Lembar Jumat Al-Rasikh

Archive for the ‘lembar jumat’ Category

BULAN MUHARRAM ITU INDAH DAN MULIA

with 2 comments

Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya terdapat empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, Maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu…,” (Q.S. al-Taubah [09]: 36).

1 Muharram 1431 H kali ini jatuh pada hari Jum’at bertepatan dengan tanggal 18 Desember 2009. Seakan tidak terasa, waktu berjalan dengan cepat, hari berganti hari, pekan, bulan, dan tahun silih berganti seiring dengan bergantinya siang dan malam. Kata Muharram berarti disucikan dan dimuliakan, sehingga Ia adalah bulan yang memiliki kedudukan yang sangat terhormat dan disucikan. Nabi Muhammad SAW bersada :“sesungguhnya zaman itu berputar sebagaimana bentuknya semula di waktu Allah menciptakan langit dan bumi. Setahun itu ada dua belas bulan diantaranya terdapat empat bulan yang dihormati: tiga bulan berturut-turut; Dzul Qo’dah, Dzul Hijjah, Muharram dan Rajab Mudhar, yang terdapat diantara bulan Jumada tsaniah dan Sya’ban.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Pada keempat bulan ini Allah melarang kaum muslimin untuk berperang. Dalam penafsiran lain adalah larangan untuk berbuat maksiat dan dosa. Namun bukan berarti berbuat maksiat boleh dilakukan pada bulan-bulan yang lain. Sebagaimana ayat Al Qur’an yang memerintahkan kita menjaga shalat wustha, yang banyak ahli tafsir memahami shalat wustha adalah shalat ashar. Qatadah ad-Di’amah as-Sadusi, murid Ibnu Mas’ud menjelaskan, “sesungguhnya kedhaliman pada bulan haram adalah kesalahan dan dosa yang lebih besar daripada kedhaliman yang dilakukan pada bulan-bulan yang lainnya. Meskipun kedhaliman itu secara umum adalah dosa besar, tetapi Allah membesarkan suatu urusan sesuai dengan kehendaknya.” (tafsir Ibnu Katsir)

Muharram adalah Bulan Allah

Bulan Muharram merupakan suatu bulan yang disebut sebagai “syahrullah” (bulan Allah) sebagaimana yang disampaikan Rasulullah s.a.w dalam sebuah hadis, yang berbunyi: “ Puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah puasa di bulan Allah (yaitu) Muharram. Sedangkan shalat yang paling utama setalah shalat fardhu adalah shalat malam. (H.R. Muslim)

Hal ini bermakna bahwa bulan ini memiliki keutamaan khusus karena disandingkan dengan lafzhul Jalâlah (lafadz Allah). Para Ulama menyatakan bahwa penyandingan sesuatu pada yang lafzhul Jalâlah memiliki makna tasyrif (pemuliaan), sebagaimana istilah Baitullâh, Rasûlullâh, Syaifullâh dan sebagainya. Andai kita tahu hal ini, maka kau akan tersenyum akan kemuliaan, kesucian, dan kebesarannya.

‘Asyura di Bulan Muharram

Pada bulan Muharram ini terdapat sebuah hari yang dikenal dengan istilah yaumul ‘Asyura yaitu pada tanggal sepuluh bulan ini. Asyuro berasal dari kata asyarah, yang berarti sepuluh. Pada hari Asyuro ini, terdapat sebuah sunnah yang diajarkan Rasulullah s.a.w kepada umatnya untuk melaksanakan satu bentuk ibadah dan ketundukan kepada Allah Ta’ala yaitu ibadah puasa yang kita kenal dengan puasa Asyuro. Adapun hadis-hadis yang menjadi dasar ibadah puasa tersebut diantaranya: diriwayatkan dari Abu Qatadah r.a, Rasulullah s.a.w, bersabda: “ Aku berharap pada Allah dengan puasa Asyura ini dapat menghapus dosa selama setahun sebelumnya.” (H.R. Bukhari dan Muslim). Ibnu Abbas ra berkata: “Aku tidak pernah melihat Rasulullah saw, berupaya keras untuk puasa pada suatu hari melebihi yang lainnya kecuali pada hari ini, yaitu hari as Syura dan bulan Ramadhan.” (H.R. Bukhari dan Muslim).

Abul Laits Assamarqandi dengan meriwayatkan dengan sanadnya dari Ibnu Abbas r.a berkata: “Barangsiapa yang berpuasa pada bulan Asyura yakni 10 Muharram, maka Allah akan memberikan kepadanya pahala 10.000 Malaikat; dan barang siapa yang berpuasa pada hari Asyura, maka akan diberikan pahala 10.000 orang haji dan umrah, dan 10.000 orang mati syahid dan siapa yang mengusap kepala anak yatim pada hari Asyura, maka Allah akan menaikkan dengan rambut satu derajat. Dan barangsiapa yang memberi buka puasa kepada orang mukmin yang berpuasa pada hari Asyura, maka seolah-olah memberi buka puasa semua umat Muhammad s.a.w. dan mengenyangkan perut mereka.”

Ibnu Abbas r.a berkata: ketika Rasulullah SAW tiba di Madinah, beliau melihat orang-orang Yahudi berpuasa pada hari Asyura, maka Beliau bertanya : “Hari apa ini? mereka menjawab: “Ini adalah hari istimewa, karena pada hari ini Allah menyelamatkan Bani Israil dari musuhnya, karena itu Nabi Musa berpuasa pada hari ini. Rasulullah pun bersabda: “aku lebih berhak terhadap Musa dari pada kalian”. Maka beliau berpuasa dan memerintahkan sahabatnya untuk berpuasa. (H.R. Bukhari dan Muslim)

Dalam riwayat lain, Ibnu Abbas r.a berkata: Ketika Rasulullah s.a.w. berpuasa pada hari asyura dan memerintahkan kaum muslimin berpuasa, mereka (para shahabat) berkata: “Ya Rasulullah ini adalah hari yang diagungkan Yahudi dan Nasrani”. Maka Rasulullah pun bersabda :”Jika tahun depan kita bertemu dengan bulan Muharram, kita akan berpuasa pada hari kesembilan (tanggal sembilan).“ (H.R. Bukhari dan Muslim) Imam Ahmad dalam musnadnya dan Ibnu Khuzaimah dalam shahihnya meriwayatkan sebuah hadis dari Ibnu Abbas ra, Rasulullah saw. bersabda : “Puasalah pada hari Asyuro, dan berbedalah dengan Yahudi dalam masalah ini, berpuasalah sehari sebelumnya atau sehari sesudahnya.“

Baiklah, berbicara mengenai keutamaan Asyura, sahabat bertanya kepada Rasulullah: “ya Rasulullah! Allah telah melebihkan hari Asyura dari lain-lain hari. Rasulullah menjawab: “Benar, Allah telah menjadikan langit dan bumi pada hari asyura, dan menjadikan Adam juga Hawa pada bulan Asyura, dan menjadikan surga serta memasukkan Adam ke surga pada hari Asyura, dan Allah menyelamatkan dari api neraka pada hari Asyura, dan menenggelamkan Fir’aun pada hari Asyura, dan menyembuhkan bala Nabi Ayyub pada hari Asyura, dan Allah memberi taubat kepada nabi Adam pada hari Asyura, dan diampunkan dosa Nabi Daud pada hari Asyura, dan juga kembalinya kerajaan Nabi Sulaiman pada hari Asyura.”

Saudaraku, andai kita tahu semuanya betapa banyak keutamaan bulan Asyura (baca: Muharram) ini. Maka saat inilah waktu yang tepat untuk meng-upgrade tabungan pahala dan melebur dosa-dosa, menjauhkan diri dari maksiat. Jangan biarkan diri kita tenggelam dalam kesenangan sesaat, yakinlah semua itu hanya lah akan mengecoh jalan kita menuju surga Allah.

Berpuasalah di Bulan Muharram

Saudaraku! kita sudah mulai melangkah untuk menuju maghfiroh Allah SWT. Ibnu Qoyyim dalam kitab Zâdul Ma’âd –berdasarkan riwayat-riwayat yang ada-, menjelaskan bahwa hari-hari yang paling dianjurkan untuk berpuasa dan ini yang paling sempurna adalah puasa tiga hari, yaitu puasa tanggal sepuluh ditambah sehari sebelum dan sesudahnya (9,10,11). Kemudian puasa tanggal 9 dan 10, inilah yang disebutkan dalam banyak hadis. Urutan ketiga, puasa tanggal 10 saja.

Puasa sebanyak tiga hari (9,10,dan 11) dikuatkan para para ulama dengan dua alasan sebagai berikut: pertama, sebagai kehati-hatian, yaitu kemungkinan penetapan awal bulannya tidak tepat, maka puasa tanggal sebelasnya akan dapat memastikan bahwa seseorang mendapatkan puasa tasu’a (tanggal 9) dan asyuro (tanggal 10).

Kedua, karena dimaksudkan untuk dimasukkan dalam puasa tiga hari pertengahan bulan. Adapun puasa tanggal 9 dan 10, dinyatakan jelas dalam hadis  pada akhir hidup beliau sudah merencanakan  untuk puasa pada tanggal 9. Hanya saja beliau meninggal sebelum melaksanakannya. Beliau juga memerintahkan  para sahabat untuk berpuasa pada tanggal 9 dan 10 agar berbeda dengan ibadah orang-orang Yahudi. Sedangkan puasa pada tanggal sepuluh saja, sebagian ulama memakruhkannya, meskipun pendapat ini tidak dikuatkan sebagian ulama yang lain. Secara umum, hadis-hadis yang terkait dengan puasa Muharram menunjukkan anjuran Rasulullah s.a.w untuk melakukan puasa, sekalipun itu hukumnya tidak wajib tetapi sunnah muakkadah, dan tentunya kita berusaha untuk menghidupkan sunnah yang telah banyak dilalaikan oleh kaum muslimin.

Saudaraku, jika kita sudah tahu semuanya maka berpuasalah pada bulan yang suci dan mulia ini. Dimana kita tidak akan pernah menyesal karenanya. Ia akan menghapuskan dosa-dosa kita satu tahun yang telah lalu, memberikan pahala 10.000 malaikat, pahala 10.000 orang yang naik haji dan umrah dan 10.000 orang mati syahid. Mari kita berpuasa bersama dengan mengharapkan ridho Allah S.W.T. Maha besar Allah atas segala nikmatya.

Arjun Thohuri

Jurusan Pendidikan Agama Islam FIAI UII

dan Santri PonPes UII, angkatan 2008.

e-mail: junaprail@yahoo.com

Written by alrasikh

December 16, 2009 at 5:48 am

Posted in lembar jumat

MEMAHAMI RAHASIA KESUKSESAN

without comments

Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia (Q.S al-Ra’du [13]: 11)

Rahasia kesuksesan selalu menjadi bahan incaran setiap orang yang masih belum menemui dan memahami kesuksesan hidup. Bahkan kita selalu mendengar begitu banyak dan maraknya iklan-iklan pelatihan training motivasi untuk meraih kesuksesan. Walau tak jarang, kadang dengan menawarkan biaya mahal hanya untuk sekedar mengikuti progam pelatihannya. Ujungnya hanya sebagai alat komersial belaka. Buku-buku motivasi kesuksesan pun kini sudah menjamur dan menghiasi di setiap toko-toko buku. Semuanya menawarkan “demonstrasi” kesuksesan dengan teknik dan cara yang beragam.

Tapi, cobalah jawab petanyaan saya, tahukah anda apa yang dimaksud dengan kesuksesan itu? Boleh jadi kemudian sebagian anda akan langsung menyebutkan, berbagai contoh kesuksesan. Bagi orang yang miskin, tentu saja kesuksesan adalah ketika ia menjadi kaya. Bagi orang yang sakit, kesuksesan adalah ketika ia menjadi sembuh. Bagi seorang pengusaha, kesuksesan adalah ketika ia memperoleh keuntungan yang sebanyak-banyaknya dan kemudian perusahaannya meraksasa. Bagi seorang politikus, kesuksesan adalah ketika dia menjadi seorang penguasa, demikian seterusnya.

Maka pertanyaan berikutnya adalah ketika seorang miskin sudah menjadi kaya, apakah dia sudah tidak memiliki harapan untuk meraih kesuksesan lagi? Sudah selesaikah hidupnya? Ketika seorang pengusaha sudah memperoleh keuntungan yang banyak dan perusahaanya meraksasa, apakah dia sudah tidak perlu memiliki harapan untuk meraih kesuksesan lagi? Seorang politikus yang sudah menjadi penguasa yang disegani, juga tidak perlu meraih kesuksesan lagi? Sudah sukseskah dia? Tentu jawabannya adalah belum. Kekayaan yang dianggap sebagai kesuksesan itukan hanya angan-angannya orang miskin atau orang-orang berharta banyak yang jiwanya masih miskin. Bagi orang yang sudah merasa kaya, memperoleh kekayaan bukanlah sebuah kesuksesan. Demikian juga kekuasaan yang sering dianggap kesuksesan itukan hanya angan-angan orang yang belum jadi penguasa atau penguasa yang hatinya masih rakyat jelata. Bagi mereka yang sudah mencapai dan memiliki kekuasaan, maka kekuasaan itu bukanlah sebuah kesuksesan. Hal-hal yang demikian bisa kita perluas dalam berbagai contoh kasus lainnya. Seseorang yang ingin memperoleh sesuatu dan kemudian berhasil mendapatkan apa yang diinginkannya, maka kita menyebutkan bahwa dia telah meraih kesuksesan. Padahal bagi yang bersangkutan hal demikian biasa-biasa saja. Dia dianggap sukses oleh orang yang melihatnya dari kejauhan -oleh orang yang tidak mengalaminya-. Hal demikian sama halnya ketika anda berada dibawah, anda akan takjub melihat keatas langit. Sesampai diatas ternyata biasa-biasa saja. Diatas langit, ternyata masih ada langit yang lebih tinggi lagi. Oleh sebab itu, di dalam al-Quran Allah mengingatkan kepada kita, bahwa hidup di dunia ini tak lain hanya bermain dan senda gurau belaka. “Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari bermain dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memahaminya? (Q.S Al An’aam [6]: 32)

Ayat diatas sangat menarik jika saya analogikan, hidup ini adalah ibarat game alias permainan. Kehidupan adalah tempat arena untuk bermain. Untuk memenangkannya kita harus mengerti cara mainnya. Kita harus fahami “buku prosedurnya” agar pada akhirnya nanti kita selamat dan menjadi pemenang. Dan kita harus faham peran kita di dalam sebuah permainan, agar kita bisa bermain dengan sebaik-baiknya peran. Sayangnya, kita selalu dibumbui dengan segala sesuatu yang instan. Bahkan sukses pun inginnya dengan cara instan. Sampai seorang kawan melakukan ritual puasa agar dia lulus ujian sekolahnya. Ada juga yang bersedekah tapi kok malah diniatkan untuk memperkaya diri, berharap kembali dengan jumlah yang lebih banyak dan berlipat ganda. Tentu saja, ini malah justru menyalahi aturan main yang ada. Kalau ingin pandai ya belajar, kalau ingin kaya ya usaha. Konsep niat beribadah harus murni tertuju pada-Nya. Bukan kepada yang lain-lain atau malah kepada hal-hal yang remeh-temeh. Dengan demikian, yang berhasil memenangkan permainan dunia adalah mereka yang benar-benar memahami cara bermainnya. Namun mereka yang menghalalkan segala cara untuk meraih yang diinginkannya. Maka, sebenarnya yang diperoleh bukanlah sebuah kesuksesan, yang terjadi adalah ketidakseimbangan alam yang berujung pada kehancuran, bencana dan saling membinasakan satu sama lain alias game over.

Manusia adalah bagian dari game itu sendiri. Permainan dunia ini digelar dari seluruh penjuru alam raya. Barangsiapa lengah, ia akan terus tertinggal. Mereka yang bermalas-malasan bakal terlindas dan kalah. Hukum sunnatullâh di alam semesta tak pernah berubah, meski zaman terus mengalami perubahannya. Hukum sunnatullâh adalah hukum yang bekerja di alam semesta ini. Rhonda Byrne dalam bukunya The Secret mengungkapkan proses hukum tarik-menarik yang ia namakan Law Of Attraction (LOA). Artinya, barangsiapa yang berfikir positif terhadap peristiwa yang sedang dialaminya, maka ia akan menarik hal positif yang lebih besar lagi. Inilah yang sering dinamakan kekuatan pikiran, kita akan menarik apa saja yang kita pikirkan. Namun tentu saja kita jangan menelan mentah-mentah teori tersebut yang hanya mengandalkan kekuatan pikiran dan terkadang meninggalkan proses usaha. Bahwa ada banyak hukum gaya yang bekerja di alam semesta ini, bukan hanya hukum tarik menarik seperti yang dipaparkan Rhonda Byrne dalam bukunya, tapi juga hukum tolak-menolak, hukum sebab-akibat, hukum resonansi dan lain sebagainya yang sebelumnya telah dirumuskan oleh seorang pakar fisika prof. Abdussalam sebagai sebuah hukum Tunggal, Unification Force. Rumusan tentang gaya tunggal ini kemudian dilanjutkan oleh ilmuan fisika modern Stephen Hawking dalam bukunya yang terkenal, “The Theory Of Everything”, teori segala sesuatu. Tidak seperti dalam buku The Secret yang hanya menguraikan hukum tarik menarik saja, melainkan hukum yang bekerja di alam semesta adalah serangkaian jutaan variable dari sebab akibat yang terjadi. Itulah yang dinamakan di dalam al-Quran sebagai sunnatullâh. Sebagaimana dijelaskan dalam firman-Nya, “Sebagai suatu sunnatullâh yang telah berlaku sejak dahulu, dan kamu sekali-kali tiada akan menemukan perubahan bagi sunnatullâh itu”. (Q.S al-Fath [48]: 23)

Mereka yang sukses adalah mereka yang mengikuti hukum sunnatullâh tersebut. Mereka itulah yang pandai mengambil peluang dan kesempatan yang telah digelar dalam kehidupan ini. Di dalam al-Quran metode menarik kesuksesan ini adalah dengan cara besyukur. Nikmat hidup hanya dapat dirasakan oleh mereka yang bersyukur. Mereka yang bersyukur telah menarik hal-hal positif yang lebih besar, sebenarnya inilah yang jauh sebelumnya telah diinformasikan oleh Allah di dalam al Quran, “Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih” (Q.S Ibrahim [14]: 7)

Contoh sederhana adalah seperti pada sebuah alat musik. Jika ada dua gitar yang sudah disetem sama, kemudian didekatkan, maka jika salah satu dibunyikan, gitar yang lain ikut berbunyi pelan dengan nada yang sama. Sebenarnya dalam ilmu fisika ini bukan dinamakan hukum tarik-menarik, melainkan hukum resonansi. Bahwa sumber gelombang yang sedang bergetar akan menggetarkan sumber gelombang yang lain asalkan frekuensinya sama. Karena itu, orang yang bergetar hatinya untuk mensyukuri kesehatannya dengan menjaga pola hidup agar tetap sehat, maka seluruh faktor yang terkait dengan kesehatannya juga akan ikut bergetar. Begitu pula kalau anda bersyukur atas rezeki yang diperoleh, maka seluruh faktor yang membuat anda memperoleh rezeki akan bergetar, dan kemudian memperoleh rezeki yang semakin besar. Tentu saja, bersyukur itu berbeda dengan mengucap syukur. Syukur erat kaitannya dengan “rasa” dan “perbuatan”. Apa yang kita pikirkan belum tentu apa yang kita rasakan. Maka dari itu, pembahasan mengenai kesuksesan parameternya bukanlah positif thinking (berpikir positif), melainkan positif feeling (perasaan positif). Dengan kata lain, orang yang baru berpikir untuk bersyukur sebenarnya dia belum bersyukur. Tapi baru berpikir. Orang yang sekedar mengucapkan terima kasih, belum tentu hatinya berterima kasih. Syukur terkait erat dengan “rasa terima kasih”. Feeling adalah peleburan emosional dari apa yang dipikirkan, diucapkan dan diperbuat. Perasaan adalah pemancar sekaligus radar yang sangat sensitif terhadap sinyal-sinyal frekuensi yang bakal terjadi. Jika anda merasa nyaman terhadap suatu proses yang sedang terjadi, maka hasil akhir proses itu pasti menyenangkan. Sebaliknya, kalau anda merasa tidak nyaman dengan proses itu, maka hasil akhirnya pun mengecewakan.

Hidup adalah sebuah proses berjuang, semenjak kita terlahir dari rahim sang ibu hingga tumbuh menjadi dewasa, pada akhirnya kita kembali kepada Sang Pencipta. Masa depan kita adalah apa yang kita wiridkan sekarang. Kalau wiridan kita dari bangun tidur sampai tidur kembali selalu merasa kekurangan, maka masa depan kita benar-benar akan kekurangan. Sebaliknya kalau wiridan kita selalu merasa berkelimpahan, masa depan kita pun akan berkelimpahan. Wirid adalah kesatuan pikiran, perasaan, ucapan dan perbuatan yang kita ulang-ulang terus setiap waktu. Sementara orang yang hidupnya penuh rasa syukur, yang dihitung-hitung dalam ingatannya bukanlah apa lagi yang harus diperolehnya hari ini. Melainkan apa yang sudah diterima hari ini dan kemudian mensyukurinya dengan melimpahkan kepada yang membutuhkan, seberapapun ia mampu melakukannya.

Akhirnya, kesuksesan yang sebenarnya bukanlah terkait oleh nilai materi yang selalu menjadi tolok ukurnya. Melainkan adalah seberapa besar manfaat yang telah ia sumbangkan kepada peradaban manusia dan alam semesta. Rasulullah saw pernah bersabda “Bahwa sebaik-baiknya manusia adalah dia yang banyak memberikan manfaat bagi yang lain” (H.R Bukhari). Bukankah setiap lima kali sehari kita selalu dipanggil untuk meraih kesuksesan dalam hidup ini, sebagaimana lafazh azdan yang selalu dikumandangkan disetiap masjid dan surau, hayya ‘ala al-falâh. “Marilah kita menuju pada kemenangan”.

Wahai saudaraku, marilah kita gunakan sisa kesempatan dalam hidup ini untuk terus berkarya dan memberi manfaat sebanyak-banyaknya, hingga pada saatnya nanti kita mencapai kemenangan sejati, untuk kembali kepada-Nya dalam sebuah akhir pungkasan terbaik, meninggal dalam keadaan khusnul khatimah. Sebagai akhir tulisan ini, saya kutip sebuah ayat untuk kita renungkan bersama, “Dan di antara mereka ada orang yang berdoa: “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka”. Mereka itulah orang-orang yang mendapat bagian dari apa yang mereka usahakan; dan Allah sangat cepat perhitungan-Nya”. (Q.S al-Baqarah [2]: 201-202). Wallahu a’lam bi ash-Shawâb. []

Hari Nugroho

Mahasiswa Arsitektur, FTSP

Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta

Email: harrynugroho88@yahoo.com

Written by alrasikh

December 5, 2009 at 1:47 am

Posted in lembar jumat

RAMALAN KIAMAT 2012: MEMBANGUN KETEGUHAN IMAN DAN KESADARAN KOLEKTIF

without comments

Mereka menanyakan kepadamu tentang kiamat: “Bilakah terjadinya?” katakanlah: “Sesungguhnya pengetahuan tentang kiamat itu adalah pada sisi Tuhanku, tidak seorangpun yang dapat menjelaskan waktu kedatangannya selain Dia. kiamat itu amat berat (huru haranya bagi makhluk) yang di langit dan di bumi. kiamat itu tidak akan datang kepadamu melainkan dengan tiba-tiba”. Mereka bertanya kepadamu seakan-akan kamu benar-benar mengetahuinya. Katakanlah: “Sesungguhnya pengetahuan tentang bari kiamat itu adalah di sisi Allah, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”.(Q.S al-‘Araf [7]: 187)

Kembali umat manusia, orang Muslim khususnya diuji keimanannya terkait ramalan akan datangnya hari kiamat. Tentunya itu harus disikapi dengan bijak dengan didasari akidah dalam menyikapi fenomena kehidupan setelah munculnya ramalan yang menyebutkan bahwa hari akhir atau yang lebih kita kenal sebutannya sebagai hari kiamat akan datang pada tahun 2012. Bahkan hal inipun disikapi serius oleh perfilman Hollywood, sampai-sampai dikeluarkannya film dengan judul yang sama yaitu 2012. Terlepas dari maksud dan tujuan film tersebut yang jelas sebagian besar isi film mengilustrasikan bencana dahsyat yang menimpa bumi.

Dalam buku ‘Apocalypse 2012’ (Lawrence E.Joseph: 2007) dipaparkan begitu jelas dan juga ilmiah tentang kemungkinan akan terjadinya bencana alam di tahun tersebut. Bencana itu antara lain dipicu oleh siklus aktivitas matahari yang memuncak di tahun 2012 yang menyebabkan panas yang luar biasa di bumi, terlebih atmosfer kita sudah mengalami penipisan dan bolong di beberapa bagian. Sehingga selain memanaskan bumi dengan radikal, juga melelehkan es di kutub dan juga menimbulkan badai serta topan yang dahsyat. Bahkan jika kita googling tentang “2012 the end of the world” akan ada sekitar 700.000 hit untuk diklik. Lebih dari 6500 video juga telah diposting di YouTube. Ribuan buku juga menulis tentang hal itu.

Menyikapi “Kekramatan’ 2012

Kiamat sebagai simbol akhir kehidupan dan gambaran paling menakutkan, akhir-akhir  ini dibahas dalam ranah teknik, fisika, ekologi, astronomi, kearifan lokal hingga mitos. Selain itu diskusi 2012 menggejala karena ramalan Masyarakat Maya Kuno, yang dikenal maju ilmu matematika dan astronominya, mengikuti “perhitungan panjang” kalender yang mencapai 5,126 tahun. Ketika peta astronomi mereka dipindahkan ke kalender Gregorian, yang digunakan secara standar sekarang, waktu perhitungan bangsa Maya berhenti pada 21 Desember 2012. Menariknya, ramalan bangsa Maya (juga suku Hopi, Mesir Kuno, dan beberapa suku kuno lainnya) didalam kalendernya dengan detail mengungkapkan jika tahun 2012 merupakan akhir sekaligus awal zaman baru. Bagaikan kelahiran seorang anak manusia, maka kelahiran zaman baru ini akan dipenuhi dengan darah.

Jika yang dimaksud adalah akhir dari satu siklus masa berdasar kalender mereka, bisa saja itu benar (satu masa itu bisa seperti dalam satu tahun Masehi terdiri dari 12 bulan, 365 hari). Tetapi apakah kemudian itu diartikan sebagai akhir suatu zaman?, Tentunya tidak akan semudah itu penjelasannya, karena pola pikir manusia modern tentunya tidak akan sama dengan pola pikir bangsa Maya, betapapun manusia modern mencoba menginterpretasikan catatan-catatan peninggalan bangsa Maya,  hasilnya hanyalah berupa interpretasi yang bisa berbeda antara satu pembaca dengan pembaca yang lain. Sistem kalender bangsa Maya saja sudah sangat berbeda dibanding dengan sistem kalender manusia modern, apalagi dengan cara mereka menginterpretasi pemahaman akan alam semesta. bangsa Maya adalah bangsa Maya, dan manusia modern adalah manusia modern, cara pandang akan alam tentunya sudah sangat berbeda.

Sebenarnya diskusi kiamat 2012 merupakan isu lama yang telah menjadi perhatian kalangan pemerhati astronomi dan arkeolog. Keterkaitannya bukan soal berlangsung tidaknya kiamat pada 2012, tetapi proses mengumpulkan artefak-artefak peradaban Maya kuno yang terkait dengan prediksi kiamat, inilah yang menjadi luar biasa. Terlepas dari semua itu, yang jelas dalam meyikapi 2012 harus dengan positif.  Tidak bisa dipungkiri kalau alam ini semakin lama semkin ringkih, banyak faktor yang menyebabkan hal itu terjadi, salah satunya adalah ulah oknum yang tidak bertanggung jawab, penebangan pohon yang berlebihan menjadikan hutan gundul dan berefek terjadinya tanah longsor. Memang kalau melihat keadaan sekarang, ada beberapa hal yang menggambarkan indikator-indikator akan datangnya kiamat, namun hal itu jangan dijadikan justifikasi bahwa kiamat telah dekat, bagaimanapun semuanya hanyalah rahasia Allah, kita sebagai hambanya seyogyanya mepersiapkan diri dalam mengahadapi datanganya hari akhir tersebut, dengan improvisasi ibadah dan amalan-amalan positif lainnnya.

Dalam sebuah hdits meneybutkan bahwa “Saat akan tiba kiamat, zaman saling mendekat. Satu tahun seperti sebulan, sebulan seperti seminggu, seminggu seperti sehari, sehari seperti satu jam dan satu jam seperti menyalakan kayu dengan api.” (HR. Tirmidzi). Allah juga merahasiakan terjadinya hari kiamat, dan menerangkan bahwa kiamat pasti akan datang secara tiba-tiba. Hal ini telah terakam dalam firman-Nya “Sesungguhnya hari kiamat itu akan datang Aku merahasiakan (waktunya) agar supaya tiap-tiap diri itu dibalas dengan apa yang ia usahakan”. (Q.S Thâhâ [15]: 20). Namun demikian, sebagai representasi sifat bijaknya Allah, sesungguhnya Allah dengan rahmat-Nya telah menjadikan datangnya kiamat dengan menunjukan tanda-tandanya.

Momen Introspeksi Diri dan Peningkatan Ketaqwaan

Misteri tahun 2012 sabaiknya jangan dijadikan reaksi kegelisahan, namun ini seharusnya diajdikan langkah konkret nan positif, yaitu dengan introspeksi diri yang dapat dilakukan dengan cara memperhatikan keadaan diri, merenunginya, dan mengenal kelemahan-kelemahan yang ada didalamnya, karena introspeksi diri merupakan jalan  keselamatan. Selain itu mengintrospeksi diri atau muhasabah adalah merupakan jalan yang ditempuh orang-orang beriman yang ingin senantiasa mengingat Allah, orang-orang beriman yang senantiasa bertaqwa pada Rabb-nya, untuk memohon ampun akan dosa-dosanya, dan menyadari bahwa hawa nafsu itu bahayanya sangat besar, yang dapat menimbulkan penyakit hati, tipu muslihat, kejahatan yang sangat menjerumuskan, melakukan keburukan, perbuatan-perbuatan yang tercela. Karena barang siapa yang membiarkan hawa nafsu menguasai dirinya hingga melampui batas, maka sesungguhnya pelakunya pada hari kiamat nanti mempunyai tempat dineraka jahanam.

Selanjutnya adalah memaksimalkan ritual taqwa sesuai dengan pengertiannya –taqwa adalah menjalankan perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-larangannya, baik terang-terangan ataupun sembunyi-sembunyi-. Karena pada dasarnya taqwa dimotori oleh iman yang sering kali terjadi ketidak konsistenan, maka terlebih dahulu harus menjaga ketebalan iman kita dengan selalu memupuknya dengan bukti-bukti yang “kasat mata” (‘ain al-yaqîn), ternalar (‘ilmu al-yaqîn), maupun yang tersimpulkan secara lebih meyakinkan dari kejelasan pedoman-pedoman yang diberikan Allah lewat ayat-ayat-Nya maupun hadits-hadits Rasulnya. Selain itu dengan bertakwa juga berarti membuat pelindung dan penghalang yang mencegah dan menjaga diri dari sesuatu yang menakutkan. Jadi taqwallâh berarti perbuatan seorang hamba dalam mencari pelindung diri agar terjaga dari siksa Allah yang amat ditakutinya. Caranya adalah dengan melaksanakan seluruh perintah-Nya dan menjauhi semua larangan-Nya.

Akhirnya terlepas dari kontroversi yang melingkupi prediksi 2012, sebetulnya bertumpu pada satu kesepahaman yang universal, bahwa ada batas dari alam semesta dan semua yang mendiaminya. Bahwa alam hakekatnya tidak bisa kekal melainkan rentan dan pasti akan mengalami evolusi. Oleh karenanya 2012 bukan hanya penafsiran Maya kuno tetapi juga menyangkut perkembangan alam. Sehingga misteri 2012 merupakan momen kesadaran kolektif untuk bersahabat dengan alam, yaitu dengan menjaganya sebagai anugerah yang diberikan Allah kepada hamba-Nya, begitu juga seharusnya dijadikan langkah kelanjutan untuk hidup berdampingan secara harmonis dengan penghuninya, dengan memuculkan kesadaran ekologis dan menghindari ego instrumentalis.

Hal yang terpenting bagi seorang muslim ialah jangan sampai terjebak dengan ramalan tersebut yang kemudian ikut mengamininya, dan jangan sampai akidah rusak karena adanya prediksi tersebut. Sebagai orang yang beriman memang meyakini akan datanngya hari akhir, namun kapan akan terjadi masih menjadi rahasia Sang Pencipta. Persolannya bukan kapan datanngya hari akhir tapi lebih kepada sejauh mana persiapan diri kita dalam menghadapi hari tersebut. Karena cepat atau lambat hari kiamat pastinnya akan terjadi. Wallahu’alam bi al-Shawâb.

Ali Ridho

Mahasiswa Fakultas Hukum UII 2007

Written by alrasikh

November 26, 2009 at 2:15 am

Posted in lembar jumat

IDUL ADHA DAN REALITA KEHIDUPAN

without comments

“Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sehahagian harta yang kamu cintai. dan apa saja yang kamu nafkahkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.”

(Q.S. Ali Imran [03]: 92)


Idul Adha atau hari raya korban mengajarkan arti penting sebuah keyakinan dan pengorbanan. Bermula dari kisah Nabi Ibrahim as. yang mendapat perintah dari Allah SWT agar menyembelih putra tercintanya Ismail a.s. Ketulusan Ibrahim untuk menyembelih putranya atas perintah Allah, merupakan bentuk pengorbanan yang sangat mendalam. Pengorbanan demi suatu keyakinan yang kuat akan nilai kebaikan, dan pasti akan mendapat pertolongan Allah dalam perjalanannya, meskipun harus melepas sesuatu yang paling ia cintai. Hikmah dari keikhlasan tersebut ternyata tidak sia-sia, dengan keridhaan Allah SWT mengganti Ismail dengan domba untuk disembelih sebagai hewan kurban. Ibrahim telah mendapatkan kebaikan yang sempurna atas pengorbanannya.

Momentum inipun diabadikan dalam agama ini atas kemuliaan bapak para nabi. Umat Islam yang mampu secara materi berkewajiban untuk menyembelih hewan kurban setiap datangnya Idul Adha. Begitu pentingnya kurban ini, baik sebagai bentuk simbolik maupun materialnya, Rasulullah pernah bersabda yang artinya, “Barang siapa yang telah mampu berkurban namun tidak melakukkannya, hendaklah ia tidak mendekati tempat-tempat ibadah“. (H.R. Ahmad)


Makna Idul Adha

Dilihat dari segi maknanya, kata Idul Adha terdiri dari dua kata yang berasal dari bahasa Arab. Kata pertama Idul berasal dari kata ‘âda-ya’ûdu-awdatan wa ‘îdan yang memiliki arti kembali. Sedangkan Adha berasal dari kata Adha-Yudhî-udhiyatan yang berarti berkorban. Dengan demikian, Idul Adha adalah suatu perayaan yang dilakukan oleh umat sebagai tekad untuk kembali kepada semangat pengorbanan.

Pengertian ini tentu sangat sederhana. Namun, jika kita kaji lebih jauh makna filosofis yang ada padanya akan kita dapati banyak hal mendasar dalam kehidupan kita. Bahwa kehidupan ini adalah jihad atau perjuangan (al hayâtu jihâdun), sedangkan setiap perjuangan memerlukan pengorbanan. Dengan demikian, sifat berkorban adalah sifat keharusan bagi setiap insan yang pada akhirnya memberikan kesadaran.

Dari segi waktu pelaksanaannya, yaitu pada hari pelemparan jumrah aqabah yang dilakukan oleh jama’ah haji, menunjukan bahwa salah satu bentuk pengorbanan dalam melakukan perlawanan tanpa akhir terhadap musuh-musuh manusia, yaitu syaitan dengan segala bentuk sifat turunannya. Begitu juga dengan perayaan Idul Adha merupakan suatu kesadaran sejati untuk melakukan perlawanan terhadap segala sifat syaitan dalam kehidupan ini.

Sedangkan ketika kita tilik dari kata “korban” yang lebih dikenal di kalangan muslim Indonesia, sesungguhnya juga berasal dari bahasa Arab “Qurbân” yang asalnya “Qaruba-yaqrabu-qurbun wa qurbân” yang artinya kedekatan yang sangat. Kata “qurbân” adalah bentuk tafdîl yang menunjukkan penguatan terhadap sifat yang dikandung dari kata tersebut. Dengan demikian, korban adalah wujud kedekatan yang sangat tinggi. Sehingga dapat dikatakan bahwa dengan simbol penyembelihan hewan, seorang hamba diharapkan semakin dekat (qarîb) dengan Rabb-nya. Penyerahan pengorbanan dan tersimbahnya darah dari hewan adalah simbol penyerahan hidup seorang hamba kepada Rabbul ‘âlamîn sekaligus pembuktian dari ikrarnya: “Katakanlah: Seungguhnya shalatku, pengorbananku, hidup dan matiku adalah milik Allah, Rabb seluruh alam.” (Q.S. Al-An’am [06]: 162)

Pada akhirnya akan terpatri suatu hubungan yang dibangun di atas landasan “radhiyatun mardhiyâtun” yaitu seorang hamba yang memiliki jiwa yang ridha lagi diridhai oleh Allah SWT. Tingkatan kejiwaan seperti ini adalah puncak kejiwaan insan muttaqiin, sebagaimana disebutkan dalam tingkatan-tingkatan tangga riyadhah nafsiyah (latihan kejiwaan) dalam dunia tasawuf.

Penjelasan kejiwaan seperti ini, juga sejalan dengan makna lain yang dikandung oleh kata “Adha”, yang semakna dengan “Dhuha”. Dalam bahasa Arab, selain berarti pengorbanan, kata dhuha juga berarti waktu dimana matahari sedang menapaki jenjang awal dalam manerangi bumi yang sebelumnya diselimuti kegelapan. Artinya pengorbanan yang dilakukan seorang hamba yang beriman sesungguhnya juga merupakan mentari (penerang) jiwa dalam menapaki kehidupannya menuju alam kehidupan sejatinya yang lebih terang benderang.

Diharapkan dengan motivasi pengorbanan jiwa akan semakin bersih dan suci (muzakkah), sehingga dapat berpaut erat dengan cahaya di atas cahaya yaitu cahaya Ilahi. Jiwa yang bersih dan suci (qalbun salîm) seorang muslim akan manapaki sisa-sisa perjalanan hidupnya menuju Sang Pencipta. Hanya jiwa seperti ini yang dapat membawa manfaat di hari segala sesuatunya akan sia-sia dan menjadi hari penyesalan. Hal ini ditegaskan dalam firman-Nya“(yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.”(Q.S. Asy-Syu’ara [26]: 88-89)

Namun, di manakah pancaran sinar tersebut? Adakah masih tersembunyi di balik hati nurani kita? Akankah ia ragu menampakkan diri kepada mereka-mereka yang di sekeliling kita? Masihkah pantulan sinar itu terhijab oleh ego manusia itu sendiri? Bagi seorang mu’min tentu saja jawabannya adalah tidak. Seorang mu’min, sebagaimana ia dituntut untuk terus membesarkan sinar qalbunya, juga dituntut agar sinar qalbunya mampu menerangi alam sekitarnya. Di sinilah ia dituntut dalam pengabdiannya untuk bertakbir (Allahu Akbar) membesarkan nama Allah dan di sisi lain juga, ia harus menyinari alam sekitarnya dengan sinar kedamaian dan ketentraman (salâm).

Kesadaran jiwa untuk berkorban menjadi tuntutan yang begitu mendesak saat ini. Pasca krisis yang terjadi di negara kita telah meninggalkan permasalahan-permasalahan sosial yang cukup parah. Pengangguran semakin banyak, yang nota benenya hampir semuanya adalah muslim. Pembantaian sistematis akibat dendam yang tak berkesudahan di berbagai tempat, masih terus berlangsung. Anak-anak remaja yang tercampakkan ke dalam jurang narkoba, prostitusi dan berbagai masalah lainnya, telah mengancam masa depan generasi ummat ini. Semua ini adalah realita-realita kehidupan yang membutuhkan sinar (dhuha) mentari yang terpantul dalam nurani setiap mu’min. Akankah kita merayakan hari raya kurban tahun ini, sementara tak secercah sinar pengorbanan ini mampu menerangi kegelapan hidup mereka? terbetik dalam jiwa kita? Ingat, “Man lam yahtamma bi amril Muslimîna falaisa Minhum” (sungguh siapa yang tidak memperhatikan masalah ummat Islam, maka bukanlah dari golongan mereka).

 

Penutup

Semoga idul adha kita kali ini menjadi semangat pengorbanan yang hakiki. Suatu semangat yang melandasi hidup dan kehidupan kita menuju ridha Ilahi, sekaligus menyinari qalbu dan nurani kita untuk menengok realita kebesaran Khaliq dan realita kehidupan di sekitar kita. Kegelapan, yang menjadi kabut tebal menutupi kebenaran Ilahi di sekitar kita perlu disingkap dengan sinar mentari pagi (dhuha) yang kita rayakan ini. Wallahu A’lam.

Joko Susilo

Mahasiswa Pascasarjana MSI UII Jogjakarta

Written by alrasikh

November 17, 2009 at 7:21 am

Posted in lembar jumat