Lembar Jumat Al-Rasikh

Archive for July 2nd, 2009

Islam Total untuk Muslim Sejati

without comments

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kalian dalam Islam keseluruhannya, dan janganlah kalian menuruti langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagi kalian.”

(Q.S. Al-Baqarah [2]: 208)

Dalam sebuah kongres, Imam Hasan Al-Banna pernah mengemukakan bahwa banyak umat muslim di setiap abad yang sengaja membatasi Islam dan memberikan gambaran tentang Islam yang teramat sempit di mana mereka mendasarkannya atas hawa nafsu mereka sendiri. Mereka memanfaatkan dan mempergunakan keluasan dan keluwesan Islam itu bukan pada tempatnya. Padahal Islam diatur sedemikian luwesnya dengan kebijaksanaan yang mempunyai nilai luhur. Itulah sebabnya mereka mempunyai paham yang kontradiktif tentang Islam. Maka jadilah Islam di dalam lubuk hati setiap pemeluknya termasuk kita dengan bentuk yang berbeda-beda. Ada yang mendekati, tapi ada juga yang benar-benar jauh dari Islam pertama yang telah diteladankan dengan sebaik-baiknya oleh Rasulullah SAW tanpa ada sedikitpun kecacatan.

Di antara saudara-saudara kita ada yang melihat Islam dari segi etika (al-akhlaq), kerohanian dan hidangan-hidangan yang serba lezat bagi jiwa dan pikiran, dan berusaha menghindar dari segi materiil yang dinilainya kotor dan keji. Sehingga ketika ia bekerja untuk memenuhi kebutuhan duniawinya, ia tak ingin membawa-bawa nama Islam. Lalu ada juga yang Islamnya hanya terbatas pada perasaan kagum terhadap nilai-nilai luhur yang sangat praktis dalam Islam, sehingga ia tidak ingin melihat selain nilai-nilai tersebut dan tidak ingin berpikir kecuali tentang norma-norma Islam yang luhur disebabkan oleh rasa takut salah dan juga merasa bahwa dirinya tidak pantas bergaul dengan cara Islam, maka ia pun tak ingin banyak berkecimpung dan berbicara mengenai Islam bahkan melepas diri dari Islam itu sendiri.

Selain itu, ada juga yang mengartikan bahwa Islam itu hanya terbatas di seputar ibadah ritual belaka, Islam hanya sekedar aturan-aturan yang mengatur tentang ibadah seorang hamba dengan Tuhannya. Karena itu, jika ia telah melakukan ibadah-ibadah tersebut, atau melihat orang lain tekun mengerjakannya, ia sudah merasa lega dan menganggapnya telah sampai ke inti Islam. Islam seperti inilah yang banyak dipahami oleh mayoritas muslimin di seluruh dunia termasuk di Indonesia tercinta ini.

Pada dasarnya, Jumhur ulama telah bersepakat, bahwa Islam yang digunakan oleh Allah SWT untuk menyebut agama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW ini bukan hanya terdiri dari akidah, tetapi juga syariat. Mahmud Syaltut, seorang Syaikh di Universitas al-Azhar pernah menyatakan: “Siapa saja yang mengimani akidah (Islam) dan mengabaikan syari’at-nya atau mengambil syari’at tetapi meninggalkan ‘akidah, maka menurut Allah, dia bukanlah Muslim, dan dalam pandangan Islam, dia tidak menapaki jalan keselamatan.”

Inilah yang dinyatakan dalam firman Allah SAW di awal pembuka tulisan ini, yang artinya;

“Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam agama Islam secara kâffah (total). (Q.S. al-Baqarah [2]: 208).

Berkaitan dengan ayat tersebut, Ibnu Manzhur pengarang kitab Lisanul ‘Arab menyatakan bahwa maksudnya adalah masuklah ke dalam Islam dengan seluruh syari’at yang ada di dalamnya. Lebih jauh, Syaltut mengatakan, bahwa Islam menuntut adanya keselarasan antara syariat dengan akidah; masing-masing tidak bisa dipisahkan. Akidah adalah dasar yang memancarkan syariat, sementara syariat merupakan wujud fisik yang lahir dari akidah. Dengan kata lain, akidah adalah fondasi, sedangkan syariat adalah bangunan yang berdiri di atasnya. Karena itu, akidah tanpa syariat bagaikan fondasi tanpa wujud bangunan, sehingga abstrak dan sulit diukur. Sebaliknya, bangunan tanpa fondasi juga tidak mungkin, karena ia akan runtuh. Oleh karena itu, para ulama menyatakan, bahwa keimanan adalah aspek batiniah sedangkan syariat merupakan aspek lahiriah.

Akidah adalah keimanan yang bulat yang sesuai dengan realitas (yang diimani) dan bersumber dari dalil yang berkaitan dengan Allah, malaikat, kitab, rasul, Hari Kiamat serta qadha’ dan qadar yang baik dan buruknya berasal dari Allah SWT. Sebaliknya, syariat adalah sistem yang disyariatkan oleh Allah atau sistem yang dasar-dasarnya disyariatkan oleh Allah agar digunakan oleh manusia untuk mengatur hubungan dirinya dengan Tuhan, diri, dan sesamanya. Dalam hal ini, ‘Alwi as-Saqqaf menegaskan bahwa Allah telah menurunkan syariat ini kepada Rasul-Nya saw. Di dalamnya dijelaskan segala sesuatu yang dibutuhkan oleh makhluk-Nya dalam mengemban tanggung jawab yang diperintahkan kepada mereka serta ritualitas yang telah dibebankan ke pundak mereka. Rasulullah SAW belum akan wafat sebelum agama ini sempurna, dengan kesaksian dari Allah SWT.

Dari penjelasan tersebut dapat kita pahami bahwa melalui ayat di atas, Allah bermaksud memerintahkan kepada umat manusia untuk memadukan antara akidah dan syariat dengan cara memantapkan keimanan dan menjalankan seluruh ajaran-ajaran yang terdapat dalam agama yang dibawa oleh Nabi Muhamad SAW yaitu Islam, tanpa membedakan salah satu aspek dengan aspek lainnya. Menjadikan ajaran Islam sebagai acuan dalam setiap perbuatan yang kita kerjakan. Walaupun demikian, banyak di kalangan orang yang ber-iltizam ketika masuk dalam agama, ia masih memilih-milih dengan sebagian aspek yang ia sukai saja dari agama tersebut. Ia boleh menjadikan Islam dalam melakukan sesuatu akan  tetapi ia juga mengingkari aturan Islam tentang sesuatu yang lain karena ia anggap sangat berat untuk menjalankannya. Hal ini bisa saja hanya merupakan perwujudan dari hawa nafsunya.

Sebagai makhluk yang mengaku sebagai hamba-Nya yang taat dan menjadikan ajaran-ajaran Islam sebagai satu-satunya jalan hidup yang diyakini serta selalu mencantumkan kata Islam di kartu tanda penduduk (KTP), maka berusaha dengan keras dan sungguh-sungguh dalam mengkaji ulang tentang kesempurnaan agama kita merupakan sesuatu yang mutlak dan tidak layak untuk disepelekan. Kajian-kajian yang membahas tentang Alqur’an, hadist dan wawasan tentang Islam lainnya sudah selayaknya menjadi agenda utama kita setiap hari. bukan malah sebaliknya, kita jadikan bekerja, bermain dan hal lainnya yang tidak menambah pemahaman kita tentang Islam sebagai agenda utama kita sedangkan pendalaman tentang Islam hanya dilakukan jika ada sisa waktu saja. Hal ini menjadi sangat penting bagi kita karena merupakan kunci dalam menggapai ridho Ilahi di dunia maupun di akhirat. Allah SWT menghendaki kita agar menjadi hamba yang paripurna dalam hal amal dan ibadah sebagaimana dijelaskan dalam ayat di atas, baik dalam urusan duniawi maupun ukhrawi. Hal itu bisa diwujudkan dengan tindakan berupa memperbanyak ibadah yang bersifat mahdlah (langsung kepada Allah) seperti puasa, shalat, dzikir, membaca Alqur’an, qiyamullail, maupun ibadah-ibadah yang bersifat ghairu mahdloh (tidak langsung kepada Allah) berupa menuntut ilmu, bekerja, dan lain sebagainya.

Dengan demikian kita akan menjadi hamba yang memiliki ketaatan yang sempurna dan juga memiliki kepribadian Rabbani, sikap dan perilaku kita benar-benar mencerminkan bahwa kita adalah seorang muslim. Tidak hanya dalam perbuatan yang berorientasi pada kehidupan akhirat akan tetapi juga urusan-urusan yang bersifat keduniawian. Dalam arena ilmiah, baik sebagai dosen maupun mahasiswa kita tidak hanya dituntut untuk menjadi dosen maupun mahasiswa yang pintar, rajin, dan kompeten, melainkan juga bertaqwa, konsisten dalam menjalankan ibadah, hafal dan juga paham al-qur’an, mutashoddiq (ahli sedekah) dan lain sebagainya. Sehingga tidak hanya kecerdasan dan daya pikir yang baik dan cemerlang yang kita miliki tetapi juga pribadi yang mengagumkan baik di mata manusia maupun Allah. SWT. Sedangkan dalam arena dakwah kita dituntut untuk gesit, cepat merespon, tidak cepat puas dengan apa yang ada, serta mempunyai pola pikir maju dalam menggagas jalan yang syar’i untuk mengadakan berbagai perombakan terhadap jalannya kehidupan.

Inilah sosok pribadi muslim sejati yang berhak diteguhkan kedudukan mereka di muka bumi. Adapun orang yang hanya merasa puas dengan sebagian ajaran agama dan mengklasifikasikan agama menjadi ajaran inti (pokok) dan kulit luarnya saja, maka ini adalah bid’ah yang munkar, bid’ah yang harus dihilangkan dari kehidupan umat dan menggantinya dengan pemahaman tentang Islam yang benar sehingga dapat mengambil Din (Islam) itu sendiri secara komprehensif.

Chairul Muslimna

Mahasiswa FPSB dan Santri PPUII

muslim_na@yahoo.co.id

Written by alrasikh

July 2, 2009 at 5:04 pm

Posted in lembar jumat

Mutiara Hikmah

without comments

Rasulullah SAW bersabda:

Aku telah meninggalkan kalian dalam keadaan yang terang-benderang, malamnya bagaikan siang harinya; setelahku tidak akan ada yang tersesat kecuali orang yang celaka.

(HR Ahmad dari Irbadh bin Sariyyah).

Written by alrasikh

July 2, 2009 at 4:59 pm

Posted in mutiara hikmah