Archive for March 2009
RAHASIA DIBALIK HATI
Dan barang siapa yang buta (hatinya) di dunia ini, niscaya di akhirat (nanti) ia akan lebih buta (pula) dan lebih tersesat dari jalan (yang benar).
(Q.S. Al-Israa [17]: 72)
Suatu hari Carl Gustav Jung (1875-1961), seorang psikiater berkebangsaan Swiss, berkunjung ke Meksiko. Ia sempat berbincang-bincang dengan seorang kepala suku Indian Pueblo, Ochwiay Biano. Kata Ochwiay: “Orang kulit putih selalu menginginkan sesuatu; mereka selalu cemas dan gelisah. Kami tidak tahu apa yang mereka inginkan itu. Kami tidak memahami mereka. Kami rasa itu gila.” Jung kaget dan heran sebab orang kulit putih alias peradaban Barat semuanya dianggap gila. Dia baru menyadari bahwa orang kulit putih yang selama ini dirasakannya sebagai warna yang sentimental dan cantik, diserang titik rawannya oleh orang Indian. Orang Indian itu dianggap telah mengungkap kebenaran yang tidak diketahui oleh orang Barat. Jung bertanya pada Ochwiay: “Mengapa anda menganggap seluruh orang kulit putih itu gila?” “Karena mereka berpikir dengan kepalanya,” begitu jawabnya. “Tentu saja, lalu anda berpikir dengan apa?” Jung bertanya dengan keheranan. “Kami berpikir dengan ini,” katanya sambil menunjukkan ke arah dadanya.
Perhatikanlah apa yang disampaikan oleh orang Indian yang tidak mengenal Alqur’an itu. Mereka ternyata menggunakan dadanya untuk berpikir. Tentu saja, yang dimaksud adalah dengan hati. Otak hanyalah sebagaimana komputer, yang berfungsi sebagai input processor atau pengolah masukan, mengolah data mentah yang bersifat material, melakukan kalkulasi dan perhitungan. Sedangkan hati, menyediakan data yang bersifat kejiwaan atau psikologis, seperti perasaan kecewa, sedih, bahagia dan seterusnya. Di dalam Alqur’an Allah berfirman menyangkut hati: Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada (Q.S. Al Hajj [22]: 46).
Hati merupakan kunci untuk memahami. Karena itu, di dalam banyak ayat-Nya, Allah sering menyebut kata buta, tuli dan bisu. Yang dimaksud tentu saja buta hati, tuli hati, dan bisu hati, bukan kepala. Inilah yang ditunjuk oleh orang Indian tersebut. Menurut orang Indian tadi, orang barat berpikir dengan menggunakan kepalanya. Makanya, tidaklah mengherankan jika mereka melakukan eksploitasi dan perbudakan terhadap manusia dan bangsa lain hingga kini. Termasuk pemusnahan suku Indian yang pernah hidup di benua Amerika.
Rasulullah SAW bersabda, “Ingatlah dalam tubuh manusia itu ada segumpal daging. Kalau segumpal daging itu baik, maka akan baiklah seluruh tubuhnya. Akan tetapi jika rusak, niscaya akan rusak pula seluruh tubuhnya. Segumpal daging itu bernama hati.” (H.R. Bukhari dan Muslim).
Hadits ini, dapat dipahami secara lahiriah dan batiniah. Secara lahiriah, parameter hati ada pada jantung bukan liver. Jantung memiliki fungsi yang sentral dalam tubuh ini. Jika jantung rusak, maka matilah kita. Begitu juga jika jantung ruhani – hati atau jiwa – kita yang rusak, maka binasalah kehidupan ini. Hati merupakan tempat terjadinya resonansi. Secara sederhana resonansi adalah penularan getaran kepada benda lain. Contoh yang paling sederhana, lihatlah pada sebuah gitar akustik yang mempunyai tabung resonansi dimana lubangnya menghadap ke deretan senarnya. Jika senar tersebut dipetik dan digetarkan, maka udara di dalam ruang akan teresonansi dan ikut bergetar. Sehingga, gitar tersebut akan menghasilkan suara yang keras dan merdu. Berbeda bila lubang ditutup, maka resonansi tidak terjadi. Akibatnya, suara yang terdengar sangat pelan dan ceper.
Hal serupa juga terjadi pada hati kita. Ibarat tabung gitar tadi, hati kita akan melahirkan resonansi getaran yang berbeda-beda pada saat kita berpikir dan berbuat sesuatu. Semua bergantung pada kualitas getaran dari niat hatinya. Semakin hati kita tulus dan mendekati sifat keilahian, maka hatinya akan bergetar ke arah kualitas yang lebih tinggi. Getarannya cenderung lebih lembut dan halus.
Seorang yang pemarah atau temperamental cenderung memiliki emosi yang tak terkendali, yang kemudian akan mengeluarkan getaran kasar dari hawa nafsunya. Jantungnya akan berdetak-detak tidak karuan. Jika dilihat dengan menggunakan alat pengukur getaran jantung ECG (electric cardiograph), akan terlihat bahwa grafik yang dihasilkan sangatlah kasar dengan gejolak yang tidak teratur. Gejolak yang tak terkendali akan meresonansi dengan memengaruhi seluruh bioelektron di dalam tubuhnya sehingga menghasilkan panas tubuh dengan ciri-ciri fisik seperti telinga dan mata yang memerah, tubuh yang gemetar serta perkataan yang meledak-ledak tak terkendali. Panas tubuh tersebut merembet ke luar hingga dapat mempengaruhi hawa lingkungan sekitarnya. Makanya, hati kita pasti akan merasa tidak nyaman, ketika berdekatan dengan orang yang pemarah. Hawa ruangan pun akan menjadi panas dan membuat gelisah.
Berbeda jika kita berdekatan dengan orang yang ikhlas dan penuh kesabaran. Hati kita akan menjadi tentram dan damai. Mengapa bisa demikian? Sebab semakin lembut hati seseorang, semakin tinggi pula frekuensinya. Frekuensi 10 pangkat 8 akan menghasilkan gelombang radio. Dan, jika lebih tinggi lagi, frekuensi 10 pangkat 14, akan menghasilkan gelombang cahaya. Jadi semakin lembut hati seseorang akan menghasilkan ‘cahaya’ di dalam hatinya. Dan ketika cahaya ini semakin menguat, maka ia akan merembet keluar menggetarkan seluruh bioelektron di dalam tubuhnya. Hasilnya, tubuhnya akan mengeluarkan cahaya alias aura yang jernih. Kita lebih sering menyebutnya sebagai inner beauty. Dan, jika kelembutan itu semakin menguat, maka aura atau inner beauty itu akan merembet semakin jauh memengaruhi lingkungan bahkan benda-benda di sekelilingnya. Seorang ilmuwan jepang, Masaru Emoto dalam penelitiannya berhasil membuktikan bahwa air ternyata merespon setiap bentuk energi informasi yang bersumber dari hati, yaitu dengan menghasilkan bentuk kristal heksagonal yang bermacam-macam, bergantung pada baik buruk dari frekuensi pada kualitas informasinya.
Inilah yang kemudian disebut sebagai kekuatan jiwa. Ya, jiwa adalah sumber kekuatan seseorang. Orang yang jiwanya lemah, akan tampil sebagai sosok yang lemah dan mudah terpengaruh. Sedangkan orang yang berjiwa kuat akan tampil sebagai sosok yang kuat pula. Tentu saja, bukan sekedar dalam arti fisik, melainkan kekuatan pribadinya dalam menghadapi gelombang kehidupan ini. Anda dapat melihat betapa besarnya kekuatan yang ditebarkan oleh Bung Karno sebagai ahli pidato. Ia bisa memengaruhi ribuan orang dengan kata-katanya. Ribuan orang terpesona dan rela berpanas-panas, berdesak-desakan, berjuang dan berusaha mengikuti apa yang beliau pidatokan. Kita pun dapat melihat bagaimana kampanye pidato Obama yang menyedot perhatian jutaan orang pengagumnya di Amerika dan seluruh dunia.
Anda juga dapat merasakan, betapa hebatnya kekuatan yang digetarkan oleh Mozart dan Beethoven lewat karya-karya musiknya. Berpuluh tahun karya mereka dimainkan dan berhasil memesona banyak musikus dan penikmat musik di seluruh dunia. Atau, yang lebih dahsyat lagi, adalah kekuatan yang terpancar dari jiwa Rasulullah SAW. Kelembutan dan kesucian hati Beliau yang lalu terpancar dalam keteladanan yang beliau tampakkan telah mampu “menggetarkan” semua orang pada masanya. Bahkan, hingga kini, “getaran” tersebut mampu menggerakkan satu setengah miliar umat manusia di seluruh penjuru planet bumi ini untuk mengikutinya.
Begitulah, kekuatan jiwa kita berbeda antara satu dengan yang lain. Kekuatan jiwa ini bergantung pada kualitas hati masing-masing. Seseorang boleh jadi dapat melihat dengan menggunakan kedua matanya, mendengar dengan menggunakan kedua telinganya, dan meraba dengan kulitnya. Akan tetapi perlu kita ketahui, bahwa orang yang melihat belum tentu memahami apa yang ia lihat. Orang yang mendengar pun belum tentu memahami apa yang ia dengar. Begitu juga orang yang meraba, belum tentu memahami apa yang dia raba. Namun, kejadiannya bisa sebaliknya, bahwa sesorang bisa memahami persoalan tertentu tanpa dia harus melihat, mendengar atau merabanya secara fisik. Apakah yang bisa menjadikan Beethoven begitu piawai dalam menciptakan karya musiknya yang spektakuler? Padahal dia adalah seorang yang tuli, tidak mampu mendengar suara ataupun irama musik. Tentu saja, ia menggunakan jiwa dan hatinya di dalam menciptakan, dan merasakan seni keindahan musiknya.
Maka dari itu, dalam shalat pun yang kita aktifkan adalah hati, sedangkan panca indera kita tutup rapat-rapat. Bukan lagi dengan panca indera ini kita berkomunikasi dengan Tuhan, melainkan dengan hati. Bahwa dzikir itupun letaknya di hati, bukan di mulut. Mata berkedip itu dzikir, bila hatinya selalu ingat kepada Allah. Sebagaimana dengan ikhlas letaknya juga di hati, bukan di mulut. Cinta dan benci pun bersarang di dalam hati. Oleh sebab itu, di dalam kehidupan beragama, orang yang selalu bertindak dengan menggunakan hati jernihnya, tidak mudah untuk diadu domba oleh segelintir provokator. Tidak mudah bertindak anarkis di dalam menghadapi setiap masalah yang membelit kehidupannya. Hidupnya selalu dipenuhi oleh cinta, kasih sayang dan toleransi. Hatinya pun tergetar saat disebut nama Allah. Tergetar karena keagunganNya dan betapa kecil dirinya dihadapanNya. Mereka itulah orang-orang yang beriman. FirmanNya: (yaitu) orang-orang yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, orang-orang yang sabar terhadap apa yang menimpa mereka, orang-orang yang mendirikan sembahyang dan orang-orang yang menafkahkan sebagian dari apa yang telah Kami rezekikan kepada mereka. (Q.S Al Hajj[22]: 35).
Hati manusia bagaikan ruang kaca yang di dalamnya terdapat pelita. Manakala semprongnya atau dinding kacanya kotor, tentu saja semakin sulit baginya untuk menangkap petunjuk ilahi. Untuk itu, marilah senantiasa kita asah hati ini dengan melakukan serangkaian ibadah dan dzikir dalam segala aktifitas sebagai penyuci jiwa. Dengan begitu, ketika mata kepala ini tertutup, maka terbukalah mata hati, dan terbukalah hijab tirai-tirai ilahi yang membelenggu jiwa. Dan ketika itu, tak ada yang dilihatnya kecuali Allah sang Rabbul ‘alamin…
Walahu’alam.
Hari Nugroho
Mahasiswa Arsitektur UII, Yogyakarta
MUTIARA HIKMAH
“Jika kau haus dan minum air dari sebuah cangkir, kau lihat Allah di dalamnya. Mereka yang tidak mencintai Allah hanya akan melihat wajahnya sendiri di situ” (Jalaluddin Ar Rumi)
Saatnya Bangsa Indonesia Sadar Diri
Dan sesuatu riba (tambahan) yang kamu berikan agar dia bertambah pada harta manusia, maka riba itu tidak menambah pada sisi Allah. Dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk mencapai keridaan Allah, maka (yang berbuat demikian) itulah orang-orang yang melipat gandakan (pahalanya).
(Q.S. Al-Muzammil [73]: 8).
Ketika penulis sedang magang di salah satu Bank Syariah yang ada di Yogyakarta, salah satu tokoh perbankan Syariah yang aktif di Bank tersebut berbincang dengan penulis dalam perjalanan sepulang dari pembagian uang kebajikan bagi orang-orang yang kurang mampu atau yang lebih dikenal dengan istilah qordhul hasan dalam lembaga perbankan syariah. Beliau mengawali pembicaraan dengan mengatakan bahwa saat ini Indonesia bukan lagi terkena dampak krisis, tapi sudah benar-benar terjadi krisis. Pasalnya keadaan ekonomi saat ini benar-benar sudah tidak menentu dan ini apabila pemerintah tidak segera sadar, maka krisis yang ada saat ini nanti akan lebih parah dari krisis tahun 97-98. Kemudian beliau menambahkan dengan sebuah pertanyaan retoris, bahwa apakah kurang cukup pelajaran yang diberikan oleh krisis tahun 97-98. Krisis saat itu seharusnya menjadi pelajaran dan pengalaman bagi kita semua, tapi jika krisis saat ini masih belum juga membuat penentu kebijakan sadar, ini benar-benar “tidak tahu diri”. Hingga saat ini banyak para tokoh ekonomi yang dibuat geram olah tingkah para penguasa kita yang tidak segera menyadari keterpurukan sistem ekontomi yang dianut Negara ini. Bukan apa-apa, pasalnya sistem kapitalis telah berulang-kali menghatam negara-negara dunia dengan krisis yang menyengsarakan rakyat, tapi penguasa kita seolah-olah “tidak menyadari” hal itu. Demikian beliau mengungkapkan itu semua dengan berapi-api, seolah memendam kekecewaan yang begitu mendalam.
Kapitalisme yang Menyengsarakan
Kapitalisme yang saat ini masih menjadi panutan atau bahkan “kebanggaan” oleh para penguasa Negeri ini telah puluhan kali mengahantam Negara-negara dunia pengikut setianya dengan bermacam-macam krisis yang menyengsarakan terhitung sejak tahun 1860 hingga tahun 2006, dan belum lama ini dedengkot kapitalisme sendiri dihantam krisis yang banyak tokoh mengatakan ini merupakan krisis yang terbesar sepanjang sejarah perekonomian Amerika, setelah krisis parah tahun 30an yang dikenal dengan great depression. Beberapa waktu lalu di hari-hari pertama munculnya krisis ini, semua pasar modal di Amerika, Eropa, Asia dan beberapa emerging market countries di Amerika Selatan rontok. Kejatuhan pasar mencatatkan rekor yang fantastis. Dow Jones sebagai episentrum pasar modal dunia jatuh mencapai 800,06 poin, meskipun kemudian ditutup dengan kejatuhan akhir 350 poin. Namun angka indeks Dow Jones menunjukkan angka terburuknya dalam 4 tahun terakhir yaitu berada di bawah angka 10.000. Sementara itu di Eropa, pasar modal London mencatat rekor kejatuhan terburuk dalam sehari yang mencapai penurunan 8%. Sedangkan Jerman dan Prancis masing-masing ditampar dengan kejatuhan pasar modal sebesar 7% dan 9%. Pasar modal emerging market seperti Rusia, Argentina dan Brazil juga mengalami keterpurukan yang sangat buruk yaitu 15%, 11% dan 15%.
Rapuhnya sistem keuangan yang dianut mayoritas dunia saat ini nyata akan menghancurkan perekonomian raksasa seperti Amerika, tak peduli seberapa besar kekuatan perekonomian mereka. Sudah sedemikian parahnya pengaruh kapitalisme yang memporak-porandakan perekonomian dunia sehingga program bail out sebesar USD 700 miliar yang dicanangkan pemerintah Amerika yang baru pun tidak bermakna apapun dalam mengatasi kepanikan ekonomi saat ini. Program itu gagal memicu kepercayaan dan keberanian para pelaku pasar dalam usaha penyetabilan perekonomian yang terjadi saat ini. Pantaskah sistem yang seperti ini terus diikuti?
Lantas bagaimana dengan Indonesia? Indonesia pun tak luput dari hantaman badai krisis yang bersumber dari Amerika ini. Telah banyak perusahaan-perusahaan ekspor yang gagal mengekspor hasil produksinya karena pengimpornya bangkrut, sehingga perusahaan-perusahaan tersebut sedikit demi sedikit mengurangi kapasaitas produksinya yang diiringi dengan pemangkasan tenaga kerjanya. PHK di Indonesia kini kembali marak terjadi, yang tentu akan meningkatkan jumlah pengangguran dan kemiskinan. Meskipun ini masalah klasik dalam perekonomian, tapi ini perlu diperhatikan dengan serius karena ini berkaitan dengan kesejahteraan rakyat. Dengan keadaan yang seperti ini sudah semestinya bangsa Indonesia menyadari akan pentingnya sebuah gebrakan perubahan untuk mencapai perbaikan.
Indonesia Butuh Gebrakan Untuk Sebuah Perubahan
Gebrakan untuk sebuah perubahan adalah satu hal penting yang mesti ada untuk menjadi Negeri yang maju dan sukses dengan segala persaingan dan tekanan-tekanan perekonomian yang kian menyulitkan. Seperti halnya gebrakan yang dilakukan oleh pemerintahan presiden SBY dengan pemberantasan korupsinya dan pendirian lembaga penanggung jawabnya yaitu KPK, yang terjun lansung ke lapangan untuk menguak sepak terjang para koruptor. Tindakan yang sedemikian ini sebelumnya belum ada. Seperti telah diketahui, dengan keberadaan KPK saat ini, banyak kasus korupsi terkuak dan telah banyak uang Negara yang terselamatkan. Meskipun sampai saat ini masih banyak kasus yang belum terselesaikan dan para koruptor yang masih bisa bernafas lega di Negeri ini, keberadaan dan pencapain KPK adalah sebuah prestasi yang pantas dicontoh terutama dari segi semangat dan keberaniannya.
Terkait dengan perekonomian, salah satu gebrakan yang seharusnya dilakukan oleh pemerintah kita saat ini adalah merekonstruksi fundamen perekonomian. Sudah saatnya bagi Indonesia untuk melakukan perubahan sistem ekonomi dan keuangan. Indonesia saat ini butuh sistem ekonomi yang berbasis keadilan dan berpihak kepada rakyat. Sistem ekonomi yang berbasis syariah adalah opsi yang paling bagus dan menjanjikan untuk memperkuat bangunan ekonomi. Dengan bagitu, pemerintah akan mampu meningkatkan kesejahteraan rakyat. Rakyat adalah aset Negara yang harus selalu dipelihara kemakmuran dan kesejahteraannya, karena rakyat pulalah Indonesia ini ada. Tahun 2009 adalah saat yang tepat bagi Indonesia untuk sadar diri dan memulai sebuah gebrakan dan perubahan untuk mencapai kemajuan.
Selain gebrakan perubahan fundamen ekonomi, tentu saja pemerintah harus melakukan gebrakan pendukung yang tepat. Beberapa hal strategis yang mesti dilakuakan pemerintah adalah: pertama, peningkatan akses dan mutu pendidikan. Dengan jumlah penduduk lebih dari 200 juta jiwa, Indonesia adalah negara yang kaya akan potensi SDM, tapi sayang sumber daya yang begitu melimpah kurang diberdayakan akibat akses pendidikan yang rendah. Dengan peningkatan mutu pendidikan diharapkan SDM bangsa akan meningkat dan selanjutnya akan dapat meningkatkan taraf ekonomi dengan kreatifitas yang dimiliki. Kedua, optimalisasi pemberdayaan sumber daya alam (SDA). Negara Indonesia sampai saat ini masih dikenal sebagai agraris yang kaya akan sumber alam, tetapi tetap menjadi pengimpor beras nomer satu di dunia. Sungguh sangat ironis, negeri yang alamnya subur dan mempunyai perairan laut yang luas tapi untuk mencukupi kebutuhan pangan rakyatnya masih mengimpor. Untuk memenuhi kebutuhan bahan pangan nasional, Indonesia sampai saat ini masih mengimpor dengan jumlah besar. Lihat saja data berikut, garam 50% dari kebutuhan, kedelai 70%, susu 70% dan bawang putih 90%.
Dengan mengoptimalkan pemberdayaan sumber alam yang ada, diharapkan akan tingkat kesejahteraan rakyat akan meningkat dan tentu akan memicu pertumbuhan ekonomi Indonesia. Ketiga, nasionalisasi aset-aset strategis Indonesia. Proklamasi kemerdekaan telah dikumandangkan selama 63 tahun di negeri yang subur makmur ini, tetapi sampai saat ini penjajah versi baru masih menjajah dengan mengeksploitasi sumber daya alam dan manusia yang ada dengan menumpang globalisasi. Perusahaan Freeport Indonesia dan perusahaan-perusahaan lain dari luar yang mengeruk kekayaan alam Negeri ini dengan memperkerjakan SDM Indonesia dengan upah minimum. Negeri ini akan lebih sulit untuk maju bila yang mengendalikan aset dan kekayaannya adalah penjajah bukan bangsanya sendiri.
Gebrakan-gebrakan di atas, jika dilakukan dengan penuh kesadaran dan strategi yang tepat, tentu saja dengan syarat adanya keberanian mengambil keputusan oleh pemimpin negeri ini, akan mengantarkan negeri ini pada kemakmuran dan kesejahteraan.
Wallahu a’lam.
Nasrodin
Mahasiswa S1 Ekonomi Islam FIAI UII,
Santri Ponpes UII dan Aktivis FoSSEI Regional Jogjakarta
Mutiara Hikmah
Tidak dihalalkan bagi seorang Muslim menjual suatu barang kepada saudaranya yang didalamnya mengandung cacat, kecuali setelah ia menjelaskannya kepadanya.
(HR. Ahmad).
Harta terbaik adalah lisan yang selalu berdzikir, hati yang selalu bersyukur dan istri shalihah yang membantu seorang mukmin (suami) dalam (menjaga) keimanannya.
(HR. Tirmidzi).