Lembar Jumat Al-Rasikh

Archive for August 2008

THE POWER OF FASTING

without comments

Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui

(Q.S Al-Baqarah [2]: 184)

Dahulu agama-agama nenek moyang memperkenalkan puasa sebagai salah satu metode meditasi untuk memperoleh petunjuk atau wahyu ilahiah. Di tanah Jawa yang terkenal dengan senjata tradisionalnya berupa keris, konon para ’empu’ membuatnya dengan penuh kesungguhan supaya memiliki kekuatan daya magis yang tinggi sebagai senjata pamungkas. Salah satu ritual yang dilakukan ketika proses pembuatannya adalah dengan berpuasa. Masih hangat dalam ingatan penulis ketika Sri Sultan Hamengku Buwono X ’ngelakoni’ puasa sebulan penuh yang berakhir pada tanggal 19 Mei 1998, sebagai aksi damai reformasi penggulingan kursi pemerintahan Soeharto.

Tidak hanya Islam, akan tetapi hampir semua ajaran agama memiliki ritual puasa, walau dengan cara dan aturan yang berbeda-beda. Para penganut agama Buddhisme misalnya, meyakini bahwa sang Siddharta Gautama menerima wahyu saat bertapa di bawah naungan pohon boddhi (ficus religiosa) atau ada sementara pakar tafsir menamakannya dengan pohon Tin. Konon sang Buddha berpuasa mengasingkan diri untuk melepaskan segala bentuk nafsu duniawi, agar suci jiwa raganya karena pada hakikatnya yang maha Suci hanya akan dilihat oleh sesuatu yang suci pula. Analoginya, ketika kaca itu bening, maka cahaya dapat dengan mudah masuk menembus ke dalam sukma. Kaca di sini ibarat hati, begitu pula ketika hati ini kotor dipenuhi oleh Ego yang sombong dan silau akan segala bentuk materialisme dunia, maka sulit baginya untuk menangkap pesan ilahi.

Demikian pula, dengan ritual ibadah umat agama Hindu yang menyepi dengan berpuasa ngebleng berpantang terhadap api dan berdiam diri tidak melakukan segala aktifitas baik makan maupun minum. Umat Yahudi pun memiliki ritual berpuasa. Mereka berpuasa untuk merayakan hari pembebasan Bani Israel dari cengkeraman Firaun, yang dipimpin oleh Nabi Musa as, bahkan pada hari itu juga Rasulullah menetapkannya sebagai puasa sunnah as Syura. Tidak jauh berbeda dengan umat Nasrani, seorang saudara penulis yang beragama Nasrani mengatakan bahwa dalam Matius 6:16-18 misalnya, umat Nasrani diandaikan secara lansung dengan berpuasa itu sendiri. Hal itu lebih dikarenakan oleh sabda Yesus yang mengatakan ”ketika engkau berpuasa”, bukan ”jika engkau berpuasa.” Kembali menurutnya, bahwa puasa dan Nasrani ibarat nyala dan api, dua kata yang tak bisa dipisahkan.

Kita tidak perlu kaget mendengar informasi di atas, bahwa memang puasa itu ternyata tidak hanya dikenal oleh umat Islam saja, tetapi juga di luar Islam. Atau barangkali puasa sudah dikenal oleh umat-umat seblum masa kehadiran ajaran Islam yang digemakan oleh Rasulullah ini. Maka, boleh jadi juga, atau bisa dibenarkan, jikalau ternyata puasa telah dikenal lama oleh nenek moyang kita 40.000 tahun yang lalu yang oleh para ahli sejarah dan antropolog disebut sebagai homo sapiens.  Ya, bukankah mereka pada saat itu sudah mengenal Tuhan dengan ditemukannya bukti otentik oleh para antropolog berupa kuburan-kuburan tua dan patung penyembahan? boleh jadi demikian. Jika memang demikian, maka hal itupun dibenarkan oleh Alqur’an bahwa memang puasa telah dilakukan oleh orang-orang atau kaum sebelum kita:

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa (Q.S. Al-Baqarah [2]: 183).

Hampir semua ajaran agama menganjurkan, men-sunnahkan, bahkan menetapkan hukum wajib untuk berpuasa pada waktu tertentu dan dengan metode yang berbeda. Pertanyaannya, mengapa hampir semua ajaran agama maupun kepercayaan mengenal ritual puasa? Atau mengapa Allah mewajibkan kita untuk berpuasa? Jawabannya hanya satu, karena puasa itu fitrah manusia. Fitrah manusia sebagai makhluk ibadah. Fitrahnya makhluk beragama, oleh sebab itu hampir semua agama dan aliran kepercayaan tidak menafikan adanya ritual puasa. Kalau agama tidak sesuai dengan fitrah manusia, maka pastilah akan banyak manusia yang tidak beragama daripada yang beragama dan percaya kepada Tuhan. Jika kita menelusurinya lebih dalam lagi, maka akan kita menemukan bahwa sejak awal manusia memang didesain oleh Allah sebagai makhluk ibadah. Segala aktifitasnya adalah ibadah selama berorientasi kepada sang pencipta. Dan, bila kita melihatnya dari sisi yang lebih luas, maka berpuasa dengan segala manfaat dan keampuhannya bakal kembali kepada diri kita sendiri. Semua ini Allah perintahkan untuk kita dan demi manusia itu sendiri. Itu semua karena Rahmat dan Kasih SayangNya.

Tetapi kemudian muncul pertanyaan, jika itu fitrah mengapa diwajibkan? Bukankah dengan diwajibkan atau tidak – jika memang itu fitrah – maka manusia akan melakukannya dan tak bisa menolaknya? Dalam hal ini kita perlu tahu siapa diri kita. Manusia memiliki kehendak yang bebas dan sebebas-bebasnya (free will). Manusia bisa makan sepuasnya, manusia bisa berfoya-foya dengan harta dan semena-mena dengan kekuasaannya. Tapi, manusia memiliki keterbatasan. Terkadang ia masih tidak mengerti apakah segala yang dilakukan itu bermanfaat bagi dirinya sendiri atau tidak. Kelak akan memberikan dampak positif bagi lingkungan sosialnya atau tidak. Akankah segala perilakunya bakal membawanya ke jurang kebinasaan ataukah keselamatan. Sungguh, manusia seringkali buta dalam hal ini. Nah, dengan demikian, manusia membutuhkan aturan demi lancarnya jalan kehidupannya. Maka, aturan itu harus bersumber dari Dia yang Paling mengetahui sekaligus yang tidak memiliki kepentingan sedikitpun. Dia-lah Allah sang maha Perkasa. Sesungguhnya puasa itu bukan kepentingan Allah melainkan kebutuhan makhlukNya.

Di Amerika saja dalam beberapa tahun belakangan sedang dikembangkan beberapa pengobatan medis ke-timur-an yang salah satu terapinya adalah dengan berpuasa. Berdasarkan sebuah penelitian medis, bahwa pengobatan ala Barat terhadap suatu penyakit dengan memberikan ramuan obat-obatan kimia hanya berlangsung sementara dan suatu saat bisa kambuh lagi. Penyembuhannya pun lebih bersifat fisikal saja. Berbeda dengan pengobatan ketimuran yang memiliki banyak metode, ada yang dengan cara meditasi, Reiki, Prana, Yoga, akupuntur, Tai Chi dan berpuasa, yang akan memberikan dampak efek permanen baik dari dimensi fisik (jasmani) maupun psikis (jiwa). Jika kita pernah mengalami atau memperhatikan ketika seorang pasien akan diperiksa darahnya, biasanya perawat akan menyuruh si pasien untuk berpuasa terlebih dahulu. Agar dapat mengetahui secara pasti keadaan tubuh pada posisi netral sebelum terkontaminasi dengan zat-zat dari makanan ataupun minuman.

Akhir-akhir ini banyak sekali kita temukan hampir di setiap daerah, beragam alternatif pengobatan yang menggabungkan metode ala Barat dan Timur. Penulis memiliki kenalan dekat dengan seorang dokter di daerah Magelang yang selain menggeluti bidang kedokteran dengan ramuan kimia, juga menguasai ilmu akupuntur. Sehingga di dalam rumah prakteknya ada ruang laboratorium ultra-sonografi dan ruang akupuntur. Rumah Sakit Guangzhou, rumah sakit kanker terbesar di China pun mengombinasi dua metode pengobatan dari teknologi sinar yang canggih, dikombinasikan dengan obat herbal. Pasaran obat-obatan ketimuran pun mulai meledak dan menjamur di pasar Indonesia, baik ramuan herbal dari China, Jamu Jawa, dan tidak kalah, negara super power seperti Amerika pun kini justru sedang gencar untuk memproduksi makanan kesehatan alami (healthy food). Tidak hanya obatnya saja yang herbal, tetapi kini telah dikembangkan beberapa klinik kesehatan dengan teknik berpuasa. Bahkan di beberapa negara Timur, seperti India, China dan Tibet misalnya, selama ribuan tahun puasa digunakan sebagai teknik pengobatan terhadap berbagai macam penyakit.

Tetapi, apakah seperti itu puasa yang dikehendaki agama? Supaya sehat jasmaninya saja? Tentu saja bukan itu yang dituju. Perkara nantinya puasa Ramadhan ini akan memberikan efek baik di dalam jasmani kita supaya sehat atau secara tiba-tiba kita memiliki energi magis lainnya misalnya, itu tak lebih hanya perkara cabang dan ranting, bukan pokoknya. Karena di dalam memulai segala ibadah, kita telah diajarkan untuk berserah diri, menghamba, menyerahkan segala bentuk ibadah hanya kepada Allah ta’ala. Itulah diri yang muslim. Diri yang berserah diri hanya kepada Allah. Tidak lagi diributkan atas perolehan ganjaran surga dan pahala saja. Atau malah diributkan dengan merusak warung-warung makan yang buka pada siang hari di bulan Ramadhan. Puasanya ketika itu tidak membentuknya untuk menjadi manusia yang sabar dan penuh belas kasih seperti yang diajarkan di dalam agama, melainkan malah menonjolkan sikap keber-agamaan yang egoistik dan emosional. Atau, sebagian dari kita masih disibukkan dengan persiapan menu berbuka puasa hari ini, sementara sebagian muslim yang lain sedang berpikir apakah bisa berbuka atau tidak. Maka ketika matahari mulai tergelincir, banyak yang tak sabar melihat jam untuk segera berbuka.

Ah, jika demikian, jangan-jangan puasanya tak lebih dari sekedar menahan lapar dan haus saja. Berbeda dengan puasanya seorang yang benar-benar ikhlas dalam menjalankannya, karena ia tahu betul bahwa puasa pada intinya adalah melatih jiwa untuk sabar menahan segala ego dan nafsunya. Sekali lagi, agama tidak menyuruh kita untuk membunuh hawa nafsu, melainkan sekedar menahan dan mengendalikannya. Maka, dengan begitu, yang ia rasakan ketika itu tinggal segala kenikmatannya ketika ia dekat dan berserah diri hanya kepada Allah karena Dialah sumber dari segala cinta dan kebahagiaan yang hakiki. Dialah Kebahagiaan terbesar yang diidam-idamkan oleh setiap jiwa. Itulah arti kebahagiaan yang sesungguhnya bagi seorang muslim.

Maka marilah sebulan Ramadhan ini kita jadikan sebagai kesempatan Super Training Centre gratis untuk mencapai kualitas jiwa yang takwa, sehingga menjadi jiwa yang tenang penuh kedamaian dan penuh kesabaran (nafs al muthmainnah). Menuju jiwa yang suci bagai bayi yang baru lahir di dunia. Mengembalikan sang jiwa dan raga menuju fitrahnya sebagai manusia paripurna.

Jika puasa terefleksi dengan baik, maka eksistensi seorang manusia di dunia ini ibarat nyala lilin di dalam kegelapan. Ia bagaikan cahaya yang menyala untuk menyinari kegelapan ruang sekitarnya. Ia akan memahami dan merasakan lapar dan haus saudaranya di dekat atau di seberang sana yang miskin papa. Puasanya pun pada akhirnya mengubah dirinya untuk sadar dan membantu sesama dengan apa yang ia miliki. Yang kemudian di bulan Ramadhan ini agama mengajarkan kepada kita untuk saling memberi zakat kepada fakir miskin. Bukankah Allah sendiri yang telah mengajarkan secara langsung kepada kita untuk berpuasa? Apakah Allah makan dan minum serta membutuhkan pasangan hidup seperti manusia? Jawabannya adalah tidak. Maka itu berarti jika kita berpuasa dengan baik dan mengikuti rambu-rambuNya. Kita telah dituntun untuk meneladani sifat-sifat agungNya dalam asmaul Husna. Meneladaninya sesuai dengan batas kemampuan kita. Sesuai fitrah kita sebagai manusia. Jadi, asmaul Husna sendiri bukanlah sekedar dihapal, dirapal bagai mantra, atau hanya dilagukan tanpa makna, akan tetapi diaplikasikan, diteladani dalam kehidupan sehari-hari untuk mecapai kualitas insan kamil. Tentunya perintah puasa ini akan menarik untuk dikaji lebih luas lagi, baik dari segi manfaatnya bagi kehidupan manusia maupun alam lingkungan sekitarnya. Sungguh, Allah sepertinya menyimpan sebuah misteri besar dibalik perintahNya, ketika Dia berfirman,

Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui (Q.S. Al Baqarah [2]: 184). Tentu saja, hal ini bukanlah menjadi sebuah misteri, bagi manusia yang mampu mengoptimalkan akalnya karena memang agama ini hanyalah untuk bagi mereka yang berakal.

Wallahualam.

Hari Nugroho

Mahasiswa 2006

Jurusan Arsitektur FTSP

Universitas Islam Indonesia Yogyakarta

Written by alrasikh

August 29, 2008 at 3:28 pm

Posted in lembar jumat

Mutiara Hikmah

without comments

Aku mengamati semua sahabat, dan tidak menemukan sahabat yang lebih baik daripada menjaga lidah. Saya memikirkan tentang semua pakaian, tetapi tidak menemukan pakaian yang lebih baik daripada takwa. Aku merenungkan segala jenis amal baik, namun tidak mendapatkan yang lebih baik daripada memberi nasehat baik. Aku mencari segala bentuk rezki, tapi tidak menemukan rezki yang lebih baik daripada sabar.

(Khalifah Umar r.a.)

Written by alrasikh

August 29, 2008 at 3:21 pm

Posted in mutiara hikmah

Mutiara Hikmah

without comments

Rasulullah SAW bersabda: Aku tidak diutus untuk melontarkan kutukan, tapi sesungguhnya aku diutus untuk membawa rahmat.

(H.R. Bukhori dan Muslim)

Rasulullah SAW bersabda: Sesungguhnya Allah Taalla indah dan suka keindahan, suka melihat kenikmatan hambaNya, (dan Ia) benci kemelaratan.

(H.R. Muslim).

Written by alrasikh

August 21, 2008 at 4:59 am

Posted in mutiara hikmah

SEBENTAR LAGI RAMADHAN, SUDAH SIAPKAH ANDA?

with one comment

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa

(Q.S. Al-Baqarah [2]: 183).

Allahuma bariklana fii Rajab wa Sya’ban, wa ballighna Ramadlan… (ya Allah berkahi kami di bulan Rajab dan Sya’ban, dan sampaikan kami pada Ramadhan) (HR. Ahmad dan Bazzar). “Telah datang kepadamu bulan Ramadhan penghulu segala bulan, maka “Selamat datanglah” kepadanya.” Itulah salah satu doa dan pesan yang disampaikan oleh Rasulullah saw dalam menyambut datangnya bulan Ramadhan, bulan suci yang sebentar lagi datang menyapa kita. Bulan Ramadhan, bulan penuh berkah yang dinanti-nantikan oleh setiap muslim dan mukmin, yang selalu datang dengan membawa hadiah istimewa penuh kejutan dari Allah swt. Ia begitu dinanti-nanti karena mengandung kemuliaan yang amat besar, yang tak bisa dijumpai pada bulan-bulan lainnya. Bagi mereka yang benar-benar mengetahui hadiah apa yang dibawa oleh bulan Ramadhan dan kepada siapa hadiah itu akan diberikan, niscaya mereka akan bersuka cita dan akan mempersiapkan diri untuk menyambutnya. “Marhaban Ya Ramadhan (selamat datang bulan Ramadhan), kami sambut kedatanganmu dengan penuh suka cita.”

Quraish Shihab menjelaskan bahwa kata “marhaban” terambil dari akar kata “rahb” yang berarti “luas atau lapang”, sehingga marhaban menggambarkan bahwa tamu yang datang disambut dan diterima dengan lapang dada, penuh kegembiraan, serta dipersiapkan baginya tempat yang luas untuk melakukan apa saja yang dia inginkan.

Dari kata ini, terbentuk kata “rahbah” yang antara lain, diartikan sebagai “ruangan luas untuk mobil,” guna memperoleh perbaikan atau kebutuhan bagi kelanjutan perjalanannya. “Marhaban Ya Syahra Ramadhan” berarti, “kami menyambutmu dengan penuh kegembiraan dan kami persiapkan untukmu tempat yang luas agar engkau bebas melakukan apa saja, yang berkaitan dengan upaya mengasah dan mengasuh jiwa kami.”

Dalam bahasa Arab bulan disebut dengan “syahr” yang bermakna “terkenal” atau populer. Orang Arab biasanya menamai bulan sesuai dengan keadaan di mana bulan itu berlangsung. Karena pada masa turunnya perintah puasa adalah musim panas yang terik, maka bulan itu dinamai “Ramadhan” yang akar katanya dari “Ramidha” yang berarti “sangat panas, membakar” disebabkan panas matahari yang luar biasa menyinari pasir-pasir gurun. Ada juga pengertian lain yaitu “batu (karang) yang membakar.”

Pengertian di atas sesuai dengan makna filosofis bulan Ramadhan, yaitu membakar dosa-dosa yang pernah dilakukan dengan menahan makan dan minum dan apa-apa yang membatalkannya. Juga dapat dianalogikan, untuk membuat sesuatu lebih terbakar adalah dengan menghimpitnya di antara dua batu (karang) lembut, lalu memukul-mukul sifat (buruk)-nya sendiri di antara dua batu (karang), yakni lapar dan haus. Rasulullah SAW, bersabda, “dinamakan bulan Ramadhan karena ia cenderung membakar dosa-dosa.”

Ramadhan adalah tamu agung yang kita mungkin tidak akan didatanginya lagi tahun depan. Sedangkan “lail al-qadr,” malam pengampunan puncak dalam bulan ramadhan dalam setiap tahunnya, hanya akan menemui orang-orang yang benar-benar bertekad mempersiapkan diri dengan kuantitas dan kualitas amal yang terbaik. Tamu itu tidak akan singgah pada “rumah” yang jiwa-jiwa di dalamnya Alqur’an tidak dikumandangkan, shalat tidak didirikan, shadaqah tidak diberikan, dan kebaikan diabaikan. Maka dari itu, sebelum tamu agung itu datang, mumpung masih ada waktu, sudah seharusnya setiap muslim mempersiapkan diri menyambut Ramadhan di bulan Sya’ban ini.

Persiapan Ruh dan Jasad

Rasulullah SAW dan orang-orang shalih tidak pernah menyia-nyiakan keutamaan Ramadhan sedikitpun. Rasulullah dan para sahabat memperbanyak puasa dan bersedekah pada bulan Sya’ban sebagai latihan sekaligus tanda kegembiraan menyambut datangnya Ramadhan.

Anas bin Malik r.a. berkata, ”ketika kaum muslimin memasuki bulan Sya’ban, mereka sibuk membaca Alquran dan mengeluarkan zakat mal untuk membantu fakir miskin yang berpuasa.”

Dengan mengondisikan diri pada bulan Sya’ban untuk berpuasa, bersedekah dan memperbanyak ibadah, kondisi ruhiyah akan meningkat, dan tubuh akan terlatih berpuasa Dengan kondisi seperti ini, maka ketika memasuki bulan Ramadhan, kondisi ruh dan iman telah membaik, yang selanjutnya dapat langsung menyambut bulan Ramadhan yang mulia ini dengan amal dan kegiatan yang dianjurkan. Di sisi lain, tidak akan terjadi lagi gejolak fisik dan proses penyesuaian yang kadang-kadang dirasakan oleh orang-orang yang pertama kali berpuasa, seperti lemas, demam dan sebagainya.

Rasulullah saw menganjurkan kepada kita agar kita memperbanyak puasa sunnah pada bulan Sya’ban dengan cara memberikan contoh langsung. ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha berkata: “Rasulullah saw berpuasa, sampai-sampai kami mengiranya tidak pernah meninggalkannya.” Demikian dalam riwayat Bukhari dan Muslim. Dalam riwayat lain dikatakan bahwa: “Beliau melakukan puasa sunnah bulan Sya’ban sebulan penuh, beliau sambung bulan itu dengan Ramadhan.” (Hadits shahih, lihat Riyadhush-Shalihin, Fathul Bari, Sunan At-Tirmidzi dan lain-lain).

Anjuran tersebut dikuatkan lagi dengan menyebutkan keutamaan bulan Sya’ban. Usamah bin Zaid pernah bertanya kepada Rasulullah saw. Katanya: “Ya Rasulullah, saya tidak melihat engkau berpuasa pada bulan-bulan yang lain sebanyak puasa di bulan Sya’ban ini? Beliau saw menjawab: “Itulah bulan yang dilupakan orang, antara Rajab dan Ramadhan, bulan ditingkatkannya amal perbuatan kepada Allah swt Rabbul ‘Alamin. Dan aku ingin amalku diangkat sedang aku dalam keadaan berpuasa.” (HR An-Nasa-i).

Persiapan Materi

Bulan Ramadhan merupakan bulan muwaasah (bulan santunan). Sangat dianjurkan memberi santunan kepada orang lain, betapapun kecilnya. Pahala yang sangat besar akan didapat manakala ia memberi kepada orang lain yang berpuasa, sekalipun sekedar sebiji kurma dan seteguk air. Kedermawanan Rasulullah saw pada bulan Ramadhan sangat besar. Digambarkan dalam beberapa riwayat bahwa sentuhan kebaikan dan santunan Rasulullah saw kepada masyarakat sampai merata, lebih merata ketimbang sentuhan angin terhadap benda-benda di sekitarnya.

Persiapan Pikir (Persepsi)

Persiapan pikir ini setidaknya meliputi minimal dua hal, yaitu: 1) Mempunyai persepsi dan pengetahuan yang utuh tentang Ramadhan dan keutamaannya, 2) merencanakan kegiatan-kegiatan di bulan ramadhan yang dapat mengantarkannya mencapai ketaqwaan.

Persepsi dan pengetahuan yang utuh tentang bulan Ramadhan akan menghindarkan diri dari kesalahan-kesalahan yang bisa merusak ibadah Ramadhan disebabkan oleh ketidaktahuan kita. Persepsi yang utuh tentang keutamaan Ramadhan akan mendorong tumbuhnya motivasi dari dalam diri untuk menjalani ibadah dengan sebaik-baiknya. Oleh karena itu, pada bagian ini, persiapan-persiapan yang bisa dilakukan adalah dengan banyak bertanya, belajar dan membaca. Orang akan mampu mengerjakan sesuatu dengan sempurna dan riang gembira jika ia tahu dengan pasti apa alasan, tujuan dan manfaat di balik sesuatu yang ia kerjakan. Demikian pula dengan Bulan Ramadhan. Tidak mengherankan jika kemudian Nabi saw dan para sahabat menyambut Ramadhan dengan senyum dan tahmid, dan melepas kepergian Ramadhan dengan tangis.

Marhaban yaa Ramadhan…

(Disarikan dari berbagai sumber. Pernah dimuat di Al Rasikh minggu pertama September 2006, dimuat ulang dengan perbaikan. Red.)

Written by alrasikh

August 21, 2008 at 4:58 am

Posted in lembar jumat