Archive for June 2008
Mutiara Hikmah
Ali r.a. berkata :”Aku menikahi Fatimah, sementara kami tidak mempunyai alas tidur selain kulit domba untuk kami tiduri di waktu malam dan kami letakkan di atas unta untuk mengambil air di siang hari. Kami tidak mempunyai pembantu selain unta itu.” Ketika Rasulullah SAW menikahkannya (Fatimah), beliau mengirimkannya (unta itu) bersama satu lembar kain dan bantal kulit berisi ijuk dan dua alat penggiling gandum, sebuah timba dan dua kendi. Fatimah menggunakan alat penggiling gandum itu hingga melecetkan tangannya dan memikul qirbah (tempat air dari kulit) berisi air hingga berbekas pada dadanya. Dia menyapu rumah hingga berdebu bajunya dan menyalakan api di bawah panci hingga mengotorinya juga. Inilah dia, Az-Zahra’, ibu kedua cucu Rasulullah SAW :Al-Hasan dan Al-Husein.
TAUSIYAH RASULULLAH SAW DALAM MENJALANI HIDUP
Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.
(Q.S. Asy Syams [91]: 8-10)
Dua pertanyaan yang seolah sama, namun memuat banyak makna yang begitu berbeda: Untuk apa Tuhan menciptakan manusia? Untuk apa manusia hidup di dunia? Jika Tuhan hanya menciptakan manusia, bisa saja manusia dihidupkan di surga seperti nenek moyangnya, Adam dan Hawa. Tetapi kenapa kemudian Adam dan Hawa akhirnya hidup di dunia melalui sebuah kesalahan karena memakan buah khuldi? Kenapa Tuhan menciptakan buah khuldi? Kenapa pula kemudian buah khuldi itu ditempatkan di surga bersama Adam dan Hawa? Juga kenapa Adam dan Hawa tidak boleh memakan buah khuldi tersebut? Akhirnya kenapa Adam dan Hawa mesti memakan buah khuldi yang menyebabkan mereka diturunkan ke dunia dan dimulailah kehidupan di dunia? Kenapa tidak langsung saja manusia diciptakan di dunia?
Dengan tetap bersandar pada keyakinan kita bahwa Tuhan tidak ditanya tentang yang Dia lakukan, tetapi kita yang akan ditanya apa yang telah kita lakukan selama kita hidup di dunia ini, mungkin kita akan ditanya kenapa bertanya pertanyaan seperti di atas. Bisa jadi pertanyaan seperti itu adalah bid’ah (namun bukan berarti tidak boleh). Sehingga yang bisa kita lakukan hanyalah berusaha mengambil hikmah. Karena setiap yang kita lakukan akan dimintai pertanggungjawaban, semoga Allah membimbing dengan hidayah.
Kesalahan yang dilakukan Adam dan Hawa menunjukkan bahwa manusia memang tempatnya salah dan lupa. Adam dan Hawa akhirnya memakan buah khuldi karena pengaruh dari setan yang membisikkan kebohongan dan angan-angan pada keduanya. Setan bahkan memasuki aliran darah, yang dengan itu bisa mengendalikan pikiran dan perasaan manusia, tentu dengan diarahkan kepada kejahatan dan kebohongan. Sehingga perlu kita sadari bahwa setan begitu dekat dengan kita, manusia yang menjalani kehidupan di alam dunia ini. Bahkan setan ada dalam aliran darah kita, dalam tubuh kita, dalam pikiran dan perasaan kita.
Maka syaitan membisikkan pikiran jahat kepada keduanya untuk menampakkan kepada keduanya apa yang tertutup dari mereka yaitu auratnya dan syaitan berkata: “Tuhan kamu tidak melarangmu dan mendekati pohon ini, melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang-orang yang kekal (dalam surga).” (QS. Al-A’raaf [7]: 20).
Untuk dapat menyeleksi mana pikiran dan perasaan yang sudah dipengaruhi setan, adalah dengan menggunaakan filter yang suci, murni dan dapat membedakan yang haq dan yang batil, yaitu Alqur’an dan Sunnah Rasulullah saw. Apabila terlintas pikiran dan perasaan yang bertentangan dengan Alqur’an dan Sunnah, maka kita akan mampu menolaknya. Karena kebenaran sejati dan diridhai Allah adalah yang terdapat dalam Alqur’an dan Sunnah, meskipun pikiran dan perasaan kita menilai bahwa pikiran dan perasaan kita yang benar. Karena Alqur’an bersumber dari Yang Maha Suci dan Maha Benar, sementara Sunnah berasal dari manusia yang ma’shum, sementara pikiran dan perasaan kita sangat mungkin telah terpengaruh kejahatan setan.
Kenapa buah khuldi dilarang untuk dimakan? Poin penting sebenarnya bukan pada buah khuldinya, melainkan pada hal yang dilarang dan diperintahkan Allah. Buah khuldi adalah sarana/fasilitas untuk menentukan patuh dan tidaknya Adam dan Hawa. Dalam hidup kita di dunia ini, banyak sekali ‘buah khuldi-buah khuldi’ untuk menguji kita apakah kita patuh, lalai atau membangkang perintah dan larangan Allah. Jika dipahami bahwa semua yang ada di surga adalah baik, maka Allah memberikan batasan dengan adanya buah khuldi tersebut. Allah berkehendak menciptakan sesuatu dan menetapkan sunnatullah. Adalah hak Allah untuk menentukan konsekuensi bagi Adam dan Hawa apabila memakan buah khuldi tersebut.
…dan janganlah kamu berdua mendekati pohon ini, lalu menjadilah kamu berdua termasuk orang-orang yang zalim. (QS Al-A’raaf [7]: 12).
Karena manusia bukan malaikat, karena Adam dan Hawa bukan malaikat. Malaikat diciptakan untuk bertakwa, patuh dan tidak diberi potensi nafsu untuk membangkang, melanggar atau melawan perintah Allah. Berbeda dengan manusia yang diberi potensi patuh atau melawan, tunduk atau membangkang. Firman Allah swt: Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya (Q.S. Asy Syams [91]: 8).
Justru dengan dua potensi ini manusia memiliki kesempatan untuk lebih mulia dari malaikat atau lebih hina dari setan. Kita dapat lebih mulia dari malaikat apabila kita menaati perintah Allah, walaupun kita punya potensi untuk membangkang. Sebaliknya kita justru bisa lebih hina dari setan apabila kita melanggar larangan Allah dan tidak menjalankan perintah-Nya, sementara kita punya potensi untuk taat/takwa.
Kita hendaknya setiap saat menggugah kesadaran bahwa setan akan selalu membisikkan pikiran jahat pada kita selama hidup di dunia untuk melakukan hal yang menyebabkan kita tidak pulang ke rumah asal kita yaitu surga. Sejak bangun tidur, dibisikkan jangan bangun untuk shalat shubuh, ketika makan dibisikkan untuk lupa syukur, ketika melakukan aktivitas apapun, setiap detik, setiap detak jantung, setiap hembusan nafas, setan selalu membisikkan pikiran jahat. Setiap waktu setan membisikkan pikiran jahat pada kita.
Akhirnya kita tahu kenapa Adam dan Hawa tidak diciptakan dan langsung hidup di dunia. Karena memang alam dunia ini bukanlah tempat tinggal kita yang sesungguhnya. Alam dunia adalah titik awal untuk menentukan perjalanan selanjutnya apakah kita akan kembali ke tempat asal kita sebenarnya yaitu surga atau tersesat menuju neraka. Dunia dikatakan titik, sedangkan fase selanjutnya adalah garis tanpa ujung, karena memang dunia terbatasi oleh dimensi ruang dan waktu, memiliki awal dan akhir sehingga tidak kekal. Sedangkan akhirat tak lagi terbatas waktu, sehingga di sana kita kekal pada tempat tinggal kita, surga atau neraka.
…mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. (Q.S. Ath Thalaaq [65]: 11).
Bahkan jika hanya dibandingkan dengan fase setelah kematian menuju surga atau neraka, yaitu alam kubur, di padang mahsyar (dihisab, dibagikan catatan amal, ditimbang) dan shirat, waktu hidup kita di dunia masihlah terlalu amat sangat singkat sekali.
…(mereka merasa di hari itu) seakan-akan mereka tidak pernah berdiam (di dunia), melainkan hanya sesaat di siang hari,…(Q.S. Yunus [10]: 45).
Berkaitan dengan hal ini, Rasulullah saw. telah berpesan kepada kita:
- Perbaharuilah perahu, sungguh laut itu dalam;
- Bawalah bekal secara sempurna, sungguh perjalanan itu panjang;
- Ringankanlah bawaan, sungguh perjalanan menuju puncak amat berat;
- Murnikan amal, sungguh Allah selalu melihat amal kita.
Ketika Abu Bakar bertanya: ”Rasulullah, apa kunci keselamatan umat ini?” Rasulullah saw. menjawab: ”Orang yang menerima dariku kalimat yang aku tawarkan pada pamanku tapi dia menolaknya (dua kalimat syahadat), kalimat itu adalah kunci keselamatannya.”
Wallahu’alam
Al-MatPy ibnu Thalib
Mahasiswa Teknik Informatika UII
dan Santri Pesantren Mahasiswa Daaru Hiraa
Mutiara Hikmah
Rasulullah saw. bersabda, “Maukah kalian aku jelaskan tentang dosa yang paling besar?” Para sahabat menjawab, “Mau, wahai Rasulullah.” Rasulullah saw. bersabda, “Menyekutukan Allah, dan durhaka kepada kedua orang tua.” Ketika itu, Rasulullah saw. bersandar, kemudian beliau duduk, dan bersabda, “Ketahuilah (setelah itu ialah berkata bohong, dan kesaksian palsu). Ketahuilah, berkata bohong, dan kesaksiaan palsu.” Rasulullah saw. terus-menerus mengatakan kalimat terakhir, hingga Abu Bakar berkata, “Ah, seandainya Rasulullah saw. diam tidak mengatakan secara terus-menerus kalimat terakhir.”
(H.R. Muttafaq Alaih)
SHALAWAT: KUNCI MENGGAPAI CINTA ILAHI
“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya”.
(QS. Al Ahzab [33]: 56).
Kita akan dianggap sebagai manusia yang ahsan (paling baik) apabila iman menjadi landasan kita untuk berakvitas dan amal shaleh sebagai pendukung (Q.S at-Tien [95]: 4-6). Kita juga akan mendapat kedudukan mulia dan tinggi di sisi Allah swt. serta kita akan mendapat cinta ilahi, jika mengikuti sunnah Nabi saw. Sebaliknya kita akan diremehkan dan jauh dari Allah swt jika tidak mengikuti Nabi saw sebagaimana firman-Nya, “Katakan (wahai Muhamad) jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintai dan mengampuni dosa-dosa kamu, Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS. Ali Imran [3]: 31).
Menurut Ibn Atha’illah mengikuti Nabi terwujud dalam dua aspek, yaitu aspek lahiriyah dan batiniyah. Aspek lahiriyah adalah amalan ibadah berupa shalat, puasa, zakat, haji, jihad di jalan Allah, serta berbagai ibadah lainnya. Sementara aspek batiniyah berupa keyakinan akan adanya pertemuan dengan Allah. Dalam shalat misalnya, jika disertai kekhusyukan dan perenungan-perenungan (tadabbur) terhadap bacaan-bacaannya, maka akan terasa kedahsyatan dan kekuatan dari bacaan itu. Belasan anak panah yang menancap pada Khalifah Umar bin Khattab tidak terasa sakit karena sedang asyik berdialog dengan Allah dalam shalatnya.
Apabila kita melakukan amal ketaatan yang dicontohkan oleh baginda nabi Muhammad saw seperti shalat dan membaca Alqur’an namun kita tidak bisa merasakan kehadiran Allah atau tidak merasa bahwa Allah melihat kita saat itu, tidak memiliki rasa takut (khauf), tidak memiliki rasa cinta (hubb), tidak memiliki pengharapan (raja’) tidak bisa men-tadabburi berarti penyakit batin telah menghinggapi kita, entah itu karena kesombongan, ujub, dengki, syirik, ria’, dan sifat-sifat madzmumah lainnya.
Sikap ‘ittiba’ (mengikuti dengan sepenuh jiwa raga) akan menyebabkan seseorang seolah-olah menjadi bagian dari orang yang diikutinya walaupun ia orang asing atau tidak mempunyai hubungan kekerabatan dengannya. Misalnya Salman al Farisi yang oleh Rasulullah saw dinyatakan, “Salman termasuk keluraga bagi kami.” Tentu saja Salman berasal dari Persia dan bukan keturunan Quraisy. Bahkan ia mantan budak yang diperjualbelikan di pasar. Namun karena mengikuti Nabi saw, ia lalu dianggap bagian dari keluarga Nabi saw. Demikianlah Nabi Muhammad saw. mengajari umatnya, ini sebuah isyarat bahwa amal shalih akan mengangkat pelakunya pada derajat yang tinggi lagi mulia.
Sebagaimana sikap patuh dan taat akan mengikat jalinan ukhuwah atau hubungan, sikap membangkang juga menyebabkan putusnya hubungan seperti yang terjadi pada Kan’an putra nabi Nuh as., juga sebagaimana terjadi pada istri nabi Nuh as. dan nabi Luth as. sebagaimana dikisahkan dalam Alqur’an, Allah membuat istri Nuh dan istri Luth perumpamaan bagi orang-orang kafir. Keduanya berada dibawah pengawasan kedua hamba-Ku yang shalih tetapi keduanya telah mengkhianati suami mereka, maka suaminya tiada dapat membantu mereka sedikit pun dari (siksa) Allah dan dikatakan pada keduanya, masuklah kalian berdua ke dalam nereka bersama yang lainnya.” (Q.S. at-Tahrim [66]: 10).
Sebenarnya kunci dari kebaikan seseorang adalah ketika mau mengikuti sunnah nabi Muhammad saw. baik dari ucapan maupun dari perbuatannya, dan selalu merasa cukup terhadap karunia Allah (bersyukur dan qana’ah), bersikap zuhud terhadap harta milik orang lain, tidak rakus pada dunia, serta meninggalkan ucapan dan perbuatan yang tidak berguna, sebagaimana sabda nabi Muhammad saw, “sebagian dari kebaikan seorang muslim adalah meninggalkan sesuatu yang tidak berguna baginya.” Jika kita mengaku sebagai seorang muslim yang baik sebagaimana yang digambarkan Rasulullah saw, maka semestinya kita sudah harus meninggalkan aktivitas yang tidak bermanfaaat.
Bershalawat, Salah Satu Kunci Menggapai Cinta Ilahi
Dalam pandangan Ibn Atha’illah, bershalawat kalau dari Allah berarti memberi rahmat, dari malaikat berarti memintakan ampunan dan kalau dari orang-orang mukmin berarti berdoa supaya diberi rahmat seperti dengan perkataan allahumma shalli ‘ala Muhammad. Dengan mengucapkan perkataan seperti assalamu’alaika ayyuhan naby artinya semoga keselamatan tercurah kepadamu wahai Nabi.
Orang yang tak kuasa alias tidak sempat memperbanyak amalan ibadahnya seperti berpuasa sunnah dan melakukan shalat malam atau shalat sunnah lainnya, hendaknya menyibukkan diri dengan bershalawat atas Rasulullah saw. Seandainya sepanjang hidup kita melakukan seluruh amal ketaatan, lalu Allah memberikan satu shalawat saja atasmu, tentu satu shalawat tersebut lebih berat dari semua amal ketaatan yang kita lakukan selama hidup.
Kita bershalawat sesuai dengan kapasitas kita sebagai manusia. Manusia artinya paling tidak adalah manusia ahsan yang tergambar dalam surat at-Tien [95] ayat 4-6, sementara Allah bershalawat sesuai dengan rububiyah (sifat ketuhanan)-Nya dan ini baru satu shalawat. Lalu, bagaimana jika Allah bershalawat sebanyak sepuluh kali atas setiap bershalawat satu kali atas Rasulullah saw., seperti yang diterangkan dalam hadits Nabi saw. dari Abu Hurairah ra., Rasulullah saw bersabda: “Barang siapa yang bershalawat atasku sekali, Allah akan bershalawat atasnya sepuluh kali.” (H.R. Muslim dan Abu Dawud).
Siapa yang dibukakan pintu oleh Allah untuk mengikuti Nabi Muhammad saw. itu bertanda bahwa ia telah dicintai-Nya, Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (Q.S. Ali Imran [3]: 31). Arti shalawat tidak hanya membaca yang bersifat bacaan melainkan juga meneladani Nabi saw. dalam segala aspek. Allah swt menjelaskan dengan firman-Nya, “Dan sesungguhnya Rasul Allah itu menjadi ikutan (tauladan) yang baik untuk kamu dan untuk orang yang mengharapkan menemui Allah di hari kemudian dan yang mengingati Allah sebanyak-banyaknya.” (Q.S. al-Ahzab [33]: 21). Seakan ayat ini menyatakan bahwa tidak usah kita melakukan apapun kecuali mencontoh perilaku Rasulullah saw.
Betapa indahnya hidup ini jika kita isi dengan taat kepada Allah, yaitu dengan cara berdzikir pada Allah dan sibuk bershalawat atas Rasulullah saw di setiap waktu disertai dengan hati yang ikhlas jiwa yang bening, niat yang baik dan perasaan cinta pada Rasulullah saw. Tidak cukup hanya bershalawat saja, karena yang terpenting adalah kita harus yakin benar bahwa Rasulullah saw. adalah suri tauladan sepanjang zaman. Jikalau kita ikut dalam tuntunan beliau, insya Allah akan selamat dunia dan akhirat.
Siapa pun kita, laki-laki maupun perempuan, apa pun amal keseharian kita, kaya, miskin, dan lain sebagainya, Allah tak pernah membedakan itu semua, yang dilihat adalah tingkat ketaqwaan kita pada-Nya dan kebeningan hati kita dalam menjalani hidup. Sebagaimana diterangkan dalam Alqur’an surat al-Hujurat [49] ayat 13: Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu disisi Allah adalah orang yang paling bertaqawa diantaramu. Dalam kesempatan lain Rasulullah saw. Bersabda: “Sesungguhnya Allah tidak melihat seseorang dari ketampanan atau kecantikan, pakaian, dan harta yang melimpah melainkan Allah melihat hamba-Nya dari hatinya.” Demikianlah Rasulullah saw. mengajarkan pada umatnya, jika ingin menggapai cinta-Nya kuncinya adalah kita tingkatkan iman dan ketaqwaan kita pada Allah dan memperbanyak shalawat atas Rasulullah saw.
Meskipun kita tidak se-masa atau se-zaman dengan nabi Muhammad saw., setidaknya kita bisa meneladaninya melalui para ulama, yang mana mereka adalah pewaris dari para nabi dan kita juga bisa berdoa untuk mendapatkan seluruh kebaikan dengan mengikuti akhlak Rasulullah saw. Maka dari itu berdo’alah: “Ya Allah, aku memohon kepada-Mu agar bisa mengikuti Rasul-Mu saw. dalam ucapan maupun tindakan.” Melestarikan sunnah dan bershalawat pada Rasulullah, itu merupakan salah satu kunci menggapai cinta Allah sebagai Rabb al-‘Âlamîn.
Bakhil, Tanda Jauh dari Allah
Janganlah sampai kita lupa untuk membaca shalawat kepada Rasululah saw. jika kita menyebut namanya atau mendengar namanya disebut, maka seyogyanya kita bershalawat padanya dan kita akan terbebas dari kebakhilan. Karena Rasulullah saw. pernah bersabda: “Orang bakhil adalah orang yang mendengar namaku disebut tetapi ia tidak membaca shalawat kepadaku.”
Jika kita tidak berbuat demikian maka dalam kategori ini kita bisa disebut bakhil jiddan (sangat pelit). Bakhil merupakan salah satu dari sifat madzmumah (perangai jelek) dan termasuk sifat tercela. Bakhil yang disebut di sini tidak lain adalah bakhil terhadap diri sendiri, sebab ketika seseorang mengucapkan shalawat satu kali kepada Nabi saw. maka Allah azza wa jalla akan menyampaikan shalawat dan salam kepada orang tersebut sepuluh kali lipat lebih banyak. Barang siapa yang tidak mau bershalawat kepada Nabi saw. maka ia mengkategorikan dirinya sendiri sebagai orang bakhil. Bukan bakhil terhadap orang lain, tetapi bakhil terhadap dirinya sendiri lantaran telah mencegah Allah memberinya shalawat sepuluh kali. Ini pertanda orang tersebut dengan perbuataannya sendiri telah menjauhkan diri dari Allah swt. Ashlih nafsaka wad’u ghairaka!
Wallah-u a’lam bi ash- Shawab.
Fathurrahman al-Katitanji
Anggota DPM UII
Santri PPUII dan Mahasiswa Hukum Islams ‘04