yang mendapatkan petunjuk dari utusan Allah yaitu Muhammad SAW, yang menyampaikan kabar gembira, memberi peringatan, dan menerangkan hakikat penciptaan kita di dunia. Bersama Beliau, diturunkanlah Alqur’an sebagai pedoman hidup.
Alqur’an Sebagai Mukjizat
Untuk memperkuat dakwah yang disampaikan, Allah memberikan keistimewaan bagi para rasul yang disebut dengan mukjizat. Bagi seorang Rasul, mukjizat yang satu berbeda dengan yang lain. Biasanya, ada dua macam mukjizat yaitu yang bersifat materi/fisik, dan yang bersifat non materi, namun bisa ditangkap dengan ketajaman akal dan rasa. Alqur’an adalah mukjizat Nabi Muhammad SAW yang berupa fisik, akan tetapi juga mengandung mukjizat non-fisik yang luar biasa dibalik teks-teksnya. Maka pantas jika dikatakan bahwa Alqur’an adalah mukjizat Nabi Muhammad SAW yang terbesar dan tidak dibatasi oleh waktu dan tempat. Secara jelas Alqur’an telah memperlihatkan kemukjizatannya dalam sejarah manusia. Ketika Alqur’an dilaksanakan dan diamalkan dengan kesungguhan, maka ia dapat menciptakan peradaban besar yang menguasai dunia dengan keadilan dan kesejahteraan. Lihat saja dulu, ketika Islam mengalami kejayaan, kaum Muslim meletakkan Alqur’an sebagai landasan bagi setiap hukum dan ilmu, maka seluruh bidang kehidupan mengalami kemajuan yang sangat pesat. Kaum Muslimin bahkan menjadi rujukan para ilmuwan dari negeri lain. Kaum Muslim menjadi ‘guru’ dunia.
Hidayah Alqur’an
Alqur’an merupakan sumber utama ajaran Islam, di mana di dalamnya terkandung hidayah bagi setiap muslim dalam menjalani kehidupan agar selamat dan memperoleh kebahagiaan di dunia dan akhirat. Ada beberapa macam hidayah Alqur’an kepada manusia: pertama, mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya Ilahi. Ajaran Alqur’an membimbing manusia agar keluar dari kegelapan yang berupa kekafiran, kesesatan dan kebodohan menuju cahaya Ilahi yang berupa keimanan, keislaman dan ilmu pengetahuan.
Allah SWT berfirman: Alif, laam raa. (Ini adalah) kitab yang kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dengan izin Tuhan mereka, (yaitu) menuju jalan Tuhan Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji.(Q.S. Ibrahim [14]: 1).
Kedua, membimbing kehidupan manusia menuju jalan yang lurus, baik dan adil. Ini dicapai dengan mengikuti ajaran Islam yang shahih dan jalan tauhid yang ditunjukkan Alqur’an. Allah SWT berfirman: Sesungguhnya Alqur’an ini memberikan petunjuk kepada jalan yang lebih lurus dan memberi kabar gembira kepada orang-orang mukmin yang mengerjakan amal shaleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar. (Q.S. Al-Israa’ [17]: 9).
Ketiga, memberi kabar gembira kepada orang-orang beriman dan peringatan kepada orang-orang ingkar (kafir). Alqur’an menjelaskan bahwa orang-orang yang beriman melalui amal shaleh yang mereka lakukan, akan mendapat pahala berlipat dan akan dibalas dengan kebaikan di dunia dan surga di akhirat. Sebaliknya, orang-orang ingkar akan mendapat balasan buruk diakhirat. Allah SWT berfirman: Sesungguhnya Alqur’an ini memberikan petunjuk kepada jalan yang lebih lurus dan memberi kabar gembira kepada orang-orang mukmin yang mengerjakan amal shaleh bahw bagi mereka ada pahala yang besar, dan sesungguhnya orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat, Kami sediakan bagi mereka adzab yang pedih.(Q.S. Al-Israa’ [17]: 9-10).
Keempat, Alqur’an menyembuhkan hati manusia dan menebarkan rahmat bagi orang-orang yang beriman. Ia menyembuhkan segala macam penyakit hati, termasuk akhlak tercela. Penyakit hati bersumber dari pemahaman akidah yang salah tentang Allah, malaikat, rasul-rasul, hari akhirat, qadha dan qadar. Kesalahan keyakinan ini membuat hati gelisah, sakit dan bingung. Allah SWT berfirman: Dan kami turunkan dari Alqur’an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Alqur’an itu tidaklah menmbah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian. (Q.S. Al-Israa’ [17]: 82).
Kelima, berisi nasihat dan ibrah (pelajaran). Alqur’an banyak berisi kisah-kisah penuh hikmah tentang orang-orang terdahulu. Kisah-kisah itu tentu bukan hanya sekedar pemanis dan hiasan Alqur’an, lebih dari itu, ia adalah pelajaran (ibrah) yang harus diambil oleh umat Islam.
Firman Allah SWT: Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Alqur’an itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu dan menjadi petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman. (Q.S. Yusuf [12]: 111).
Alqur’an Sebagai Pembela di Akhirat
Telah bersabda Rasulullah SAW: Belajarlah kamu akan Alqur’an, di akhirat nanti dia akan datang kepada ahli-ahlinya, yang mana di kala itu orang sangat memerlukannya. Ia akan datang dalam bentuk seindah-indahnya dan ia bertanya, “Kenalkah kamu kepadaku?”
Maka orang yang pernah membaca Alqur’an menjawab: “Siapakah kamu?”
Berkata Alqur’an: “Akulah yang kamu cintai dan kamu sanjung, dan engkau juga telah bangun malam untukku dan kamu juga pernah membacaku di waktu siang hari.”
Kemudian berkatalah orang yang pernah membaca Alqur’an itu: “Adakah kamu Alqur’an?” Alqur’an lalu mengiyakan dan menuntun orang tersebut menghadap Allah.
Orang beriman itu kemudian diberi kerajaan yang kekal di tangan kanan dan kirinya, kemudian dia meletakkan mahkota di atas kepalanya. Pada kedua ayah dan ibunya yang muslim, juga diberi perhiasan yang tidak dapat ditukar dengan dunia walau berlipat ganda, sehingga keduanya bertanya: “Dari manakah kami memperoleh ini semua, padahal kami tidak sampai ini?”
Lalu dijawab: “Kamu diberi ini semua karena anak kamu telah mempelajari Alqur’an.”
Kelebihan Alqur’an
Alqur’an memiliki tiga kelebihan yang tidak dimiliki oleh kitab suci lain. Pertama, merupakan kitab suci yang paling banyak dibaca dan dihafalkan oleh manusia sejak dahulu hingga sekarang dalam bahasa aslinya. Dalam catatan rekor dunia guinness, disebutkan bahwa buku non-fiksi yang paling banyak dibaca sepanjang sejarah adalah Bible. Namun, kita tahu, Bible menggunakan bahasa setempat dan telah mengalami banyak perubahan. Sedangkan Alqur’an, apa yang kita baca darinya saat ini adalah apa yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW tanpa ada perubahan sedikitpun. Kedua, merupakan kitab suci yang mendapat perhatian sangat besar, baik oleh pemeluknya maupun oleh orang diluar mereka. Banyak ilmuwan non-Muslim yang mengakui Alqur’an, baik dari segi tata bahasanya maupun kandungannya. Ketiga, bagi seorang mukmin, membaca Alqur’an akan dapat memperkuat imannya serta kedekatannya kepada Sang Pencipta, dan membaca Alqur’an termasuk ibadah.
Sebagai seorang Muslim, sudah semestinya kita menjadikan Alqur’an sebagai pedoman hidup. Menjadikannya cermin melihat dan mengukur akhlak dan setiap aktivitas yang kita lakukan. Menjadikannya sahabat yang mengingatkan saat terlupa dan menegur saat alpa. Bila dalam satu hari kita tidak berkomunikasi dengan manusia kemudian kita merasa kesepian, maka apakah bila dalam satu hari kita tidak berkomunikasi dengan Dzat yang telah menciptakan kita dengan membaca Alqur’an, apakah kita merasa kesepian? Apabila setiap pagi kita merasa ada yang kurang tanpa membaca koran, maka apakah dalam setiap mengawali hari kita selalu merasa kurang sebelum membaca Alqur’an? Saat diri terlupa, tersesat dan lemah, maka apakah Alqur’an sudah kita jadikan sebagai pedoman hidup?
Al-Matpy ibnu Thalib
Mahasiswa Teknik Informatika UII dan
Santri Pesantren Mahasiswa Daaru Hiraa