Lembar Jumat Al-Rasikh

Archive for August 2009

Positive Parenting dalam ajaran Imam Al-Ghazali

without comments

Menjadi orang tua adalah tugas yang tidak mudah. Setiap orang tua mengemban amanah dan tangguhjawab untuk mendidik anaknya dengan metode dan muatan nilai yang terbaik dan yang paling unggul. Harapannya adalah bagaimana menjadikan seorang anak itu cerdas, berakhlak mulia dan memiliki fungsi diri yang utuh. Dengan kriteria itu, ia akan menjadi manusia berbudaya yang unggul.

Tujuan final dari semua itu tidak lain adalah membangun kemaslahatan dan kebahagiaan dunia dan akhirat. Anak yang tumbuh dalam karakter dan akhlak yang baik serta mulia tidak hanya akan sukses di dunia, namun juga dalam kehidupan ukhrawi. Dan itu yang terpenting. Kesuksesan dunia tanpa kesuksesan akhirat adalah hampa belaka. Maka dengan makna-makna Islami yang tumbuh subur dalam hati, seorang manusia akan meraih kebahagiaan di akhirat kelak.

Imam Al-Ghazali sebagai seorang ulama besar Islam memiliki seperangkat ajaran tentang ilmu jiwa (ilm an-nafs) atau psikologi hati yang membahas secara filosofis ataupun metodologis tentang penyempurnaan jiwa manusia. Selama ini, umumnya ajaran Al-Ghazali berlaku untuk manusia dewasa. Namun karena universalitasnya, ajaran beliau juga sesungguhnya terbuka untuk interpretasi-interpretasi spesifik tentang bagaimana pendidikan kejiwaan untuk anak-anak. Sebentuk pemikiran yang penting untuk kita lirik kiranya, mengingat betapa mirisnya melihat berbagai realitas pertumbuhan perilaku anak-anak dewasa ini, terutama di wilayah metropolis yang penuh dengan benturan nilai-nilai sehingga membuat bentuk dan identitas moral mereka semakin tidak menentu.

Pendidikan Moral sebagai Fondasi

Positive parenting adalah pendidikan dari orang tua yang bersifat positif dalam membangun karakter kepribadian, keutuhan mental, kecerdasan fisik/ psiko-motorik, kecerdasan kognitif serta spiritual sang anak. Bisa dikatakan bahwa positive parenting adalah pendidikan integratif dari orang tua terhadap anak.

Dalam pemikiran al-Ghazali, hal yang sangat mendasar dalam positive parenting adalah pendidikan moral. Moral merupakan nilai fundamental (fundamental value) dalam perkembangan jiwa sang anak sampai akhirnya nilai itu benar-benar tertanam saat dia dewasa kelak. Adapun peran utama orang tua dalam hal ini adalah core value (pusat nilai) yang akan diteladani oleh sang anak. Menurut Ghazali, ada empat nilai moral yang harus ditanamkan dalam diri seorang anak. Yang pertama yaitu empat kebaikan utama: hikmah (kebijaksanaan/kecerdasan), syaja’ah (keberanian), ‘iffah (pemeliharaan diri), dan ‘adalah (kesatupaduan dari ketiga elemen tadi).

Untuk memahami pandangan ontologis al-Ghazali tentang moral, dapat dilacak dari konsepnya tentang khulq. Al-Ghazali mendefisinikan kata khulq (moral) sebagai suatu keadaan atau bentuk jiwa yang menjadi sumber timbulnya perbuatan–perbuatan yang mudah tanpa melalui pemikiran dan usaha. Maksud kata “mudah” di sini adalah berarti bahwa setiap perbuatan moralistik sudah menjadi spontanitas perilaku sang anak selaku subjek moral, tanpa ada paksaan, pamrih atau rasa tertekan dalam menjalani perbuatan itu. Spontanitas—pada level tertentu—merupakan refleksi keikhlasan dalam beramal.

Level spontanitas dalam suatu tindakan akhlaki (moralistik) ini merupakan bentuk puncak dari pertumbuhan moral dalam diri sang anak yang akan ia raih saat ia menginjak usia dewasa. Untuk sampai ke sana tentunya membutuhkan tahapan-tahapan pendidikan dan pengajaran yang baik dan terjaga kontinuitasnya.

Metode-metode

Menurut al-Ghazali, pendidikan moral (al-thuruq ila tahzib al akhlak) memiliki beberapa metode diantaranya; pertama, metode pembiasaan, yakni metode dengan melatih anak untuk membiasakan dirinya pada budi pekerti dan meninggalkan kebiasaan yang buruk melalui bimbingan dan latihan (exercising). Tentang metode ini al-Ghazali mengatakan bahwa semua etika keagamaan tidak mungkin akan meresap dalam jiwa sebelum jiwa itu sendiri dibiasakan dengan kebiasaan baik dan dijauhkan dari kebiasaan yang buruk. Nilai-nilai moral dan etika keagamaan haruslah mendarah daging menjadi perilaku (behaviour) dan kebiasaan (habitus) bahkan kesadaran (consciousness).

Hal ini seperti apa yang beliau kemukakan :

“Apabila anak itu dibiasakan untuk mengamalkan apa-apa yang baik, diberi pendidikan ke arah itu pastilah ia akan tumbuh di atas kebaikan tadi akibat positifnya ia akan selamat sentosa di dunia dan akhirat. Sebaliknya jika anak itu sejak kecil dibiasakan  dan dibiarkan mengerjakan keburukan, begitu saja tanpa diberikan pendidikan pengajaran, yakni sebagaimana halnya seseseorang memelihara binatang, maka akibatnya anaki tu akan selalu berakhlak buruk, dan dosanya dibebankan kepada orang yang bertanggung jawab (orang tua dan guru) memelihara dan mengasuhnya. (Al-Ghazali , Ihya’ Ulumuddin, VI hal. 107).

Untuk menopang proses pembentukan kebiasaan bagi anak-anak, al-Ghazali mengemukakan beberapa prinsip yang perlu dilakukan oleh pendidik yaitu: penggunaan dorongan atau pujian secara proporsional, pemberian celaan secara bijaksana, melarang anak untuk berbuat buruk secara sembunyi-sembunyi, melarang anak untuk membanggakan apa yang dimilikinya, mengajari anak untuk bersikap suka memberi (kedermawanan) dan tidak suka meminta (kemandirian).

Kedua, metode keteladanan. Dalam rangka membawa manusia menjadi manusiawi, Allah telah menciptakan Rasulullah sebagai pribadi teladan yang baik. Demikian halnya dengan guru. Dalam pandangan al-Ghazali, guru adalah pewaris nabi dan subyek pendidikan, maka haruslah menjadi teladan bagi anak didiknya. Dan orang tua tidak lain adalah guru bagi anak-anaknya.

Berkaitan dengan hal tersebut al-Ghazali memberikan penjelasan seperti apa yang dikemukakannya:

“Hendaklah guru mengamalkan ilmunya, jangan perkataannya membohongi perbuatanya…. Perumpamaan guru yang membimbing murid adalah bagaikan ukiran dengan tanah liat, atau bayangan dengan tongkat. Bagaimana mungkin tanah liat dapat terukir sendiri tanpa ada alat untuk mengukirnya, bagaimana mungkin bayangan akan lurus kalau tongkatnya bengkok.“ (al-Ghazali, Ihya’Ulummuddin,  juz 8 hal. 105-109).

Hal di atas menegaskan betapa al-Ghazali sangat menekankan keteladanan dalam pendidikan moral. Orang tua harus bisa memulai dan berbuat lebih dahulu (learning by doing) apa yang diajarkannya pada anaknya, sebab kalau tidak itu justru akan berdampak buruk pada anak. Anak akan kehilangan kepercayaan pada orang tua yang keteladanannya hanya sebatas di lisan saja. Orang tua adalah arketip bagi anak-anaknya.

Ketiga, tazkiyah nafs (metode penyucian diri). Dilihat dari segai muatan nilainya, metode ini adalah metode tingkat lanjut, yang strategi parenting di masa remaja dan masa dewasa awal. Metode ini terdiri dari dua langkah yaitu takhliyah al-nafs dan tahliyah al-nafs. Takhliyah al-nafs adalah usaha penyesuaian diri melalui pengosongan diri dari sifat-sifat tercela. Sedangkan tahliyah al-nafs merupakan penghiasan diri dengan moral dan sifat terpuji.

Proses penyucian jiwa menekankan pentingnya orang tua sebagai pembimbing moral dan panutan penyucian diri, pencerahan, pembersihan jiwa. Sebagaimana seorang sufi harus memahami tingkat-tingkat atau kondidsi penyakit jiwa yang dialami oleh murid, demikian halnya orang tua sebagai guru bagi anak-anaknya harus benar-benar mengetahui kondisi jiwa anak-anaknya itu. Dengan demikain keberadaan orang tua aakan bersifat solutif bagi problematika hidup yang dihadapi anak.

Kalangan orang tua pun harus sering bertukar fikiran satu sama lain agar terciptakan suatu tradisi sharing bersama atau groupthinking yang berisi pengalaman-pengalaman dan pelajaran menjadi orang tua, sehingga mereka bisa lebih dinamis lagi dalam mendidik anak-anak mereka.

Ridwan Munawwar adalah alumnus PPM Hasyim Asyari’e.

Mahasiswa Psikologi UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta.

Written by alrasikh

August 26, 2009 at 5:48 am

Posted in lembar jumat

Mutiara Hikmah

without comments

Dari Abu Hurairah r.a. dan Abu Said r.a., Rasulullah s.a.w. bersabda:

Tiada suatu kaum pun duduk-duduk sambil berzikir kepada Allah melainkan dikelilingi oleh para malaikat dan ditutupi oleh rahmat serta turunlah kepada mereka itu ketenangan di dalam hati mereka dan Allah mengingatkan mereka kepada makhluk-makhluk yang ada di sisinya yakni disebutkan-sebutkan hal ehwal mereka itu di kalangan para Malaikat.

(H.R. Riwayat Muslim)

Written by alrasikh

August 26, 2009 at 5:47 am

Posted in mutiara hikmah

Menjadikan Bulan Suci Lebih Berarti dengan AL QUR`AN

without comments

(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil). Karena itu, barang siapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barang siapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.

(Q.S. Al-Baqarah [2]: 185).

Tidak lama lagi kita kaum muslimin akan kehadiran tamu terhormat. Tamu ini setiap tahun rutin hadir untuk menyapa dan mengingatkan kaum muslimin. Tamu tersebut adalah bulan suci Ramadhan. Namun harus kita sadari, Ramadhan yang menemui kita kali ini bukanlah Ramadhan yang datang pada tahun-tahun sebelumnya. Ini adalah tamu yang sama sekali baru dan harus dihormati dan diagungkan dengan “menjamunya” dengan berbagai aktivitas yang dapat meningkatkan kualitas diri kita, menajamkan hati nurani, meningkatkan kecerdasan, baik kecerdasan spiritual, intelektual maupun emosional, meningkatkan rasa kepedulian sosial; dan pada gilirannya akan meningkatkan kualitas moral kita, baik secara vertikal dengan Allah SWT, maupun moral horizontal antara sesama muslim, sesama manusia dan sesama makhluk-Nya.

Usaha yang dapat meningkatkan kualitas diri kita (dalam konteks moral spiritual) pada dasarnya tak terbatas, namun di sini penulis akan mengajak saudara-saudara kaum muslimin untuk memperbanyak membaca Alqur’an. Bukan berhenti hanya pada membaca, akan tetapi juga merenungi arti dan maknanya dan kemudian mengamalkannya. Kesemuanya ini kita lakukan agar membuat diri kita lebih hidup dan memanfaatkan moment kesucian bulan Ramadhan yang penuh berkah.

Ajakan penulis ini berdasarkan petikan ayat di atas yang secara jelas menyatakan bahwa Alqur’an adalah sebagai petunjuk bagi umat manusia, sekaligus merupakan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Oleh karena itu, untuk mengisi bulan suci Ramadhan agar lebih berarti dan memberi arti dalam kehidupan kita, mari memperbanyak membaca Alqur’an. Karena membaca Alqur’an merupakan ibadah praktis dan ekonomis, yang bisa dilakukan kapan saja di mana saja, tanpa terikat oleh waktu dan bilangan jumlah seperti ibadah lainnya. Seperti shalat tarawih yang waktunya dibatasi setelah isya’ dan sebelum fajar, begitu juga shalat-shalat sunnah lainnya.

Menemukan Arti Kehidupan dengan Alqur’an

Salah satu nama Alqur’an adalah ar-Ruh. Di antara ayat yang menunjukkan hal ini adalah surat al-Syuura [42] ayat 52:

Dan Demikianlah kami wahyukan kepadamu Ruh (Alqur’an) dengan perintah kami. sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al-Kitab (Alqur’an) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi kami menjadikan Alqur’an itu cahaya, yang kami tunjuki dengan dia siapa yang kami kehendaki di antara hamba-hamba kami. dan Sesungguhnya kamu benar- benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.

Pada umumnya para mufassir berpendapat bahwa yang dimaksud kata ruh dalam ayat tersebut adalah Alqur’an. Di antara mufassir yang berpendapat demikian adalah Ibnu Jarir at-Thabary, Ibnu Katsir, Ibnu Zaid, Zaid Bin Aslam, al-Alusi, Imam aS-Syaukani as-Sa’dy, Jalaludin al-Mahalli dan lain-lain. lbnu Jarir at-Thabary yang merupakan ulama terbesar dalam bidang tafsir bil ma’tsur menulis dalam kitabnya “dan sebagaimana kami wahyukan kepada rasul-rasul kami (Allah), kami juga mewahyukan Alqur’an ini kepadamu ya Muhammad.”

Al-Ashfahani dalam kitabnya Gharibul Alqur’an juga berpendapat senada. Menurutnya, Alqur’an disebut dengan ruh karena Alqur’an dapat membangkitkn kehidupan hati manusia, khususnya untuk mempersiapkan diri dalam menjalani kehidupan yang abadi, kehidupan akhirat. Jadi yang dimaksud ruh dalam ayat tersebut adalah Alqur’an. Memang, Hal ini cukup logis, karena dengan Alqur’an apabila manusia mau membaca, menelaah mendiskusikan kandungan Alqur’an serta mau dan mampu berinteraksi dengannya, maka ia akan merasakan arti kehidupan yang sesungguhnya.

As-Sa’dy dalam tafsirnya mengatakan bahwa Alqur’an menghidupkan peradaban hati manusia, yang berimplikisai pada kemashlahatan hidupnya baik di dunia maupun akhirat. Karena dengan hidupnya hati maka manusia akan terangsang dan termotivasi menjadi manusia yang lebih maju, lebih tahu, lebih berwawasan pada gilirannya dapat membangun peradaban di muka bumi ini. Dengan demikian, kata ruh sebenarnya juga sudah menjadi semacam kiasan. Ruh juga dapat diartikan sebagai semangat, sebagai kekuatan yang membangkitkan.

Memang, Alqur’an sendiri juga ruh, atau memiliki ruh atau memancarkan ruh. Karena Alqur’an memberikan daya hidup, spirit dan vitalitas. Sebagai kitab petunjuk, Alqur’an dapat membangkitkan semangat dan menggerakkan orang untuk bertindak. Alqur’an juga memancarkan cahaya. Jika ada cahaya, maka akan meihat jalan, dan jika melihat jalan maka ia akan berhasil mencapai tujuan.

Seorang yang memiliki pengetahuan tentang wahyu Ilahi (Alqur’an) maka ia akan memiliki ruh kehidupan. Karena sebagaimana disebutkan dalam Surat asy-Syuura [42] ayat 52, bahwa Allah telah mengisi Alqur’an dan kitab-kitab lainnya dengan kekuatan yang membangkitkan. Dan kebangkitan itu tentunya bukan terjadi pada Alqur’an sebagai benda, melainkan pada manusia yang telah terisi dengan wahyu ilahi, atau nilai-nilai spirit Alqur’an.

Berangkat dari pemaparan di atas, maka bagi siapa saja yang menghendaki dirinya lebih hidup, baik hati maupun fikirannya, mendapatkan ilmu pengetahuan dan wawasan, maka yang harus ia lakukan adalah mempelajari Alqur’an dan mengamalkan spirit yang ada di dalamanya. Spirit yang ada di dalam Alqur’an mencakup berbagai bidang dalam kehidupan manusia, masalah aqidah, ibadah, akhalaq, menyangkut masalah pendidikan, ekonomi, politik, kebudayan, seni dan sebagainya.

Hidup Lebih Hidup dengan Alqur’an

Harus kita sadari bahwa selama ini kita belum maksimal dan optimal dalam mengamalkan spirit yang dikehendaki Alqur’an. Kaum muslimin membaca Alqur’an pada umumnya hanya sebatas sebagai aktivitas ritual dan belum sampai pada penghayatan dan pengamalan spirit yang terkandung di dalamnya. Marilah dengan kehadiran Ramadhan yang penuh rahmah ini kita temukan makna kehadiran kita di dunia ini melalui perenungan, penghayatan serta pengamalan Alqur’an. Karena Alqur’an menawarkan metode kehidupan yang sama sekali baru, yaitu dari logika dan dialektika yang utopian yang tidak membumi, menuju logika eksperimental yang empiris. Menatap kedalaman semesta dan mendorong manusia untuk mempelajarinya. Selain itu Alqur’an juga memberi stimulus kepada manusia untuk menggali hukum-hukum Allah SWT yang dipancangkan dalam semesta ini untuk kemudian dengan pengetahuan itu mempergunakan semesta ini bagi kemaslahatan manusia dan pembangunan peradaban mereka (Syeikh Muhammad Ghazali, 1992).

Mari kita mentransformasikan spirit Alqur’an dengan mengamalkan semangat Alqur’an yang bersemayam dalam deretan huruf atau ayat dalam bentuk nyata. Karena semangat atau spirit Alqur’an masih abstrak. Teks-teks tersebut tidak lebih dari deretan huruf dan onggokan ayat tanpa makna jika tidak dibaca dan diinterpretasikan oleh manusia. Ia akan menjadi konkret atau nyata apabila sudah diubah menjadi tindakan nyata yang merupakan wujud dari semangat yang ada dalam Alqur’an. Apa pun profesi dan pekerjaan kita kalau kita mau mengamalkan spirit yang ada di dalam Alqur’an, insyaallah kita akan lebih termotivasi untuk maju demi menggapai kebahagiaan di dunia dan akhirat.

Prof. Zakiah Darajat, dalam bukunya “Peranan Agama Dalam Kesehatan Mental”, menyatakan bahwa fungsi agama adalah: pertama, agama memberikan bimbingan bagi manusia dalam mengendalikan dorongan-dorongan sebagai konsekwensi dari pertumbuhan fisik dan psikis seseorang. Kedua, agama dapat memberikan terapi mental bagi manusia dalam menghadapi kesukaran-kesukaran dalam hidup.  Seperti pada saat menghadapi kekecewaan-kekecewaan yang kadang dapat menggelisahkan batin dan dapat membuat orang putus asa.  Disini agama berperan mengembalikan kesadaran kepada sang pencipta. Ketiga, agama sebagai pengendali moral, terutama pada masyarakat yang mengahadapi problematika etis, seperti perilaku sex bebas (Zakiah Deradjat: 1982).

Apakah kita kaum muslimin sudah merasakan fungsi agama sebagaimana disebutkan di atas? Kalu sudah, marilah kita optimalkan dan maksimalkan, dan kalau belum marilah dengan datangnya bulan suci Ramadhan ini kita jadikan momentum untuk bangkit dan menemukan fungsi agama tersebut dengan meningkatkan amalan-amalan, khususnya dengan memperbanyak membaca Alqur’an dan menemukan mutiara hikmah dan nasehat serta mengamalkannya dalam kehidupan kita, agar hidup kita lebih hidup dan lebih berarti bagi diri kita, orang lain dan alam sekitar kita.

Wallahu A’lam Bishshawwab

Hameem Abdul Haleem

Alumni Universitas Islam Indonesia

Tinggal di Lampung

Written by alrasikh

August 20, 2009 at 8:24 am

Posted in lembar jumat

Mutiara Hikmah

without comments

“Jadikanlah (dirimu sebagai) orang yang malu kepada Allah. Jauhilah larangan-laranganNya dan kerjakanlah kewajiban-kewajibannya. Tetaplah bersama kebenaran dimanapun kamu berada.”

(Imam asy-Syafi’i)

Written by alrasikh

August 20, 2009 at 8:17 am

Posted in mutiara hikmah