<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Lembar Jumat Al-Rasikh</title>
	<atom:link href="http://alrasikh.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://alrasikh.wordpress.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Thu, 05 Nov 2009 01:31:38 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='alrasikh.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/db65211bf825b3b200f00a41c99e7a50?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Lembar Jumat Al-Rasikh</title>
		<link>http://alrasikh.wordpress.com</link>
	</image>
			<item>
		<title>HARUSKAH KITA DUKUNG PEMERINTAH?</title>
		<link>http://alrasikh.wordpress.com/2009/11/05/haruskah-kita-dukung-pemerintah/</link>
		<comments>http://alrasikh.wordpress.com/2009/11/05/haruskah-kita-dukung-pemerintah/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 05 Nov 2009 01:31:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>alrasikh</dc:creator>
				<category><![CDATA[lembar jumat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://alrasikh.wordpress.com/?p=482</guid>
		<description><![CDATA[“Hai orang-orang  yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri  di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu,  Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya),  jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian  itu lebih utama (bagimu) dan lebih [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alrasikh.wordpress.com&blog=334458&post=482&subd=alrasikh&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:center;"><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;"><em>“Hai orang-orang  yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri  di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu,  Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya),  jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian  itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya</em></span><span style="font-size:x-small;"><em>.</em></span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="font-size:x-small;"><em> </em></span><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;">(Q.S al-Nisa’[4]: 59)</span></p>
<p><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;">Belum  genap tiga minggu pelantikan Dr. Susilo Bambang Yudoyono sebagai Presiden  RI yang dilakukan oleh MPR. Kabinet Indonesia bersatu dua pun telah  dibentuk sebelumnya oleh Presiden Susilo Bambang Yudoyono yang telah  menjabat sebagai presiden RI pula pada periode sebelumnya. Selang beberapa  hari kemudian pasca dilantiknya presiden RI tersebut, segeralah kicauan  komentar kritikus mulai dari tv, surat kabar, situs-situs internet,  dan media-media publik lainnya.</span></p>
<p><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;">Meskipun  mekanisme pemilu sudah sesuai dengan yang disepakati oleh bangsa Indonesia,  tetap saja masih ada golongan yang tidak mau menerima hasil pemilu tersebut  dengan seribu satu alasan. Jika demikian maka siapapun yang terpilih,  dia akan tetap tertera dalam daftar incaran mereka. Hal ini menunjukkan  adanya masalah bersama dikalangan masyarakat yaitu kekurang percayaan  masyarakat terhadap pemerintah. Padahal hal itu secara otomatis akan  mengganggu jalannya pemerintahan. Terlebih lagi keadaan Indonesia saat  ini masih di landa berbagai masalah sehinnga pemerintah sangat membutuhkan  dorongan dari seluruh rakyat Indonesia. Pertanyaannya kemudian adalah  apakah rakyat ini terus menerus tak mau diam? Apakah benar apa yang  dikatakan oleh banyak orang bahwa iri tanda tak mampu? Mungkin Jawaban  yang paling baik dengan berhusnudzon adalah karena mereka ingin menggunakan  kritik sebagai alat untuk membangun kepemimpinan di Indinesia tercinta  ini atau kerena saking cintanya mereka terhadap Indonesia.</span></p>
<p><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;">Sebagai  seorang muslim dan warga negara Indonesia yang baik, haruslah kita menerima  apa yang sudah menjadi hasil dari upaya kita memilih pemimpin. Karena  biar bagaimanpun itulah yang disuarakan oleh sebagian besar dari seluruh  rakyat Indonesia. Hendaklah kita mengutamakan kemaslahatan umum dari  pada memenuhi keinginan pribadi. Bukankah dalam kaidah ushuliyah dijelaskan? <em> “kepentingan umum lebih diprioritaskan diatas kepentingan pribadi” </em> Jadi selama kebijaksanaan pemimpin tidak menyalahi apa yang menjadi  pegangan kita (al-Qur’an dan al-Sunnah) maka wajiblah bagi kita untuk  mengikutinya karena menyangkut kepentingan orang banyak. Walaupun jumhur  ulama dan <em>mufassirin</em> menyatakan bahwa potongan ayat dalam QS.  al-Nisa’ ayat  59 وؤ لى الامر منكم  Menjadi landasan  untuk berpegang pada ijma’ tapi sepertinya tidaklah salah jika kita  menjadikannya sebagai landasan untuk mengikuti kebijakan pemerintah  selagi tidak bertentangan dengan semangat yang terkandung di dalam <em> nash</em> dan berorientasi pada maslahah.</span></p>
<p><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;">Lagi  pula, rasanya mustahil jika presiden SBY mengambil kebijakan yang membahayakan  rakyatnya. Mana mungkin seorang yang berpendidikan bertindak amoral  atau sejenisnya sementara dia menjadi rujukan ratusan juta rakyatnya.  Pastilah tindakannya dilandaskan pada kemaslahatan rakyat yang ia pimpin.  Sebagaimana dalam kaidah dijelaskan</span></p>
<p style="text-align:right;"><span style="font-family:Times New Roman;font-size:large;">تصرف الامام  على الرعية منوط بالمصلحة</span></p>
<p><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;">&#8220;<em>kebijakan  pemimpin harus sesuai dengan kemaslahatan rakyat&#8221; </em> sehingga bukan kemudian kita malah menggerogoti kepemimipinan yang sedang  berlangsung supaya mereka dianggap jelek dan buruk, akan tetapi dukunganlah  yang patutnya kita berikan guna kebaikan Indonesia sendiri.</span></p>
<p><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;"><strong>Belajar  dari sejarah</strong></span></p>
<p><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;">Sekilas  membuka kembali coretan tinta emas tentang sejarah salah satu amirul  mu’minin, Sayyid Abu Bakar Al-Siddiq r.a. yang begitu di kagumi keimanan  dan kesantunannya. Setelah dibaiat oleh para sahabat senior yang lain  untuk menjadi pemimpin umat Islam pada saat itu, ia berorasi di depan  rakyatnya.<em>“wahai manisia, saya telah diangkat menjadi pengatur  urusanmu, padahal saya bukan yang terbaik di antaramu, maka jika saya  menjalankan tugas dengan baik, dukunglah saya, tetapi jika saya berbuat  salah betulkanlah saya….”</em></span></p>
<p><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;">Dari  potongan pidato yang disampaikan oleh Sayyid Abu Bakar r.a. tersebut,  ada beberapa point yang patut kita garis bawahi. <em>Pertama,</em> setiap  orang yang terpilih menjadi pemimpin bukan berarti bahwa ia adalah orang  terbaik. Pastilah setiap orang memiliki kekurangan masing-masing dan  yang tidak boleh di lupakan bahwa sebagai pendamping kekurangannya Allah  membekali manusia dengan suatu <em>maziyah</em> (kelebihan). Pujangga  arab berkata <em>la tahtaqir mandunaka falikulli syaiin maziyyah</em> “jangan kamu menghina yang selainmu karena setiap sesuatu memiliki  kelebihan”. Oleh sebab itulah hendaknya pemimpin didukung untuk menutupi  kekurangannya dan  melengkapi kemampuannya.</span></p>
<p><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;"><em>Kedua,</em> setiap rakyat harus mendukung kebijakan pemimpinnya selama kebijakan  tersebut bernilai positif dan tidak memberikan mudharat pada rakyat.  Mengingat kembali gotong royong yang sudah menjadi ciri khas kehidupan  bangsa Indonesi, maka pemerintah mengeluarkan kebijakan untuk kesejahteraan  rakyat dan rakyat mendukung kebijakan tersebut.</span></p>
<p><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;"><em>Ketiga,</em> hendaknya seorang warga negara menegur pemimpinnya apabila seorang pemimpin  melakukan kesalahan. Bukan kemudian secara frontal menganggap bahwa  pemimpinnya harus diturunkan dari jabatannya karena suatu kekurangan.  Sekedar pengandaian, jika setiap pemimpin yang kebijakannya ditolak  rakyat diturunkan maka seluruh rakyat hanya akan disibukkan oleh pemilu.</span></p>
<p><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;">Anggap  saja kemudian bahwa presiden kita saat ini adalah Abu Bakar maka kita  selaku rakyat yang ia pimpin harus mengikuti instruksi sang imam. Yaitu  mendukung kebijakannya yang baik dan menegur setiap kekeliruan yang  ada. Bukan kemudian berusaha merias setiap pemimpin menjadi kambing  berwarna hitam dan menjual kompor kepada masyarakat tatkala ada suatu  masalah. Bukankan Ali r.a. Telah menegaskan bahwa <em>imam harus teguh  dan rakyat harus patuh,</em> yang lebih membahayakan lagi adalah apabila  kemudian sampai menggunakan agama sebagai dalih dalam menghakimi orang  lain atau penguasa yang tak sepaham, yang akan berakibat pada anggapan  bahwa orang yang tak sepaham adalah kafir atau murtad. <em>Na’udzubillah  min dzalik.</em></span></p>
<p><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;"><strong>Diam untuk  Mendukung Pemerintah</strong></span></p>
<p><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;">Tidak  dapat dipungkiri memang bahwa cara yang paling efektif dalam mendukung  pemerintah adalah turut bertindak dengan aktif sesuai kemampuan dan  keahlian masing-masing. Bagi ekonom berjuang di jalur perekonomian,  dokter berjuang dijalur kesehatan, tentara berjuang di jalur keamanan  dan ketertiban dan seterusnya. Tapi paling tidak apabila kita tidak  mampu turut bertindak dengan alasan tertentu, maka paling tidak kita  memberikan dukungan secara pasif, yaitu dengan tidak banyak komentar  atas kebijakan pemerintah. Bukankah dengan berdiam tanpa komentar berarti  telah membantu terwujudnya kelancaran pelaksanaan agenda pemerintah?.</span></p>
<p><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;">Hal  ini pernah di contohkan oleh Imam Malik bin Anas <em>rohimahullah ta’ala</em> tatkala di lontari 50 pertanyaan. Ketika itu beliau hanya mampu menjawab  5 dari 50 pertanyaan yang dilontarkan kepadanya sedangkan 45 pertanyaan  yang lain ia jawab dengan menggunakan kata <em>“la adri”</em> (saya  tidak tahu). Beliau khawatir apabila menjawab 45 pertanyaan  yang  tidak begitu dikuasainya akan menimbulkan penyesatan bagi generasi selanjutnya.  Begitu hati-hatinya beliau, sehingga di katakana bahwa <em>“man qala  la adri faqod afta”</em> barang siapa yang mengatakan <em>la adri</em> maka ia sudah berfatwa. Alangkah eloknya jika bangsa Indonesia mau memilih  cara tersebut tatkala tidak sepaham dengan pemimpin. Ya paling tidak  tidak menghambat agenda pemerintah.</span></p>
<p><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;"><strong>Ikhtitam</strong></span></p>
<p><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;">Pada  bagian akhir ini, patut untuk ditekankan sekali lagi bahwa sangatlah  penting bagi seluruh elemen masyarakat untuk mendukung pemerintah. Sudah  saatnya kita mengakhiri sikap saling cemooh, gontok-gontokkan dan sebagainya  untuk kemudian bersama-sama kembali ke medan perjuangan. Memberikan  dukungan penuh kepada para pemimpin RI. Masih terlalu banyak cita-cita  bangsa yang belum terwujudkan. Kasihan rasanya si tiga sepupu (Wahid  Hasyim, Wahab Hasbullah, dan Cokro Aminoto) yang sudah susah payah membantu  terintisnya negara bangsa ini. Kasihan Empu Tantular yang telah menggagas  Bhineka Tunggal Ika. Kasihan Abdul Kahar Muzdakkir, Wahid Hasyim, dan  Ahmad Djoyo Sugiato apabila kita terus-menerus terlarut dalam ego masing-masing.  Sebagai renungan, jikalau benar bahwa kita adalah bangsa Indonesia,  maka siapakah yang akan menopang jalannya pemerintahan RI kalau bukan  kita?</span></p>
<p style="text-align:right;"><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;"><strong>Hasan Al Antor</strong></span></p>
<p style="text-align:right;"><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;">Mahasiswa Fakultas  Ilmu Agama Islam UII</span></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/alrasikh.wordpress.com/482/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/alrasikh.wordpress.com/482/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/alrasikh.wordpress.com/482/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/alrasikh.wordpress.com/482/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/alrasikh.wordpress.com/482/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/alrasikh.wordpress.com/482/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/alrasikh.wordpress.com/482/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/alrasikh.wordpress.com/482/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/alrasikh.wordpress.com/482/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/alrasikh.wordpress.com/482/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alrasikh.wordpress.com&blog=334458&post=482&subd=alrasikh&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://alrasikh.wordpress.com/2009/11/05/haruskah-kita-dukung-pemerintah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d9474964e7c7e6f0bd976364b8385ad6?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dbs</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pemuda</title>
		<link>http://alrasikh.wordpress.com/2009/10/30/pemuda/</link>
		<comments>http://alrasikh.wordpress.com/2009/10/30/pemuda/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 30 Oct 2009 13:32:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>alrasikh</dc:creator>
				<category><![CDATA[lembar jumat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://alrasikh.wordpress.com/?p=480</guid>
		<description><![CDATA[PEMUDA,  TAK KENAL LELAH MENCETAK SEJARAH
Kami telah  menciptakan kamu; maka mengapa kamu tidak membenarkan? Adakah kamu perhatikan  (benih manusia) yang kamu pancarkan? Kamukah yang menciptakannya? Ataukah  Kami yang menciptakannya?
(Q.S. Alqur&#8217;an  [56]: 57-59).


Bulan  Oktober bagi negeri ini tergolong bulan yang bersejarah. Banyak peristiwa  penting di dalamnya, salah satunya adalah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alrasikh.wordpress.com&blog=334458&post=480&subd=alrasikh&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:center;"><span style="font-family:Times New Roman;font-size:large;"><strong>PEMUDA,  TAK KENAL LELAH MENCETAK SEJARAH</strong></span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;"><em>Kami telah  menciptakan kamu; maka mengapa kamu tidak membenarkan? Adakah kamu perhatikan  (benih manusia) yang kamu pancarkan? Kamukah yang menciptakannya? Ataukah  Kami yang menciptakannya?</em></span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;">(Q.S. Alqur&#8217;an  [56]: 57-59).</span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;"><br />
</span></p>
<p><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;">Bulan  Oktober bagi negeri ini tergolong bulan yang bersejarah. Banyak peristiwa  penting di dalamnya, salah satunya adalah hari Sumpah Pemuda yang diperingati  setiap tanggal 28 Oktober. Meski lahirnya sumpah pemuda ini sudah lama  berselang, sekitar 81 tahun yang lalu, tepatnya 28 Oktober 1928, namun  ia masih cukup relevan jika dihubungkan dengan kondisi saat ini. Lahirnya  sumpah pemuda membuktikan bahwa pemuda selalu memiliki semangat untuk  terus berusaha mencetak prestasi dan mengukir sejarah negeri.</span></p>
<p><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;">Kalau  kita bercermin dari sejarah bangsa ini, banyak peristiwa sejarah lahir  karena kontribusi pemuda, bukan hanya hari Sumpah Pemuda. Era reformasi  yang lahir 11 tahun lalu juga dimotori oleh pemuda. Pemuda bergerak  dan bersatu untuk menyampaikan tuntutannya sebagai respon akan ketidakadilan  dan penindasan yang terjadi selama puluhan tahun di negeri ini. Akhirnya  sejarah pun ditorehkan, orde baru berhasil ditumbangkan, dan era reformasi  berhasil dilahirkan. Pemuda saat itu berhasil mengatasi rasa takut,  rasa egoisme pribadi demi perjuangan yang jauh lebih besar, meski nyawa  menjadi taruhannya. Ini sekali lagi membuktikan bahwa pemuda tidak pernah  duduk manis menjadi penonton sejarah melainkan selalu berusaha ikut  terlibat sebagai subjek sejarah. </span></p>
<p><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;">Jika  kita perhatikan, kontribusi pemuda bagi bangsa ini tidak hanya terjadi  di  masa lalu. Di masa sekarang pun banyak hal yang telah dilakukan  pemuda demi pengabdiannya kepada negeri. Kita bisa lihat bagaimana pemuda-pemuda  Indonesia berhasil menorehkan prestasi tidak hanya dalam skala nasional,  tetapi juga internasional. Di bidang pendidikan, terutama di ajang kompetisi  olimpiade sains dunia (fisika, matematika, biologi, kimia, astronomi,  dan lain-lain) telah banyak medali dipersembahkan untuk tanah air oleh  pemuda-pemuda terbaik bangsa.  Di bidang olahraga, kaum muda juga menjadi  ujung tombak bagi diharumkannya nama bangsa di pentas dunia. Di bidang  teknologi, kita bisa melihat tidak sedikit prestasi yang diukir oleh  kaum muda, misalnya prestasi yang baru-baru ini berhasil ditorehkan  oleh mahasiwa STEI ITB yang berhasil meraih dua penghargaan dalam lomba  perancangan <em>processor</em> di Jepang. Mereka bahkan sanggup menyingkirkan  pesaing-pesaingnya dari beberapa universitas ternama di Jepang dan Korea.</span><span style="font-family:Calibri;font-size:small;"> </span></p>
<p><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;">Dalam  bidang kesenian, kita juga bisa melihat bahwa pemuda Indonesia bukanlah  pemuda yang miskin prestasi. Gelar juara dunia yang berhasil dipersembahkan  oleh paduan suara mahasiswa IPB di ajang <em>Choir Festival</em> di Rimini,  Italia, adalah buktinya. Di bidang kewirausahaan, pemuda Indonesia juga  bukan hanya menjadi penonton tetapi juga pelaku pencetak prestasi. Kita  patut berbangga ketika dua orang pemuda kita berhasil mendapat penghargaan  dalam ajang <em>International Young Creative Entrepreneur Award</em> (IYCE)  2009 di Inggris. Dan masih banyak prestasi membanggakan lain yang ditorehkan  oleh kaum muda sebagai bukti bahwa mereka tidak kenal lelah mencetak  sejarah. </span></p>
<p><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;">Ini  juga sebagai indikasi bahwa para pemuda ini telah memahami dengan baik  apa yang difirmankan Allah SWT dalam Alqur’an surat Attaubah [9]:105: <em> “Katakanlah,”Bekerjalah kalian. Pasti Allah dan Rasul-Nya serta  kaum Muslimin akan melihat pekerjaan kalian…</em>”</span></p>
<p><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;">Namun tentu sejumlah prestasi yang  dicapai pemuda negeri ini jangan sampai membuat kita terbuai. Karena  jika kita perbandingkan dengan besarnya jumlah penduduk Indonesia, rasionya  masih tergolong kecil. Masih banyak kaum muda di negeri ini yang masih  “tenggelam” dan duduk manis sebagai penonton dan objek sejarah,  belum bangkit untuk ikut menjadi subjek sejarah. Karenanya perlu ada  upaya yang terus menerus untuk “membangunkan” pemuda harapan bangsa  ini.</span></p>
<p><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;"><strong>Jangan  Anggap Remeh Kemampuan Diri</strong></span></p>
<p><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;">Kadangkala  kita kita berpikir segalanya sulit padahal kita belum mencoba. Kita  kalah dulu sebelum bertanding, dan menganggap orang lain memiliki kemampuan  jauh lebih tinggi dibandingkan kita. Kita tidak percaya diri bahwa kita  juga sanggup menggapai prestasi seperti yang orang lain lakukan. Bukankah  Allah menciptakan manusia dalam bentuk yang paling sempurna dan tidak  membeda-bedakan satu sama lainnya (kecuali pada akhirnya dibedakan berdasarkan  ketakwaannya-<em>pen</em>.)? </span></p>
<p><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;">Selain diciptakan dengan bentuk yang  sempurna, manusia juga dibekali Allah SWT kemampuan yang luar biasa,  untuk mengenal, memahami, belajar, dan akhirnya mengerti akan banyak  hal yang tak terbatas. Bahkan sejak awal kita disiapkan oleh Allah SWT  untuk menjadi individu yang kuat, tahan banting, dan menjadi pemenang.  Apakah kita lupa bahwa kita hadir di dunia diawali oleh terjadinya proses  biologis, yaitu terjadinya peleburan sel sperma (laki-laki) dan sel  ovum (wanita)? Dari jutaan sel sperma yang saling bersaing, hanya satu  sel sperma yang bisa mencapai sel ovum, dan akhirnya membuahi ovum.  Inilah sel sperma terbaik yang kemudian bersama sel ovum terbaik   pula menjadi bahan dasar dari kita. Lalu masihkah kita kurang percaya  diri dalam melakukan sesuatu?</span></p>
<p><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;"><em>Kami  telah menciptakan kamu; maka mengapa kamu tidak membenarkan? Adakah  kamu perhatikan (benih manusia) yang kamu pancarkan? Kamukah yang menciptakannya?  Ataukah Kami yang menciptakannya?</em> (Q.S. Alqur&#8217;an [56]: 57-59).</span></p>
<p><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;"><strong>Raih  Kesempatan Selagi Sempat</strong></span></p>
<p><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;">Dalam  sebuah hadits dari Ibnu Abbas RA, riwayat Al Hakim, Nabi Muhammad SAW  bersabda: “<em>Gunakanlah lima kesempatan sebelum datangnya yang lima  (uzur), yakni masa mudamu sebelum datang tuamu, masa sehatmu sebelum  datang sakitmu, masa kayamu sebelum datang miskinmu, masa hidupmu sebelum  datang matimu, waktu luangmu sebelum datang kesibukanmu</em>”.</span></p>
<p><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;">Dalam  hadits ini tampak sekali terlihat begitu besarnya perhatian Islam terhadap  usia muda. Usia muda dipandang sebagai suatu kesempatan yang sangat  berharga dan jangan sampai disia-siakan. Banyak hal yang bisa dilakukan  saat usia muda, belum tentu dapat dikerjakan saat usia tua. Di usia  muda semangat masih membara, ditambah lagi dukungan fisik yang masih  prima sehingga segala cita masih dimungkinkan untuk bisa diraih. </span></p>
<p><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;">Apalagi  jika masa muda dijadikan sarana untuk dekat dan menggapai cinta Allah  SWT, tentu ini akan membuahkan hasil yang manis. Seperti yang diungkapkan  oleh hadits yang diriwayatkan Syaikhani: ”<em>Tujuh orang yang akan  dilindungi Allah dalam lindungan-Nya pada hari yang tidak ada perlindungan  selain perlindungannya (satu di antaranya ialah) pemuda yang sejak kecil  selalu beribadah kepada Allah.</em>” </span></p>
<p><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;">Jika  Allah SWT sudah melindungi kita, tentu tidak akan ada lagi yang sanggup  mencelakakan kita. Karenanya kita akan bisa semakin mantap menggapai  cita-cita.</span></p>
<p><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;">Pentingnya  masa muda sangat jelas digambarkan Rasulullah SAW. Bahkan Nabi dengan  kasih sayang, kebijaksanaan, dan ilmunya selalu berusaha menggembleng  kaum muda agar mampu berbuat banyak terutama dalam membela agama Allah.  Beberapa contoh gemblengan Rasulullah SAW yang pada akhirnya menjadi  pemimmpin yang tangguh adalah Umar bin Khattab (digembleng dalam usia  27 tahun), Zaid bin Haritsah (dalam usia 20 tahun), Saad bin Abi Waqash  (17 tahun), dan Ali bin Abi Thalib dalam usia 8 tahun sudah mendapatkan  gemblengan Muhammad Rasulullah SAW.</span></p>
<p><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;">Pemuda  di mana pun dia berada adalah harapan bagi bangsanya. Nasib suatu bangsa  bisa diprediksi dari kondisi pemudanya saat ini. Pemuda yang kuat luar  dan dalam, jasmani dan rohani akan membuat masa depan suatu bangsa menjadi  lebih cerah (meski itu belum bisa jaminan sepenuhnya). Pemuda yang kuat  akan banyak menciptakan sejarah dan menorehkan tinta emas, membuat harum  nama bangsanya. Dan bangsa manapun tentu mendambakan generasi penerus  seperti ini untuk bisa tetap eksis di tengah persaingan dunia yang semakin  kompleks dan terbuka. Sementara pemuda yang lemah justru hanya akan  menjadi beban bagi bangsanya. Pemuda yang lemah akan menjadi bumerang  bagi nasib bangsanya di masa depan. Karenanya negara manapun tak pernah  memimpikan lahirnya generasi muda yang demikian.</span></p>
<p><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;">Akhirnya  pilihan terakhir diserahkan kepada pemudanya sendiri. Mau kemanakah  tujuan dia melangkah dan bekal apakah yang akan dia bawa untuk menggapai  tujuannya tersebut. Yang jelas semua pilihan selalu ada konsekuensinya. </span></p>
<p style="text-align:right;"><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;"><em>Wallahu  a’lam bisshawab.</em></span></p>
<p style="text-align:right;"><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;"><strong><em>Sapto  Nugroho Hadi</em></strong></span></p>
<p style="text-align:right;"><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;">Mahasiswa  Pasca Sarjana UGM</span></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/alrasikh.wordpress.com/480/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/alrasikh.wordpress.com/480/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/alrasikh.wordpress.com/480/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/alrasikh.wordpress.com/480/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/alrasikh.wordpress.com/480/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/alrasikh.wordpress.com/480/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/alrasikh.wordpress.com/480/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/alrasikh.wordpress.com/480/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/alrasikh.wordpress.com/480/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/alrasikh.wordpress.com/480/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alrasikh.wordpress.com&blog=334458&post=480&subd=alrasikh&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://alrasikh.wordpress.com/2009/10/30/pemuda/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d9474964e7c7e6f0bd976364b8385ad6?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dbs</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mutiara Hikmah</title>
		<link>http://alrasikh.wordpress.com/2009/10/30/mutiara-hikmah-130/</link>
		<comments>http://alrasikh.wordpress.com/2009/10/30/mutiara-hikmah-130/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 30 Oct 2009 13:31:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>alrasikh</dc:creator>
				<category><![CDATA[mutiara hikmah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://alrasikh.wordpress.com/?p=478</guid>
		<description><![CDATA[MUTIARA HIKMAH
Jadikanlah (dirimu  sebagai) orang yang malu kepada Allah. Jauhilah larangan-larangannya  dan kerjakanlah kewajiban-kewajiban (yang Ia perintahkan). Tetaplah  bersama kebenaran di manapun kamu berada. 
(Imam Asy-Syafi’i)
       <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alrasikh.wordpress.com&blog=334458&post=478&subd=alrasikh&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:center;"><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;"><strong>MUTIARA HIKMAH</strong></span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;">Jadikanlah (dirimu  sebagai) orang yang malu kepada Allah. Jauhilah larangan-larangannya  dan kerjakanlah kewajiban-kewajiban (yang Ia perintahkan). Tetaplah  bersama kebenaran di manapun kamu berada. </span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;"><strong>(Imam Asy-Syafi’i)</strong></span></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/alrasikh.wordpress.com/478/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/alrasikh.wordpress.com/478/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/alrasikh.wordpress.com/478/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/alrasikh.wordpress.com/478/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/alrasikh.wordpress.com/478/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/alrasikh.wordpress.com/478/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/alrasikh.wordpress.com/478/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/alrasikh.wordpress.com/478/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/alrasikh.wordpress.com/478/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/alrasikh.wordpress.com/478/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alrasikh.wordpress.com&blog=334458&post=478&subd=alrasikh&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://alrasikh.wordpress.com/2009/10/30/mutiara-hikmah-130/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d9474964e7c7e6f0bd976364b8385ad6?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dbs</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Perlunya Bertindak (Hasan)</title>
		<link>http://alrasikh.wordpress.com/2009/10/30/perlunya-bertindak-hasan/</link>
		<comments>http://alrasikh.wordpress.com/2009/10/30/perlunya-bertindak-hasan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 30 Oct 2009 13:28:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>alrasikh</dc:creator>
				<category><![CDATA[lembar jumat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://alrasikh.wordpress.com/2009/10/30/perlunya-bertindak-hasan/</guid>
		<description><![CDATA[PERLUNYA  MENGAMBIL TINDAKAN
Dan carilah pada  apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat,  dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan  berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat  baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi.  Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alrasikh.wordpress.com&blog=334458&post=476&subd=alrasikh&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:center;"><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;"><strong>PERLUNYA  MENGAMBIL TINDAKAN</strong></span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="font-family:Calibri;font-size:small;"><em>Dan carilah pada  apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat,  dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan  berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat  baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi.  Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.</em></span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;">(QS. Al Qashash  [28]: 77)</span></p>
<p><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;"><em> “Bekerjalah untuk duniamu seolah  engkau hidup selamanya,” </em>begitulah kiranya seruan yang disampaikan  oleh salah satu <em>al-Aimmah al-Arba’ah</em> Sayyid Ali ra. dalam menyampaikan  petuah sekaligus harapannya kepada umat Islam yang ia pimpin. Sayyidina  Ali ra. menginginkan agar umat Islam mau bekerja untuk dapat hidup sejahtera  hingga ahirnya dapat melaksanakan kewajiban beribadah kepada Sang Pencita  dengan baik.</span></p>
<p><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;">Sebagai  seorang Muslim yang berpendidikan tentulah kita faham dengan apa yang  disebut teori atau hukum kausalitas yang menjelaskan tentang sebab musabab.  Berpijak pada pengertian yang terkandung dalam teori itu maka jikalau  kita mendapatkan sesuatu itu adalah hasil dari apa yang kita usahakan  atau akibat dari tindakan kita. Kepandaian adalah hasil dari belajar,  kebodohan adalah akibat dari malas belajar.  Kekayaan adalah hasil  dari bekerja, dan kemiskinan adalah hasil dari malas bekerja.</span></p>
<p><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;">Berkaitan  dengan hal itu, belum hilang rasanya kegelisahan dan kesedihan dalam  lintas pikiran dan perasaan akan pengemis, pengamen, anak jalanan, dan  gelandangan yang menjadi asesoris jalanan ketika kita melintas jalan  raya kota-kota di Indonesia. Berita-berita dalam siaran lintas nusantara  di berbagai channel TV yang menginformasikan tentang pencurian demi  sesuap nasi, anak-anak putus sekolah yang menjadi buruh pabrik, dan  berbagai kepelikan yang setiap hari bergulir dan berputar di sekeliling  kita. Apa boleh dikata, itulah yang terjadi pada sebagian Bangsa kita,  yang jumlah penduduknya tak kurang dari 240 juta dengan notabene mayoritas  muslim. </span></p>
<p><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;">Pertanyaan  yang kemudian muncul adalah, apakah teori atau hukum kausalitas juga  berlaku terhadap apa yang menimpa bangsa kita saat ini? dengan kata  lain bahwa kemiskinan yang menimpa sebagian bangsa kita adalah murni  kesalahan bangsa kita sendiri yang malas bekerja, malas belajar dan  tidak peduli dengan sesama. Naïf rasanya kalau kita tidak mengakui  hal itu dan justru mencari kambing hitam. </span></p>
<p><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;"><strong>Bangsa yang  Mandiri</strong></span></p>
<p><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;">Sebagai  bangsa yang memperoleh kemerdekaan dengan jerih payah sendiri setelah  berjuang dan berperang dengan amat berat, kita mesti ingat petuah yang  dsampaikan Bung Karno kepada rakyatnya dalam Hut RI ke-8, 17 Agustus  1953:</span></p>
<p><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;"><em>Kalau  mau hidup harus makan, yang dimakan hasil kerja, jika tidak bekerja  tidak makan, jika tidak makan pasti mati.  Inilah undang-undangnya dunia, inilah undang-undangnya hidup, mau tidak  mau semua makhluk harus menerima undang-undang ini. Terimalah undang-undang  itu dengan jiwa yang besar dan merdeka, jiwa yang tidak menengadah melainkan  kepada tuhan.</em></span></p>
<p><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;">Demikianlah  petuah sekaligus harapan Bung Karno kepada bangsa Indonesia. Sungguh  sebuah petuah yang sarat makna. Bung Karno tak ingin bangsa Indonesia  menjadi bangsa peminta-minta, pengemis, atau pengamen hanya karena sesuap  nasi. Bung Karno menginginkan agar bangsa Indonesia menjadi bangsa yang  giat bekerja, berusaha dan berdoa untuk mendapat kehidupan yang layak.</span></p>
<p><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;"><strong>Usaha Sebagai  Upaya</strong></span></p>
<p><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;">Dengan  penuh kepolosan pun kita dapat mencerna bahwa dalam kehidupan ini manusia  harus bekerja dan berusaha untuk mendapatkan sekecil apapun keinginannya.  Bukankan dalam kaidah ushuliyah dijelaskan:</span></p>
<p style="text-align:right;"><span style="font-family:Times New Roman;font-size:large;"><em>الاجر  باالتعب</em></span></p>
<p style="text-align:right;"><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;"><em>“hasil  dari sesuatu di ukur dari jerih payahnya.”</em></span></p>
<p><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;">Dengan  demkkian maka apabila kita tidak melakukan apapun kita tidak akan mendapatkan  apa yang kita inginkan. Sedikit mengaitkan kaidah di atas dengan kondisi  bangsa Indonesia, maka Rakyat Indonesia harus bekerja agar bisa kaya,  rakyat Indonesia harus belajar jikalau ingin pintar, rakyat Indonesia  mesti berjuang untuk mencapai kesuksesan dan seterusnya. Tidak cukup  hanya dengan berpangku tangan tanpa usaha, mengandalkan pemerintah dan  bermanja-manjaan, atau bahkan menunggu belas kasihan orang lain yang  bukan siapa-siapa.</span></p>
<p><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;">Lalu  mengapakah setelah 63 tahun Indonesia memperoleh kemerdekaan kita masih  tertinggal oleh negara-negara lain? Tidak bosankah kita dikucilkan oleh  bangsa lain? tidak bosankah kita dijuluki sebagai bangsa yang kerdil?  Bahkan oleh negara-negara yang mendapatkan kemerdekaan setelah kita. </span></p>
<p><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;">Sebagai  seorang muslim mari kita tilik kembali potongsn firman Allah dalam QS.  Al-Qashas [28]: ayat 77:</span></p>
<p><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;"><em>Carilah pahala akhirat lewat  karunia Allah yang diberikan kepadamu, dan jangan lupa bagianmu dari  kehidupan dunia.</em></span></p>
<p><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;">Apabila  kita menggunakan sedikit kajian tata bahasa dalam memahami ayat tersebut,  maka salah satu yang dapat kita pahami adalah Allah menggunakan <em>fi’il  amr nahi</em> dalam kata <em>“</em></span><span style="font-family:Times New Roman;font-size:large;"><em>ولا  تنس</em></span><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;"><em>”</em> yang  berarti “janganlah kamu melupakan (kehidupan duniamu).” Dalam kajian  ushul fiqih, <em>fi’il amr nahi</em> memiliki fungsi untuk menunjukkan  larangan (<em>al-ashlu fi al-nahyi li al-tahriim)</em> hal ini menunjukkan  bahwa mengurus kehidupan dunia adalah wajib karena tidak boleh ditinggalkan.  Muslim wajib bekerja dan berusaha untuk kehidupan dunianya. Dalam kaidah  yang lain disebutkan:</span></p>
<p style="text-align:right;"><span style="font-family:Times New Roman;font-size:large;"><em>الواجب  ما يثاب على فعله و يعاقب على تركه</em></span></p>
<p style="text-align:right;"><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;"><em>Wajib adala  sesuatu yang bila dipenuhi mendapat pahala dan bila di tinggalkan mendapat  dosa.</em></span></p>
<p><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;">Jikalau  demikian maka apabila seorang muslim bekerja maka ia mendapatkan pahala  dan bila dia tidak  bekerja maka apakah yang akan ia dapatkan? </span></p>
<p><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;">Dalam  penekanan akan keharusan manusia mengurusi keperluan duniawinya, tidak  berarti kemudian kita mengenyampingkan perintah Allah SWT untuk menggarap  ladang akhirat, akan tetapi yang perlu digaris bawahi adalah ketika  kita memenuhi kebutuhan kita sebagai seorang hamba maka harus kita iringi  dengan bekerja. Lagi pula bukankah mencari nafkah juga untuk memenuhi  kebutuhan ukhrawi? Pada akhirnya akan menjadi amal ukhrawi juga? Mari  kita pertimbangkan dan langsung beramal, karena semua problem kehidupan  tak akan selesai dengan pikiran saja. Mudah-mudahan kita menjadi salah  satu dari orang-orang yang mulia dan tidak merugi dengan gemar beramal.</span></p>
<p><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;"><strong>Ikhtitam</strong></span></p>
<p><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;">Pada  bagian akhir ini, meminjam pandangan presiden Amerika Barrack Obama  bahwa <em>“perubahan bukanlah slogan yang turun dari langit, akan tetapi  perubahan adalah hasil dari pengalaman berpolitik di akar rumput yang  bergoyang.”</em> Maka solusi untuk berbagai keterpurukan bangsa ini  adalah kita harus bertindak untuk menghasilkan perubahan dari berbagai  macam ketidakstabilan di negeri ini menuju kehidupan yang lebih baik.  Akhirnya, jika John F. Kennedy mengatakan bahwa <em>“sejarah adalah  kebohongan yang disepakati bersama,”</em> maka kenapa kita tidak berbuat  baik dengan membuat suatu kebohongan besar untuk disepakati bersama?</span></p>
<p style="text-align:right;"><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;"><em>Wallau  a’lam bisshawab.</em></span></p>
<p style="text-align:right;"><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;"><strong>Hasan Al Fuady</strong></span></p>
<p style="text-align:right;"><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;">Mahasiswa Fakulatas  Ilmu Agama Islam UII</span></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/alrasikh.wordpress.com/476/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/alrasikh.wordpress.com/476/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/alrasikh.wordpress.com/476/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/alrasikh.wordpress.com/476/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/alrasikh.wordpress.com/476/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/alrasikh.wordpress.com/476/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/alrasikh.wordpress.com/476/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/alrasikh.wordpress.com/476/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/alrasikh.wordpress.com/476/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/alrasikh.wordpress.com/476/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alrasikh.wordpress.com&blog=334458&post=476&subd=alrasikh&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://alrasikh.wordpress.com/2009/10/30/perlunya-bertindak-hasan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d9474964e7c7e6f0bd976364b8385ad6?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dbs</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>