Lembar Jumat Al-Rasikh

Archive for January 2009

MEMILIH PEMIMPIN IDEAL

with one comment

Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) Karena Allah, menjadi saksi dengan adil. dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. berlaku adillah, Karena adil itu lebih dekat kepada takwa. dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.

(Q.S. Al Maa’idah [5]: 8) .

Pada tahun 2009 ini Indonesia akan menyelenggarakan hajatan akbar demokrasi yakni pemilihan umum legislatif dan presiden. Berbagai slogan dan kampanye sudah mulai  ditemukan, baik kampanye dalam media elektronik,  surat kabar, dan lainnya. Beberapa stasiun TV juga kerap menyelenggarakan acara debat caleg ataupun pemaparan visi & misi masing-masing partai. Kesemuanya tidak lain merupakan usaha mendapatkan simpati publik. Apabila kita perhatikan acara-acara tersebut, kita pasti bingung akan memilih siapa yang akan dijadikan pemimpin. Hal tersebut disebabkan semua calon menjanjikan visi dan misi yang sangat menjanjikan. Pemimpin  yang di ataspun  mulai turun berkeliling daerah, mendekati masyarakat bawah memberikan santunan dan sebaginya. Pertanyaannya, mengapa hal tersebut tidak mereka lakukan sejak awal menjadi pejabat?

Dalam Islam pemimpin merupakan elemen yang  sangat penting. Dalam terminologi Islam pemimpin biasanya disebut “imam” sedangkan hal yang menyangkut kepemerintahan disebut “imamah”. Urgensi seorang imam disebutkan dalam Alqur’an: Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (nya), dan ulil amri (pemimpin) di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya (Q.S. An Nisaa [4]: 59).

Hakekat seorang pemimpin adalah “khilafatunnubuwah” atau menggantikan posisi kenabian dalam menata dan mengatur urusan negara dan keduniaan (tadbiiru al-dunya) beserta urusan agama (khirasatu al-dien) tentunya. Hal tersebut seperti didirikannya kekhalifahan “khulafaur rasyidin” setelah Rasulullah SAW. Pada dasarnya menjadi seorang pemimpin adalah suatu yang sangat berat tangung jawabnya. Artinya sesorang yang mencalonkan dirinya menjadi seorang pemimpi berarti telah harus siap memikul beban berat tersebut. Beban tersebut adalah tanggung jawab nya di sisi Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda: ”Setiap pemimpin harus mempertanggung jawabkan  (permasalahan) rakyatnya (di sisi Allah).”

Seorang pemimpin tidak hanya mempertanggungjawabkan kebijakannya di hadapan masyarakat yang dipimpinnya saja, akan tetapi juga mempertanggungjawabkannya di hadapan Allah SWT. Kebijakan-kebijakann yang pernah diambil  harus dipertanggungjawabkan, terutama yang berkaitan dengan kemaslahatan umat. Sungguh besar dan berat untuk menjadi seorang pemimpin. Namun kita lihat sekarang di realita kehidupan. Orang-orang berbondong-bondong mencalonkan diri mereka untuk menjadi pemimpin. Dari tingkat kepala desa sampai presiden. Mekanismenya pun sangat unik, siapa yang berduit maka lebih berpotensi untuk terealisasi menjadi pemimpin. Obral duit atau serangan fajar, istilah sekarang telah menjadi rahasia umum. Semua telah mengetahui perihal seperti ini di belahan daerah manapun di Indonesia. Praktek seperti ini umum terjadi dari tingkat pusat sampai RT. Sedikit sekali pemimpin tanpa modal harta, dengan modal kepercayaannya menjadi seorang pemimpin. Mereka seolah-olah tidak mengetahui bahwa dibalik semuanya ada tanggung jawab kelak di sisi Allah.

Calon pemimpin seperti ini tidak boleh dipilih menjadi pemimpin umat. Jabatan adalah tujuannya, bukan sarana untuk mengabdi kepada rakyat yang dipimpin. Secara naluri pasti dia juga akan berusaha mengembalikan dana yang telah ia hamburkan. Dan pengembalian tersebut tidak hanya dari gajinya, karena tentu belum cukup untuk mengembalikan modal yang telah ia keluarkan. Artinya, secara tidak langsung upaya-upaya tersebut merupakan bisnis politik. Mereka tidak  mengurusi bagaimana rakyat dan negara bisa maju, tetapi memikirkan bagaiman modal yang dikeluarkan dapat kembali. Otak-otak seperti inlah yang merusak keutuhan bangsa dan tegaknya negara. Padahal seharusnya seorang pemimpin mempunyai kewajiban-kewajiban yang harus dipenuhi. Di antara kewajiban-kewajiban tersebut adalah:

  1. Berbuat adil kepada seluruh elemen masyarakat, adil dalam aspek sosial, hukum dan adil dalam pemerataan kesejahteraan ekonomi, tidak membedakan kerabat dekat dengan orang biasa, dan dapat dipercaya (amanah). Allah SWT berfirman:

    Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) Karena Allah, menjadi saksi dengan adil. dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. berlaku adillah, Karena adil itu lebih dekat kepada takwa. dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan (Q.S. Al Maa’idah [5]: 8) .

  1. Menata dan mengarahkan umatnya untuk selalu menjaga persatuan dan kesatuan sehingga menjadi bangsa yang kuat, dan tidak mudah dimasuki dan diacak-acak Negara lain.

Keberadaaan seorang pemimpin merupakan suatu kewajiban dalam Islam. Meskipun bukan wajib ain tapi wajib kifayah. Pemimpin diharapkan dapat menegakkan keadilan sosial, keadilan ekonomi, serta keadilan hukum. Urgensi tersebut dalam kitab klasik disebutkan untuk menghindari kesemenaan sebagian manusia kepada sebagian manusia yang lain. Tanpa adanya seorang pemimpin tidak akan tercipta ketenangan, ketentraman dan kesejahteraan, yang hal tersebut merupakan maqaasid syariah yaitu kemaslahatan (jalbu naf’in wa daf’u dhararin). Dengan terealisasinya maslahah tersebut, selanjutnya masyarakat Islam mencapai kebahagiaan dunia beserta akhirat (al-falah fiddunya wal akhirah).

Partisipasi warga sebagai ahlul ikhtiar sangat diperlukan dalam penentuan seorang pemimpin. Warga Negara harus over-selective dalam menentukan calon legislatif mereka. Dalam kitab “as-Siyaasah wal akhkaamu al-Sulthaniyyah” disebutkan kriteria-kriteria seorang yang layak dijadikan calon pemimpin umat. Diantaranya adalah: adil, berakhlak mulia, pandai, sehat jasmani dan rohani, bervisi kuat dan amr bil ma’ruf wa nahyu anil munkar. Oleh karena itu memilih seorang pemimpin seperti memilih seorang pasangan hidup, harus seselektif mungkin, jangan memilih calon pemimpin yang berani menghamburkan uang sebelum menjadi pemimpin. Karena hakekat pemimpin adalah orang yang dipanuti, yang kita ikuti. Untuk memilih pemimpin yang baik dan ideal tidak cukup hanya mengandalkan mata kepala saja, dengan melihat janji-janji dan stimulus yang diberikan oleh para calon pemimpin. Kita juga harus menggunakan mata hati atau mata batin kita secara obyektif, bagaimana track-record atau sepak terjang seorang calon pemimpin tersebut selama ini, baik kehidupan pribadinya, maupun kehidupan sosial-kemasyarakatannya. Kalau pemimpin yang kita pilih baik, maka kita juga yang akan menikmati dan merasakan kebijakan-kebijakan pemimpin tersebut. Kalau kita hanya menggunakan mata kepala saja, dengan melihat materi saja dan mengabaikan mata hati, bisa jadi kita akan salah pilih. Dan kalau salah pilih maka kita sebagai masyarakat yang dipimpin akan menjadi korban.

Berangkat dari pemaparan di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa kita mempunyai peran signifikan dalam menentukan siapa dan bagaimana sosok yang akan memimpin kita. Baik buruknya pemimpin yang akan memimpin kita, sangat dipengaruhi oleh bagaimana kita menggunakan mata hati kita untuk melihat secara jernih dan berpandangan ke masa depan. Rasulullah SAW pernah mengingatkan bahwa ada dua macam pemimpin di dunia ini, yaitu pemimpin yang baik dan pemimpin yang jahat. Diriwiyatkan dari Hisyam bin Urwah dari Abi Shalih dari Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah SAW bersabda: “Akan memerintah setelahku sebuah pemerintahan. Pemimpin yang baik  akan memerintah dengan baik dan pemimpin yang jahat akan memerintah dengan kejahatannya.  Maka dengarkanlah dan patuhilah yang benar.’

Semoga Allah memberikan kepada kita pemimpin yang benar-benar amanah dan dalam mengambil kebijakan selalu mendahulukan kemaslahatan umat atau masyarakat yang dipimpinnya. Karena pada dasarnya kewajiban pemimpin kepada rakyatnya harus berdasarkan kemaslahatan umat sebagaimana kaidah fiqhiyyah “tasharruful imaami ‘ala ra’iyyatihi manuutun bil maslahah,” artinya pada dasarnya tasharruf atau kebijakan seorang pemimpin harus memperhatikan bagaimana kemaslahatannya bagi umat. Semoga Allah membuka mata hati kita untuk dapat melihat seobyektif mungkin dan memberi petunjuk siapa calon pemimpin yang layak dan ideal untuk memimpin kita. Amin.

Wallahu a’lam.

Muhammad Ma’shum

Mahasiswa Ekonomi Islam 07, santri PP UII

Written by alrasikh

January 30, 2009 at 2:42 am

Posted in lembar jumat

MUTIARA HIKMAH

without comments

An-Nasa’i dan Ad-Darimi meriwayatkan dari Abdullah bin Aufa (yang berkata): “Sesungguhnya Rasulullah SAW banyak berdzikir, sedikit mengobrol, melamakan shalat, memendekkan khutbah, dan tidak menganggap rendah berjalan bersama janda dan orang miskin agar dia dapat memenuhi kebutuhan mereka.”

Written by alrasikh

January 30, 2009 at 2:39 am

Posted in mutiara hikmah

Membangkitkan Kembali “RUH” Islam

with 2 comments

Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahaya-Nya, walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukai…

(Q.S At Taubah [9]: 32)

Apakah yang menyebabkan umat Islam tidak bisa bangkit kembali sebagai ‘penguasa bumi’ sampai abad ini? Mengapa, umat Islam yang didesain Allah sebagai khairu ummah, umat terbaik, tidak lagi memberikan contoh keteladanannya. Mari kita mencoba untuk bercermin ke segala penjuru untuk memahami ’wajah’ kita dewasa ini. Untuk apa? Untuk mencari tahu, kenapa wajah kita yang seharusnya memesona tidak lagi menarik seperti yang seharusnya. Dan jika kita menemukan banyak noda di wajah, janganlah cermin itu yang kita pecah. Marilah bersama-sama kita obati diri dan wajah ini. Daripada menyalahkan sejarah dan umat diluar Islam sebagai penanggung jawab kemunduran, akan lebih baik kalau kita berintrospeksi melihat kesalahan sendiri. Allah menyukai orang-orang yang rendah hati dan membenci orang yang sombong. Introspeksi akan lebih bermanfaat buat umat Islam untuk bangkit kembali, daripada sibuk menyalahkan umat lain, dan lupa bahwa kualitas kita sendirilah yang menjadi penyebab kemunduran Islam

Kondisi dunia Internasional di era modern menjadi sangat berbeda di abad-abad sebelumnya. Masihkah umat Islam bisa membangun kekhalifahan kembali seperti dulu? Pertanyaan ini terus bergema di jantung umat Islam seluruh dunia. Apalagi ketika melihat umat ini teraniaya di berbagai belahan bumi. Dari tragedi perang yang masih berkelanjutan di Afganistan hingga kekejaman Israel di Gaza Palestina, yang telah merenggut nyawa 1.300 warganya sebagai syuhada.

Di Indonesia, pertengkaran umat Islam terjadi terus menerus antar berbagai kelompok dan golongan yang mengklaim dirinya paling benar. Sehingga salah satu pihak merasa dirinya paling berhak untuk mengadili dan memusnahkan saudaranya yang lain, tanpa proses hukum. Bagaimana mungkin kita menegakkan khilafah dalam suasana yang demikian egoistik dan emosional seperti ini.

Kehidupan harmonis hanya akan kita temukan, jika masing-masing manusia menjalankan peranannya dengan sebaik-baiknya. Tak ubahnya seperti sejumlah organ-organ tubuh manusia, kerjanya hanya saling berkoordinasi belaka, tidak memerintah ataupun menguasai. Sistem kinerja limpa, liver, ginjal hingga jantung pun bukan atas perintah otak sadar. Semua bekerja atas kodrat yang dikoordinasi otak. Masing-masing berjalan menjalankan peranannya. Sedangkan sel yang kerjanya menindas atau membunuh sel lainnya, itu namanya sel kanker. Ada yang berperan sebagai parasit, yang menyerap sari-sari makanan dari organisme yang hidup. Itulah kapitalis. Dalam ilmu Biologi dinamakan simbiosis parasitisme.

Dalam kehidupan masyarakat hingga bernegara pun demikian. Orang-orang yang kerjanya hanya menindas, merugikan, menguasai dan membunuh orang atau kelompok lain yang menjalankan fungsinya dengan benar; mereka itulah sel-sel kanker di dalam kehidupan. Lihat saja fenomena sekarang ini. Dari terkurasnya sumber daya alam di Indonesia oleh sejumlah perusahaan asing sampai konflik Palestina, yang dibombardir Israel dengan dalih balas dendam terhadap pejuang Hamas palestina yang telah meluncurkan beberapa roket di negerinya.

Di sisi lain, hingga kini, pesona kekuasaan politik masih menjadi daya tarik yang luar biasa besar untuk memicu terjadinya pertengkaran dan pertumpahan darah di kalangan umat Islam. Semua itu masih terus terjadi sampai kini. Baik di Timur Tengah, maupun di Indonesia. Betapa kita telah melihat terjadinya perebutan kekuasaan politik di berbagai negara-negara Islam, seperti Iran, Irak, Mesir, Kuwait, Pakistan, Afganistan, Aljazair dan sebagainya. Baik yang bersifat internal maupun antar negara, sehingga mengorbankan jutaan umat Islam. Kejayaan Islam bukan tergantung kepada para khalifah yang mementingkan diri sendiri. Bukan pula tergantung pada kekuatan militer dan politik. Sungguh, kekuatan militer boleh jadi akan memenangkan peperangan. Tetapi, mereka tak akan pernah mengalahkan hati nurani orang-orang yang memilki martabat dan kehormatan diri. Demikian pula dalam politik, penulis sependapat dengan kesatuan the religious dan the political, tapi bukan dalam bentuk Islamic State. Bukan penerapan syariatnya secara formal, akan tetapi – yang lebih penting – adalah aktualisasinya. Keterlibatan Islam dalam politik harus ditujukan untuk menegakkan keadilan, menentang tirani, membela kaum lemah, memajukan perdamaian dan kesejahteraan umat manusia seluruhnya. Islam bukanlah sebatas simbol dan atribut Islam itu sendiri, melainkan menerapkan perilaku dan akhlak yang Islami. Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah.. (Q.S Ali Imran [3]: 110).

Perlu kita ketahui, sejak akhir masa pemerintahan khulafaurrasyidun, umat Islam sudah mulai terpecah yang disebabkan oleh perebutan kekuasaan. Meskipun beberapa sejarawan mengaitkan dengan munculnya pihak ’ketiga’, yang mengompori situasi ini. Sedangkan selebihnya, para khalifah di zaman bani Umayyah maupun Abassiyah justru mempertontonkan perebutan kekuasaan politiknya. Pada masa itu, para khalifah dipilih bukan dilihat dari kapasitas kemampuannya, melainkan berdasarkan keluarga dan keturunannya (monarki). Akibatnya, terjadilah pro-kontra politik dimana-mana yang mengakibatkan jutaan umat Islam menjadi korban perang saudara. Hingga cucu Rasulullah saw, Husein bin Ali, menjadi korban pembantaian oleh pasukan Daulah Bani Umayyah, di Karbala. Dengan sangat sadis, Husein dipenggal kepalanya dan dipersembahkan kepada Yazid bin Muawiyah, khalifah Daulah Umayyah yang kedua.

Kita harus jernih melihat persoalan semacam ini. Benarkah kita telah mencapai keteladanan selama masa kekhalifahan? Jika iya, kapankah itu terjadi? Pada zaman siapa? Dalam bentuk apa? Dan, apakah kekhalifahan yang selama ini yang kita banggakan dan kita harapkan terbentuk kembali itu, merupakan sebuah kesuksesan puncak umat Islam? Maka, jawabannya harus kita telaah dan klarifikasi kembali secara kritis. Sebab dari catatan sejarah, banyak di antara para khalifah yang justru tidak menunjukkan kehidupan yang islami. Adanya hanya perebutan kekuasaan, dan peperangan sesama saudara. Hal ini karena mereka meninggalkan sistem ”demokrasi” yang telah diterapkan oleh Rasulullah. Padahal Rasulullah SAW sangatlah demokratis dan sangat menghargai pendapat para sahabatnya. Beliau lebih menyukai cara diplomasi dan musyawarah daripada perang. Bukan mengirim pasukan ke negeri tetangga. Kendati demikian, tentu saja kita tidak melupakan sejumlah khalifah yang berhasil membawa umat Islam pada kemuliaannya. Diantaranya adalah Umar bin Abdul Azis dari Bani Umayyah dan Harun al Rasyid dari Bani Abassiyah. Tapi, kalau kita kritisi kembali rasa-rasanya kehidupan teladan itu terjadi secara ideal hanya pada zaman Rasulullah SAW. Dan kemudian yang dilanjutkan oleh khulafaurrasyiddin, dengan beberapa kelebihan dan kelemahannya.

Kini, Islam sedang dikerdilkan. Oleh siapa? Oleh orang-orang di luar Islam dan oleh orang-orang Islam sendiri. Oleh mereka yang tidak suka kepada Islam, sekaligus oleh pemeluknya sendiri yang tidak paham bahwa Islam adalah agama yang besar dan sempurna. Jika kebesaran agama ini dikerdilkan oleh mereka yang tidak suka kepada Islam, memang begitulah sejak dulu. Tidak ada hal yang baru. Yang justru memprihatinkan adalah jika umat Islam sendirilah yang mengerdilkan kebesaran agamanya. Akhirnya, umat Islam menjadi bulan-bulanan di dunia. Celakanya, di melenium ketiga ini cap teroris disandang oleh umat Islam.

Rasulullah SAW pernah memberikan wasiat kepada umatnya, balighu ’anni walau ayat – ”sampaikanlah dariku walau sepotong ayat.” Umat Islam saat ini sudah mencapai 1.3 milyar jiwa lebih. Jika setiap orang menyampaikan satu ayat, maka sudah ada 1.3 milyar ayat yang tersampaikan dalam syiar kebesaran Islam. Apalagi yang dimaksud dengan menyampaikan itu, bukan hanya omongan belaka, melainkan sebuah keteladanan. Berarti sudah ada 1.3 milyar keteladanan yang mestinya telah kita lakukan. Apalagi, Rasulullah SAW juga memerintahkan untuk melakukan amar ma’ruf nahyi munkar. Mestinya, sudah ada 1.3 milyar perbuatan yang mengajak pada kebaikan dan mencegah kemungkaran. Bahkan, beliau juga mengatakan agar kita menuntut ilmu setinggi-tingginya. Jika ini dilakukan oleh 1.3 milyar orang, betapa dahsyatnya. Tapi, kenapa belum terjadi juga? Sungguh, tak ada jawaban kecuali jika kita bertanya pada diri kita sendiri dengan pikiran terbuka. Dengan demikian, kita akan kembali menemukan kembali ruh Islam yang sebenarnya dalam diri kita, yang pernah hidup pada masa lalu, sehingga Islam mampu menjadi penguasa dan mampu memberikan sumbangan pada peradaban.

Wallahu’alam.

Hari Nugroho

Mahasiswa Arsitektur FTSP UII Yogyakarta

Written by alrasikh

January 23, 2009 at 3:00 am

Posted in lembar jumat

Mutiara Hikmah

without comments

Orang yang paling aku sukai adalah dia yang menunjukkan kesalahanku.

(Khalifah Umar r.a)

Written by alrasikh

January 23, 2009 at 2:59 am

Posted in mutiara hikmah