Lembar Jumat Al-Rasikh

Archive for July 2008

Mutiara Hikmah

with 4 comments

Telah bersabda Nabi Muhammad saw yang artinya:

  • Barang siapa yang bangun di waktu pagi sambil bersungut-sungut karena kesusahan hidup, maka seolah-olah ia bersungut karena perbuatan Tuhannya.
  • Barang siapa menjadi sedih karena perkara-perkara dunia berarti ia telah marah kepada Allah.
  • Dan barang siapa merendahkan dirinya kepada orang kaya karena kekayaanya maka telah hilang dua pertiga agamanya.

Written by alrasikh

July 31, 2008 at 4:17 am

Posted in mutiara hikmah

MEMETIK HIKMAH DI BALIK PERISTIWA “ISRA’ DAN MI’RAJ”

with one comment

Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah kami berkahi sekelilingnya untuk kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) kami. Sesungguhnya dia adalah Maha mendengar lagi Maha Mengetahui.

(Q.S. al-Isrâ’ [17]: 1).

Muqaddimah

Sebelum kita buka diskusi dalam tulisan ini, penulis ingin ungkapkan terlebih dahulu kalimat pembuka: ‘tiada fenomena yang lepas begitu saja, semua terikat dengan jaringan makna pasti ada hikmahnya‘. Ungkapan ini penulis sampaikan, karena kita akan mendiskusikan peristiwa yang besar dan luar biasa dalam sejarah Islam yaitu peristiwa Isra’ dan Mi’raj. Dari peristiwa agung ini ada banyak hikmah (baik secara vertikal maupun horizontal) yang perlu kita petik kemudian kita implementasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Sebagai peristiwa luar biasa yang tak bisa ditangkap oleh indera, orang-orang Mekkah saat itu tidak mempercayainya. Bahkan tidak sedikit yang mengingkarinya dengan menyudutkan Nabi Muhammad saw sebagai pembohong dan orang yang suka berhalusinasi. Akankah kita termasuk orang yang percaya atau yang  ingkar? Pilihan ada di tangan masing-masing kita. Oleh karena itu, mari kita bersama-sama selami lautan peristiwa di balik Isra’ dan  Mi’raj dengan ilmu dan mengharap ridha Allah s.w.t.

Mabâhits

Surat al Isra’ ayat pertama adalah ayat yang berbicara tentang kebesaran Allah s.w.t dalam memberikan mu’jizat bagi rasul-Nya, Nabi Muhammad s.a.w. karena keagungan itulah maka Allah s.w.t memulai firman-Nya dengan tasbih – ubhâna – (Maha Suci) yang bertujuan supaya setiap orang yang beriman menghilangkan keragu-raguan terkait hal yang diberitakan Allah s.w.t. Merupakan satu hal yang wajar bahwa dalam setiap peristiwa besar yang tidak masuk di akal manusia akan menimbulkan keraguan dan ketidakpercayaan. Apalagi kalau peristiwa itu tidak disandarkan dan dikaitkan dengan Allah s.w.t Yang Maha Berkehendak, apa jadinya diri kita dihadapan Allah s.w.t? Untuk menhindarkan diri dari keraguan itu, maka Allah s.w.t menisbahkan kesucian itu terhadap Allah s.w.t yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjid al Haram ke Masjid al Aqsha. Begitulah yang telah diungkapkan ustadz penulis dalam sebuah diskusi kepada penulis.

Dari peristiwa Isra’ dan Mi’raj, banyak perdebatan yang timbul di kalangan kaum muslimin. Apakah nabi Muhammad s.a.w melakukan Isra’ dan Mi’raj dengan ruhnya saja? Apakah dengan ruh dan jasadnya sekaligus? Ataukah dalam mimpi saja? Pertanyaan ini sering memunculkan jawaban yang beraneka-ragam sesuai dengan pendekatan masing-masing penafsir. Sebagian kalangan rasionalis seperti Imam al-Zamakhsyari, menyatakan bahwa Isra’ dan Mi’raj hanyalah terjadi dengan ruhnya saja. Hal itu didasarkan pada pernyataan A’isyah r.a. ia bersumpah demi Allah tidak kehilangan jasad Rasulullah s.a.w. dan bahwa Nabi Mi’raj dengan ruhnya. Demikian juga pernyataan Mu’awiyah (al-Zamakhsyari, 2006: 623). Sedangkan menurut al-Hasan, peristiwa Isra’ dan Mi’raj itu terjadi hanya dalam mimpi (fî al-manâm). Adapun mayoritas mufassir (jumhûr) menyatakan bahwa peristiwa agung itu terjadi di alam sadar (fi al-yaqzhân) bukan dalam tidur (fî al-manâm) dan dengan ruh dan jasad Nabi s.a.w sekaligus. Pernyataan ini didukung oleh Abdurrahman al-Sa’di dalam tafsirnya  (al-Sa’di, 2003: 428).

Bermacam-macam interpretasi (penafsiran) di kalangan mufassir perihal Isra’ dan Mi’raj sungguh membingungkan kalangan awam umat Islam. Menurut Ust. Supriyanto Pasir, setidaknya ada tiga pendekatan dalam memahami peristiwa Isra’ dan Mi’raj, jika khilafiyah itu dikembalikan kepada ayat Alqur’an itu sendiri, yaitu pendekatan ke-bahasa-an, pendekatan ke-sejarah-an dan pendekatan ke-iman-an. Dengan tiga pendekatan ini kita akan mampu memunculkan pemahaman yang komprehensif.

Pertama, pendekatan ke-bahasa-an (lughatan), jika kita perhatikan dengan seksama, Allah s.w.t  memulainya firman-Nya dengan subhâna. Hal ini akan menjadi sebuah indikasi bahwa apa yang akan dikatakannya kemungkinan akan mengagetkan manusia karena merupakan suatu peristiwa yang luar biasa. Yaitu diperjalankannya Nabi Muhammad s.a.w hanya di sebagian malam dengan jarak yang jauh, kemudian naik menembus langit ke tujuh, Sidrah al-Muntaha dan hingga al-Mustawa. Penyebutan kata lailan dengan bentuk nakirah adalah memiliki arti menyedikitkan masa perjalanan al-Isra’ (taqlîl muddati al-isrâ’) sehingga dapat ditafsirkan dengan kata min al-lail (al-Baidhawi, 2003: 563) di mana min di sini berfungsi sebagai li al-tab’îdh (untuk menunjukkan jarak yang jauh). Selanjutnya, kata ‘abdun dalam kalimat bi ‘abdihi, dalam bahasa Arab adalah menunjuk kepada seseorang yang terdiri dari jasad dan ruh. Karena jasad tanpa ruh adalah mayyitun dan ruh tanpa jasad juga tidak bisa disebut ‘abdun, dalam pengertian yang sesungguhnya.

Kedua, pendekatan ke-sejarah-an (târikhiyyah). Pada bagian ini penting untuk mengkritisi dua (kejanggalan) pernyataan dari ‘Aisyah r.a dan Mu’awiyah r.a. Kejanggalan pertama, terkait dengan pernyataan ‘Aisyah, bahwa ia tidak kehilangan jasad Nabi s.a.w di malam Isra’ dan Mi’raj. Hal ini janggal sekali jika peristiwa itu terjadi satu tahun sebelum hijrah. Mengapa? Karena ‘Aisyah baru berkumpul dengan Nabi Muhammad s.a.w. dan tinggal serumah dengannya adalah saat setelah hijrah ke Madinah, maka pernyataan ini diragukan kebenarannya. Kejanggalan kedua, terkait dengan Mu’awiyah, saat peristiwa Isra’ dan Mi’raj dia masih belum masuk Islam, dia baru ber-Islam saat terjadi Fathu Makkah. Apa yang ia sampaikan hanyalah berdasar kepada logikanya saja.

Ketiga, pendekatan ke-iman-an (al-imân). Peristiwa Isra’ dan Mi’raj pertama kali dibenarkan oleh Abu Bakar tanpa melalui proses berpikir panjang jika sumbernya adalah Nabi Muhammad s.a.w. hingga ia digelari dengan as-shiddiq. Disini yang perlu kita sadari adalah bahwa tidak ada sesuatu hal yang mustahil dalam setiap peristiwa yang Allah s.w.t kehendaki, Dia Maha Berkehendak atas segala sesuatu.

Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (Q.S. al-Isra’[17]: 1). Di akhir potongan ayat ini, Ust. Supriyanto Pasir mempertegas bahwa Allah s.w.t menegaskan diri-Nya sebagai Dzat yang Maha Mendengar apa pun komentar orang terkait peristiwa Isra’ dan Mi’raj tersebut. Dan Dia Maha Mngetahui siapa saja yang beriman dan tunduk pada-Nya, juga orang-orang yang ingkar kepada kebesaran-Nya. Jelaslah sudah bahwa dengan ayat ini dan peristiwa yang terjadi Allah s.w.t ingin memberikan ujian kepada kita semua terhadap kebesaran-Nya. Dengan ujian itu kita diharapkan tunduk kepada-Nya dan hukum-hukum-Nya.

Hikmah di Balik Peristiwa

Dalam setiap peristiwa yang terjadi di alam ini pastilah ada hikmahnya, walaupun itu tersembunyi dan belum diketahui banyak orang. Setidaknya dari diskusi ‘tulisan’ yang ringan dan singkat ini, masing-masing kita bisa mengambil hikmah. Hikmah apa yang pembaca dapatkan dari diskusi ini? Penulis mengutip pendapat Mutawalli asy-Sya’rawi terkait hikmah dari perjalanan agung ini, bahwa hikmah yang paling esensial dari hikmah Isra’ dan Mi’raj secara global mengandung tiga dimensi: pertama, Allah s.w.t hendak menunjukkan kepada Rasulullah sebagian dari tanda-tanda kekuasaan-Nya yang paling besar. Kedua, untuk membuktikan kebesaran-Nya kepada Muhammad s.a.w. agar ia tetap kokoh melaksanakan tugas kenabiannya. Ketiga, untuk menerima tugas yang paling mulia dalam ritus ibadah dan ubudiyah seseorang muslim yang berupa shalat lima waktu, dimana merupakan media yang paling utama untuk mendekatkan diri kepada Allah ‘Azza wa Jalla (asy-Sya’rawi, 1980: 135).

Hikmah-hikmah lain yang kita dapatkan adalah: pertama, sebagaimana tercermin dari ayat pertama yang dimulai dengan ‘tasbih’ subhâna (Maha Suci), maka dalam sebuah kepemimpinan, hal pertama yang harus dilakukan adalah menjaga integritas moral (akhlak al-karimah) dan kesucian diri dengan berdzikir (baca: bertasbih) kepada-Nya. Ini akan berimplikasi positif dalam kehidupan sehari-hari.

Kedua, hendaknya kebijakan seorang pemimpin membumi kepada hati dan kebutuhan (rakyat) yang dipimpinnya. Dalam peristiwa Isra’ dan Mi’raj, hal itu telah diteladankan oleh Nabi s.a.w. ketika ia sudi kembali (turun) ke bumi setelah bertemu dengan Allah s.w.t. Padahal pertemuan dengan Allah adalah cita-cita dan tujuan umat manusia. Kembalinya Rasulullah ini dimaksudkan untuk menyelamatkan nasib umat manusia (rahmatan lil’alamin). Maka dalam konteks ini, kebijakan yang membumi, mutlak diperlukan. Sebagaimana kaidah fiqh yang mengatakan, tasharrufu al-imam ‘ala ar-ra’iyyah manutun bi al-mashlahah (kebijakan seorang pemimpin terhadap rakyatnya bergantung kepada kemashlahatan) (al-Nadhwi, 1998: 124)

Ketiga, amanat Rasulullah saw dari peristiwa ini adalah untuk menegakkan shalat lima waktu. Pada dasarnya shalat mengajarkan kita tentang prinsip-prinsip kepemimpinan, yakni pola hubungan antara manusia (‘abdun) kepada Tuhannya dan antara manusia dengan sesamanya.

Keempat, kepemimpinan dalam shalat tercermin dengan adanya seorang imam, jika shalat tersebut tidak dilaksanakan sendirian. Makmum (pengikut/ rakyat) diharuskan menegur (dengan cara tertentu) apabila imam melakukan kekeliruan dalam kepemimpinannya. Bahkan, apabila makmum membiarkan imam melakukan kekeliruan (dengan tanpa kesengajaan) maka makmum-lah yang menanggung dosa dan kesalahannya. Pesan intinya adalah ashlih nafsaka wad’û ghairaka (perbaikilah dirimu, dan ajaklah (juga tegurlah) orang lain untuk berbuat baik).

Wallahu a’lam bi ash-shawâb.

Fathurrahman al-Katitanji

Santri Pondok Pesantren UII,

Mahasiswa Hukum Islam, dan

Anggota Komisi I DPM UII

Written by alrasikh

July 31, 2008 at 4:16 am

Posted in lembar jumat

Mutiara Hikmah

without comments

Bahwa Nabi saw. bersabda: Allah Taala berfirman: Hai anak cucu Adam, berinfaklah kalian, maka Aku akan memberi ganti kepadamu. Rasulullah saw. bersabda: Anugerah Allah itu penuh dan deras. Ibnu Numair berkata: (Maksud dari) mal”aan adalah pemberian yang banyak dan mendatangkan keberkahan, tidak mungkin terkurangi oleh apapun di waktu malam dan siang.

(Hadis Qudsy riwayat Abu Hurairah ra)

Written by alrasikh

July 24, 2008 at 10:15 pm

Posted in mutiara hikmah

SUPLEMEN HATI

without comments

Sesungguhnya, orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, sekali-kali tidak akan dibukakan pintu-pintu langit dan tidak pula mereka masuk surge, hingga unta masuk ke lubang jarum. Demikianlah Kami memberi pembalasan kepada orang-orang yang berbuat kejahatan.

(Q.S. al-A’raaf [7]: 40).

Dalam jiwa manusia ada sebuah kekuatan yang berfungsi untuk mengingatkan dan mencegah perbuatan yang buruk. Sebaliknya, kekuatan tersebut mendorong perbuatan yang baik. Ada perasaan yang tidak senang jika mengerjakan perbuatan jahat. Kekuatan itu akan mendorong manusia untuk merasa menyesal atas perbuatan itu. Kekuatan yang besar itu adalah hati nurani, yang tidak pernah bohong dan selalu mengajak manusia untuk melakukan kebaikan, hanya saja seringkali nafsulah yang lebih dominan, dan dengan mudahnya manusia mengikutinya, untuk memperoleh kenikmatan sesaat. Pada saat itu, manusia mengingkari kekuatan tersebut.

Kekuatan hati nurani adalah kekuatan yang timbul dari hati yang paling dalam. Ia senantiasa memerintahkan seseorang agar melakukan kewajiban dan jangan sampai menyalahinya. Hidup ini adalah perjuangan dan pertempuran untuk menjadi yang terbaik. Mereka yang terbik adalah mereka yang mampu jujur terhadap hati nuraninya setiap saat dan menahan nafsu agar tidak mendominasi dirinya. Namun, tidak dapat di pungkiri pula terkadang hati juga tidak mampu bertahan dalam keadaan stabil, oleh karena itu dibutuhkan vitamin dan suplemen yang mampu menjaga hati agar selalu stabil sehingga dengan mudah mampu melaksakan kebaikan serta mampu menahan nafsu yang akan merugikan.

Cara yang dapat dilakukan untuk mendapatkan suplemen adalah: pertama, memperbanyak istighfar. Rasulullah SAW bersabda: Barang siapa menetapi istighfar, maka Dia akan memberikannya jalan keluar dari setiap kesempitan, kebebasan dari setiap kesedihan, dan Dia akan memberinya rezeki dari arah yang tidak diperhitungkannya. (H.R. Abu Daud, Ibn Majah dan Imam Ahmad). Sadarkah kita bahwa memperbanyak istighfar sangatlah bermanfaat. Dengan istighfar akan menyadarkan kita akan banyaknya kesalahan yang telah diperbuat, sehingga akan membuat hati kita merendah di hadapan Allah swt. Hal ini tentu akan mengurangi keinginan untuk melakukan hal yang dilarang.

Kedua, yaitu dengan memperbanyak dzikir, baik dengan shalat, membaca kalimat-kalimat thayyibah, membaca Alqur’an. Amalan ini akan membuat hati semakin kuat dan akan mampu mendorong manusia pada kebaikan yang lebih banyak serta mempermudah datangnya hidayah Allah swt, dan juga untuk menolak kebatilan. Allah swt berfirman: Tolaklah perbuatan buruk mereka dengan yang baik (Q.S. al-Mukmin [40]: 96).

Ketiga, memperbanyak membaca Alqur’an dan buku bacaan yang bisa menambah pengetahuan dalam hal-hal yang positif. Dengan banyak membanya maka akan semakin banyak pula pengetahuan yang didapatkan. Sehingga dengan ilmu yang banyak itu, hati tidak akan mudah menerima hasutan atau pengaruh-pengaruh buruk. Hati akan semakin mampu menyeleksi antara mana yang baik dan mana buruk. Dengan ilmu pengetahuan yang baik, hati akan lebih terdorong untuk berkomitmen melakukan hal-hal yang memberi manfaat, serta merasa sedih dan menyesal dikala terjerumus dalam suatu keburukan karena harus mempertanggungjawabkannya di hadapan Allah swt. Allah swt berfirman: Tanyakan kepada mereka: siapa di antara mereka yang bertanggung jawab terhadap keputusan yang diambil itu? (QS. al-Qalam [68]: 40); Tiap-tiap diri manusia bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya. (Q.S. al-Muddatsir [74]: 38).

Keempat, banyak bersyukur atas nikmat dariNya. Suplemen ini akan membawa hati selalu dalam keadaan tenang. Ia akan yakin bahwa segala apa yang diberi oleh Allah swt, apapun bentuk dan kondisinya, adalah yang terbaik. Ia tidak akan mencari sesuatu yang berlebihan, yang akan mendatangkan mudarat, karena hal itu akan membawa kesombongan maupun kelalaian terhadap kewajiban. Segala nikmat dan kebaikan seyogyanya disyukuri agar terasa nikmat dalam hidup ini. Allah berfirman: Dan ingatlah juga, tatkala Tuhan mu memaklumkan: sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah nikmat kepadamu, dan jika kamu mengingkari nikmatKu, maka sesungguhnya azabKu sangat pedih. (Q.S. Ibrahim [14]: 7). Orang yang selalu bersyukur, merekalah yang mampu mengambil hikmah dari segala sesuatu yang diberikan kepadanya.

Selain keempat hal di atas, sebenarnya masih banyak lagi hal-hal yang bisa dijadikan sebagai suplemen hati agar hati senantiasa mampu melawan nafsu. Segala perbuatan yang baik dan bermanfaat adalah termasuk di dalamnya.

Imam al-Ghazali dalam beberapa pendapatnya selalu menganjurkan seseorang untuk terus-menerus melakukan perbuatan yang terpuji dan menghindari perbuatan dosa. Misalnya harus membiasakan diri untuk menerima makanan sesuai dengan keperluan tubuhnya dengan tidak berlebih-lebihan. Penekanan pada pentingnya sikap hati untuk menuju kebaikan tidak selamanya ditentukan dengan sikap bersujud ke bumi, melainkan adalah sikap merendahkan diri yang terletak di dalam hati. Hendaklah kita selalu murah hati, sebab dada yang murah hati akan lega dan lapang. Sedangkan orang yang bakhil dadanya akan sempit, berhati gelap, dan perasaannya berat.

Hati yang hidup adalah hati yang selalu menolak segala kebatilan, serta selalu meluangkan waktunya untuk bersendirian, yang di dalamnya ia merenungkan segala hal yang telah dan akan diperbuatnya, banyak mengoreksi diri, bertafakkur tentang akhirat, dan berusaha agar tidak terlena terhadap kesenangan duniawi. Ia menjadikan dunia sebagai ladang untuk menanamkan benih kebaikan, yang bisa di panen di akihirat dengan hasil baik yang memberikan kebahagiaan abadi. Hati yang baik akan mendapatkan kebaikan pula, serta mampu melupakan perkara yang tidak ada jalan lagi untuk memperbaikinya. Ia akan selalu mengingat kebaikan orang lain dan melupakan kejahatan mereka, yang akan menjadi beban.

Bila keadaan hati dan jiwa itu indah dan lapang, ia akan melihat kubangan sebagai kolam, malam sebagai hari raya, orang-orang sebagai kekasih, dan gubuk sebagai istana yang megah. Sedangkan hati yang sakit dan buruk, ia akan melihat kolam yang jernih sebagai comberan, hari yang cerah terlihat mendung, semua orang sebagai lawan dan musuh. Merekalah orang-orang yang paling sengsara, ingin menjadi seseorang selain dirinya sendiri, yang benci kepada takdir, mengeluhkan yang memberinya rezki, dan sempit akhlaknya. Allah swt berfirman: Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi. (Q.S. al-A’raf [7]: 96). Hati yang baik selalu ikhlas dalam melakukan sesuatu, semuanya dilakukannya karena Allah semata. Jika muncul orang yang bersemangat membela kaum tertindas dengan kata-katanya, padahal hidupnya jauh dari kasih sayang golongan itu, maka ucapannya hanya riya’. Begitu pula dengan orang yang sibuk berdebat dengan dalil, sedangkan hidupnya jauh dari dalil itu, maka termasuk berdebat tanpa kesadaran berbuat, dan semua itu patut dipertanyakan kondisi hatinya.

Hati nurani juga mempunyai empat tingkatan yaitu: pertama, perasaan melakukan kewajiban karena ibadah kepada Allah swt. Kedua, perasaan mengharuskan mengikuti apa yang telah diperintahkan. Ketiga, perasaan yang seharusnya mengikuti apa yang dipandang dirinya (secara fitrah) benar. Keempat, perasaan melakukan kewajiban karena takut kepada Allah swt bukan pada manusia atau lainnya. Bagaimanakah kondisi hati Anda?

Wallahu a’lam.

Trimulato

Mahasiswa Ekonomi Islam ’07

FIAI – UII Yogyakarta

Written by alrasikh

July 24, 2008 at 10:13 pm

Posted in lembar jumat