Archive for April 2009
CINTA, PUNCAK KEIMANAN
Dan ketahuilah olehmu bahwa di kalanganmu ada Rasulullah. Kalau ia menuruti kemauanmu dalam beberapa urusan benar-benarlah kamu mendapat kesusahan, tetapi Allah menjadikan kamu ‘cinta’ kepada keimanan dan menjadikan keimanan itu indah di dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus.
(QS. Al-Hujurat [49]: 7)
Dikisahkan oleh sahabat Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah SAW suatu ketika berkisah: “Tatkala seorang lelaki sedang berjalan pada sebuah jalan, terasalah olehnya dahaga yang tiada terkira. Lalu ia mendapati sebuah sumur dan bersegeralah ia menuruninya untuk minum. Ketika keluar, tiba-tiba dia melihat seekor anjing menjulurkan lidah sambil menjilat-jilati debu karena sangat haus. Lelaki itu berkata: Anjing ini sedang kehausan seperti aku tadi. Lalu turunlah dia kembali ke dalam sumur untuk memenuhi sepatu kulitnya dengan air lalu ia gigit agar dapat naik kembali. Ia kemudian meminumkan air itu kepada anjing tersebut. Allah berterima kasih kepadanya lalu mengampuni dosanya.” Para sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah! Apakah kami akan mendapatkan pahala karena binatang-binatang seperti ini?” Rasulullah SAW menjawab: “Pada setiap yang bernyawa (mahluk hidup) ada pahalanya.” (H.R. Muslim).
Di lain waktu Nabi Muhammad saw. juga berceritera bahwa pada suatu hari yang sangat panas seorang wanita pelacur melihat seekor anjing sedang mengelilingi sebuah sumur sambil menjulurkan lidahnya karena kehausan. Ia kemudian melepas sepatu kulitnya (untuk mengambil air sumur yang akan diminumkan kepada anjing), lalu wanita itu diampuni dosanya. (HR. Muslim).
Dua risalah berbeda di atas punya pesan yang sama tentang hakikat dan makna Cinta (al-hubb). Cinta yang penulis maksudkan di sini bukan sekadar tentang perasaan suka sama suka antar lawan jenis, tetapi lebih dari itu. Cinta di sini adalah cinta yang sangat universal: tentang hak dan kewajiban manusia yang sesungguhnya, yang sangat berkaitan erat dengan pengejawantahan akhlaaqul kariimah (akhlak yang mulia) dalam kehidupan – misi utama Nabi Muhammad SAW diutus oleh Allah SWT di bumi. Etika manusia sebagai manusia. Dan itu adalah satu bentuk yang sangat hakiki dari Iman.
Sementara itu, di hadis lain yang diriwiyatkan oleh Iman Muslim diterangkan dengan sangat gamblang bahwa menyingkirkan duri di jalan adalah sedekah. Dalam hal ini, menyingkirkan duri dari jalan adalah salah satu manifestasi iman. Sebab, diperlukan kerelaaan hati yang didasari cinta yang luar biasa bagi orang yang melakukan tindakan ini karena ia (si penyingkir duri) tidak tahu kepada kaki siapa duri itu menusuk. Yang dia tahu hanyalah melakukan kewajibannya sebagai manusia untuk melakukan kebaikan kepada siapa pun juga. Yang dia tahu dan lakukan, berbuat baik adalah berbuat baik. Menolong adalah menolong. Titik. Ketika ada orang lapar, berilah ia makan. Ketika ada orang sakit, berilah ia obat. Tak perlu memandang ia berasal dari mana dan dari kelompok apa. Almarhum budayawan profetik Kuntowijoyo pernah bilang, “Kebaikan adalah kebaikan, apa pun kata orang. Sesudah kita berbuat kebaikan, selesailah.”
Ada sebuah anekdot menarik yang pernah disampaikan oleh Emha Ainun Nadjib pada sebuah pertemuan di UIN Bandung: Suatu saat ada orang jatuh di jalan ditabrak truk. Lalu ia ditanya oleh orang yang mau menolongnya:
“Islam?”
Sambil mengerang kesakitan, orang yang tertabrak itu pun menjawab,
“Islamm…Islam…”
“NU atau Muhammadiyah?”
“NU…NU…”
“PPP atau PKB?”
“PKB…PKB…”
“PKB Gus Dur atau Muhaimin?”
Akibat berondongan pertanyaan “menyebalkan” itu, orang yang tertabrak itu pun keburu mati sebelum orang lain menolongnya.
Cinta lebih tinggi derajatnya ketimbang hukum-hukum. Dalam Cinta, terdapat kompromi-kompromi atas dasar kasih sayang dan kemaslahatan bersama. Bahkan hukum nash dari Allah SWT sendiri pun bersifat fleksibel. Apalagi hukum yang dibuat oleh manusia di mana terdapat banyak kepentingan dan subjektivitas di sana. Cinta melampaui kepentingan-kepentingan.
Maka tak diragukan lagi, seseorang yang penuh dengan Cinta akan menemui dan memiliki banyak hal positif dalam hidupnya. Berikut ini beberapa hal positif yang dimiliki oleh orang yang mengedepankan Cinta dalam hidupnya:
Memberi dan Memberi
Seorang dengan hati yang dipenuhi Cinta akan selalu memberi dan memberi (give and give) tanpa berharap sedikit pun untuk menerima. Baginya kebahagiaan utama ia dapatkan saat memberi sesuatu kepada orang lain. Bermanfaat sebesar-besarnya bagi orang lain. Hal ini senada dengan sabda Rasulullah SAW yang suatu ketika mengatakan bahwa sebaik-sebaik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia lainnya. Beberapa amsal yang sudah penulis sebutkan di atas tadi adalah beberapa contohnya.
Mencintai Orang Lain Tanpa Syarat
Abu Hamzah, Anas bin Malik ra., pelayan Rasulullah SAW, pernah bilang bahwa suatu waktu Nabi Muhammad saw bersabda: “Tidak beriman seseorang di antara kamu sehingga ia mencintai milik saudaranya (sesama muslim) seperti ia mencintai miliknya sendiri.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Para ulama berpendapat bahwa “tidak beriman” yang dimaksudkan ialah imannya tidak sempurna karena bila tidak dimaksudkan demikian, maka berarti seseorang tidak memiliki iman sama sekali bila tidak mempunyai sifat seperti itu. Maksud kalimat “mencintai milik saudaranya” adalah mencintai hal-hal kebajikan atau hal yang mubah. Hal ini ditunjukkan oleh riwayat Nasa’i yang berbunyi: “Sampai ia mencintai kebaikan untuk saudaranya seperti mencintainya untuk dirinya sendiri.”
Sedangkan Abu ‘Amr bin Shalah berkata: “Perbuatan semacam ini terkadang dianggap sulit sehingga tidak mungkin dilakukan seseorang. Padahal tidak demikian, karena yang dimaksudkan ialah bahwa seseorang imannya tidak sempurna sampai ia mencintai kebaikan untuk saudaranya sesama muslim seperti mencintai kebaikan untuk dirinya sendiri. Hal tersebut dapat dilaksanakan dengan melakukan sesuatu hal yang baik bagi dirinya, misalnya tidak berdesak-desakkan di tempat ramai atau tidak mau mengurangi kenikmatan yang menjadi milik orang lain. Hal-hal semacam itu sebenarnya gampang dilakukan oleh orang yang berhati baik, tetapi sulit dilakukan orang yang berhati jahat.”
Lain lagi Abu Zinad. Ia bilang, “Secara tersurat hadits ini menyatakan hak persamaan, tetapi sebenarnya manusia itu punya sifat mengutamakan dirinya, karena sifat manusia suka melebihkan dirinya. Jika seseorang memperlakukan orang lain seperti memperlakukan dirinya sendiri, maka ia merasa dirinya berada di bawah orang yang diperlakukannya demikian. Bukankah sesungguhnya manusia itu senang haknya dipenuhi dan tidak dizalimi? Sesungguhnya iman yang dikatakan paling sempurna ketika seseorang berlaku zalim kepada orang lain atau ada hak orang lain pada dirinya, ia segera menginsafi perbuatannya sekalipun hal itu berat dilakukan.
Sebagian ulama lain berpendapat: “Hadits ini mengandung makna bahwa seorang mukmin dengan mukmin lainnya laksana satu tubuh. Oleh karena itu, ia harus mencintai saudaranya sendiri sebagai tanda bahwa dua orang itu menyatu.” Seperti tersebut pada hadits lain yang berbunyi: “Orang-orang mukmin laksana satu tubuh, bila satu dari anggotanya sakit, maka seluruh tubuh turut mengeluh kesakitan dengan merasa demam dan tidak bisa tidur malam hari”.
Sementara itu K.H. A. Mustofa Bisri – lebih akrab dipanggil Gus Mus – dalam satu tulisannya mengatakan bahwa banyak yang salah khilaf mengartikan hadis ini dengan: “Belum benar-benar beriman salah seorang di antara kamu sampai dia mencintai saudaranya sebagaimana mencintai dirinya.” Pemaknaan ini kelihatannya benar, tetapi ada yang terlewatkan dalam mencermati redaksi hadis tersebut. Di sana redaksinya yuhibba liakhiihi (mencintai untuk saudaranya), bukan yuhibba akhaahu (mencintai saudaranya).
Jadi, semestinya diartikan “Belum benar-benar beriman salah seorang di antara kamu sampai dia senang atau menyukai untuk suadaranya apa yang dia senang atau sukai untuk dirinya sendiri.” Artinya, apabila kita senang atau suka mendapat kenikmatan, misalnya, kita harus — bila ingin menjadi sebenar-benar mukmin – juga senang atau suka bila saudara kita mendapat kenikmatan.
Apabila kita senang diperlakukan baik, kita pun harus senang bila saudara kita diperlakukan dengan baik. Apabila kita senang jika tidak diganggu, kita pun harus senang bila saudara kita tidak diganggu. Demikian seterusnya. Bukanlah seseorang pantas dikatakan sebagai mukmin yang baik bila ia senang dihormati tapi tidak mau menghormati saudaranya dan tidak senang bila saudaranya dihormati. Bila pengertiannya dibalik: bukanlah seseorang pantas dikatakan mukmin bila ia tidak suka dihina tetapi suka menghina saudaranya dan suka bila saudaranya dihina.
Demikianlah, dengan cinta yang “sejati” kita sebenarnya bisa dengan mudah mempererat kerukunan antaragama di Indonesia yang sejauh ini mudah terkoyak, kerukunan antarbangsa, kerukunan antarsuku yang sekarang ini mudah sekali dipecah-pecah dan diadu, kerukunan antarpartai politik yang mudah digoyang oleh kepentingan-kepentingan mendapatkan kekuasaan daripada memperjuangkan rakyat, dan bahkan kerukunan antarsesama makhluk yang diciptakan Tuhan yang selama ini enggan untuk saling berbagi. Semestinya, kita bisa lebih bijak dan dewasa dalam menyikapi perbedaan dan pluralisme. Karena pluralisme, sejatinya, adalah hakikat hidup yang “sengaja” diciptakan oleh Allah SWT.
Wallahu a’lam bish-showab [ ]
Chairil Anwar ZM,
Pegiat komunitas Being Community dan YPDP-SPA Yogyakarta
Mutiara Hikmah
Rasulullah SAW bersabda: “Seorang wanita disiksa (di akhirat) karena seekor kucing. Ia mengurungnya hingga mati kelaparan. Ia pun masuk neraka karenanya. Ia tidak memberi makan (kucing itu) selama mengurungnya.” (HR. Bukhari)
Andai Kartini… Khatam Mengaji
Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (Iman). Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah setan, yang mengeluarkan mereka daripada Cahaya kepada kegelapan (kekafiran). Mereka itu adalah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya. (Q.S. Al Baqarah [2]: 257)
Bulan April adalah bulan kelahiran R.A.Kartini. Sangat tepat untuk mengkaji ulang sejarah perjuangan R. A. Kartini. Penulis adalah muslimah asli Jepara Bumi Kartini. Tetapi dari usia pendidikan SD sampai SMU, selalu menyimpan pertanyaan, benarkah R. A. Kartini menginginkan kaum wanita mengejar kesetaraan kedudukan dengan kaum laki-laki di semua bidang? Sejarahlah yang sebenarnya bisa menjawab, tetapi ternyata sejarah hanyalah saksi bisu yang bergantung pada kacamata manusia untuk membacanya. Sejarah bisa berarti beda jika kacamata baca manusia juga berbeda. Adalah sebuah keharusan untuk membaca sejarah secara obyektif berdasarkan fakta, demikian juga dengan perjuangan R. A. Kartini.
Setelah kuliah dan hidup di luar Jepara, penulis telah menemukan penilaian obyektif terhadap perjuangan R. A. Kartini.Ternyata, kurang lebih 12 tahun, penulis telah dilingkupi dengan penilaian sejarah yang salah. Adanya penekanan pada bagian-bagian sejarah yang salah, pengurangan atau penambahan sejarah bahwa Kartini adalah pahlawan emansipasi. Banyak wanita Indonesia, lebih khusus wanita Jepara yang tergopoh-gopoh menempatkan diri pada posisi yang didominasi oleh kaum pria. Kata emansipasi telah telah bergeser ke arah liberal, gender, feminisme dan ide penentangan terhadap fitrah kaum wanita yang memang berbeda dengan lawan jenisnya.
Sebenarnya apa yang diinginkan R. A. Kartini?
Kartini, Antara Dominasi Adat dan Pengaruh Barat
Kartini tumbuh di lingkungan Jawa yang teguh memegang adat-istiadat. Ditengah kuatnya dominasi adat, Kartini berani berdiri untuk menantang semua adat itu. ”Peduli apa aku dengan segala tata cara itu. Segala peraturan, semua itu bikinan manusia, dan menyiksa diriku saja. Kau tidak dapat membayangkan bagaiman rumitnya etiket di dunia keningratan Jawa itu…Tapi sekarang mulai dengan aku, antara kami (Kartini, Roekmini, dan Kardinah) tidak ada tata cara lagi. Perasaan kami sendiri yang akan menentukan sampai batas-batas mana cara liberal itu boleh dijalankan” (Surat Kartini kepada Stella, 18 Agustus 1899).
Kartini memahami bahwa setiap manusia sederajat dan mereka berhak untuk mendapat perlakuan yang sama. Kartini menolak adat Jawa yang membedakan manusia berdasarkan asal keturunannya. Tak salah jika Kartini memiliki kesimpulan seperti itu. Penjajah Belanda telah berhasil menanamkan rasa rendah diri kepada masyarakat pribumi. Diskriminasi yang dilakukan Belanda telah mengajarkan bahwa pribumi atau bangsa Timur adalah rendah dan bangsa Barat adalah mulia.
Dan Kartini menyimpulkan bahwa pangkal kemunduran dan rasa rendah diri yang dialami oleh masyarakat adalah mundur dan minimnya pendidikan yang mereka rasakan. Kaum pribumi adalah kaum terbelakang dan bodoh. Pendidikan menjadi hak paten bagi kalangan ningrat dan para penjajah.
Perjuangan Kartini diawali dengan membenahi pendidikan bagi kalangan pribumi, tak terkecuali kaum wanita. Kartini membuat nota yang berjudul Berilah Pendidikan Kepada Bangsa Jawa kepada pemerintah kolonial. Dalam nota tersebut, Kartini mengajukan kritik dan saran kepada hampir semua Departemen Pemerintah Hindia Belanda, kecuali Departemen Angkatan Laut (Marine). Kartini-pun merasa perlu belajar ke Barat. ”Aku mau meneruskan pendidikanku ke Holland, karena Holland akan menyiapkan aku lebih baik untuk tugas besar yang telah kupilih” (Surat Kartini kepada Ny. Ovink Soer, 1900). Barat telah menjadi panutan dan kiblat Kartini untuk melepaskan diri dari kungkungan adat. ”Pergi ke Eropa. Itulah cita-citaku sampai nafasku yang terakhir”(Surat Kartini kepada Stella, 12 Januari 1900). Namun cita-cita itu harus kandas di tangan para sahabatnya yang tak menginginkan Kartini memiliki pemahaman lebih maju.
Pergolakan Pemikiran Setelah Mengenal Islam
Sulit bagi Kartini untuk bertahan di lingkungan yang bertentangan dengan pemikiran dan idealismenya. Di tengah kuatnya kungkungan adat dan derasnya serangan pemikiran Barat, Kartini mencoba mencari jawaban.
Tahun-tahun terakhir sebelum wafat, Kartini menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang bergolak di dalam pemikirannya. Ia mencoba mendalami ajaran yang dianutnya, Islam. Ajaran Islam pada awalnya tak mendapat tempat di benak Kartini. Hal ini dikarenakan pengalaman yang tak mengenakkan dengan ustadzahnya. Sang ustadzah menolak menjelaskan makna ayat yang sedang diajarkan.
”Mengenai agamaku Islam, Stella, aku harus menceritakan apa? Agama Islam melarang umatnya mendiskusikannya dengan umat agama lain. Lagi pula sebenarnya agamaku karena nenek moyangku Islam. Bagaimana aku akan dapat mencintai agamaku, kalau aku tidak mengerti, tidak boleh memahaminya? Alqur’an terlalu suci, tidak boleh diterjemahkan ke dalam bahasa apa-pun. Disini tidak ada orang yang mengerti bahasa Arab. Disini orang diajar membaca Alqur’an tetapi tidak mengerti apa yang dibacanya. Kupikir, pekerjaan orang gila kah, orang diajar membaca tetapi tidak diajar makna yang dibacanya itu. Sama saja halnya seperti engkau mengajarkan aku buku bahasa Inggris, aku harus hafal kata demi kata, tetapi tidak satu patah kata pun yang kau jelaskan kepadaku apa artinya. Tidak jadi orang sholeh pun tidak apa-apa, asalkan jadi orang yang baik hati, bukankah begitu Stella?” (Surat Kartini kepada Stella, 6 November 1899).
Namun, pertemuannya dengan Kyai Haji Mohammad Sholeh bin Umar, Seorang ulama besar dari Darat, Semarang, telah mengubah segalanya. Kartini tertarik pada terjemahan surat Al Fatihah yang disampaikan sang Kyai. Kartinipun mendesak salah satu paman untuk menemaninya bertemu sang Kyai. Berikut petikan dialog antara Kartini dan Kyai Sholeh Darat.
”Kyai, perkenankanlah saya menanyakan, bagaimana hukumnya apabila seorang yang berilmu, namun menyembunyikan ilmunya?” Tertegun Kyai Sholeh Darat mendengar pertanyaan Kartini yang diajukan secara diplomatis itu.
”Mengapa Raden Ajeng bertanya demikian?” Kyai Sholeh balik bertanya.
”Kyai, selama hidupku baru kali inilah aku sempat mengerti makna dan arti surat pertama, dan induk Al-Qur’an yang isinya begitu indah menggetarkan sanubariku. Maka bukan main rasa syukur hatiku kepada Allah, namun aku heran tak habis-habisnya, mengapa selama ini para ulama kita melarang keras penerjemahan dan penafsiran Alqur’an dalam bahasa jawa. Bukankah Alqur’an itu justru kitab pimpinan hidup bahagia dan sejahtera bagi manusia?”
Setelah pertemuannya dengan Kartini, Kyai Sholeh Darat tergugah untuk menerjemahkan Alqur’an ke dalam bahasa Jawa. Pada hari pernikahan Kartini, Kyai Sholeh Darat menghadiahkan terjemahan Alqur’an (Faizhur Rohman fit Tafsir Qur’an), jilid pertama yang terdiri dari 13 juz, mulai dari Surat Al-Fatihah sampai dengan Surat Ibrahim. Mulailah Kartini mempelajari Islam dalam arti yang sesungguhnya. Tapi sayang tidak lama setelah itu Kyai Sholeh Darat meninggal dunia, sehingga belum selesai diterjemahkan seluruh Alqur’an kedalam bahasa Jawa.
Andai saja Kartini sempat mempelajari keseluruhan ajaran Islam (Alqur’an) maka tidak mustahil jika ia akan menerapkan semaksimal mungkin semua kandungan ajarannya. Kartini sangat berani unuk berbeda dengan tradisi adatnya yang sudah terlanjur mapan. Kartini juga memiliki modal ketaatan yang tinggi terhadap ajaran Islam. Pada mulanya ia adalah sosok paling keras yang menentang poligami. Tetapi setelah mengenal ajaran Islam, ia mau menerimanya.
Kartini; Upaya Meneladani
Upaya untuk menerjemahkan perjuangan Kartini oleh kaum wanita sekarang ini nampaknya telah melampaui batas. Petikan Surat Kartini berikut ini menegaskan kesalahan penerjemahan kaum wanita Indonesia.
”… tadinya kami mengira bahwa masyarakat Eropa itu benar-benar satu-satunya yang paling baik, tiada taranya. Maafkan kami, tetapi apakah ibu sendiri menganggap masyarakat Eropa itu sempurna? Dapatkah ibu menyangkal bahwa dibalik hal yang indah dalam masyarakat itu terdapat banyak hal-hal yang sama sekali tidak patut disebut sebagai Peradaban?” (Surat Kartini kepada Ny. Abendanon, 27 Oktober 1902).
”Kami di sini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak perempuan, bukan sekali-kali karena kami menginginkan anak-anak perempuan itu menjadi saingan laki-laki dalam perjuangan hidupnya. Tapi karena kami yakin sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya, kewajiban yang diserahkan alam sendiri ke dalam tangannya: menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama” (Surat Kartini kepada Prof. Anton dan Nyonya, 4 Oktober 1902).
Tak ada sepatah kata-pun dalam surat tersebut yang mengajarkan wanita untuk mengejar persamaan hak, kewajiban, kedudukan dan peran agar sejajar dengan kaum pria. Kartini memahami bahwa kebangkitan seseorang ditandai oleh kebangkitan cara berfikirnya. Kartini mengupayakan pengajaran dan pendidikan bagi wanita semata-mata demi kebangkitan berfikir kaumnya agar lebih cakap menjalankan kewajibannya sebagai seorang wanita.
Maka menjadi sebuah ironi jika atas nama perjuangan Kartini, para wanita saat ini justru terjebak pada nilai-nilai liberalisasi dan ide-ide barat yang justru ditentang oleh sang pahlawan. Perjuangan yang kini dilakukan oleh para feminis, pembela hak-hak wanita sangat jauh dari ruh perjuangan Kartini. Kartini tidak menuntut persamaan hak dalam segala bidang. Kartini hanya menuntut agar kaum wanita diberi hak untuk mendapatkan pendidikan yang layak. Tak lebih dari itu.
Kartini bertekad untuk menjadi seorang muslimah yang baik dengan memenuhi seruan Surat Al-Baqarah [2] ayat 257, minazh-zhulumaati ilan nuur (Habis Gelap Terbitlah Terang) telah mendorongnya untuk berubah diri dari pemikiran yang salah kepada ajaran Allah. Tak berlebihan jika kita menyimpulkan bahwa tujuan Kartini adalah mengajak setiap wanita untuk menjadi muslimah yang memegang teguh ajaran agamanya.
Wallahu A’lam bi ash-shawab.
Dian Aniza Rahayu, SE.I
Ibu Rumah Tangga
Mutiara Hikmah
Rasulullah SAW bersabda: ”Sungguh aku orang yang paling takwa kepada Allah, namun aku berpuasa dan berbuka, dan aku shalat (malam), dan aku menikahi wanita (H.R. Bukhari Muslim)