Lembar Jumat Al-Rasikh

Archive for October 2008

RIYA’ ITU TIDAK BOLEH!

without comments

Maka siapa saja yang berharap bertemu Tuhannya maka hendaklah beramal amalan yang shalih dan tidak menyekutukan (Allah) dalam melakukan ibadah kepada-Nya

(Q.S. al-Kahfi [18]: 110).

Perbincangan tentang masalah yang satu ini tidak akan ada basinya, tidak ada matinya. Mungkin, sekilas dipandang sepele. Namun jika direnungkan dengan lebih mendalam, penyepelean masalah ini jelas keliru. Seperti duri dalam daging, meskipun kecil namun jika tidak diangkat akan membuat sakit. Ya, dalam ibadah, kita mengenal istilah riyâ’, hal yang barangkali oleh sementara orang dianggap kecil dan sepele. Padahal riya’ ternyata mampu menjadi batu sandungan diterimanya amal ibadah seseorang. Riya’ juga akan menjadi sekat bagi seorang hamba yang berupaya menggapai ridha Allah SWT. Jadi, diskursus tentang masalah yang satu ini adalah sangat urgen melihat dampak yang ditimbulkannya ketika dihubungkan dengan keridhaan Allah SWT dalam hal diterima tidaknya amal ibadah seseorang.

Apa sesungguhnya riya’ itu? Muhammad Jamaluddin al-Qasimi al-Dimasyqi di Juz 2 dari kitab Mau’izhah al-Mu’minin menuliskan bahwa riya’ adalah mencari kebanggaan (al-jâh) dan kedudukan (al-manzilah) dengan melalui jalan ibadah, “al-riyâ’ thalab al-jâh wa al-manzilah bi al-‘Ibâdah.” Sedangkan Imam al-Ghazali menuliskannya dalam Kitab Ihya’ Ulum al-Din Juz 3 bahwa hakikat riya’ itu yaitu menuntut martabat dan kemegahan di dalam hati manusia dengan jalan melebihkan ibadahnya itu kepada manusia untuk memperoleh pujian dan pengakuan kebesaran dari mereka, bahkan demi mendapatkan harta dan lain-lain dari berbagai macam kesukaan dan kemegahan dunia.

Pandangan ajaran Islam terhadap riya’ dan pelakunya (murâ’i) sangat jelas. Riya’ dikategorikan sebagai tindakan menyekutukan Allah SWT berdasarkan pernyataan Nabi Muhammad s.a.w. yang diriwayatkan oleh Ahmad dan al-Baihaqi: “Sesungguhnya hal yang paling saya takuti terjadi pada diri kalian adalah syirk ashghar (syirik yang kecil). Apa  syirik yang kecil itu wahai Rasulullah?, tanya seorang sahabat. Beliau menjawab, “riya”. Atau dalam riwayat Ibnu Majah dan al-Hakim: “Sesungguhnya yang paling aku takuti terjadi pada umatku adalah riya’ dan keinginan yang tersembunyi (al-syahwah al-khafiyyah) yang lebih tersembunyi (ringan) dari berjalannya semut hitam di padang pasir pada malam yang buta.” Lantas ayat Alqur’an juga menyatakan tercelanya orang-orang yang riya’ (murâ’i) karena tampak beribadah dalam lahirnya namun di dalam batinnya memendam kesombongan dan keinginan dipuji orang lain.

Maka celakalah orang-orang yang shalat, yaitu orang-orang yang lalai dalam shalatnya, yang senantiasa memperlihatkan (amalnya, riyâ’). (Q.S. al-Ma’un [107]: 4-6).

Jelas, riya’ sangat bertentangan dengan ajaran dasar Islam yang menganjurkan umatnya beribadah dengan ikhlas tanpa ada unsur-unsur menyekutukan Allah SWT di dalamnya. Ajaran Islam seperti disebut dan dimaksud di atas misalnya dapat diklarifikasi dalam salah satu ayat Alqur’an:

Maka siapa saja yang berharap bertemu Tuhannya maka hendaklah beramal amalan yang shalih dan tidak menyekutukan (Allah) dalam melakukan ibadat kepada-Nya. (Q.S. al-Kahfi [18]: 110).

Selanjutnya penting untuk diketahui bentuk-bentuk riya’ agar kita dapat membedakan dan sekaligus berhati-hati. Penulis kutip di sini uraian panjang lebar dari kitab Ihya’ Ulum al-Din, kitab Siyar al-Salikin dan kitab Mau’izhah al-Mu’minin, untuk kemudian kita sarikan dan temalikan dengan konteks saat ini agar dapat lebih kita tarik pelajaran darinya. Dalam keterangan para ulama tersebut dapat diambil pengertian bahwa ternyata riya’ itu bisa terjadi dalam beberapa hal berikut:

Pertama, riya’ dengan badan, seperti menampakkan dan menonjolkan kepada manusia dengan kurus badannya dan pucat mukanya supaya orang lain menyangka ia banyak berpuasa dan banyak bangun malam untuk beribadah. Bisa juga dengan jalan menampakkan duka citanya kepada manusia supaya disangka orang bersungguh-sungguh dalam beragama. Kasus lainnya misalnya menampakkan kepada manusia dengan berkusut-kusut rambut dan berdebu-debu tubuhnya supaya dikatakan sebagai orang shalih dan tenggelam di dalam beragama sehingga tidak menghiraukan dirinya sendiri. Kadang terjadi juga dengan menunjukkan kering dua bibirnya supaya disangka senantiasa berpuasa. Bisa juga dengan jalan menunjukkan lirih suaranya supaya disangka lemah dirinya karena sangat bersungguh-sungguh dalam beribadah. Itulah riya’ dalam menjalankan agama atau disebut dengan istilah ahl al-din. Berkebalikan dengan mereka itu, kata Ibnu Mas’ud r.a., seperti dikutip oleh Hujjah al-Islam Imam al-Ghazali dalam Juz 3 kitab Ihya’ Ulum al-Din, adapun ahl al-dunya justru memperlihatkan diri dengan jalan gemuknya badan (setidaknya untuk konteks saat itu), bersihnya kulit, kegagahan, baiknya paras muka, bersihnya badan, serta kuat dan proporsionalnya anggota tubuh.

Kedua, riya’ dengan kelakuan, seperti mencukur kumisnya dan menundukkan kepalanya saat berjalan. Kadang dengan jalan menetapkan perjalanannya. Bisa juga dengan sengaja meninggalkan dan membuat titik-titik hitam di dahi sebagai bekas sujud mukanya untuk menunjukkan bahwa yang bersangkutan banyak bersujud. Bisa juga dengan cara memejamkan kedua matanya supaya disangka orang bahwa ia fana syuhud akan keadaan Allah SWT dan supaya disangka orang bahwa ia fana di dalam ilmu mukâsyafah dan tenggelam di dalam berpikir akan Tuhannya.

Ketiga, riya’ dalam pakaiannya, seperti memakai kain wol (shûf) dan pakaian yang kasar kainnya serta memakai baju yang pendek hingga setengah betisnya dan memakai baju yang pendek lengannya hingga pergelangannya. Atau memakai kain yang lusuh supaya disangka orang sebagai orang yang zuhud dan wara’. Ada juga yang memakai kain yang bertambal-tambal dan terus memakai dan membawa kain tempat sujud (sajadah) supaya disangka orang sebagai orang sufi yang terus menerus ibadah kepada Allah SWT. Yang lainnya lagi dengan memakai pakaian ulama supaya disangka orang bahwa ia adalah orang yang alim.

Keempat, riya’ dengan perkataan. Ini biasanya terjadi pada para ahli agama dalam nasihat dan peringatan yang diberikannya, berbicara dengan kata-kata bijak, hafalan khabar-khabar dan atsar (hadits maupun tarikh) untuk dipakai di dalam percakapan dan keinginan menampakkan dalamnya ilmunya. Atau menggerakkan dua bibirnya dengan dzikir di hadapan orang banyak. Atau amar ma’ruf dan nahi munkar dengan mendemonstrasikan akhlaqnya dengan menampakkan kemarahannya bagi hal-hal yang munkarat atau menampakkan penyesalannya karena ketidakberdayaan masyarakat berlepas diri dari kemaksiatan. Atau merendahkan suaranya dalam berkata-kata dan melirihkan suaranya saat membaca Alqur’an untuk menunjukkan rasa takut dan kesedihannya. Dapat juga berdoa sambil menangis-nangis dan di hatinya ada keinginan untuk menunjukkan diri kepada orang sebagai hamba yang takut kepada Allah SWT.

Kelima, riya’ dengan ‘amal, seperti orang yang shalat dengan berlama-lama dalam berdiri, ruku’, dan sujudnya. Ini, terutama sekali terjadi pada para imam shalat. Dengan berpanjang bacaan, apalagi suaranya dan hafalannya bagus ia berharap mendapatkan pujian makmumnya. Wah, hebat sekali: hafalannya luar biasa dan lagunya bagus sekali. Wah rukuk dan sujudnya lama sekali, dia pasti khusyuk. Dan lain-lainnya perasaan dalam hati membayangkan komentar orang tentang dirinya. Padahal kenyataannya mungkin tidak seperti itu. Suara dan lagu yang bagus ternyata tidak dapat menyelamatkan panjangnya bacaan dan lamanya rukuk dan sujud. Alih-alih memuji, orang satu masjid malah bisa jadi akan mengutuknya.

Keenam, riya’ dengan membanyakkan murid maupun sahabat yang mengikut. Ini banyak terjadi di kalangan pemimpin agama. Dengan banyaknya pengikut yang mengiringinya saat ia berjalan, di sanalah kebanggaan itu muncul. Ia lalu cenderung memperlihatkan hal yang menurutnya luar biasa tersebut untuk mendapatkan pujian sebagai tokoh atau pemimpin agama yang kharismatik dan banyak pengikutnya.

Untuk mengetahui tentang bagaimana ciri-ciri orang yang riya’ dalam beribadah, saya tertarik meminjam pendapat khalifah keempat dalam sejarah umat Islam. Ali ibn Abi Thalib k.w., seperti dikutip oleh Imam al-Ghazali dalam kitab Ihya’ ‘Ulum al-Din-nya atau Abdusshamad al-Falinbani dalam Jilid 2 Juz 3 kitab Siyar al-Salikin, pernah berkata: “Tiga tanda bagi orang yang riya’: malas apabila beribadah sendirian, rajin apabila beribadah di antara orang banyak; berlebih-lebih ia di dalam berbuat amal apabila dipuji orang; kurang amalnya apabila dicela orang.”

Jika dilihat dari rasa ingin diperhatikan atau dilihat, riya’ ini hampir mirip kondisinya dengan orang yang sedang jatuh cinta. Ia merasa senang ketika dilihat dan tidak melakukan apa pun ketika kekasih yang dia taksir tidak ada. Ada pamrih di balik apa yang dilakukannya, yaitu pujian. Jika tidak ada yang memuji dia akan marah dan kecewa. Apakah ibadah yang kita lakukan juga seperti itu? Mari kita senantiasa menjaga dan mengelola hati dan niat kita ketika sedang dan akan melaksanakan amalan ibadah atau amalan apapun, agar terhindar dari riya’. Karena ketika riya’ itu hadir dalam hati kita, maka sia-sialah amalan kita.

Wallâhu a’lam bi al-shawwâb.

Sayyid Ramly

Written by alrasikh

October 30, 2008 at 8:42 am

Posted in lembar jumat

Mutiara Hikmah

without comments

Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung.

(Q.S. al-Israa’ [17]: 37).

Written by alrasikh

October 30, 2008 at 8:41 am

Posted in mutiara hikmah

JALAN TOL MENUJU SURGA

without comments

Hai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu: “berlapang-lapanglah dalam majelis”, maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.

(Q.S. al-Mujadilah [58]: 11).

Ketika Allah menciptakan surga dan neraka beserta amalan-amalan menuju keduanya, terjadilah dialog antara Allah SWT dengan Jibril as. Dialog ini diriwayatkan dari Abu Hurairah yang berkata: Rasulullah bersabda: ”Ketika Allah menciptakan surga dan neraka, diutuslah Jibril kepada surga. Allah berfirman: `Pergilah! lihatlah surga itu dan lihatlah kepada apa yang telah aku sediakan untuk mereka yang ingin menuju surga itu.’ Maka Jibril pun pergi dan melihat surga itu dan kepada apa yang telah Allah sediakan bagi calon penghuninya. Maka Jibril pun kembali dan berkata: `Demi kemuliaanmu ya Allah tidak akan ada seorangpun yang mendengar tentang surga itu, kecuali pasti akan memasukinya.’ Maka Allah memerintahkan surga dan memenuhi jalan-jalan menuju surga itu dengan Al Makarih (berbagai ketidaksenangan). Maka Allah memerintahkan Jibril: `kembalilah, dan lihatlah surga itu dan kepada apa yang telah aku sediakan untuk calon penghuninya!” maka Jibril pun melihat kembali surga itu, kemudian kembali, seraya berkata `demi kemuliaanmu ya Allah, sungguh aku khawatir bahwa tidak akan ada seorangpun yang bisa memasuki surga.’ Kemudian diutuslah jibril ke neraka, Allah berfirman: `pergilah, lihatlah neraka itu dan kepada apa yang telah aku persiapkan bagi calon penghuninya.’ Maka Jibril pun melihat neraka itu, maka tiba-tiba ia melihat api neraka itu saling bertumpuk-tumpuk, kemudian ia kembali dan berkata: `demi kemuliaanmu ya Allah, tidak akan ada seorangpun yang akan masuk neraka kalau dia mendengar tentang siksa neraka’, lalu Allah memerintahkan neraka, lalu dipenuhilah jalan menuju neraka itu dengan asy Syahawaat, lalu allah berfirman: `pergilah dan lihatlah neraka itu’, maka jibrilpun pergi melihat kemudian kembali dan berkata: `demi kemuliaanmu ya Allah aku kawatir tidak ada seorangpun yang selamat dari neraka kecuali pasti akan memasukinya’.” (H.R. Muslim).

Rahasia Dibalik Nikmatnya Maksiat Dan Beratnya Berbuat Taat

Dalam sabda Rasulullah SAW di atas diterangkan bahwa Allah SWT telah menciptakan pada jalan ke surga itu ”al-makarih” (berbagai ketidak senangan) dan diciptakan pula pada jalan menuju ke neraka ”asy-syahawat” (berbagai kesenangan). Manusia yang semulanya dipastikan semuanya akan menempuh jalan ke surga, namun dengan diletakkannya al-makarih itu di sekeliling surga, maka hampir tidak ada manusia yang mau menempuh jalan ke surga itu karena demikian besar godaan yang muncul dari al-makarih tersebut. Demikian pula sebaliknya, manusia yang semula dipastikan tidak akan ada yang mau menempuh jalan ke neraka, namun setelah Allah letakkan asy-syahawat pada jalan menuju neraka tersebut, maka hampir saja seluruh manusia berbondong-bondong menempuh jalan ke neraka karena demikian hebatnya godaan asy-syahawat tersebut.

Dua perkara di atas sudah cukup membuat kita khawatir terhadap diri kita. Namun tidak cukup sampai di situ, masih ada faktor lain yaitu yang datang dari diri manusia itu sendiri. Sifat tersebut adalah sifat dasar manusia, yaitu ketidak sabaran dan ketergesa-gesaan. Dua sifat ini menyebabkan manusia gampang putus asa dalam menempuh jalan ke surga dengan berbagai al makarih dan gampang tersedot masuk ke dalam neraka dengan berbagai godaan syahwat. Sehingga, dengan adanya dua sifat tersebut, adalah wajar ketika seseorang merasa mudah dan nikmat ketika bermaksiat kepada Allah, sementara untuk berbuat taat rasanya sangat berat.

Terbebas dari Al Makaarih dan Asy Syahawaat

Demikian beratnya jalan menuju surga, sehingga seakan-akan tidak akan ada manusia yang mampu menempuh jalan tersebut. Namun alhamdulillah, Allah SWT dengan kasih sayangnya memberikan sebuah jalan alternatif bagi kita untuk menuju surga. Jalan tersebut adalah jalur bebas hambatan sehingga kita bisa terbebas dari segala macam gangguan tadi dalam upaya kita menempuh jalan menuju surga.

Rasulullah SAW bersabda: Barang siapa menempuh satu jalan, yang di jalan itu ia tempuh dalam rangka menuntut ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga” (H.R. Muslim).

Hadits diatas menjelaskan kepada kita bahwa salah satu cara agar kita dimudahkan oleh Allah untuk meniti jalan menuju surga adalah dengan menuntut ilmu. Berhubung ilmu itu ada bermacam-macam, muncul pertanyaan: ilmu yang mana?

Ilmu Apakah yang Dimaksud?

Dalam hal ini ada beberapa ayat Alqur`an dan hadits Nabi SAW yang menerangkan definisi ilmu. Antara lain seperti firman Allah dalam surat al-Mujadilah [58] ayat 11: Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. (Q.S. Al Mujadilah [58]: 11). Di dalam ayat ini Allah Ta`ala memberitakan bahwa Allah akan mengangkat ke beberapa derajat yang lebih tinggi bagi dua golongan, yaitu orang-orang yang beriman dan yang berilmu. Kemudian Rasulullah juga menerangkan mengenai kedudukan ilmu. Antara lain dalam sabda beliau SAW:  Para ulama adalah pewaris para nabi, namun mereka tidak mewariskan dinar maupun dirham. Mereka hanyalah mewariskan ilmu. Barangsiapa yang mengambil ilmu tersebut sungguh ia telah mendapatkan bagian yang banyak dari warisan tersebut (H.R. Abu dawud dan Tirmidzi).

Di dalam hadits ini, Rasulullah SAW menjelaskan bahwa warisan terbaik bagi manusia adalah ilmu, bukan harta. Sebab ilmu merupakan warisan orang-orang termulia yaitu para nabi, sehingga barang siapa yang ingin mengambil warisan yang terbaik, maka hendaknya ia mengambil ilmu para nabi tersebut. Barangsiapa yang ingin mendapatkan warisan tersebut dalam jumlah banyak, maka hendaknya ia mengambil ilmu sebanyak-banyaknya dari mereka dengan cara mempelajarinya. Dan ilmu yang diajarkan oleh para Nabi tidak ada lain kecuali ilmu agama.

Kemudian lebih tegas lagi Rasulullah SAW menerangkan mengenai definisi ilmu antara lain dalam sabda Beliau: “Barangsiapa dikehendaki Allah atasnya kebaikan niscaya ia akan difahamkan akan agamanya” (H.R Bukhari dan Muslim). Maka tegaslah dalam hadits ini bahwa ilmu yang dimaksud adalah ilmu agama, bukan yang selainnya. Yaitu ilmu yang menjadikan orang tersebut faham tentang agamanya, dimana dengan memiliki ilmu ini mengindikasikan bahwa orang tersebut termasuk orang yang Allah kehendaki kebaikan atasnya.

Menuju Surga Tanpa Hambatan

Setelah kita mengetahui karakteristik jalan menuju surga, kemudian mengenal keutamaan dan kedudukan ilmu agama, maka mestinya kita mengupayakan semaksimal mungkin untuk mendapatkan ilmu tersebut. Satu-satunya jalan untuk mendapatkan ilmu tersebut hanyalah dengan cara thalabul `ilmi (belajar). Ilmu agama ini tidak bisa diperoleh dengan lamunan, khayalan, mimpi, bertapa dan sebagainya. Ilmu agama ini hanya bisa diperoleh dengan cara belajar, sebagaimana yang dilakukan oleh para ulama kita, di mana mereka menghabiskan waktu, harta dan tenaga mereka untuk mengumpulkan hadits-hadits Nabi SAW dalam rangka belajar dan memperdalam ilmu agama.

Maka semakin banyak kita menghabiskan waktu untuk belajar tentang ilmu agama ini, baik secara langsung kepada guru-guru yang terpercaya ilmunya atau melalui kitab-kitab peninggalan para ulama, maka semakin besar peluang  kita masuk ke dalam golongan orang-orang yang telah Allah janjikan tadi, yaitu golongan yang dimudahkan dalam menempuh jalan ke surga. Tentunya bagi orang-orang yang berakal dan beriman, pilihan untuk menempuh jalan tol bebas hambatan menuju surga Allah merupakan pilihan yang sangat menggiurkan, mengingat beratnya hambatan-hambatan pada jalan menuju surga tersebut. Tetapi, kadang orang justru tidak bisa melihat dan memahami jalan tol yang telah Allah tawarkan tadi.

Wallahu a`lam.

Sir Bram Novaldi Sariputra

Alumni Teknik Elektro

Universitas Islam Indonesia

Written by alrasikh

October 23, 2008 at 8:55 am

Posted in lembar jumat