Archive for February 2009
JANGAN TAKUT PADA KESULITAN DAN KESUSAHAN
Karena Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan,
Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.
(QS. Al-Insyirah [94]: 5-6)
Tidak ada perjalanan yang lurus dan mulus. Semua memiliki hambatan, rintangan, dan tantangan yang berbeda. Di samudera yang luas membentang, ombak dan badai siap menghempaskan dan menenggelamkan. Di daratan, kerikil-kerikil tajam, jalan berlumpur dan berlubang, hingga tebing dan jurang yang curam tersedia untuk menghambat perjalanan. Hingga nan jauh tinggi di udara, awan hitam nan tebal, kabut, hujan dan petir juga dapat menghentikan perjalanan panjang kita.
Namun demikian, perjalanan tak boleh berhenti dan harus terus dilanjutkan, karena ini bukanlah akhir dari perjalanan. Beginilah kehidupan, kita terus berpacu melawan dan mengalahkan setiap rintangan yang datang menghadang. Tak ada kata berhenti, sebab berhenti sama maknanya dengan menunggu dan menjemput kehancuran. Berhenti sama dengan mati.
Kisah Syekh Az-Zamakhsyari dan Semut
Syekh Az-Zamakhsyari adalah seorang ulama yang ahli dari banyak cabang ilmu pengetahuan agama dalam sejarah Islam. Namun beliau lebih terkenal sebagai ulama ahli gramatika bahasa arab (nahwu). Bagi Syeikh Az-Zamakhsyari, menjadi seorang yang menguasai ilmu bahasa merupakan prestasi dan keberhasilan yang luar biasa. Betapa tidak, sejak usia dini telah mempelajari ilmu nahwu, tetapi hingga dewasa beliau tak kunjung paham dengan ilmu yang dipelajarinya.
Bayangkan selama bertahun-tahun belajar, untuk membedakan antara subyek (fa’il) dan obyek (maf’ul bih) saja tidak bisa. Sementara teman-temannya telah mampu mengajar untuk adik-adik kelasnya. Kenyataan ini nyaris membuat az-Zamakhsyari putus asa. Ia merasa amat malu dengan usianya yang semakin tua tetapi tidak tahu apa-apa, apalagi dia harus duduk dan belajar dengan anak-anak yang jauh di bawah usianya.
Akhirnya, beliau memutuskan untuk pergi meninggalkan tempat belajarnya. Ketika beliau telah berjalan cukup jauh, beliau singgah di sebuah gubuk kosong. Ketika sedang beristirahat, beliau melihat seekor semut merah kecil, yang menggigit dan menarik sisa buah kurma yang ukurannya sepuluh kali lipat lebih besar dari ukuran tubuhnya untuk dimasukkan ke sebuah lubang di tanah. Berkali-kali ia melakukannya, namun selalu gagal, sisa kurma itu selalu jatuh ke tanah. Az-Zamakhsyari terpaku dan merasa kagum dengan kelakuan semut yang memiliki keuletan yang luar biasa mengagumkan itu.
Setelah berkali-kali gagal, akhirnya semut itu berhasil juga membawa sisa kurma tersebut masuk ke dalam lubang. Saat itulah terbetik pikiran dalam benak az-Zamakhsyari, ”Seandainya aku melakukan seperti yang semut itu lakukan, niscaya aku akan berhasil.” Setelah mengucapkannya, lalu ia memutuskan kembali belajar dan membatalkan niatnya untuk berhenti. Hasilnya az-Zamakhsyari benar-benar berhasil meraih impian dan cita-citanya. Mimpi dan cita-cita, yang di dalamnya terukir tekad, semangat dan etos kerja. Karakter tersebut memang akan membuat orang tak mau menyerah. Bahkan seekor semutpun menghayati semangat ini, apalagi kita manusia.
Hamparan Bumi Masih Sangat Luas
Terkadang terpaan dan guncangan hidup membuat dunia seakan teramat sangat sempit. Langkah kaki begitu terbatas. Dalam pandangan kita, hanya ada satu pintu, di dalam ruang pengap tanpa cahaya. Dalam masa seperti inilah hanya dengan keimanan kita dapat mencari pintu-pintu lain untuk keluar dari kegelapan. Karena sejatinya dalam setiap masalah tentu terdapat banyak pintu untuk keluar. Karena kesulitan dan kemudahan selalu berjalan berdampingan.
Berhenti dalam sebuah kesusahan adalah jalan menuju kehancuran. Kita ddiciptakan bukan untuk menjadi manusia yang gagal. Karena itu kita harus terus melangkahkan kaki, menapaki setiap celah yang ada. Seperti air yang terus mengalir, mencari celah yang dapat dilewati, lalu diam menggenangi serta mengumpulkan kekuatan untuk merobohkan beton yang menghadang.
Bumi ini masih terlalu luas untuk menampung gerak kita, bumi masih terlalu luas untuk menampung beragam upaya dan cita-cita kita. Bagaimanapun, masih banyak yang bisa kita miliki. Dan teramat sedikit yang telah hilang dari diri kita. Jika di sisi bumi ini kita terjatuh, masih ada sisi bumi lain yang menyuguhkan banyak harapan. Lalu kenapa harus merasa sempit atas semua keluasan ini?
Melihat Ujian Dengan Iman
Apalah arti sebuah kehidupan tanpa adanya sebuah ujian. Ujian merupakan sebuah jalan menuju hidup yang lebih baik. Dengan adanya ujian seseorang akan ditempa menjadi sosok makhluk yang lebih tangguh dan kuat. Ujian menjadi ajang latihan dan tempaan dari segi fisik maupun mental.
Tiada seorangpun yang tiada pernah merasakan ujian. Seorang mahasiswa dalam menjalani masa studi tentu akan dihadapkan dengan berbagai macam ujian sampai ia memperoleh gelar yang ingin dicapainya. Petani diuji dengan adanya berbagai macam hama, kekurangan pasokan air, hingga harga hasil panen yang jauh dibawah standar. Demikian pula jika seseorang telah menyatakan beriman, maka untuk membuktikan keimanannya ujian akan terus menyertainya. Seperti dalam Firman Allah, yang artinya: Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami Telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?” (Q.S. Al-Ankabut [29]: 2).
Jika kita memandang sebuah masalah adalah sebuah ujian dari Allah, maka yakinlah bahwa setiap kesulitan pasti ada jalan keluarnya. Kita akan merasakan manisnya ketika kita mampu mencapai level yang lebih baik. Semakin tinggi pohon, maka semakin besar pula angin yang akan menerpanya.
Bagaimana jadinya ketika Rsaulullah dan para sahabat terdahulu memilih berhenti ketika segala makian, siksaan, embargo ekonomi, pengusiran, hinaan hingga pembunuhan dari orang kafir? Mungkin kita tidak akan pernah mengenal Islam. Tapi dengan Iman yang kokoh, beliau dan segenap sahabat tetap bertahan dan yakin bahwa ujian itu adalah awal dari kehidupan yang lebih baik.
Bersyukur (Sabar, Ikhtiar dan Tawakkal)
Pada hakikatnya, guncangan dan ketenangan, kesusahan dan kemudahan, kegagalan dan kesuksesan, semua adalah nikmat yang patut kita syukuri. Karena di sanalah sebenarnya tersimpan banyak hikmah. Lewat dua keadaan yang berlawanan tersebut, akan ada keseimbangan dalam hidup kita. Keadaan tersebut tentu akan memberikan kesempatan kepada kita untuk lebih mengingat dan mendekatkan diri pada Allah, asalkan kita tidak memutuskan untuk berhenti. Itulah makna sabda Rasulullah SAW, ”Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin, semua urusan adalah kebaikan baginya, dan hal ini tidak diberikan kepada seorangpun kecuali orang mukmin. Jika mendapat kesenangan ia bersyukur dan itu adalah baik baginya, dan jika ditimpa bencana maka ia selalu bersabar dan itu adalah baik baginya.” (Shahih Muslim: 5318).
Kesenangan, kebahagiaan dan kenikmatan mengajarkan kita bagaimana bersyukur dan bergiat dalam beramal dan berbagi sehingga Allah pun menambahkan nikmat-Nya lebih banyak lagi. Sedangkan ujian, cobaan dan kesusahan akan menciptakan kehati-hatian dan memberikan peringatan dini agar tidak larut dalam kemaksiatan.
Saat kita sadar bahwa kita masih memiliki iman di dada kita, tentu kita akan senantiasa ingat kepada Allah Yang Maha Kuasa. Semua yang kita alami terjadi atas izin dan kehendak dari-Nya. Dialah yang senantiasa memberikan yang terbaik bagi makhluk-Nya. Karena semua mengandung hikmah dari yang Maha Mulia. Jadi, kenapa harus takut menatap hari-hari kita?
Jangan Pernah Takut
Banyak orang besar yang mengawali masa perjuangannya dari berbagai macam kesulitan yang dihadapi. Mereka yang mampu mengambil pelajaran dan hikmah dari setiap kesulitan dan ujian yang dihadapi. Sehingga mereka mampu mengaplikasikannya untuk berusaha lebih baik lagi.
Sebaliknya jika saat menghadapi kesulitan yang ada hanya kata menyerah dan putus asa, maka bisa dipastikan ia telah kehilangan kesempatan untuk menjadi orang yang lebih baik. Contoh yang paling nyata dan paling mengesankan tentu adalah sejarah hidup manusia terbaik; Nabi Muhammad SAW dan juga generasi terbaik; generasi sahabat.
Masih banyak lagi contoh-contoh yang lain. Mereka justru mampu menjadikan setiap ujian menjadi batu pijakan untuk melangkah ke arah yang lebih baik. Jika kita memiliki keyakinan bahwa semua hadir dari Allah dan sekali-kali Allah tidak akan memberikan sesuatu di luar batas kemampuan seorang hamba, maka dipastikan tidak akan ada kata menyerah bagi kita. Menyerah hanya bagi orang-orang yang kalah.
Seorang yang menanam subur iman di dalam jiwanya sudah selayaknya menjadi manusia yang bahagia. Allah tidak akan meninggalkan hambanya yang masih memiliki iman untuk terpuruk dalam kesusahan. Dan yang perlu kita ingat adalah, bagaimanapun keadaan kita, senang maupun susah, ujian akan tetap ada.
Bisa jadi dalam kesuksesan yang telah kita raih, kelapangan rezeki yang ada di tangan kita, dan juga berbagai macam kebahagiaan yang kita rasakan adalah ujian dari Allah. Apakah kita masih bisa bersyukur atau malah kita menjadi lalai dan kufur. Dan juga saat kita ditimpa kesusahan, kegagalan di setiap usaha yang kita lakukan adalah ujian dari Allah, apakah kita mampu menjaga iman kita dan juga untuk senantiasa mengingatkan kita kepada Allah SWT.
Bukankah kita tidak akan pernah merasakan nikmatnya kebahagiaan tanpa pernah merasakan kesusahan? Bukankah kita tidak akan pernah merasakan indahnya kesuksesan tanpa pernah merasakan kegagalan. Wahai saudaraku seiman, ingatlah, sesungguhnya sesudah kesulitan itu, pasti ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.
Sungguh Allah Maha Adil dan Maha Bijaksana.
Mohammad Qaaf
Takmir Masjid Ulil Albab
dan Mahasiswa Hukum Islam’07
Mutiara Hikmah
Barang siapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.
(QS. Ath-Thalaaq [65]: 2-3)
MENCAPAI KESUKSESAN SEJATI
Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, kelak Allah yang Maha Pemurah akan menanamkan dalam (hati) mereka rasa kasih sayang.
(Q.S. Maryam [19]: 96)
Allah SWT melimpahkan rahmat dan nikmat kepada hamba-Nya ketika hati mereka menghadap kepada-Nya. Maka sebelum memberikan nikmat-Nya, terlebih dahulu Allah SWT akan menjadikan hati manusia tertuju kepada-Nya. Allah menjadikan manusia menjadi makhluk yang berbudi dan mempunyai rasa dan naluri untuk hidup dan berbahagia dengan lingkungan sekitarya. Sehingga, sebuah kesuksesan dalam bersosial yakni dapat diterima oleh semua kalangan di mana pun dia menginjakkan kaki adalah sebuah kesuksesan yang sebenarnya.
Sungguh bahagia dan menyenangkannya ketika seseorang menjadi tumpuan keridhaan dan keikhlasan hati sesamanya. Ketika dekat, ia menjadi tumpuan untuk melimpahkan rasa cinta dan dukunggan dengan sepenuh hati, ketika jauh, ia menjadi tempat orang untuk selalu merindukan dan menunggu kedatangannya. Kondisi etrcipta saat hati seseorang ikhlas dengan segala tindakan dan tingkah lakunya untuk mencapai keridhaan Allah Swt. Dengan demikian seseorang akan menumpahkan segala harapan dan cita-citanya kepada Allah SWT semata dengan tanpa mengharap pujian dan imbalan atas perbuatannya kepada orang lain.
Hidup dan kehidupan dapat menjadi sarana untuk mengingatkan kembali manusia akan kedamaian, ketenangan, dan kebahagian melalui apa yang dia upayakan dan yang dia cari sepanjang masa. Setiap tumpuan dan harapan akan dikembalikan dan disandarkan kepada Sang Khaliq Penguasa Tunggal dan Pengatur alam semesta yang Maha Sempurna. Dengan demikian seorang manusia akan selalu berusaha untuk mencapai kesucian hati dan jiwa untuk selalu mendekatkan dirinya kepada yang Maha Suci lagi Sempurna.
Segala tindakan merupakan sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah serta sarana untuk terus menjauhi segala larangan dan mentaati perintah-Nya. Dengan demikian ia akan mudah untuk bertaubat dan memohon ampun atas kesalahan dan kedzaliman yang telah dilakukan. Allah dalam surat al-Imran [3] ayat 135 berfirman sebagai berikut:
Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah?. Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.” (Q.S. Ali Imran [3]: 135).
Karakter Orang Sukses
Kesuksesan adalah obsesi setiap insan di dunia ini. Dengan berbagai macam usaha dan upaya, orang akan senantiasa berusaha untuk mencapai kesuksesan tersebut. Paa akhirnya, tingkat kesuksesan satu sama lain berbeda-beda dan mempunyai perjalanan yang berbeda pula dalam mencapai kesuksesannya. Begitu juga dalam kehidupan sosial, seseorang dapat diterima oleh semua kalangan dengan berbagai jalan dan proses yang tidak sebentar dan mudah. Semua berawal dari keadaan pribadi seseorang, apakah mentalnya siap untuk bergaul dengan orang banyak dengan segala resiko dan keadaan yang ada?
Orang yang sukses baik dalam kehidupan sosial maupun pribadinya adalah orang yang mempunyai kesucian hati dan budi pekerti yang luhur. Beberapa ciri orang yang berkarakter sukses dalam kehidupan pribadi dan sosialnya di antaranya adalah sebagai berikut:
Pertama, muroqobah, yaitu suatu kondisi psikis yang selalu merasa diawasi dan dilihat oleh Allah. Orang yang memiliki kondisi ini mempunyai jiwa ihsan sehingga hidupnya menjadi hati-hati dan selalu mawas diri, cepat menyadari kesalahan dan kemudian segera mohon ampun atas dosa-dosa dan memperbaiki dirinya. Apabila seseorang dalam menjalani kehidupan ini selalu merasa bahwa Allah melihatnya, maka setiap perbuatannya akan selalu berada dijalan-Nya. Ia juga secara otomatis akan cepat melihat kesalahan dirinya apabila melakukan kedzaliman dan kembali kepada jalan yang Allah ridhai. Begitu juga dalam kehidupan sosialnya, dia akan selalu menjaga dirinya untuk tidak menyakiti dan mendzalimi sesamanya. Adapun kalau tanpa sengaja telah menyakiti sesamanya, dia akan segera meminta maaf akan kesalahannya.
Kedua, mudah tersentuh hatinya oleh nasihat, bersikap terbuka, rendah hati, ridha menerima kritik dan saran. Rendah hati adalah media untuk dapat mengetahui banyak informasi – mendapatkan banyak pengetahuan (ilmu) yang akan melahirkan sikap obyektif – arif dan bijaksana. Orang yang memiliki kerendah hatian akan mempunyai rasa syukur. Ia juga akan menggunakan pendengaran dan penglihatannya di jalan kebenaran. Rendah hati bukan berarti minder, karena sikap minder itu akan menimbulkan kejanggalan-kejanggalan dalam pergaulan sosial, serta menimbulkan ketidaknyamanan. Rendah hati adalah sikap untuk tidak menonjolkan kemampuan atau kelebihan diri dan merendahkan yang lain.
Ketiga, rindu kepada Allah. Kondisi ini ter-ekspresi-kan dalam bentuk komunikasi dengan Allah melalui ibadah shalat, zakat, puasa, dan segala amal yang diniatkan untuk ibadah. Seluruh dimensi kehidupannya ditujukan hanya untuk berzikir kepada Allah, sebagai ekspresi cinta kepada Allah. Rasa ini juga diringi dengan cinta kasih kepada semua makhluk sebagai wujud cinta dan syukurnya kepada Allah atas semtua anugerah yang telah diberikan kepadanya.
Keempat, mempunyai jiwa sosial yang tinggi. Selain mampu berhubungan harmonis secara vertikal dengan Allah, orang yang suci jiwanya juga mampu menjalin hubungan harmonis secara horizontal, dalam arti meng-internalisasikan sifat-sifat Allah Yang Maha Rahman, Maha Rahim, Maha Adil ke dalam dirinya lalu mewujudkannya dalam berinteraksi, baik terhadap diri sendiri, orang lain maupun kehidupan di sekelilingnya. Jiwa sosial yang tinggi akan melahirkan sikap lembut, hatinya hidup, penuh dengan keimanan, merasakan kehidupan yang beruntung karena mendapatkan keamanan dan ketenteraman.
Kelima, mampu mengatur/ mengendalikan emosi secara proporsional. Apabila marah, maka dianjurkan untuk beristighfar kemudian berwudlu dan shalat. Shalat bisa menjadi media untuk meredam amarah/emosi, karena shalat adalah ibadah yang melibatkan seluruh dimensi psiko-fisik, emosi-kognisi, serta jiwa-raga, sehingga dengan shalat yang benar seseorang akan mampu mengontrol dan mengendalikan dirinya.
Keenam, memiliki jiwa pemaaf. Sifat mulia ini akan memberikan ketenteraman bagi orang yang memilikinya dan orang yang berada di sekitarnya. Dia akan begitu mudah memberikan maaf bila ada orang yang dengan sengaja atau tidak sengaja telah berbuat kesalahan kepadanya.
Ketujuh, dermawan dan peka terhadap lingkungan. Kedermawanan merupakan salah satu karakter utama yang senantiasa perlu dimiliki, ditumbuhkan, dan dikembangkan oleh setiap pribadi Muslim yang mengharapkan kesuksesan dalam hidup dan kehidupannya. Kedermawanan akan mengundang cinta dan kasih sayang dari Allah SWT dan dari sesama manusia. Sebaliknya, kebakhilan dan hanya mementingkan diri sendiri akan mengundang kemurkaan dari Allah dan, tentu saja, dari sesama manusia. Kedermawan yang dimaksud bukan hanya yang bersifat materi belaka, melainkan juga kesediaan untuk berbagi informasi, pengalaman, pengetahuan dan ilmu yang dimiliki.
Kedelapan, optimis, komunikatif dan tidak membeda-bedakan dalam pergaulan. Dalam kehidupan sehari-hari, orang yang suci jiwanya akan selalu menampilkan yang terbaik untuk diberikan kepada sesamanya. Komunikasi adalah media untuk mengekspresikannya. Maka, jika ia memiliki kemampuan komunikasi yang baik, ia akan mampu menyenangkan orang lain. Ia juga tidak pernah membandingkan antara orang yang satu dengan yang lainnya. Sebaliknya, ia berpandangan bahwa semua orang adalah sama dan harus diperlakukan dengan baik tanpa melihat latar belakangnya. Kemudian, dengan dengan sikap optimis yang dimilikinya, ia bisa memberikan semangat dan inspirasi bagi orang lain untuk selalu berbuat yang lebih baik.
Kesuksesan seseorang, sangat ditentukan oleh kecerdasan yang seimbang antara keserdasan spiritual, sosial, emosional, dan kognisi. Seseorang akan sulit untuk mencapai sukses yang sebenarnya bila dia tidak memiliki keseimbangan tersebut. Ciri-ciri karakter orang sukses yang telah kita bahas di atas adalah ciri dan karakter orang yang memiliki kecerdasan seimbang. Sehingga pada akhirnya, ia bukan hanya sukses secara pribadi, namun keberadaan dirinya juga mampu membuat orang-orang di sekitarnya juga sukses. Atau minimal, bisa menikmati kesuksesan yang ia raih.
Wallahu `alam.
Nasrudin
Mahasiswa Santri Pon-Pes UII
Dari Prodi Ekonomi Islam FIAI 2006
Mutiara Hikmah
Dari Ibnu Umar r.a bahawasanya Rasulullah saw bersabda :
“Orang islam itu bersaudara dengan sesama orang Islam, ia tidak boleh menganiayanya dan tidak boleh mengganggunya. Barang siapa memenuhi kebutuhan saudaranya niscaya Allah akan memenuhi kebutuhannya, barang siapa yang melepaskan satu kesulitan kepada sesama muslim niscaya Allah akan melepaskannya satu kesulitan dari beberapa kesulitan nanti pada hari kiamat, dan barang siapa yang menutupi rahasia sesama muslim niscaya Allah akan menutupi rahasianya nanti pada hari kiamat”.
(H.R. Bukhari dan Muslim)