Pemuda
PEMUDA, TAK KENAL LELAH MENCETAK SEJARAH
Kami telah menciptakan kamu; maka mengapa kamu tidak membenarkan? Adakah kamu perhatikan (benih manusia) yang kamu pancarkan? Kamukah yang menciptakannya? Ataukah Kami yang menciptakannya?
(Q.S. Alqur’an [56]: 57-59).
Bulan Oktober bagi negeri ini tergolong bulan yang bersejarah. Banyak peristiwa penting di dalamnya, salah satunya adalah hari Sumpah Pemuda yang diperingati setiap tanggal 28 Oktober. Meski lahirnya sumpah pemuda ini sudah lama berselang, sekitar 81 tahun yang lalu, tepatnya 28 Oktober 1928, namun ia masih cukup relevan jika dihubungkan dengan kondisi saat ini. Lahirnya sumpah pemuda membuktikan bahwa pemuda selalu memiliki semangat untuk terus berusaha mencetak prestasi dan mengukir sejarah negeri.
Kalau kita bercermin dari sejarah bangsa ini, banyak peristiwa sejarah lahir karena kontribusi pemuda, bukan hanya hari Sumpah Pemuda. Era reformasi yang lahir 11 tahun lalu juga dimotori oleh pemuda. Pemuda bergerak dan bersatu untuk menyampaikan tuntutannya sebagai respon akan ketidakadilan dan penindasan yang terjadi selama puluhan tahun di negeri ini. Akhirnya sejarah pun ditorehkan, orde baru berhasil ditumbangkan, dan era reformasi berhasil dilahirkan. Pemuda saat itu berhasil mengatasi rasa takut, rasa egoisme pribadi demi perjuangan yang jauh lebih besar, meski nyawa menjadi taruhannya. Ini sekali lagi membuktikan bahwa pemuda tidak pernah duduk manis menjadi penonton sejarah melainkan selalu berusaha ikut terlibat sebagai subjek sejarah.
Jika kita perhatikan, kontribusi pemuda bagi bangsa ini tidak hanya terjadi di masa lalu. Di masa sekarang pun banyak hal yang telah dilakukan pemuda demi pengabdiannya kepada negeri. Kita bisa lihat bagaimana pemuda-pemuda Indonesia berhasil menorehkan prestasi tidak hanya dalam skala nasional, tetapi juga internasional. Di bidang pendidikan, terutama di ajang kompetisi olimpiade sains dunia (fisika, matematika, biologi, kimia, astronomi, dan lain-lain) telah banyak medali dipersembahkan untuk tanah air oleh pemuda-pemuda terbaik bangsa. Di bidang olahraga, kaum muda juga menjadi ujung tombak bagi diharumkannya nama bangsa di pentas dunia. Di bidang teknologi, kita bisa melihat tidak sedikit prestasi yang diukir oleh kaum muda, misalnya prestasi yang baru-baru ini berhasil ditorehkan oleh mahasiwa STEI ITB yang berhasil meraih dua penghargaan dalam lomba perancangan processor di Jepang. Mereka bahkan sanggup menyingkirkan pesaing-pesaingnya dari beberapa universitas ternama di Jepang dan Korea.
Dalam bidang kesenian, kita juga bisa melihat bahwa pemuda Indonesia bukanlah pemuda yang miskin prestasi. Gelar juara dunia yang berhasil dipersembahkan oleh paduan suara mahasiswa IPB di ajang Choir Festival di Rimini, Italia, adalah buktinya. Di bidang kewirausahaan, pemuda Indonesia juga bukan hanya menjadi penonton tetapi juga pelaku pencetak prestasi. Kita patut berbangga ketika dua orang pemuda kita berhasil mendapat penghargaan dalam ajang International Young Creative Entrepreneur Award (IYCE) 2009 di Inggris. Dan masih banyak prestasi membanggakan lain yang ditorehkan oleh kaum muda sebagai bukti bahwa mereka tidak kenal lelah mencetak sejarah.
Ini juga sebagai indikasi bahwa para pemuda ini telah memahami dengan baik apa yang difirmankan Allah SWT dalam Alqur’an surat Attaubah [9]:105: “Katakanlah,”Bekerjalah kalian. Pasti Allah dan Rasul-Nya serta kaum Muslimin akan melihat pekerjaan kalian…”
Namun tentu sejumlah prestasi yang dicapai pemuda negeri ini jangan sampai membuat kita terbuai. Karena jika kita perbandingkan dengan besarnya jumlah penduduk Indonesia, rasionya masih tergolong kecil. Masih banyak kaum muda di negeri ini yang masih “tenggelam” dan duduk manis sebagai penonton dan objek sejarah, belum bangkit untuk ikut menjadi subjek sejarah. Karenanya perlu ada upaya yang terus menerus untuk “membangunkan” pemuda harapan bangsa ini.
Jangan Anggap Remeh Kemampuan Diri
Kadangkala kita kita berpikir segalanya sulit padahal kita belum mencoba. Kita kalah dulu sebelum bertanding, dan menganggap orang lain memiliki kemampuan jauh lebih tinggi dibandingkan kita. Kita tidak percaya diri bahwa kita juga sanggup menggapai prestasi seperti yang orang lain lakukan. Bukankah Allah menciptakan manusia dalam bentuk yang paling sempurna dan tidak membeda-bedakan satu sama lainnya (kecuali pada akhirnya dibedakan berdasarkan ketakwaannya-pen.)?
Selain diciptakan dengan bentuk yang sempurna, manusia juga dibekali Allah SWT kemampuan yang luar biasa, untuk mengenal, memahami, belajar, dan akhirnya mengerti akan banyak hal yang tak terbatas. Bahkan sejak awal kita disiapkan oleh Allah SWT untuk menjadi individu yang kuat, tahan banting, dan menjadi pemenang. Apakah kita lupa bahwa kita hadir di dunia diawali oleh terjadinya proses biologis, yaitu terjadinya peleburan sel sperma (laki-laki) dan sel ovum (wanita)? Dari jutaan sel sperma yang saling bersaing, hanya satu sel sperma yang bisa mencapai sel ovum, dan akhirnya membuahi ovum. Inilah sel sperma terbaik yang kemudian bersama sel ovum terbaik pula menjadi bahan dasar dari kita. Lalu masihkah kita kurang percaya diri dalam melakukan sesuatu?
Kami telah menciptakan kamu; maka mengapa kamu tidak membenarkan? Adakah kamu perhatikan (benih manusia) yang kamu pancarkan? Kamukah yang menciptakannya? Ataukah Kami yang menciptakannya? (Q.S. Alqur’an [56]: 57-59).
Raih Kesempatan Selagi Sempat
Dalam sebuah hadits dari Ibnu Abbas RA, riwayat Al Hakim, Nabi Muhammad SAW bersabda: “Gunakanlah lima kesempatan sebelum datangnya yang lima (uzur), yakni masa mudamu sebelum datang tuamu, masa sehatmu sebelum datang sakitmu, masa kayamu sebelum datang miskinmu, masa hidupmu sebelum datang matimu, waktu luangmu sebelum datang kesibukanmu”.
Dalam hadits ini tampak sekali terlihat begitu besarnya perhatian Islam terhadap usia muda. Usia muda dipandang sebagai suatu kesempatan yang sangat berharga dan jangan sampai disia-siakan. Banyak hal yang bisa dilakukan saat usia muda, belum tentu dapat dikerjakan saat usia tua. Di usia muda semangat masih membara, ditambah lagi dukungan fisik yang masih prima sehingga segala cita masih dimungkinkan untuk bisa diraih.
Apalagi jika masa muda dijadikan sarana untuk dekat dan menggapai cinta Allah SWT, tentu ini akan membuahkan hasil yang manis. Seperti yang diungkapkan oleh hadits yang diriwayatkan Syaikhani: ”Tujuh orang yang akan dilindungi Allah dalam lindungan-Nya pada hari yang tidak ada perlindungan selain perlindungannya (satu di antaranya ialah) pemuda yang sejak kecil selalu beribadah kepada Allah.”
Jika Allah SWT sudah melindungi kita, tentu tidak akan ada lagi yang sanggup mencelakakan kita. Karenanya kita akan bisa semakin mantap menggapai cita-cita.
Pentingnya masa muda sangat jelas digambarkan Rasulullah SAW. Bahkan Nabi dengan kasih sayang, kebijaksanaan, dan ilmunya selalu berusaha menggembleng kaum muda agar mampu berbuat banyak terutama dalam membela agama Allah. Beberapa contoh gemblengan Rasulullah SAW yang pada akhirnya menjadi pemimmpin yang tangguh adalah Umar bin Khattab (digembleng dalam usia 27 tahun), Zaid bin Haritsah (dalam usia 20 tahun), Saad bin Abi Waqash (17 tahun), dan Ali bin Abi Thalib dalam usia 8 tahun sudah mendapatkan gemblengan Muhammad Rasulullah SAW.
Pemuda di mana pun dia berada adalah harapan bagi bangsanya. Nasib suatu bangsa bisa diprediksi dari kondisi pemudanya saat ini. Pemuda yang kuat luar dan dalam, jasmani dan rohani akan membuat masa depan suatu bangsa menjadi lebih cerah (meski itu belum bisa jaminan sepenuhnya). Pemuda yang kuat akan banyak menciptakan sejarah dan menorehkan tinta emas, membuat harum nama bangsanya. Dan bangsa manapun tentu mendambakan generasi penerus seperti ini untuk bisa tetap eksis di tengah persaingan dunia yang semakin kompleks dan terbuka. Sementara pemuda yang lemah justru hanya akan menjadi beban bagi bangsanya. Pemuda yang lemah akan menjadi bumerang bagi nasib bangsanya di masa depan. Karenanya negara manapun tak pernah memimpikan lahirnya generasi muda yang demikian.
Akhirnya pilihan terakhir diserahkan kepada pemudanya sendiri. Mau kemanakah tujuan dia melangkah dan bekal apakah yang akan dia bawa untuk menggapai tujuannya tersebut. Yang jelas semua pilihan selalu ada konsekuensinya.
Wallahu a’lam bisshawab.
Sapto Nugroho Hadi
Mahasiswa Pasca Sarjana UGM