Archive for July 2009
SIKAP SEORANG MUSLIM DALAM MENGHADAPI KRISIS
“Dan sungguh Kami akan menguji kamu sekalian dengan rasa takut, kelaparan, kekurangan harta, kekurangan jiwa, dan kekurangan buah-buahan. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar“
(Q.S. al-Baqarah [2]: 154)
Krisis keuangan global (global finance crisis) yang terjadi pada akhir tahun 2008 sesungguhnya bukan sesuatu yang mengejutkan, baik bagi para analisis ekonomi dunia. Menurut Hendri Saparini, Ph.D, dalam International Conference of Islamic Economic System (ICIES) di Jogja Expo Centre (JEC) pada tanggal 27-28 Desember 2008, krisis yang menelan Lehman Brother sebagai salah satu korban ini telah jauh-jauh hari diprediksi bakal terjadi oleh berbagai ekonom.
Prediksi ini tentu didasarkan pada kesimpulan dari berbagai analisa terhadap kecenderungan variabel-variabel ekonomi yang mengarah pada krisis. Dan bagi seorang muslim, di samping memang meyakini bahwa krisis ini jelas-jelas ‘dibiangi’ oleh ulah jahat ekonomi kapitalisme, kondisi krisis ini akan dihadapi dengan sikap siap siaga dan tentu saja kesabaran serta tetap bersyukur. Pertimbangannya cukup jelas; umat Islam mempunyai pegangan Alqur’an sebagai pedoman. Allah SWT jauh-jauh hari telah mewanti-wanti umat Islam, agar menyiapkan stamina keimanan dan kesabaran, untuk menghadapi suatu keadaan dimana rasa takut, kelaparan, kekurangan harta, dan seterusnya sebagaimana ayat di atas.
Kalimat “dan sungguh kami akan menguji kamu sekalian” dalam lafazh Alqur’an-nya adalah وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ. Dalam lafazh tersebut terdapat huruf nun yang bersyaddah dan huruh laa. Dalam kaidah tata bahasa Arab, dua huruf tersebut memberikan arti “sungguh/ pasti terjadi” pada fi’il (kata kerja) yang diimbuhinya. Oleh karena itu krisis yang telah disinyalir oleh Allah tersebut di atas pasti terjadi. Apalagi memakai huruf ganda. Berarti krisis yang dimaksud sama sekali pasti terjadi. Dan bagi seorang muslim, keadaan seperti ini tidaklah berarti bencana tetapi menjadi sebuah peluang untuk meningkatkan kualitas keimanan.
Ayat di atas menginformasikan bahwa berbagai kondisi sulit-menjepit tersebut di atas sesungguhnya merupakan ujian. Ujian yang akan menjadi ajang pembuktian; apakah dengan ujian tersebut seorang muslim akan meningkat keimanannya atau sebaliknya. Setiap muslim sangat pasti melalui ujian ini. Karena, bagaimana mungkin seorang siswa akan naik kelas jika dia tidak terlebih dahulu menjalani sebuah ujian. Begitu juga dengan keimanan seseorang. Oleh karena itu, setelah ujian ini berakhir, ada seorang muslim yang keimanannya naik tingkatan dan ada yang sebaliknya.
***
Krisis keuangan global di atas telah sangat berdampak pada perekonomian Indonesia. Satu hal yang paling kentara adalah maraknya PHK (Pemutusan Hubungan Kerja) massal yang dilakukan oleh berbagai perusahaan-peruhaan yang mempunyai pasar di kawasan Eropa dan Amerika. Data terbaru adalah yang diberitakan Koran Tempo (03/04/2009). Sekitar 9.260 karyawan mengalami PHK dan 8.617 dirumahkan dari 81 perusahaan di 19 kabuapten di Jawa Tengah. Hal ini terjadi karena negara-negara konsumen komoditas di wilayah Eropa dan Amerika telah menghentikan transaksi akibat krisis tersebut. Dampaknya, akan terjadi penambahan pengangguran besar-besaran di Indonesia. Inilah yang dimaksud al Baqarah [2] ayat 154 sebagai salah satu bentuk “kekurangan harta”. Ayat tersebut sesungguhnya memberikan kesan efek domino dalam kehidupan. Semua rentetan bentuk krisis yang ada dalam ayat tersebut saling berhubungan dan berakibat satu sama lain. Kekurangan harta akan berefek pada kelaparan. Selanjutnya akan terjadi kekurangan jiwa (baca: kematian) dan menimbulkan ketakutan-ketakutan terhadap kondisi yang mengerikan tersebut.
Dalam surat al Insyirah [110] ayat 5-6, Allah berfirman:
فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا (٤)إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا(٥ )
“Maka sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan (5) Sesungguhnya bersama kesulitan itu kemudahan (6)“
Ada dua perspektif yang bisa digunakan untuk memandang dua ayat kembar ini. Pertama, pandangan yang diterima secara umum bahwa setelah kesulitan yang kita alami maka akan ada berbagai kemudahan yang datang. Satu kesulitan dan berbagai kemudahan. Secara tata kebahasaan, kata الْعُسْر dalam bahasa Arab, karena ber-alif lam, dikenal dengan istilah ma’rifah atau khusus, menunjukkan pada sesuatu yang spesifik. Partikel alif lam dalam kata الْعُسْر sama dengan partikel the dalam bahasa Inggris. Sedangkan kata يُسْرًا termasuk kategori nakiroh (kebalikan ma’rifah) karena ber-alif lam sehingga bermakna umum; mencakup semua kemudahan. Oleh karena itu, pandangan pertama ini berkesimpulan bahwa kita hanya akan menemui satu saja kesulitan dan akan menemui berbagai kemudahan setelah melalui kesulitan tersebut. Kedua, pandangan yang lebih kontekstual tetapi berpegang pada makna zhahir ayat tersebut.
Dalam ayat tersebut sesungguhnya ada kata مَعَ yang berarti bersama; bukan kata بَعْدَ sehingga diterjemahkan “setelah”. Maka pandangan ini memaknai ayat tersebut bahwa suatu kondisi itu mempunyai potensi kesulitan dan kemudahan secara bersamaan. Yang membedakan adalah keyakinan kita pada Allah SWT bahwa setiap kondisi yang harus mampu menjadi ajang untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada-Nya.
Inilah yang terkenal dalam teori pembelajaran hidup bahwa perbedaan orang sukses dan gagal adalah cara pandangnya dalam melihat duduk persoalan. Bagi orang sukses, masalah yang ada dianggap sebagai peluang dan tantangan untuk meningkatkan kemampuan diri. Sedangkan orang gagal memandanganya sebagai hambatan. Kedua pandangan ini tentu tidak kontradiktif sehingga saling menafikan kebenaran satu sama lain bahkan saling melengkapi. Keduanya adalah ‘wejangan’ dari Allah SWT untuk menghadapi krisis.
***
Alqur`an menginformasikan bahwa kita, umat Islam, adalah umat yang terbaik (Q.S. Ali Imran [3]: 110). Pihak lain menghadapi krisis ini dengan ‘menambal-sulam’ sistem yang nyata-nyata destrukif (baca: kapitalisme). Umat Islam mempunyai konsep genuine untuk mengelola perekonomian (baca: ekonomi Islam). Di samping itu, kita memiliki spiritualitas dan metalitas untuk menghadapi kondisi sesulit apapun dengan positif. Sikap positif tersebut terwujud dengan tetap mensyukuri (menggunakan seefisien dan seefektif mungkin) apa yang ada, bersabar (bertahan dalam batas-batas agama kendati kebutuhan terus mengejar), dan yakin bahwa Allah pasti akan mengganjar sikap tersebut dengan rahmat-Nya, di dunia dan di akhirat. Untuk mengakhiri risalah ini, menarik untuk kita renungkan apa yang disampaikan oleh K.H. Abdullah Gymnastiar. Bahwa yang menjadi masalah bukanlah masalah itu sendiri tetapi sikap kita dalam menghadapi masalah tersebut.
“(Yaitu) orang-orang yang apabila musibah menimpa mereka, mereka berkata,” Sesungguhnya kami (ini) milik Allah dan sesungguhnya (hanya) kepada-Nya lah kami akan kembali” (Q.S. al-Baqarah [2]: 155).
Walllaahu a’lam bishshawwaab.
Imam Sofyan Abbas
Penggiat Aufklarung Studies
L-KMPI (Lesehan-Komunitas Mahasiswa Persatuan Islam) Yogyakarta
Mutiara Hikmah
Nabi Muhammad SAW bersabda:
Bulan (Sya’ban) ini (adalah bulan) yang banyak dilalaikan manusia. Padahal pada bulan-bulan ini amalan seorang hamba diangkat kepada Allah, dan aku ingin amalanku diangkat dan aku berpuasa
(H.R. Nasa’i)
ISRA’ MI’RAJ: DIKAGUMI ATAUKAH DITELADANI?
Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil haram ke Al Masjidil aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.
(Q.S Al Israa [17]: 1)
Ketika itu, kondisi perjuangan nilai-nilai Islam masih berada dalam masa-masa yang paling sulit. Perekonomian umat Islam diboikot oleh kaum kafir Quraisy atau dalam bahasa sekarang embargo ekonomi. Perdagangan dipersulit, hubungan komunikasi dengan pihak-pihak lain sangat dibatasi, bahkan untuk mencari kebutuhan sehari-hari pun mereka kesulitan. Mereka berada dalam pemboikotan selama tiga tahun. Sebelum tahun ke-10 masa kenabian, umat Islam baru dapat terbebas dari boikot orang-orang kafir Quraisy. Tentu saja, secara psikologis hal ini sangat memberatkan bagi kehidupan Nabi.
Dalam kondisi yang seperti itu, Abu Thalib paman Rasulullah yang sangat mencintai dan menyayangi beliau yang terkadang melebihi kecintaannya kepada kedua anak kandungnya diwafatkan oleh Allah. Padahal, dialah paman yang selalu membela keselamatan Nabi terhadap tekanan-tekanan kaum Quraisy. Beliau adalah benteng yang selalu siap mengamankan Nabi dalam situasi apapun sehingga kaum Quraisy merasa segan karenanya. Pada tahun yang sama pula, Khadijah istri yang sangat dicintai Rasulullah SAW dan sangat gigih dalam mendukung perjuangan Nabi diwafatkan oleh Allah. Itulah tahun duka cita,’amul hazan yaitu tahun kesedihan wafatnya paman dan istri nabi yang sangat dicintainya. Ketika Abu Thalib wafat, Rasulullah SAW mengalami gangguan dari kaum kafir Quraisy yang belum pernah terjadi semasa pamannya masih hidup. Ketika gangguan kaum kafir Quraisy kepada beliau dan umat Islam semakin meningkat, Nabi memutuskan untuk mencari lahan baru guna meminta bantuan sekaligus untuk mengembangkan nilai-nilai Islam. Nabi telah mencoba mendatangi orang-orang Thaif, tapi yang diperoleh adalah sambutan yang tidak menguntungkan. Nabi dimusuhi hingga dilempari dengan batu oleh orang-orang Thaif. Kemudian Nabi pun berangkat dari Thaif pulang menuju Makkah.
Ditengah berbagai tekanan itulah, Allah membuka jalan bagi Rasulullah SAW supaya langkah perjuangannya di kemudian hari berhasil. Ketika itu adalah malam 27 Rajab, dimana Rasulullah sedang menjalani 11 tahun masa kenabiannya. Di saat-saat seperti itulah Rasulullah SAW meningkatkan dzikir dan tafakkurnya kepada Allah. Himpitan hidup bertubi-tubi itu tidak membuat Rasulullah berputus asa, melainkan justru mendorongnya untuk taqarrub, mendekatkan diri kepada Allah yang Maha Mengasihi dan Menyayangi. Di saat seperti itulah, Nabi di-isra’kan, diperjalankan oleh Allah dari masjidil haram menuju masjidil aqsha pada malam hari. Memang penjelasan secara harfiahnya, nabi melakukan perjalanan pada malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha dalam waktu sekejap.
Dalam tulisan ini, saya tidak akan mengupas secara detail mengenai perjalanan tersebut karena tentu saja kita tidak akan pernah mengetahuinya secara pasti peristiwa itu, melainkan hanya sekedar menafsir-nafsirkannya saja. Tidak terlalu penting apakah isra mi’raj itu berkaitan dengan jasad, atau dengan ruh saja, atau dengan keduanya. Yang penting adalah makna apa yang bisa kita terapkan di dalam hidup ini dari teladan kisah itu. Bagi yang menerimanya secara imany, tentu saja seharusnya tidak masalah untuk mempercayai peristiwa tersebut dalam berbagai sudut pandang. Terlebih selama ini, isra mi’raj hanya sekedar untuk dikagumi dan dirayakan semata bukan untuk diteladani. Padahal, sebagaimana difirmankan oleh Allah di dalam Alqur’an: “laqad kâna lakum fî rasûlilLâh uswatun hasanah” bahwa, apa-apa yang dialami Nabi itu adalah teladan mulia. Jadi makna isrâ’ mi’raj itu merupakan bagian dari teladan, bukan hanya kisah.
Isra mi’raj merupakan sebuah perjalanan spiritual yang tak bisa diungkapkan, sehingga harus diungkapkan lewat bahasa-bahasa perumpamaan, bahasa metafor. Tidak ada kata yang tepat untuk menjelaskan sebuah pengalaman ruhani. Oleh sebab itu, di dalam peristiwa ini, terdapat nilai-nilai yang harus kita teladani. Selama ini, kata isrâ secara harfiah selalu diterjemahkan dengan “perjalanan di malam hari”. Padahal, kata isrâ’ itu sendiri, kalau dirujuk ke kata dasar Arabnya bisa bermakna “sebuah pencarian.” Kata sâriyah yang satu dasar kata dengan isrâ’ berarti pencarian. Jadi isrâ’ di sini bisa berarti “proses pencarian yang akan melepaskan diri seseorang dari kegelapan hidup.” Pertanyaannya, bukankah peristiwa itu dimulai dari masjidil haram menuju Masjidil Aqsha? Tunggu dulu, kita harus menelusurinya secara historis. Sebenarnya tidak ada petunjuk harfiah di dalam Alqur’an yang menerangkan bahwa Masjidil Haram yang dimaksud adalah yang ada di dalam Makkah dan Masjidil Aqsha di situ yang berada di Yerusalem.
Kata masjid berkenaan ketika ayat itu turun, belum lagi terwujud secara fisik. Masjidil Haram yang sekarang ini ada mula-mula dibangun secara permanen oleh Khalifah Umar bin Khaththab pada tahun 638 M. Jadi, pada masa Rasulullah kawasan Masjidil Haram masih berupa hamparan tanah lapang terbuka di sekitar Ka’bah yang dikelilingi perkampungan penduduk. Demikian pula Masjid Al-Aqsha yang ada saat ini adalah masjid yang dibangun secara permanen oleh Khalifah Abdul Malik bin Marwan dari Kekhalifahan Dinasti Bani Umayyah pada tahun 66 H dan selesai dibangun tahun 73 H. Pada masa Rasulullah SAW masih hidup, kawasan Al-Aqsha masih berupa reruntuhan candi sulaiman atau Solomon Temple, belum ada bangunan masjidnya.
Maka dari itu, untuk meneladani isra’ kita tak perlu pergi jauh-jauh ke Masjidil Haram Mekkah sampai Masjidil Aqsha di Yerusalem. Melainkan kita harus memulai sebuah perjalanan untuk keluar dari kegelapan hidup lewat penyucian diri dari segala perilaku yang haram. Inilah makna dibelahnya dada nabi untuk disucikan hatinya sebelum peristiwa isra’. Hal ini menunjukkan bahwa sebelum melakukan perjalanan untuk menemui Allah hati harus disucikan terlebih dahulu dari hal-hal yang negatif. Oleh sebab itu, dalam redaksi ayat itu disebut Masjidil Haram. Lalu, kenapa dibawa ke Al Aqsha? Jawabannya, supaya beliau dapat memahami berkat Tuhan yang ada di sekelilingnya ‘barakna haulahu’.
Benarkah berkat Tuhan itu ada disekeliling Masjidil Aqsha yang ada di Yerusalem? Yang selama berabad-abad hingga kini selalu diliputi terror, peperangan dan pertumpahan darah itu? Di sekelilingnya di sebelah mananya? Tentu saja, pemahaman demikian akan sangat rancu. Berkat Tuhan hanya akan dapat dipahami dengan hati dan pikiran yang jernih. Inilah makna dari tafakur. Sementara makna masjidil aqsha disitu secara umum adalah masjid yang terjauh. Kita tahu, secara bahasa, kata masjid itu bisa berarti “setiap lahan dan setiap jengkal tanah yang bisa digunakan untuk bersujud”. Maka, ada istilah kullu ardlin masjidun, atau setiap jengkal tanah dapat dijadikan tempat bersujud. Untuk bersujud seorang manusia harus dapat menundukkan hatinya dan ego yang ada di dalam alam pikirannya serendah-rendahnya dihadapan Allah. Sebagaimana yang telah disimbolkan lewat gerakan sujud di dalam shalat. Kepala dan hati harus benar-benar ditundukkan dihadapanNya.
Nah, kemudian bagaimanakah kita memaknai buraq, sebuah kendaraan yang konon dinaiki nabi bersama Jibril dalam perjalanan malam itu? Buraq berasal dari kata barqun yang berarti kilat cahaya. Dalam sejumlah hadits, buraq digambarkan dengan wujud kuda bersayap atau menyerupai pegassus. Hal inilah yang mengilhami khazanah mistisme di dalam Islam di kemudian hari. Kalau kita menelusuri kekayaan spiritualisme Islam, kita akan menemukan semacam idiom “burung” dan “terbang” sebagai simbol yang menunjukkan mi’raj, kenaikan jiwa manusia menuju realitas yang lebih tinggi. Terutama kaum sufi, menggambarkan sayap sebagai sebuah simbol kekuatan untuk menerbangkan jiwa manusia. Simbolik burung yang terbang ini pun kita temukan misalnya dalam uraian Ibnu Sina, al Gazhali, Suhrawardi, Khaqqani, Ruzbihan, Balqi, Rumi hingga yang cukup fenomenal mengenai dunia tasawuf mistis adalah karya Fariduddin Attar yaitu Mantihiqat at Thair.
Isra’ dan mi’raj merupakan perjalanan spiritual yang paling istimewa bagi Nabi Muhammad SAW. Puncaknya terjadi di Sidratul Muntaha. Seorang ulama tafsir terkemuka, Muhammad As’ad menafsirkan Sidratul Muntaha dengan lote-tree farthest limit atau pohon lotus yang batasnya paling jauh. Pohon Lotus dalam tradisi Mesir kuno merupakan simbol kearifan, kebijaksanaan (wisdom) dan kebahagiaan. Dalam Hindu, lotus atau bunga teratai merupakan simbol pemurnian. Ajaran Budha menegaskan bahwa proses mekarnya bunga teratai merupakan lambang pencapaian kesempurnaan menuju nirwana. Kuncupnya melambangkan awal usaha dan puncak mekar bunga menjadi tanda tercapainya kesempurnaan. Dengan demikian secara simbolik Sidratul Muntaha dapat diartikan sebagai puncak kebahagiaan dan kebijaksanaan. Dengan isra mi’raj, Nabi telah melakukan terobosan spiritual, sehingga surga dan pencerahan hidup dicapainya hanya dalam satu malam. Dimana Siddharta Gautama pernah mencapainya dalam waktu enam tahun. Dengan hati dan pikiran yang jernih, Nabi menyaksikan kebenaran dan kebesaran ayat-ayat Tuhan dalam satu malam. Dan, itulah yang hendak diteladankan beliau kepada umatnya.
Untuk itulah, Nabi mengajarkan kepada umatnya agar meneladaninya dalam bentuk ibadah shalat. Nabi bersabda, as-shalâtu mi`râjul mu’minîn, bahwa “shalat itu mi’rajnya kaum beriman.” Sebelum shalat seseorang harus bersuci, tidak sekedar thaharah dengan air atau debu, tetapi lebih kepada upaya untuk takhalli, menyingkirkan hal-hal negatif yang ada di dalam diri kita. Dimulainya shalat diawali dengan takbir mengagungkan DzatNya. Di dalamnya sudah tak ada lagi waktu yang terbuang percuma karena seluruhnya berisi puji-pujian dan doa yang mengalir di sepanjang tarikan dan hembusan nafas kita. Ketika itulah seseorang melakukan kontemplasi, hijrah batin atau tahalli. Menghiasi diri dengan keterpujian asmaNya, sehingga kebenaran Tuhan termanifestasi di dalam jiwa atau tajalli. Kemudian diakhiri dengan menebarkan salam kepada seluruh makhluk Tuhan semesta alam. Ketika mi’raj itu seorang anak manusia dituntun oleh Tuhannya secara langsung untuk menghadap kehadiratNya menuju sidratul muntaha, suatu tempat dimana malaikat Jibril tak sanggup menempuhnya. Maka, dalam Alqur’an surat An Najm [53] ayat 5, kata ‘allamahu syadîdul quwâ, sebenarnya memiliki arti secara umum bahwa Ia dituntun secara langsung oleh yang Maha Kuat, bukan oleh Jibril.
Namun, Sidratul Muntaha bukanlah tempat dimana manusia bisa menjalankan misi hidupnya. Oleh sebab itu, ada proses nuzul atau turun dalam rangka membumikan nilai-nilai Islam ke dalam berbagai tindak sosial (transformasi sosial). Artinya, selain dikerjakan, shalat juga harus ditegakkan secara kontinyu dalam bentuk aksi dan realisasi nyata dalam kehidupan. Dalam bentuk amar ma’ruf nahy munkar. Menyantuni anak yatim dan fakir miskin. Dan, dengan segenap amal perbuatan nyata sebagai wujud rahmat Tuhan bagi semesta alam. Ketika itulah, puncak dari Sidratul Muntaha diraih oleh seorang hamba.
Wallahu’alam
Hari Nugroho
Mahasiswa Arsitektur, FTSP UII
Yogyakarta
Mutiara Hikmah
“Renungkanlah berita yang kau dengar secara baik-baik, penukil ilmu sangatlah banyak dan perenungnya sangatlah sedikit”
(Ali bin Abi Thalib kw)